[Resensi Buku] Deception Point


deception point

Judul Buku : Deception Point

Penulis : Dan Brown

Penerbit : Pocket Books

Tahun : Desember 2002

Jumlah Halaman : 558 hlm.

A shocking scientific discovery.

A conspiracy of staggering brilliance.

A thriller unlike any you’ve ever read…


When a NASA satellite discovers an astonishingly rare object buried deep in the Arctic ice, the floundering space agency proclaims a much-needed victory-a victory with profound implications for NASA policy and the impending presidential election. To verify the authenticity of the find, the White House calls upon the skills of intelligence analyst Rachel Sexton. Accompanied by a team of experts, including the charismatic scholar Michael Tolland, Rachel travels to the Arctic and uncovers the unthinkable: evidence of scientific trickery-a bold deception that threatens to plunge the world into controversy. But before she can warn the President, Rachel and Michael are ambushed by a deadly team of assassins. Fleeing for their lives across a desolate and lethal landscape, their only hope for survival is to discover who is behind this masterful plot. The truth, they will learn, is the most shocking deception of all.

“An excellent thriller. A big yet believable story unfolding at breakneck pace, with convincing settings and just the right blend of likeable and hateful characters. A finely polished amalgam of action and intrigue.” – Publishers Weekly


Tulisan Dan Brown ini memang cukup khas, ya. Setelah membaca buku Angels and Demons, saya merasa buku Deception Point ini tipenya bisa ditebak, yaitu memiliki tokoh utama protagonis laki-laki dan perempuan berpenampilan menarik, juga cerdas, yang kemudian saling tertarik satu sama lain di penghujung cerita. Sayangnya, kedekatan tokoh utama protagonis di novel ini yaitu Rachel Sexton dan Michael Tolland terasa dipaksakan sebagai bumbu. Lanjutkan membaca [Resensi Buku] Deception Point


[Resensi Buku] Angels and Demons

dokumen pribadi

Judul Buku : Angels and Demons

Penulis : Dan Brown

Penerbit : Pocket Books Fiction

Kota : New York

Tahun : July 2001

Jumlah Halaman : 569 hlm.

An ancient secret brotherhood.

A devastating new weapon of destruction.

An unthinkable target.

World-renowned Harvard symbologist Robert Langdon is summoned to a Swiss research facility to analyze a cryptic symbol seared into the chest of a murdered physicist. What he discovers is unimaginable: a deadly vendetta against the Catholic Church by a centuries-old underground organization-the Illuminati. Desperate to save the Vatican from a powerful time bomb, Langdon joins forces in Rome with the beautiful and mysterious scientist Vittoria Vetra. Together they embark on a frantic hunt through sealed crypts, dangerous catacombs, deserted cathedrals, and the most secretive vault on earth… the long-forgotten Illuminati lair.

“A breathless, real-time adventure… Exciting, fast-paced. With an usually high IQ.”

– San Fransisco Chronicle

“Dan Brown has to be one of the best, smartest, and most accomplished writers in the country.”

– Nelson DeMille


“… Since the beginning of the time, spirituality and religion have been called on to fill in the gaps that science did not understand. The rising and setting of the sun was once attributed to Helios and a flaming chariot. Earthquakes and tidal waves were the wrath of Poseidon. Science  has now proven those gods to be false idols. Soon all Gods will be proven to be false idols. Science has now provided answers to almost every question man can ask…” p. 25

Science and religion are not at odds. Science is simply too young to understand. p. 70

Page 111-112

“An eye inside a triangle.”

“It’s called the trinacria…”

“It’s emblazoned on Masonic lodges around the world.”

“The symbol is Masonic?”

“Actually, no. It’s Illuminati. They called it their ‘shining delta’. A call for enlightened change. The eyes signifies the Illuminati’s ability to infiltrate and watch all things. The shining triangle represents enlightenment. And the triangle is also the Greek letter delta, which is the mathematical symbol –“ Lanjutkan membaca [Resensi Buku] Angels and Demons

[Resensi] The Last Juror

dokumen pribadi

Judul Buku: The Last Juror

Penulis: John Grisham

Penerbit: Bantam Dell

Tahun: 2004

Jumlah Halaman: 486 hlm.

