Liburan Singkat di Istanbul

Sebelum lupa, saya mau berbagi cerita mengenai liburan singkat saya ke Istanbul kemarin dari tanggal 27-29 Januari 2018. Sebetulnya, tidak bisa disebut sebagai liburan sih, berhubung tujuan utama saya ke Istanbul adalah untuk menghadiri orientasi magang yang diadakan oleh OIC atau Organization of Islamic Cooperation pada tanggal 27. Namun karena tiket pesawat paling murah itu jatuh pada tanggal 30 Januari dini hari, saya memutuskan untuk tinggal di Istanbul agak lama. Hitung-hitung bernostalgia.

DSCN2992

dokprib

Sabtu, 27 Januari 2018

Saya sampai di Esenler Otogar pada hari Sabtu pagi sekitar pukul 5.30 waktu Istanbul Eropa setelah menempuh perjalanan kurang lebih 7 jam dengan bus dari kota Izmir. Termasuk lebih cepat daripada yang dijadwalkan. Meskipun begitu, saya justru kesal lantaran artinya saya harus menunggu lama datangnya matahari sekitar jam 8 pagi. Apalagi, otogar atau terminal di Istanbul cukup ramai. Saya pun memutuskan pergi ke Topkapi-Ulubatli dengan metro untuk menjumpai teman saya yang juga ikut kegiatan magang. Rencananya, kami akan pergi sama-sama ke lokasi acara.

Setelah membeli sucuklu borek dan patatesli pogaca untuk sarapan, saya hanya diam di stasiun metro Topkapi-Ulubatli. Sedih sekali. Mau kemana-mana pun, masih gelap. Baca lebih lanjut

Iklan

Perbedaan Kehidupan di Desa dan di Kota

buah-buah-eksotis-indonesia-khas-area-tropis-_120601233730-947

Republika

Sore ini ketika lagi makan buah kiwi, saya dan room mate tiba-tiba teringat buah-buahan yang ada di kampung halaman. Sekeliling rumah saya rasanya bisa disebut kebun buah deh. Ada buah mangga, rambutan, jambu air, jambu biji, avokado, kedondong, sirsak, nangka, pepaya, pisang, buah naga, sawo, belimbing, mengkudu, murbei (besaran), buah asam, ciplukan, tetesemis (nb: nggak tahu bahasa Indonesia-nya apa), hingga pohon kelengkeng yang nggak berbuah – eh – mudah sekali diperoleh. Bahkan berjalan ke sawah yang letaknya tidak jauh dari rumah, akan ada buah melon, semangka, salak pondoh, hingga jeruk. Udahlah ya, mau makan buah apa aja, gampang.

Di kelas persiapan bahasa Turki dulu, saya dan Pamela seringkali berdebat mengenai mana yang lebih menguntungkan; tinggal di kota, atau di desa. Pamela tumbuh besar di Miami, USA yang boleh dibilang kota. Sedangkan saya sebaliknya, 18 tahun lahir dan besar di desa Buluagung, Banyuwangi. Jika Pamela menganggap tinggal di desa itu lebih menguntungkan, saya menganggap sebaliknya. Hm, mungkin memang rumput tetangga itu selalu lebih hijau.

Kenapa saya bilang tinggal di kota itu menguntungkan? Melihat posisi saya sebagai anak desa selama 18 tahun, saya paham betapa susahnya memperoleh asupan bacaan baru. Waktu itu, menjangkau Gramedia membutuhkan waktu kurang lebih dua jam lebih dari tempat saya. Kalau memaksa ingin membeli buku di toko buku dekat, banyakan buku bajakan yang kertasnya nggak bagus dan mudah lepas dari sampulnya. Baca lebih lanjut

Kilas Balik Tahun 2017 dan Resolusi Tahun 2018

Selamat datang tahun 2018!

Postingan yang terlambat. Tapi nggak apa-apa lah ya, daripada enggak sama sekali. Hihi. Dua minggu terakhir kemarin, saya disibukkan oleh Ujian Akhir Semester (UAS) 5. Cepet banget deh. Perasaan baru kemarin belajar bahasa Turki, eh udah mau lulus aja.

Tahun 2017 kemarin merupakan tahun yang sangat berharga buat saya. Nggak banyak sih yang saya lakuin. Nggak produktif juga. Tapi setidaknya, saya merasa telah belajar sesuatu dan mencoba hal-hal baru yang sebelumnya tidak begitu terpikirkan dan terbayangkan.

KILAS BALIK 2017

Pertukaran Mahasiswa di Praha, Republik Ceko

IMG_3010

Metropolitan University Prague (dokumen pribadi)

Mungkin bagi sebagian orang, ini biasa aja. Ya emang iya sih. Terlebih bagi mahasiswa/i yang kuliah di Turki, pertukaran mahasiswa ke Eropa di bawah naungan program Erasmus+ bukan hal yang spesial karena peluangnya besar. Tapi bagi saya, Baca lebih lanjut

Pengalaman Magang di Media Turki

ege-ajans-26-yasinda-hbrfoto-2012-20120201105027

kentyasam

Tanggal 4-8 Desember 2017 kemarin saya magang di media kampus – Ege Ajans/Ege (Aegean) Agency – untuk memenuhi syarat kelulusan. Total waktu magang yang harus kita penuhi adalah dua bulan yang meliputi satu bulan magang di kampus, dan satu bulan sisanya magang bebas di luar kampus. Nah, magang satu bulan di dalam kampus tadi dibagi menjadi empat semester; yang artinya kami perlu magang selama seminggu di setiap semester 5-8.

