[Resensi] The Last Juror

IMG_20190416_231304_HDR.jpg
dokumen pribadi

Judul Buku: The Last Juror

Penulis: John Grisham

Penerbit: Bantam Dell

Tahun: 2004

Jumlah Halaman: 486 hlm.

“One of his best: a thoughtful and atmospheric thriller.” – New York Times

“His best book in years… genuinely moving.” – People

“Classic Grisham, full of excitement and colorful character.” – Denver Post

In 1970, Willie Traynor came to Clanton, Mississippi, in a Triumph Spitfire and a fog of vague ambitions. Within a year, the twenty-three-years old found himself the owner of Ford County’s only newspaper, famous for its well-crafted obituaries. While the rest of America was in the grips of turmoil. Clanton lived on the edge of another age-until the brutal murder of a young mother rocked the town and thrust Willie into the center of a storm.

Daring to report the true horrors of the crime, Willie made as many friends as enemies in Clanton, and over the next decade he would sometimes wonder how he had gotten there in the first place. But he could never escape the crime that had shattered his innocence or the criminal whose evil ad left an indelible stain. Because as the ghosts of the South’s past gather around Willie, as tension swirls around Clanton, men and women who served on a jury nine years ago are starting to die one by one-as a killer exacts the ultimate revenge…

“Grisham deserves a winning verdict for (his) latest literary thriller.” – Boston Globe

QUOTES

Page 19

But when you’re twenty-three, you’re fearless. You have nothing, so there’s nothing to lose.

Page 33-34

No honest man could live on such a humble salary. No honest man could move quietly through the shadows of the underworld.

Page 61

I was an ill-informed rookie, and everybody knew it. No sense in pretending I knew something when I didn’t.

SUMMARY dan OPINI

Karakter utama dalam novel ini terasa sangat dekat dengan diri saya. Mahasiswa jurnalistik, usia 23 tahun, yang memulai kuliahnya dengan amat idealis. Dulu saya tidak hanya sekali diingatkan orang bahwa jurnalis itu gajinya dikit dan kerjaannya berat. Tapi dengan tekad yang menggebu-gebu ingin membawa perdamaian dunia, 18 years old me tetap bersikukuh mengambil jurusan jurnalistik. Sebelumnya pun di SNMPTN, saya dengan kukuh memilih jurusan Sastra Inggris yang mana selalu diremehkan. Atas kecintaan saya terhadap sastra – mungkin seperti kecintaan Elias Rukla dalam Shyness and Dignity ya – saya menulis Sastra Inggris di pilihan pertama, yang tentu saja tidak begitu mendapat dukungan dari sekitar. Lanjutkan membaca [Resensi] The Last Juror

Iklan

Farabi di Kota yang Katanya `Paling Konservatif di Turki`

exchange program
pinterest

Salah satu aktivitas yang cukup diminati mahasiswa adalah program pertukaran pelajar di universitas lain. Tak terkecuali untuk mahasiswa di kampus Turki dengan tiga program pertukarannya yaitu Erasmus, Mevlana, dan juga Farabi. Meskipun begitu, yang paling banyak peminatnya – setidaknya begitulah di universitas tempat saya belajar – adalah program pertukaran Erasmus. Program yang dinaungi oleh Uni Eropa ini mengizinkan mahasiswa di universitas Eropa termasuk Turki untuk melakukan pertukaran selama satu atau dua semester. Beasiswanya meliputi tuition fee dan uang saku yang nilainya berbeda-beda antar negara, yaitu 300-500 Euro per bulan. Sedangkan untuk tiket pesawat dan pengurusan visa, ditanggung sendiri.

Secara singkat, proses seleksi Erasmus terdiri dari 3 tahap yaitu administrasi, tes tulis, dan juga interview dengan total poin 50% dari GPA, 25% dari tes tulis, dan sisanya dari interview. Mahasiswa bebas memilih maksimal 5 universitas. Sistem pilihnya sama seperti SNMPTN/SBMPTN.

Berbeda dengan Erasmus, Mevlana dan Farabi merupakan program pertukaran yang dibawahi oleh Dewan Pendidikan Tinggi Turki. Mevlana merupakan program pertukaran ke negara-negara di luar Eropa seperti Amerika sampai Asia meliputi China, Korea Selatan, hingga Indonesia. Sedangkan Farabi merupakan program pertukaran ke universitas-universitas lain di dalam Turki.

