Refresh Iman

Ramadhan identik dengan puasa, tarawih, dan tadarus. Sebelum saya bahas lebih lanjut lagi, mari kita telaah bersama apa defisi ketika kata tersebut.

Puasa : tindakan sukarela dengan berpantang dari makanan, minuman, atau keduanya, perbuatan buruk dan dari segala hal yang membatalkan puasa untuk periode waktu tertentu[1]. Puasa mutlak biasanya didefinisikan sebagai berpantang dari semua makanan dan cairan untuk periode tertentu, biasanya satu hari (24 jam), atau beberapa hari. Puasa lain mungkin hanya membatasi sebagian, membatasi makanan tertentu atau zat.
(Wikipedia)

Tetapi dalam Islam, puasa itu hukumnya wajib bagi yang sudah baligh. Baligh dalam Islam untuk perempuan ketika telah mencapai usia 9 tahun dan/ sudah mengalami menstruasi. Sedangkan untuk laki-laki yaitu ketika telah mencapai usia 15 tahun dan/ sudah mengalami mimpi basah.
Tarawih : salat sunnat yang dilakukan khusus hanya pada bulan ramadan. Tarawih dalam bahasa Arab adalah bentuk jama’ dari تَرْوِيْحَةٌ yang diartikan sebagai “waktu sesaat untuk istirahat”. Waktu pelaksanaan salat sunnat ini adalah selepas isya’, biasanya dilakukan secara berjama’ah di masjid.
(Wikipedia)

Setelah menjalankan shalat Tarawih, umat muslim biasanya tetap berada di Masjid atau Mushola untuk bertadarus. Meskipun ada juga yang melaksanakannya di pagi, siang, ataupun sore hari. Lalu apa sebenarnya tadarus itu.
Tadarus : satu aktivitas amal yang dianjurkan oleh Nabi Muhammad saw untuk menyemarakkan bulan Ramadhan. Biasanya kegiatan ini secara jama’ah berlansung usai Tarawih dan Witir di masjid atau meunasah hingga menjelang sahur tiba. Kebiasaan tadarus yang umumnya dilakukan oleh kelompok pengajian adalah dengan membaca Alquran secara bergiliran, menggunakan pengeras suara, dan dilakukan tanpa bimbingan seorang guru yang sejatinya dapat memperbaiki bacaan peserta tadarus yang belum benar.
(Tribunnews)

Semua hal di atas terjadi dalam sebuah bulan yang teramat sangat suci. Bulan Ramadhan. Ramadhan (bahasa Arab:رمضان; transliterasi: Ramadhan) adalah bulan kesembilan dalam penanggalan Hijriyah (sistem penanggalan agama Islam). Sepanjang bulan ini pemeluk agama Islam melakukan serangkaian aktivitas keagamaan termasuk di dalamnya berpuasa, salat tarawih, peringatan turunnya Alquran, mencari malam Laylatul Qadar, memperbanyak membaca Alquran dan kemudian mengakhirinya dengan membayar zakat fitrah dan rangkaian perayaan Idul Fitri. Kekhususan bulan Ramadan ini bagi pemeluk agama Islam tergambar pada Alquran pada surat Al – Baqarah ayat 185 yang artinya:

“bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan Alquran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda. Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu…”
(Wikipedia)

Jadi, tidak ada alasan untuk tidak memperkaya iman di Bulan Ramadhan kan? Yang jelas, jangan sampai di bulan yang terjadinya hanya sekali setahun ini dilewati begitu saja. Apalagi dilakoni dengan setengah hati yang menjadikannya memperkeruh iman.

Ramadhan. Banyak liburan. Iya, bukan? Sekolah libur. Eh, besok sudah mulai masuk ding.Tetap semangat ya walaupun berpuasa!

Puasa itu tentunya melelahkan karena kita harus menahan hawa nafsu, terutama makanan. Sudah pasti dengan ter-pending-nya makanan, tubuh kita akan lemas. Karena lemas, kebanyakan dari kita jadi malas ngapa-ngapain. Kerjaannya cuma molor mulu. Alasannya, “ibadah, bro.”

Yah, tapi gimanapun juga. Yang namanya ngaji-misalnya-merupakan amalan yang jauh lebih baik daripada sekedar tidur. Maksudnya tidur itu menurut saya, daripada ngegossipin orang atau ngejek tetangga, mendingan diam. Yaitu tidur.

Sebagian yang tidak bisa tidur dan hanya lemas, melampiaskan perasaannya pada jejaring sosial. Secara kan yah, sekarang jejaring sosial itu mudah banget didapat.

Yang mengherankan, keaktivan memainkan jejaring sosial jauh lebih ramai di bulan Ramadhan. Sahur, update status. Buka, update status. Nungguin bedug ditabuh pun, juga update status. Tarawih, tadarus, hingga menikmati makanan ta’jil pun juga update status. Bukannya mau nyindir atau gimana, tapi ini kenyataannya. Bahkan penulis pun juga terkadang demikian.

Itulah fenomena remaja masa kini. Harusnya yang di-refresh itu imannya. Bukan justru status facebook-nya yang di-refresh. Anyway, sebenarnya bukan cuman facebook juga yang buat ajang banter-banteran ng-refresh. Twitter, dan lainnya pun sama saja.

Okelah. Semoga itu tadi bermanfaat. Dapat mengingatkan kita bahwasanya Ramadhan bukan ajang untuk me-refresh status. Tetapi justru hal yang baik untuk me-refresh iman. Mumpung Ramadhan, bertaubatlah sodara!

Mumpung pahala lagi dilipatgandakan dan setan-setan jahat pada dikerangkeng, buruan tingkatkan iman. Berlomba mendekatkan diri kepada Illahi. Eh tunggu, kan setan-setan jahat yang suka bisik-bisik udah pada dikerangkeng tuh. Jadi, harusnya nggak ada yang berbuat melanggar hukum Islam. Kalaupun ada, berarti dia… setan bagi dirinya sendiri.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s