Terlahir Kembali

Si Ando main mobil mainan
Terkena tanjakan, macet tengah jalan
Baju lama masih dapat dikenakan
Lalu untuk apa beli baju baru selain pemborosan?

Saya dan salah seorang teman saya sempat tercengang kala melihat tingkah teman kami. Sebut saja namanya A. Ceritanya, si A ini sangat gemar berbelanja pakaian. Meskipun tidak hari raya, ia dapat membeli pakaian hampir setiap harinya. Tentu saja secara online karena kami masih sekolah, tidak memiliki waktu yang leluasa selain Minggu. Nah untuk hari raya, ia bahkan dapat menghabiskan uang lebih dari Rp.500.000 dalam sekali belanja. Bagi kantong pelajar seperti kami, itu merupakan nilai yang besar. Uang saku sekolah kami rata-rata hanya Rp.3000 hingga Rp.10.000.

“Kalau uangnya banyak sih nggak apa-apa,” jawab saya ketika kami masih tercengang-cengang.

“Tapi gimanapun, boros itu nggak baik loh,” timpal teman saya sambil tersenyum.
Saya kemudian menambahkan, “Menurutmu baju baru di hari lebaran penting, nggak?”

“Selama masih ada pakaian bersih yang bisa dikenakan, untuk apa membeli pakaian baru? Aku masih bergantung sama orang tua, malu sama diri sendiri kalau maksa minta baju baru. Lebaran kan tentang menjadi pribadi bersih yang baru, bukan baju baru.”

Padahal teman saya itu termasuk orang punya, tapi keutamaan ibadah seolah jadi pedomannya.

DEGG!

Sekelumit kisah tadi belum lama ini terjadi. Tepatnya beberapa hari yang lalu. Ucapan teman saya itu membuat saya berpikir, “Sudahkah kita memperbarui hati sesuci bayi yang baru terlahir kedunia? Jika belum, mengapa harus membeli baju baru? Toh tak ada keharusan untuk melakukannya. Bukankah tidak dosa apabila lebaran tidak membeli baju baru? Bukankah lebih baik harta digunakan untuk zakat? Membantu kaum duafa yang jauh lebih membutuhkan untuk lebaran? Membeli beras misalnya, mengingat harga yang melonjak tinggi.”

Sayangnya, semakin mendekati lebaran, meski masih kurang lebih dua minggu lagi, banyak muslim dan muslimah yang mulai meninggalkan sunnah Ramadhan. Awal bulan suci, banyak sekali jamaah yang menghadiri shalat tarawih di mushola. Bahkan beranda mushola nyaris tidak cukup menampungnya, seperti di mushola tempat saya biasa melaksanakan tarawih. Begitu pula dengan yang melakukan tadarus, mengantre hingga pulang malam.

Namun kini, ketika menginjak hari ke-17, mereka mulai menghilang. Katanya, hendak pergi ke kota untuk membeli perlengkapan lebaran. Mencari toko-toko besar yang hadirkan diskon berlebihan dan tren yang masih hijau di mata pemandang untuk membeli baju baru. mushola jadi sepi pengunjung. Hanya hitungan jari. Apalagi yang tadarus, nyaris tidak ada. Kaum muda-mudi terlalu sibuk persiapkan diri dengan barang baru. Yang tersisa hanya kaum tua yang tidak terlalu peduli dengan baju baru di hari lebaran.

Ujar beberapa orang, kaum yang sudah tua itu harus lebih rajin ibadah untuk mempersiapkan diri diakhirat kelak. Istilahnya, kontrak hidup di dunia hampir habis. Meski sebetulnya tidak melulu yang tua mati duluan. Makannya, biasanya paling rajin beribadah tarawih hingga malam terakhir hari lebaran tiba.

Yang perlu diingat, haruskah menunggu sampai tua? Haruskah menunggu hingga ajal mendekat bagi kita untuk mendekatkan diri kepada Allah di bulan suci Ramadhan? Pantaskah masuk surga yang didamba jika menjalankan tarawih dan tadarus saja masih menunda-nunda bahkan enggan? Lalu apa makna baju baru jika hati tidak dicuci hingga bersih dan suci? Sama saja bohong. Luarnya baru, dalamnya masih kotor. Yang terpenting adalah hati, jiwanya yang bersih menyambut lebaran. Bukan baju baru untuk pamer-pameran.

يَا بَنِي آدَمَ قَدْ أَنزَلْنَا عَلَيْكُمْ لِبَاساً يُوَارِي سَوْءَاتِكُمْ وَرِيشاً وَلِبَاسُ التَّقْوَىَ ذَلِكَ خَيْرٌ ذَلِكَ مِنْ آيَاتِ اللّهِ لَعَلَّهُمْ يَذَّكَّرُونَ

“Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa, itulah yang paling baik.” (QS. Al al’raf [7]: 26).

Hadist tersebut tidak menyuruh kita untuk membeli baju baru kan? Cukup mengenakan pakaian takwa yang bersih dan menutup aurat.

Pak Mamad selalu mandi di kali
Handuknya selalu digantungkan di tali
Lebaran tanpa baju baru pun jadi
Lebaran tanpa hati yang suci, tak berarti

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s