“One of his best: a thoughtful and atmospheric thriller.” – New York Times

“His best book in years… genuinely moving.” – People

“Classic Grisham, full of excitement and colorful character.” – Denver Post

In 1970, Willie Traynor came to Clanton, Mississippi, in a Triumph Spitfire and a fog of vague ambitions. Within a year, the twenty-three-years old found himself the owner of Ford County’s only newspaper, famous for its well-crafted obituaries. While the rest of America was in the grips of turmoil. Clanton lived on the edge of another age-until the brutal murder of a young mother rocked the town and thrust Willie into the center of a storm.

Daring to report the true horrors of the crime, Willie made as many friends as enemies in Clanton, and over the next decade he would sometimes wonder how he had gotten there in the first place. But he could never escape the crime that had shattered his innocence or the criminal whose evil ad left an indelible stain. Because as the ghosts of the South’s past gather around Willie, as tension swirls around Clanton, men and women who served on a jury nine years ago are starting to die one by one-as a killer exacts the ultimate revenge…

“Grisham deserves a winning verdict for (his) latest literary thriller.” – Boston Globe


Page 19

But when you’re twenty-three, you’re fearless. You have nothing, so there’s nothing to lose.

Page 33-34

No honest man could live on such a humble salary. No honest man could move quietly through the shadows of the underworld.

Page 61

I was an ill-informed rookie, and everybody knew it. No sense in pretending I knew something when I didn’t.


Karakter utama dalam novel ini terasa sangat dekat dengan diri saya. Mahasiswa jurnalistik, usia 23 tahun, yang memulai kuliahnya dengan amat idealis. Dulu saya tidak hanya sekali diingatkan orang bahwa jurnalis itu gajinya dikit dan kerjaannya berat. Tapi dengan tekad yang menggebu-gebu ingin membawa perdamaian dunia, 18 years old me tetap bersikukuh mengambil jurusan jurnalistik. Sebelumnya pun di SNMPTN, saya dengan kukuh memilih jurusan Sastra Inggris yang mana selalu diremehkan. Atas kecintaan saya terhadap sastra – mungkin seperti kecintaan Elias Rukla dalam Shyness and Dignity ya – saya menulis Sastra Inggris di pilihan pertama, yang tentu saja tidak begitu mendapat dukungan dari sekitar. Lanjutkan membaca [Resensi] The Last Juror

Farabi di Kota yang Katanya `Paling Konservatif di Turki`

exchange program

Salah satu aktivitas yang cukup diminati mahasiswa adalah program pertukaran pelajar di universitas lain. Tak terkecuali untuk mahasiswa di kampus Turki dengan tiga program pertukarannya yaitu Erasmus, Mevlana, dan juga Farabi. Meskipun begitu, yang paling banyak peminatnya – setidaknya begitulah di universitas tempat saya belajar – adalah program pertukaran Erasmus. Program yang dinaungi oleh Uni Eropa ini mengizinkan mahasiswa di universitas Eropa termasuk Turki untuk melakukan pertukaran selama satu atau dua semester. Beasiswanya meliputi tuition fee dan uang saku yang nilainya berbeda-beda antar negara, yaitu 300-500 Euro per bulan. Sedangkan untuk tiket pesawat dan pengurusan visa, ditanggung sendiri.

Secara singkat, proses seleksi Erasmus terdiri dari 3 tahap yaitu administrasi, tes tulis, dan juga interview dengan total poin 50% dari GPA, 25% dari tes tulis, dan sisanya dari interview. Mahasiswa bebas memilih maksimal 5 universitas. Sistem pilihnya sama seperti SNMPTN/SBMPTN.

Berbeda dengan Erasmus, Mevlana dan Farabi merupakan program pertukaran yang dibawahi oleh Dewan Pendidikan Tinggi Turki. Mevlana merupakan program pertukaran ke negara-negara di luar Eropa seperti Amerika sampai Asia meliputi China, Korea Selatan, hingga Indonesia. Sedangkan Farabi merupakan program pertukaran ke universitas-universitas lain di dalam Turki.