Karena saya belum ada kesempatan ikut Mevlana, jadi kurang tahu proses seleksinya. Padahal mah pengin banget ke Korea Selatan atau China. Sayangnya, waktu itu program Mevlana di jurusan saya belum dibuka.

Farabi sendiri proses seleksinya lebih simpel. Cukup seleksi administrasi. Tapi kita hanya bisa memilih satu universitas saja. Setelah dokumen kita dikirim ke universitas tujuan, mereka akan menyeleksi calon berdasarkan IPK-nya. Beasiswa program ini sistemnya juga mirip seperti Erasmus yaitu tuition fee dan uang saku senilai 500 Turkish Lira per bulan. Kalah banyak sih dibanding uang saku Erasmus karena memang hidup di Turki masih jauh lebih murah daripada di Eropa. Ya meskipun sebagian sisi Istanbul dikatakan sebagai Eropa juga. :mrgreen:

Proses pendaftaran ketiga program tersebut biasanya dilakukan di awal tahun secara berurutan. Seperti saat ini nih.

Baca : Catatan Erasmus (Spring 2016/2017)

Kali ini mau cuap-cuap soal Farabi (Fall 2018/2019) di Selcuk University yang terletak di kota Konya.

Baca : Perbandingan 2 Universitas di Turki; Ege (Izmir) dan Selcuk (Konya)

Kenapa sih ikut Farabi? Itu kan cuma pertukaran di dalam Turki?

Iya sih. Sayangnya, sejak akhir tahun 2017 lalu, mahasiswa asing yang kuliah di Turki dengan program beasiswa penuh dari pemerintah Turki tidak diperbolehkan lagi untuk mengikuti program Erasmus dan Mevlana. Sekedar informasi aja untuk calon mahasiswa dari Indonesia yang niatannya kuliah di Turki untuk mengikuti kedua program tersebut.

Nah, karena kedua program tersebut sudah tidak diperbolehkan, larilah saya ke Farabi.

Kenapa lari?

Sebenarnya ini salah satu cara lari dari kenyataan sih :mrgreen:

Lanjutkan membaca Farabi di Kota yang Katanya `Paling Konservatif di Turki`

Perbandingan 2 Universitas Turki; Ege University (Izmir) dan Selcuk University (Konya)

Sebenernya udah planning nulis tentang ini dari zaman jahiliah. Berhubung banyak banget alasan sok sibuk urusin feed akun instagram baru – follow ya @portrayalofawanderlust yang berisi hasil jepretan sederhana ngebolang :mrgreen: – jadilah urusan blog terbengkalai. Udah agak basi juga mengingat pendaftaran program beasiswa pemerintah Turki tahun ini sudah mau ditutup. Bisa diaplikasikan untuk jadi referensi pendaftaran tahun depan, ya.

Sebelumnya, perkenalan dulu. Perlu dipahami bahwa penilaian ini sifatnya subjektif. Kalau mau tau penilaian kualitas kampus berdasarkan research dls, bisa dilihat di webometrics, topuniversities, mastersportal, 4icu, dan masih banyak lagi. Sebaliknya, penilaian ini hanya berdasar pada pengalaman yang dialami oleh mahasiswi akhir program S1 Jurnalistik Fakultas Ilmu Komunikasi Ege University – yang kemudian disebut Ege saja – yang ditakdirkan mengeyam pendidikan di jurusan sama di Selcuk University – yang kemudian disebut Selcuk saja – selama satu semester. Monggo disimak. 

Ege University Logo
Berdiri sejak 1955 di IZMIR
Selcuk University Logo
Berdiri sejak 1975 di KONYA

PERPUSTAKAAN

Biasanya nih, yang dicari dari sebuah kampus tak luput dari fasilitasnya. Salah satu yang signifikan menurut saya adalah perpustakaannya. Lanjutkan membaca Perbandingan 2 Universitas Turki; Ege University (Izmir) dan Selcuk University (Konya)

[Review Buku] The Subtle Art of Not Giving A F*ck

the subtle art of not giving a fuck mark manson
Amazon

Judul Buku : The Subtle Art of Not Giving A F*ck

Penulis : Mark Manson

Penerbit : HarperOne

Tahun : 2016

The self help book for people who hate self help books. The Subtle Art of Not Giving a Fuck is all about self-improvement not through avoiding problems or always being happy, but rather through engaging and improving upon problems and learning to accept the occasional unhappiness. It’s a radical departure from anything else you’ve ever read, and that’s what makes it so powerful.

