Interval Antara Ramadhan dan Petasan

Menjelang Ramadhan hingga di penghujung lebaran, suara petasan menderu-deru setiap waktu. Bulan yang harusnya digunakan untuk beribadah dengan khusyuk justru menjadi ajang yang tampak menakutkan. Betapa tidak? Bayangkan, ketika sedang bergelut khusyuk dengan shalat taraweh atau berdoa, tiba-tiba terdengar suara ledakan yang mengejutkan. Iya kalau yang sehat, yang punya penyakit jantung dan latah?

Di daerah saya sendiri, yang namanya petasan di bulan Ramadhan sudah menjadi hal yang lumrah layaknya kebiasaan yang sudah menjadi tradisi. Jujur, selama itu pula saya merasa risih. Mendengarnya membuat saya giris. Bagaimana jika di suatu belahan dunia sana ada muslimin latah yang sedang tadarus menggunakan mikrofon. Jika ia terkejut karena suara petasan yang menggelegar, siapa yang tahu apa yang akan dikatakannya di depan mikrofon. Andaikata latahnya kurang enak didengar, siapa yang patut dipersalahkan?

Pengalaman seorang teman saya yang memainkan petasan di bulan Ramadhan. Bukan teman sekelas sih, tapi sebaya, sama-sama kelas XII saja, makannya saya kurang tahu detail peristiwanya. Tetapi itu kejadiannya ketika kami masih di kelas XI. Ceritanya, dia main petasan sama teman-temannya dan tangannya tersulut. Tahu apa yang terjadi, luka bakar di lengannya parah sampai harus di bawa ke rumah sakit dan menjalani operasi. Daging paha dipindah ke sana. Ngeri bukan? Makannya jangan main petasan. Selain merugikan diri sendiri, juga merugikan orang lain. Mana petasan juga harus beli, lagi.

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda (artinya), “Sebaik-baik (kualitas) keislaman kaum mukminin adalah orang yang kaum muslimin merasa aman dari (kejahatan) lisan dan tangannya.” (HR. Ath-Thabrani)

Dalam hadits di atas, Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam menjelaskan tentang sifat seorang muslim, yakni muslim yang bisa membawa dan menjaga keamanan dan kenyamanan. Keamanan dan kenyamanan bisa kita jaga jika kita bisa mengendalikan tangan dan lisan kita dari menyakiti orang lain. Dan menyalakan petasan itu merupakan perbuatan yang bisa mengganggu keamanan dan kenyamanan orang lain. Banyak kita dengar keluhan demi keluhan yang keluar dari lisan kaum muslimin terhadap petasan-petasan yang disulut yang mengeluarkan suara-suara yang menggelegar. Hal tersebut sangat mengganggu kenyamanan.

Allah berfirman (artinya), “Berikanlah kerabat dekat, orang miskin dan ibnu sabil hak mereka. dan jangan sekali-sekali bersikap tabdzir, sesungguhnya orang yang suka bersikap tabdzir adalah teman setan.” (QS. al-Isra’: 26 – 27)

Jadi, daripada uangnya habis untuk membeli petasan, mendingan untuk diberikan kepada ibnu sabil.

Apa kata MUI?
“Selain dapat membahayakan orang lain dan dirinya sendiri, membunyikan petasan dan kembang api juga tidak sesuai dengan ajaran Islam sehingga kegiatan itu haram hukumnya,” kata Zaini Naim. ”Jadi, menyambut bulan suci ramadhan itu tidak harus disambut dengan suara petasan dan kembang api.”

Zaini Naim juga mengatakan bahwa jualan petasan dan kembang api tidak akan memberikan manfaat. Sebab, barang yang dijualnya itu berbahaya bagi keselamatan orang lain. ”Sehingga, uang yang diperoleh itu sifatnya haram.”

Oke, jadi sudah mengerti kan. Saya bukannya mau gimana-gimana, hukum urusan mereka yang berwenang. Hanya mewanti-wanti sodara. Perkuat iman ya di bulan Ramadhan, jangan perkuat suara ledakan dalam petasan.

Oia, lalu apa hubungan judul dengan isi postingan ini. Bagaimana interval antara Ramadhan dan petasan? Menurut saya, sangat jauh. Bahkan saling tidak terkait. Clear? Salam.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s