Anak-Anak Adalah Peniru Terbaik

Inspirasi kali ini datang dari kegiatan shalat tarawih. Entah kenapa, ide itu tiba-tiba terlintas saja ketika saya melihat seorang bocah kecil nan unyu menunaikan shalat dengan posisi yang sangat unik. Mungkin cenderung aneh?

Posisi duduk pada tahiyat terakhir sangat condong ke kanan. Bahkan bisa dipastikan jika si bocah terlena sedikit saja, ia bisa terjungkil ke kanan kemudian mengenai sebelahnya. Mengenai sebelahnya lagi. Dan yang paling ujung kanan bakalan kejedot tembok atau mungkin kaca mushola.

Dengan kaki yang seperti itu, tentu saja badan akan otomatis condong sedikit ke kanan. Namun tidak berlebihan seperti itu. Ya, tidak bisa menyalahkan mereka juga. Karena anak-anak adalah peniru yang paling baik.

Melihatnya dengan miris (baca: nggak tega lihat kepalanya yang condong sampai segitunya), saya jadi teringat masa kecil saya. Dulu, seorang teman saya, satu tahun di atas saya pernah shalat dengan posisi yang aneh. Ketika berdiri, badannya nyiur melambai-lambai layaknya dedauan yang diterpa angin topan. Ke kanan-ke kiri. Ketika saya tanya kenapa, jawabannya simpel.

“Orang tua-tua itu shalatnya begitu.”

Dan dulu saya hanya manggut-manggut. Entah setuju ataupun bingung. Sekarang saya baru memahami bahwasanya orang-orang yang usianya lebih banyak daripada kita itu dulu sedang dalam kondisi mengantuk. Secara kan yah, shalat tarawih itu nggak cuma dua atau empat rakaat. Jadi, sampai ngantuk-ngantuk dan rada menghkawatirkan posisinya.

Selain itu juga ketika berdoa, mengamini doa sang Imam yang dilafadzkan dalam Bahasa Arab sambil merem dan manggut-menggut; mengantuk. Bahkan pengakuan teman saya, dia pernah tertidur ketika mendengarkan ceramah sambil sandaran di tiang Mushola.

Well, saya pun juga pernah merasa mengantuk dan ‘nyaris’ tertidur. Terlebih ketika imamnya lebih sepuh. Rasanya, shalat terasa lebih lama. Tetapi saya selalu mencoba untuk mengingatkan diri sendiri.

“Jangan tidur. Mushola tempatnya ibadah. Masa ke Mushola cuma buat tidur?”

Oke, teknik itu memang tidak selalu berhasil. Namun sering juga berhasil.

Intinya, anak sangat membutuhkan bimbingan karena mereka rentan menirukan apa yang mereka lihat di sekitarnya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s