Karena saya belum ada kesempatan ikut Mevlana, jadi kurang tahu proses seleksinya. Padahal mah pengin banget ke Korea Selatan atau China. Sayangnya, waktu itu program Mevlana di jurusan saya belum dibuka.

Farabi sendiri proses seleksinya lebih simpel. Cukup seleksi administrasi. Tapi kita hanya bisa memilih satu universitas saja. Setelah dokumen kita dikirim ke universitas tujuan, mereka akan menyeleksi calon berdasarkan IPK-nya. Beasiswa program ini sistemnya juga mirip seperti Erasmus yaitu tuition fee dan uang saku senilai 500 Turkish Lira per bulan. Kalah banyak sih dibanding uang saku Erasmus karena memang hidup di Turki masih jauh lebih murah daripada di Eropa. Ya meskipun sebagian sisi Istanbul dikatakan sebagai Eropa juga. :mrgreen:

Proses pendaftaran ketiga program tersebut biasanya dilakukan di awal tahun secara berurutan. Seperti saat ini nih.

Baca : Catatan Erasmus (Spring 2016/2017)

Kali ini mau cuap-cuap soal Farabi (Fall 2018/2019) di Selcuk University yang terletak di kota Konya.

Baca : Perbandingan 2 Universitas di Turki; Ege (Izmir) dan Selcuk (Konya)

Kenapa sih ikut Farabi? Itu kan cuma pertukaran di dalam Turki?

Iya sih. Sayangnya, sejak akhir tahun 2017 lalu, mahasiswa asing yang kuliah di Turki dengan program beasiswa penuh dari pemerintah Turki tidak diperbolehkan lagi untuk mengikuti program Erasmus dan Mevlana. Sekedar informasi aja untuk calon mahasiswa dari Indonesia yang niatannya kuliah di Turki untuk mengikuti kedua program tersebut.

Nah, karena kedua program tersebut sudah tidak diperbolehkan, larilah saya ke Farabi.

Kenapa lari?

Sebenarnya ini salah satu cara lari dari kenyataan sih :mrgreen:

Lanjutkan membaca Farabi di Kota yang Katanya `Paling Konservatif di Turki`

Perbandingan 2 Universitas Turki; Ege University (Izmir) dan Selcuk University (Konya)

Sebenernya udah planning nulis tentang ini dari zaman jahiliah. Berhubung banyak banget alasan sok sibuk urusin feed akun instagram baru – follow ya @portrayalofawanderlust yang berisi hasil jepretan sederhana ngebolang :mrgreen: – jadilah urusan blog terbengkalai. Udah agak basi juga mengingat pendaftaran program beasiswa pemerintah Turki tahun ini sudah mau ditutup. Bisa diaplikasikan untuk jadi referensi pendaftaran tahun depan, ya.

Sebelumnya, perkenalan dulu. Perlu dipahami bahwa penilaian ini sifatnya subjektif. Kalau mau tau penilaian kualitas kampus berdasarkan research dls, bisa dilihat di webometrics, topuniversities, mastersportal, 4icu, dan masih banyak lagi. Sebaliknya, penilaian ini hanya berdasar pada pengalaman yang dialami oleh mahasiswi akhir program S1 Jurnalistik Fakultas Ilmu Komunikasi Ege University – yang kemudian disebut Ege saja – yang ditakdirkan mengeyam pendidikan di jurusan sama di Selcuk University – yang kemudian disebut Selcuk saja – selama satu semester. Monggo disimak. 

Ege University Logo
Berdiri sejak 1955 di IZMIR
Selcuk University Logo
Berdiri sejak 1975 di KONYA


Biasanya nih, yang dicari dari sebuah kampus tak luput dari fasilitasnya. Salah satu yang signifikan menurut saya adalah perpustakaannya. Lanjutkan membaca Perbandingan 2 Universitas Turki; Ege University (Izmir) dan Selcuk University (Konya)

[Review Buku] The Subtle Art of Not Giving A F*ck

the subtle art of not giving a fuck mark manson

Judul Buku : The Subtle Art of Not Giving A F*ck

Penulis : Mark Manson

Penerbit : HarperOne

Tahun : 2016

The self help book for people who hate self help books. The Subtle Art of Not Giving a Fuck is all about self-improvement not through avoiding problems or always being happy, but rather through engaging and improving upon problems and learning to accept the occasional unhappiness. It’s a radical departure from anything else you’ve ever read, and that’s what makes it so powerful.

