Cerpen dimuat di Radar Banyuwangi, 21 April 2013 : Tenggelam di Laut Kidul

Tenggelam di Laut Kidul

Oleh : Naelil

1. Cerpen Tenggelam di Laut Kidul - Radar BWI 21 April 2013

Aku duduk di pelataran. Memikirkan haluan. Bosan rasanya jika hari Minggu hanya dihabiskan untuk diam di rumah seorang. Kuputuskan untuk pergi jalan-jalan.

Mengendarai motorku, aku melesat cepat ke kediaman Rega. Sahabatku.

“Ga, main yuk!” ajakku ketika rem motor baru saja kuinjak. Rega tertawa kecil ketika melihat kedatanganku. Aku memarkir sepedaku di bawah pohon rambutan besar yang bertengger di depan rumahnya. Pohon rambutan yang banyak memberikan kenangan pada kami. Dulu, aku dan Rega senang sekali memanjat pohon rambutan gemuk itu hanya demi menggapai beberapa butir buah berwarna merah ranum yang dikenal dengan sebutan rambutan Rafiah itu. Di atas, kami sering bercengkrama untuk sekedar membahas tentang guru paling menyebalkan di sekolah, murid paling kece sejagad, hingga ke otomotif dan perguruan tinggi.

Kami, kini duduk di kelas 3 SMA. Dalam hitungan minggu, kami akan segera angkat kaki dari putih abu-abu. Dan kami, akan segera berlanjut ke perguruan tinggi tercanggih di Jawa. Tercanggih versi kami sendiri tentunya.

“Main kemana?” Rega menghancurkan lamunanku.

“Ke…,” pikiranku mulai menjelajah di atas peta. “Bagaimana jika ke Laut Kidul?” ceplosku.

“Hush! Asal kamu bicaranya! Kata orang, Laut Kidul itu banyak penunggunya,” jawab Rega.

“Kamu, Ga. Bentar lagi kita udah kuliah loh ini. Jadi masyarakat intelek. Masa percaya mitos basi begituan sih?”

“Ssst! Jangan asal, San. Banyak buktinya. Lihat deh, laut kidul itu selalu sepi pengunjung. Keramat kan?”

“Rega…Rega…,” kutepuk kedua bahunya. “Memang siapa penunggunya? Nyi….”

Belum sempat kulanjutkan bicaraku, Rega sudah membungkam mulutku. “Jangan disebut! Pamali!”

Aku terkekeh. Rega benar-benar sudah seperti kakek-kakek sejak tinggal bersama neneknya. Anak itu mungkin berpikir bahwa realitas bagaikan kehidupan dalam dunia Harry Potter. Penuh sihir dan fantasi. Nama Voldemord yang konon tak boleh disebut itu jadi alasan Rega untuk menirukan dan membawanya ke alam nyata. Aneh.

“Rega, kamu ingat cita-cita kita, kan? Kita akan kuliah di kota. Kujamin, di sana kamu bakal dicap laki-laki paling freak yang pernah ada. Semua orang bakal ngejauhin kamu. Ini bukan jamannya Majapahit, Mataram, atau apalah namanya, Ga. Sudah nggak musim. Mitos basi itu sudah nggak berlaku. Namanya aja mitos,” cerocosku panjang lebar.

Rega berpikir sesaat.

“Tapi kata nenekku…”

“Nggak usah khawatir, Ga. Kita ke sana berdua. Bukan seorang diri. Lagipula nih, kalau kita berani ke sana dan kita baik-baik saja. Kita bisa jadi orang pertama yang mampu membantu pemerintah memberdayakan Laut Kidul. Bakal banyak wisatawan yang kemari. Lapangan kerja makin luas. Masyarakat hidup tentram. Misteri ini bakal terpecahkan. Mitos basi itu bakal terkuak dan tak terbuktikan.”

“Tapi kalau kita pulang nggak selamat, San?”

“Penakut banget sih! Ayolah, Kawan. Kita cuma butuh keberanian dan niat. Percaya deh sama aku.”

Akhirnya, entah dengan alasanku yang mana, Rega bersedia kuajak pergi ke Laut Kidul. Laut yang letaknya memang di selatan desa kami. Tidak terlalu jauh sih. Hanya beberapa belas kilometer.

Ternyata, Laut Kidul tampak jauh lebih cantik daripada dugaan kami. Lautnya tampak tenang. Udaranya asri dan semilir. Aku tak yakin jika laut setenang itu dapat melumat kami.

“Berenang yuk!”

“Sepi, San. Nggak ada orang. Kalau kita kenapa-napa, siapa yang bakalan tolongin kita?” Rega masih tampak takut. Aku menepuk pudaknya. Menatapnya yakin.

Kami pun mulai menerjunkan diri ke dalam air. Sejuk sekali. Birunya air laut terasa sedikit asin ketika mengenai lidah kami. Meski begitu, gerakan kami tetap cekatan. Menjelajahi lautan.

“Enak banget, San!” teriak Rega.

“Aku bilang juga apa, Ga,” aku tersenyum menatapnya yang masih sibuk bermain air.

“Aku mau banget tiap hari ke sini, San.”

“Daripada bolak-balik. Sekalian aja tinggal di sini,” candaku.

“Susah dong, kalau kita mau berangkat sekolah bareng? Kan jaraknya jauh.”

“Gampang. Aku tinggal teriak nama kamu sekencangnya di sini.”

Aku dan Rega tertawa lepas. Kecibang-kecibung dengan air. Kami mulai beradu kecepatan dan keberanian untuk berenang agak ke tengah lautan. Rega semakin menggila karena posisinya kini sudah berada di depanku. Ia makin cepat melaju. Aku pun mengejarnya dengan tak kalah membabi-buta. Air laut tampak menggulung kecil. Rega menganggu penglihatanku dengan menyibakkan air ke arahku yang berada tepat di belakangnya.

