Cerpen dimuat di Radar Banyuwangi, 7 Juli 2013 : Hati Ibu

Hati Ibu

(Naelil)

3. Cerpen Hati Ibu - Radar BWI 7 Juli 2013

“Di, kamu itu kalau dinasehati, mbok ya nurut sama Ibu.”

Teriak ibu dari dalam dapur. Aku pura-pura tak dengar dengan menghidupkan mesin sepeda motor keras-keras. Kemudian segera pergi menuju ke sekolah.

“Dasar bocah. Dikasih tahu, malah kabur…”

Samar-samar, kudengar ibu ngedumel karena ulahku. Maafkan aku, Ibu. Bukan maksudku untuk melukai hatimu. Tapi, aku sudah dewasa. Tahu mana yang baik dan mana yang tidak baik. Kuharap ibu tidak memperlakukanku seperti anak TK lagi. Aku tersenyum sendiri mengingat ulah ibu.

***

Sekolah masih sepi. Belum tampak riuh-renyah siswa-siswi yang bergerumbul membicarakan rivalnya. Udara masih bersih. Cicitan burung pun masih segar di telinga. Aku menghempaskan pandangan ke arah parkiran yang masih kosong di depanku.

“Ya sudah. Terima kasih sudah mengantarku, ya, Mas Reno. Aku masuk dulu.”

Aku menengok ke arah munculnya suara dari ambang gerbang. Seorang siswi nampaknya baru saja datang di antar sesorang. Aku hanya menatapnya miris. Kapan aku bisa mengantar seorang siswi ke sekolah? Lagipula, siapa yang mau kubonceng menggunakan sepeda bermesin berisik penuh kemebulan asap ini?

“Mas Aldi? Datangnya pagi amat, Mas?” tanya siswi tadi. Ia ternyata mengenalku. Ternyata juga, dia adalah Lira, adik kelasku yang pada semester lalu duduk denganku saat ujian.

Aku cengengesan sesaat. Memandang sekitar. Mencari wangsit yang sekiranya muncul. Sayangnya tidak. Aku pun menjawab, “Iya nih, Dek. Lagi pengin datang pagi aja.”

“Oh, kirain mau nyontek PR teman. Ya, udah, Mas. Lira duluan ya…”

Aku termenung. PR? Astaga, benar. Rasa-rasanya aku belum mengerjakan PR Matematika. Aku pun segera berlari menuju kelas. Membuka buku dan mulai mengerjakan PR. Hm, pasti enak jika memiliki seorang pacar yang perhatian. Bisa diingatkan apabila ada PR sehingga aku tidak perlu lagi susah-susah mengerjakan PR di sekolah yang pasti waktunya mepet.

***

Aku membantu bapak mencari rumput untuk makanan sapi-sapi milik bapakku yang gemuk bukan main. Jika sapi tersebut dijual, pasti aku bisa membeli sepeda motor besar yang kece abis. Cuma lewat saja, sudah dilirik gadis-gadis cantik. Apalagi kalau sudah tebar pesona. Mereka pasti langsung pingsan.

“Pak, kenapa sih, sapinya nggak boleh dijual? Apa Bapak nggak kasihan lihat anaknya yang ganteng ini nggak cepat-cepat dapat pacar gara-gara motornya butut?” tanyaku pada bapak. Beliau terkekeh kemudian menatapku.

“Kamu pengin motor baru, Di?”

“Ya jelas to, Pak. Emang Bapak nggak ingin lihat anaknya ngebonceng cewek cantik?”

“Aldi…Aldi. Bapak nggak punya motor, tapi Ibumu yang jelita itu mau aja sama Bapak.”

Oke. Ibu memang cantik. Kulit ibu putih bersih seperti orang Jepang. Rambutnya hitam lebat lurus. Ada dua lesung pipit yang bertengger di pipinya. Pokoknya, secara fisik, bapak terbilang beruntung bisa mendapatkan ibu.

“Aldi, kamu memangnya mau punya pacar matre?”

“Maksud Bapak?”

“Begini, Le. Kalau akhlakmu baik, yang datang adalah perempuan berakhlak baik pula. Kalau yang kamu tonjolkan kekayaanmu, yang datang ya perempuan matre. Pilih mana?”

“Pilih… Ya pilih dua-duanya aja, Pak. Kaya hati, kaya harta,” candaku. Bapak terkekeh-kekeh. Aku tersenyum simpul. Bapak ada benarnya juga. Tapi kalau aku memang mau pilih dua-duanya gimana?  Bawah sadarku mendadak datang dan mengingatkanku akan bumi pijakan. Ingat, Aldi. Wajahmu gimana? Akhlakmu gimana? Hartamu gimana? Sadar diri dong. Aku geleng-geleng. Beristigfar.