“An in-your-face guide to living with integrity and finding happiness in sometimes-painful places. … This book, full of counterintuitive suggestions that often make great sense, is a pleasure to read and worthy of rereading. A good yardstick by which self-improvement books should be measured.” – Kirkus Reviews

Buku ini sempat booming beberapa waktu yang lalu. Bahkan mungkin masih booming hingga sekarang. Teman-teman saya di media sosial banyak sekali yang memamerkan buku ini. Alhasil, saya pun termakan omongan mereka. Buku The Subtle Art of Not Giving A F*ck ini diterjemahkan ke bahasa Indonesia dengan judul Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat. Sedangkan dalam bahasa Turki dengan judul Ustalık Gerektiren Kafaya Takmama Sanatı.

Menurut saya, cara ternyaman membaca buku adalah dengan membaca buku versi non-terjemahan, selama kita mengerti bahasanya. Karena bagaimanapun, terjemahan itu bisa berbeda antar satu sama lain. Soalnya kan menerjemahkan bukan sekedar mengubah bahasanya sama persis, namun juga menjadikan konteks sama untuk lebih mudah dipahami. Beruntungnya, saya menemukan buku ini dalam versi aslinya di aplikasi AnyBooks. Sudah saya bahas di sini. Pokoknya aplikasi favorit deh.

Buku ini dibagi menjadi 9 bagian sebagai berikut : Lanjutkan membaca [Review Buku] The Subtle Art of Not Giving A F*ck

[Quotes Buku] Winning

winning jack welch
Goodreads

Judul Buku : Winning

Penulis : Jack Welch with Suzy Welch

Penerbit : Harper Collins Publishers

Kota : London

Tahun : 2005

Jumlah Halaman : 372 hlm.

Jack Welch knows how to win. During his forty-year career at General Electric, he led the company to year-after-year success around the globe, in multiple markets, against brutal competition. His honest, be-the-best style of management became the gold standard in business, with his relentless focus on people, teamwork, and profits.

Since Welch retired in 2001 as chairman and chief executive officer of GE, he has traveled the world, speaking to more than 250,000 people and answering their questions on dozens of wide-ranging topics.

Inspired by his audiences and their hunger for straightforward guidance, Welch has written both a philosophical and pragmatic book, which is destined to become the bible of business for generations to come. It clearly lays out the answers to the most difficult questions people face both on and off the job.

Welch’s objective is to speak to people at every level of an organization, in companies large and small. His audience is everyone from line workers to MBAs, from project managers to senior executives. His goal is to help everyone who has a passion for success.

Welch begins Winning with an introductory section called “Underneath It All,” which describes his business philosophy. He explores the importance of values, candor, differentiation, and voice and dignity for all.

The core of Winning is devoted to the real “stuff” of work. This main part of the book is split into three sections. The first looks inside the company, from leadership to picking winners to making change happen. The second section looks outside, at the competition, with chapters on strategy, mergers, and Six Sigma, to name just three. The next section of the book is about managing your career—from finding the right job to achieving work-life balance.

Welch’s optimistic, no excuses, get-it-done mind-set is riveting. Packed with personal anecdotes and written in Jack’s distinctive no b.s. voice, Winning offers deep insights, original thinking, and solutions to nuts-and-bolts problems that will change the way people think about work.

QUOTES

Sebenarnya, ini merupakan buku yang sangat menarik untuk disimak bagi orang-orang yang bersiap masuk ke dunia kerja. Saya pun menikmati buku ini. Namun karena terhalang tugas dls, saya hanya menyelesaikan 2/5 buku ini saja sehingga tidak pantas rasanya disebut review. Lagian biasanya juga review ala kadar sih. Haha. Anyway, setelah tugas kelar dan saya kembali ke buku ini, rasanya sudah tidak pas lagi melanjutkan membaca dari tengah buku. Meski begitu, sayang apabila saya tidak membagikan beberapa catatan kecil ketika membaca sebagian buku ini. Silakan disimak! Lanjutkan membaca [Quotes Buku] Winning

[Resensi Buku] Seriously… I’m Kidding

ellen degeneres seriously im kidding
Grand Central Publishing

Judul Buku : Seriously… I’m Kidding

Penulis : Ellen DeGeneres

Penerbit : Grand Central Publishing

Kota : New York

Tahun : Oktober 2011

ELLEN DEGENERES is a beloved stand-up comedian, television host, bestselling author, actress, and midwife. She currently hosts The Ellen DeGeneres Show and has hosted both the Academy Awards and the Primetime Emmy Awards. She would host you for dinner if she got to know you better.