“An in-your-face guide to living with integrity and finding happiness in sometimes-painful places. … This book, full of counterintuitive suggestions that often make great sense, is a pleasure to read and worthy of rereading. A good yardstick by which self-improvement books should be measured.” – Kirkus Reviews

Buku ini sempat booming beberapa waktu yang lalu. Bahkan mungkin masih booming hingga sekarang. Teman-teman saya di media sosial banyak sekali yang memamerkan buku ini. Alhasil, saya pun termakan omongan mereka. Buku The Subtle Art of Not Giving A F*ck ini diterjemahkan ke bahasa Indonesia dengan judul Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat. Sedangkan dalam bahasa Turki dengan judul Ustalık Gerektiren Kafaya Takmama Sanatı.

Menurut saya, cara ternyaman membaca buku adalah dengan membaca buku versi non-terjemahan, selama kita mengerti bahasanya. Karena bagaimanapun, terjemahan itu bisa berbeda antar satu sama lain. Soalnya kan menerjemahkan bukan sekedar mengubah bahasanya sama persis, namun juga menjadikan konteks sama untuk lebih mudah dipahami. Beruntungnya, saya menemukan buku ini dalam versi aslinya di aplikasi AnyBooks. Sudah saya bahas di sini. Pokoknya aplikasi favorit deh.

Buku ini dibagi menjadi 9 bagian sebagai berikut : Lanjutkan membaca [Review Buku] The Subtle Art of Not Giving A F*ck

[Quotes Buku] Winning

winning jack welch

Judul Buku : Winning

Penulis : Jack Welch with Suzy Welch

Penerbit : Harper Collins Publishers

Kota : London

Tahun : 2005

Jumlah Halaman : 372 hlm.

Jack Welch knows how to win. During his forty-year career at General Electric, he led the company to year-after-year success around the globe, in multiple markets, against brutal competition. His honest, be-the-best style of management became the gold standard in business, with his relentless focus on people, teamwork, and profits.

Since Welch retired in 2001 as chairman and chief executive officer of GE, he has traveled the world, speaking to more than 250,000 people and answering their questions on dozens of wide-ranging topics.

Inspired by his audiences and their hunger for straightforward guidance, Welch has written both a philosophical and pragmatic book, which is destined to become the bible of business for generations to come. It clearly lays out the answers to the most difficult questions people face both on and off the job.

Welch’s objective is to speak to people at every level of an organization, in companies large and small. His audience is everyone from line workers to MBAs, from project managers to senior executives. His goal is to help everyone who has a passion for success.

Welch begins Winning with an introductory section called “Underneath It All,” which describes his business philosophy. He explores the importance of values, candor, differentiation, and voice and dignity for all.

The core of Winning is devoted to the real “stuff” of work. This main part of the book is split into three sections. The first looks inside the company, from leadership to picking winners to making change happen. The second section looks outside, at the competition, with chapters on strategy, mergers, and Six Sigma, to name just three. The next section of the book is about managing your career—from finding the right job to achieving work-life balance.

Welch’s optimistic, no excuses, get-it-done mind-set is riveting. Packed with personal anecdotes and written in Jack’s distinctive no b.s. voice, Winning offers deep insights, original thinking, and solutions to nuts-and-bolts problems that will change the way people think about work.


Sebenarnya, ini merupakan buku yang sangat menarik untuk disimak bagi orang-orang yang bersiap masuk ke dunia kerja. Saya pun menikmati buku ini. Namun karena terhalang tugas dls, saya hanya menyelesaikan 2/5 buku ini saja sehingga tidak pantas rasanya disebut review. Lagian biasanya juga review ala kadar sih. Haha. Anyway, setelah tugas kelar dan saya kembali ke buku ini, rasanya sudah tidak pas lagi melanjutkan membaca dari tengah buku. Meski begitu, sayang apabila saya tidak membagikan beberapa catatan kecil ketika membaca sebagian buku ini. Silakan disimak! Lanjutkan membaca [Quotes Buku] Winning