Karena saya berasal dari jurusan jurnalistik, saya ditugaskan untuk menjadi muhabir (dalam bahasa Turki) atau news reporter selama magang. Setiap jam 09.00 pagi, kami mahasiswa magang harus sudah berkumpul di haber odası atau newsroom untuk Baca lebih lanjut

Mengapa Membaca Itu Lebih Menyenangkan Daripada Menonton?

stock-vector-cartoon-of-girl-student-studying-reading-book-105444905

shutterstock.com

Bagi sebagian orang, menonton itu lebih menyenangkan daripada membaca. Sedangkan bagi sebagian orang lainnya, seperti saya, membaca itu jauh lebih menyenangkan. Kategori buku favorit saya adalah novel, biografi ataupun autobiografi, hingga studi kasus. Hanya buku tutorial yang seringkali membuat saya bosan. Saya lebih suka buku yang mengandung sebab-akibat. Nah, kiranya dengan melihat tipe buku bacaan saya,  berikut adalah alasan mengapa saya lebih suka membaca daripada menonton; mungkin juga jadi alasan sebagian orang lainnya.

Punya Waktu Lebih untuk Berpikir

Di sela-sela membaca, saya suka banget berhenti di tengah-tengah, lalu melempar pandangan ke udara. Kadang, saya merasa butuh waktu untuk mencerna ataupun mengevaluasi apa yang saya baca. Entah endingnya berujung pada persetujuan ataupun sebaliknya. Kadang, saya perlu bernafas panjang, melempar badan ke kursi, menutup buku, ataupun tertawa sampai jungkir balik. Baca lebih lanjut

[Resensi Buku] The Partner

Life on the run was life in the past. There was no closure. (p. 116)

9780385485784-us

abebooks

Judul Buku : The Partner
Penulis : John Grisham
Penerbit : Doubleday
Tahun : 1997
Jumlah Halaman : 366 hlm.

It began when he disappeared. But it didn’t really start until they found him…

QUOTES

Life on the run was life in the past. There was no closure. (p. 116)

It’s a lawyer’s dream. Threaten everything, but walk away with the settlement. (p.169)

“… I’ve been a judge for twelve years, and I’ve seen people stand before me and confess to crimes that they still couldn’t believe they committed. Under the right circumstances, a man can do just about anything.” (p. 295)

“… I know it’s a bitter pill to swallow, but you can’t change the facts…” (p. 340)

“Everybody wants to run, Karl. At some point in life, everybody thinks about walking away. Life’s always better on the beach or in the mountains. Problems can be left behind. It’s inbred in us. We’re the products of immigrants who left miserable conditions and came here in search of a better life. And they kept moving west, packing up and leaving, always looking for the pot of gold…” (p. 353-354)

SUMMARY

Sebenernya saya pengin banget tulis rangkuman panjang-panjang. Tapi berhubung minggu ini jadi salah satu minggu supeeer sibuk, saya bakal menuliskan resensi ini sesingkat mungkin. Oke, langsung saja.

Patrick Lanigan merupakan seorang partner di salah satu perusahaan hukum di Amerika Serikat yang membawa kabur uang senilai USD 90 milyar, serta memalsukan kematiannya yang berujung tuduhan pembunuhan, hingga kabur ke Brazil. Baca lebih lanjut

[Resensi Buku Non-Fiksi] The Innocent Man

‘This is a true story of the criminal justice system gone terribly wrong.’

innocent man

ebookmanualspro.info

Judul Buku : The Innocent Man 

Penulis : John Grisham

Penerbit : Arrow Books

Tahun : 2007

Jumlah Halaman : 501 hlm.

Ron Williamson was a star college baseball player in the small town of Ada, Oklahoma. When he left to pursue his dreams, he seemed destined for glory. But years of injury, drinking, drugs and women took their toll.

He returned to Ada a lonely drifter. In 1982, a 21 year-old cocktail waitress was raped and murdered. After five years of fruitless investigation the police arrested Williamson for want of any other suspect. The case against him was built on bogus evidence and the testimony of jailhouse snitches and convicts. He was found guilty at trial and sent to Death Row.

This is a true story of the criminal justice system gone terribly wrong. A vengeful prosecutors and incompetent defence lawyers. Of a man’s journey to hell. A journey from which he nearly didn’t return.

QUOTES

There were too many people back home counting on him. His family had sacrificed too much. He’d bypassed college and an education to became a major leaguer, so quitting was not an option. (p. 64) Baca lebih lanjut