Sekitar seminggu yang lalu, saya nggak sengaja nemu aplikasi baca ebooks gratis di Google Play yang bernama AnyBooks. Yang paling saya suka dari aplikasi ini :

  • Hampir semua buku yang saya cari, dapat dengan mudah saya temukan di sini.
  • Sistem baca offline karena untuk membaca sebuah buku, kita harus download dulu ebook-nya.
  • Ada kamusnya. Jadi kalau kita nggak ngerti sebuah kata, cukup tekan lama pada kata tersebut dan kamus akan muncul langsung tanpa kita perlu buka aplikasi penerjemah. Begini tampilan dalamnya :
    ca0b33e1-7f4d-4c81-ae2d-d218cb47cb72
    dokumen pribadi

    Bagian bookshelf merupakan buku-buku yang sudah kita download dan siap dibaca. Yang paling atas merupakan buku yang sedang kita baca. Misal tuh saya lagi baca buku The Subtle Art of Not Giving a F*ck.

Lanjutkan membaca [Resensi Buku] Seriously… I’m Kidding

[Resensi Buku] I’ll Walk Alone

I'll walk alone mary higgins clark.jpg
AbeBooks.com

Judul Buku : I’ll Walk Alone

Penulis : Mary Higgins Clark

Penerbit : Simon & Schuster

Kota : New York

Tahun : April 2011

Jumlah Halaman : 337 hlm.

AWAS SPOILER!

Pertama-tama, novel ini memiliki banyak sekali tokoh yang dinamai. Kadang terasa penamaan itu sebetulnya tidak perlu untuk beberapa karakter yang muncul sekali dua kali. Andaikan perlu, rasanya berlebihan untuk melibatkan penamaan dengan tiga kata. Maksudnya, nama depan dan nama keluarga saja sepertinya sudah cukup. Tidak perlu setiap nama tengah karakter disebutkan. Memang terserah penulis sih. Tapi ini bikin saya iritasi.

Misal nih setiap orang memiliki sekretaris. Di awal bab, saya suka kebalik si Elaine Ryan, Phyllis Garrigan, Rita Moran, dan Louise Kirk itu sekretaris siapa aja. Lalu nama client, saksi mata, hingga detektif, semuanya komplit nama lengkap yang kadang disebut nama depan, dan kadang nama keluarganya saja. Ini cukup buat salah fokus.

Tokoh utama novel ini adalah seorang interior designer bernama Alexandra Moreland yang biasa dipanggil Zan. Dulunya Zan ini bekerja untuk interior designer sukses dan ternama Bartley Longe. Sejak bekerja dengan Longe ini Zan hampir tidak punya waktu di luar pekerjaannya, termasuk untuk mengambil cuti. Selain ambisius, tidak suka ditolak dan temperamen, Longe ini juga mengejar Zan. Dulu bahkan sempat terlibat kasus pelecehan seksual terhadap sekretarisnya. Pokoknya di novel ini, Longe digambarkan sangat buruk wataknya.

Ketika Zan akhirnya bisa keluar dari pekerjaannya, anak tunggal ini mengunjungi orangtuanya yang sedang bertugas dinas di Roma, Italia. Sayangnya, kedua orangtuanya mengalami kecelakaan dan meninggal dalam perjalanan menjemput Zan di bandara. Edward Carpenter atau Ted yang dulunya merupakan client-nya bersama Bartley Longe,, menikahinya ketika ia dalam kondisi terpuruk baru kehilangan kedua orangtuanya dan tidak punya siapa-siapa.

Zan kemudian membuka bisnis interior design-nya sendiri dan meminta cerai kepada Ted karena menganggap Zan hanya jadi beban untuk suaminya karena ia sering mental breakdown, stres berat, dan depresi. Zan merasa bahwa Ted menikahinya hanya karena kasihan. Setelah bercerai, Zan baru menyadari bahwa ia hamil anak Ted. Anak tersebut mereka beri nama Matthew Carpenter.

Suatu hari, ketika Zan harus bertemu dengan client-nya Nina Aldrich, ia menitipkan Mathew yang berusia 3 tahun kepada Tiffany Shields, pelajar yang sesekali merangkap jadi babysitter Matthew. Sayangnya, ketika berada di taman di siang bolong bulan Juni, Tiffany ketiduran. Ketika terbangun, Matthew sudah tidak ada di trolinya. Yup, novel ini adalah tentang penculikan anak. Lanjutkan membaca [Resensi Buku] I’ll Walk Alone