***

Malam mulai larut. Aku tak kunjung terlelap. Masih sibuk bergelut dengan guling. Memandangi langit-langit rumah yang tak beratap. Hanya ada sarang laba-laba dan debu. Kadang terdapat tetesan air, jika hujan turun.

Le, ada berkat,” panggil Ibu memecah lamunanku.

Tanpa menjawab, aku segera ke luar. Ibu dan bapak tersenyum menyambutku. Aku membalas senyum mereka berdua. Mataku menatap satu set rantang berisikan aneka makanan. Aku tergiur akan berkat hasil kendurian bapak dari rumah tetangga yang sedang merayakan kelahiran anaknya.

Tanpa dikomando, pun bahkan tanpa cuci tangan, aku segera menyambar nasi dan ayam gorengnya. Nyam-nyam. Enakkk!

            “Di, boleh Ibu bicara?”

Aku menatap ibu. Aneh sekali. Tak biasanya ibu minta izin dulu sebelum bicara. Biasanya sih, langsung tar-ter-tor.

“Bicara saja, Bu,” ucapku dengan mulut penuh nasi.

“Gini, Di. Bukannya Ibu mau sok otoriter. Tapi ini demi masa depanmu,” terang ibu yang membuat proses mengunyahku berhenti, “Untuk saat ini, kamu jangan mikir pacaran ya? Fokus sekolah dulu. Nanti, perempuan pasti akan datang kepadamu dengan sendirinya. Belajar yang sungguh-sungguh, ya…”

Aku menelan nasi dengan mantab.

“Nggak usah takut nggak laku. Wong kamu lo tampan, Le. Tinggal memperbaiki akhlak supaya lebih baik dan tingkatkan prestasi supaya sukses di dunia-akhirat,” lanjut bapak seraya membesarkan hatiku. Aku manggut-manggut.

Sejujurnya, aku tak terlalu bernafsu dengan yang namanya pacaran. Hanya saja, rata-rata temanku semuanya sudah pada pacaran. Aku mungkin sedikit khawatir dengan sebutan gay. Secara, aku memang cowok normal. Tanpa embel-embel, tanpa pengurangan. Cukup “normal” saja.

***

“Di, masih kepengin punya pacar?” tanya Arya yang kemarin memang kumintai tolong untuk mencarikanku kenalan untuk-mungkin mau-menjadi kekasihku.

“Memangnya ada yang mau denganku, Ar?”

“Jangan gitu dong, Di. Lira mau sama kamu.”

“Lho, bukannya dia sudah punya pacar? Kemarin aku melihatnya diantar seorang cowok.”

“Cowok itu kakaknya. Namanya Mas Reno. Dia sekarang kuliah di Malang. Makannya jarang pulang. Agak canggung kalau ngobrol sama Lira.”

“Oh, gitu…”

“Jadi gimana, Di? Mau aku carikan jalan agar dekat dengannya?”

Aku mengetukkan ujung jemariku di atas meja. Bingung. Ini kesempatanku, tapi aku juga tak bisa semudah itu mengabaikan nasehat ibu semalam.

“Gimana, Di?” ulang Arya tak sabar.

“Boleh deh.”

Kurasa tak ada salahnya mencoba. Selama kita pacaran dalam batas wajar dan baik-baik. Selama itu tidak mengganggu prestasiku di sekolah. Tak masalah, bukan? Toh, ibu dan bapak tak akan tahu ini. Kecuali, jika ada yang bermulut ember melaporkannya.

***

Hari ini aku akan bertemu dengan Lira. Istilah kerennya, PeDeKaTe. Aku pun bersiap-siap dengan matang. Ini kencan pertamaku-jika boleh disebut kencan. Dan aku mau semuanya berjalan lancar.

Mataku melotot di depan cermin. Menelusuri setiap liuk wajahku. Lumayan. Kusisir rambutku berulang-ulang. Tak lupa, memberinya sedikit minyak rambut. Kurasa aku telah siap. Kemeja cokelat garis-garis. Celana jeans vintage.

“Aldi?”

Tiba-tiba, tanpa izinku, ibu sudah masuk ke ruangan pribadiku dengan mengendus-ngendus.

“Wangi sekali? Bapak sudah ngomong ke kamu ya kalau Ibu mau berkunjung ke pernikahan putrinya Bulik Ipah?”