“Rega! Sialan!” aku berusaha menyeimbangkan kondisi mataku yang terasa perih. Aku mencoba menyumbulkan kepala ke permukaan.

“Sandi…Sandi! Tolongin aku!”

Teriakan itu tiba-tiba muncul dari tengah lautan. Itu suara Rega. Aku segera berenang ke tengah mencari sosoknya. Tampak Rega mulai kuwalahan menghadapi arus dan angin yang tiba-tiba menerjang lautan. Aku berenang sekuat yang aku mampu demi menggapai tangan Rega. Jantungku memompa kencang seiring gemetaran tanganku yang kian tak teratur menyelami lautan.

Terus…terus…aku terus melaju. Menerjang arus dan ombak. Tanpa peduli apapun. Aku yang mengajaknya berenanng di laut penuh misteri ini. Jadi, akulah yang harus bertanggungjawab.

Tinggal sejengkal lagi. Wajah pucat Rega sudah mampu kulihat dengan jelas.

Yak, aku berhasil menggapainya. Segera kurapalkan doa-doa keselamatan dalam kalbuku. Berdoa agar aku dan Rega diberikan kesempatan untuk bertahan. Aku dan Rega masih memiliki banyak impian bersama. Kami akan bersama-sama kuliah ke universitas negeri terbaik di Jawa. Itu janji kami.

Masih terus berusaha berenang ke tepian, aku melihat bibir Rega bergetar. Ia tampak membisikkan sesuatu kepadaku melalui birunya air laut kidul. Aku tak mampu mendengar suaranya. Aku pun hanya menanggapi Rega dengan senyuman. Rega membalas senyumku. Wajahnya terlihat damai dan sejuk. Tiba-tiba, tubuhnya terasa semakin berat. Aku mengencangkan lingkar tanganku ke tubuhnya. Rega menggeleng.

“Ikhlaskan aku, Sandi…” ucap Rega pelan. Nyaris tak terdengar.

“Jangan, Rega! Jangan! Jangan menyerah, Rega! Bertahanlah! Aku sanggup membawamu ke tepian! Rega…! Jangan!” teriakku yang kupastikan hanya sampai dikerongkongan. Meski demikian, terus kutarik tubuh Rega. Tak peduli lelah yang sudah menjalar ke seluruh ototku. Rega mulai terlepas dariku. Aku berusaha menjangkau tubuhnya yang mulai tenggelam. Rega semakin jauh. Aku semakin kalut. Terus kurapalkan doa-doa yang lafatnya kubunyikan tidak karuan.

“Rega…!” aku mulai menangis. Nafasku pun mulai sesak dan berat. Oksigen seolah terlalu mahal untuk kudapatkan. Aku berusaha mengangkat tangan ke atas. Berharap ada seseorang yang melihat dan berbaik hati menolong aku dan Rega yang nyaris hilang.

“Sandi! Sandi!”

Aku merasakan tubuhku ringan berbaring di atas kasur. Kuharap, barusan yang kualami hanyalah mimpi buruk belaka. Nyatanya, aku sedang tidur di atas kasur yang enak. Pasti aku lupa membaca doa sebelum tidur tadi. Dan itulah penyebab datangnya mimpi buruk itu.

Kubuka mataku pelan-pelan. Semua mulanya tampak buram dan samar. Perlahan-lahan, semuanya menjadi jelas. Ada ibu yang terus menangis sembari menciumi telapak tanganku. Ayah dengan senyum pucat khasnya. Dan beberapa orang berpakaian putih yang lalu-lalang. Aku baru sadar betul dimana aku berada ketika melihat sebelah tanganku yang telah diinfus.

Rumah sakit. Puskesmas. Atau entah apa. Yang jelas semacam itu.

Aku ragu jika yang kualami hanya sekedar bunga tidur. Aku mulai panik. Kuniatkan untuk bertanya pada ibu tentang apa yang terjadi. Namun, bibirku terlampau kelu untuk berucap. Semuanya tertahan. Terjebak di jalur keluar.

Ibu berusaha menenangkanku. Memberiku sedikit air putih. Kuteguk beberapa kali. Aku mulai tenang. “Rega mana?” Kata-kata pertama yang ke luar dari mulutku adalah itu. Sebuah pertanyaan tentang keberadaan sahabatku. Kemudian, ayah dan ibu saling bersitatap sesaat.

“Rega sudah pulang ke sisi Tuhan, San.”

Deg!

Waktu rasanya sudah berhenti berjalan. Alam bebas rasanya mati dan kaku. Aku butuh waktu untuk memahami apa yang ibu ucapkan. Kucerna kata-kata itu perlahan. Mataku terasa panas. Begitu pula dengan tubuhku.

Aku mulai menangis. Ibu mengusap kepalaku haru. Aku ingin marah. Bagaimana bisa Tuhan memanggil Rega sebelum aku dan dirinya sempat menggapai mimpi kami bersama? Tidakkah Rega terlalu muda untuk itu? Lagipula, jika memang ini karena pelanggaran yang aku lakukan bersama Rega, patutnya aku yang pergi. Bukan Rega. Karena jika ditanya siapa yang patut dipersalahkan atas kematian Rega, dialah aku. Aku penyebab kematiannya. Argh! Aku benar-benar jahat. Aku adalah sahabat terburuk yang pernah ada!

Iklan

One thought on “Cerpen dimuat di Radar Banyuwangi, 21 April 2013 : Tenggelam di Laut Kidul

  1. Ping-balik: Cerpen Komedi Gagal : Bulat Onde-Onde – Naelil The Climber

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s