Aku menatap ibu. Tak paham.

“Ya sudah, bagus kalau gitu. Bagus. Cepat berangkat, ayo!” tarik ibuku ke luar kamar.

“Maksud Ibu? Ibu mengizinkanku pacaran?” tanyaku polos. Tatapan ibu padaku berubah.

“Ibu kira kamu mau antar Ibu berkunjung ke pernikahan. Ternyata, kamu mau ke rumah pacar kamu ya?”

Aku mengangguk polos.

Hening.

Ibu duduk di kasurku. Menunduk. Aku segera duduk di sampingnya.

Mbok ya nurut to, Di, kalau Ibu bilangin. Jangan pacaran dulu. Tahan, Di…Tahan…”

Aku menunduk. Tanpa sengaja, aku melihat jam tanganku. Waktu sudah menunjukkan pukul 14.24 WIB. Enam menit lagi, aku harus sudah sampai di rumah Lira. Aku tak mau membuatnya menunggu.

“Di? Kamu dengarkan Ibu, kalau Ibu lagi bicara.”

“Iya, Bu. Sudah ya.. Bu. Maaf! Tapi Aldi harus berangkat sekarang,” aku meninggalkan ibu yang terdiam. Sekali lagi, maafkan aku ya, Bu?

            “Terus siapa yang antarkan Ibu? Duh gusti, anak siji kok angel diatur.”1

 

***

Aku segera datang ke rumah Lira. Tapi rumahnya sepi. Kuberanikan diri untuk mengetuk pintu. Entah karena pintunya error atau kenapa, atau memang aku mengetuk terlalu kencang, pintu terdorong masuk dengan sendirinya alias terbuka.

Dua sejoli yang beradegan mesra itu tampak kaget.

“Lira? Arya? Lira? Arya? Lira? Arya? Kalian?” ujarku berulang kali. Tak kusangka, teman pencomblangku sendiri justru ada main dengan Lira. Bagai adegan di sinetron, tanpa disuruh aku langsung berlalu. Menuju motorku kembali.

Pasti adegan selanjutnya, Lira akan memanggil namaku dan memohon maaf dengan sepenuh hatinya padaku. Dan Arya, ia pasti akan menutup mukanya dan pergi pulang. Aku tersenyum masam. Mulai menghidupkan mesin motorku pelan-pelan. Namun aneh, kenapa situasi masih tetap sama. Adem dan ayem? Kurang ajar! Aku pun memacu kencang motorku untuk pulang.

Di jalan, umpatan kasar kulayangkan sejuta jurus. Hatiku sakit sekali. Aku sudah mengerahkan seluruh kemampuanku hanya demi memiliki penampilan baik yang dapat membuat Lira terkesan. Pedih, aku merasa dikhianati.

Masih setengah jalan menuju rumah, motorku tiba-tiba berhenti. Mogok!

***

Sudah lumayan sore ketika aku sampai rumah. Namun, rumah hening. Aku berlari ke rumah tetanggaku. Bertanya apa yang terjadi.

“Tadi, Bapakmu antar Ibu ke puskesmas. Ibumu kecelakaan pas naik ojek tadi.”

Degg!

Tanpa mengucapkan terima kasih, aku segera berlari mengambil sepeda motorku kembali yang sudah sembuh setelah diperbaiki di bengkel menuju satu-satunya puskesmas yang ada di desaku.

Hatiku berkecamuk. Andai aku mau mengantarkan ibu, tidak mungkin ibu menumpang ojek. Dan kecelakaan itu, bisa jadi tidak akan terjadi. Ini semua salahku. Aku yang terlalu egois dengan hasrat remajaku. Aku yang terlalu semau sendiri dan menganggap diriku sudah cukup dewasa. Nyatanya, aku menelan kekecewaan atas kencan pertamaku. Dan kini aku harus menelan kepahitan karena ibu mengalami.

Andai waktu dapat diputar. Akan kuabaikan usul Arya. Tak akan kuhiraukan paras ayu Lira. Aku akan lebih memilih mengantar ibu. Sayang, waktu tidak dapat diputar. Dan percuma saja jika aku terus ngedumel. Kupacu motor bututku kencang-kencang…

  1. Anak satu, kok sulit diatur.
Iklan

One thought on “Cerpen dimuat di Radar Banyuwangi, 7 Juli 2013 : Hati Ibu

  1. Ping-balik: Cerpen Komedi Gagal : Bulat Onde-Onde – Naelil The Climber

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s