[Review Novel] Wendy’s Wishes

Manusia hidup penuh dengan persaingan. Dimanapun itu. Andaikata ada yang berniat lari dan mengundurkan diri darinya, niscahya hidupnya tanpa target dan kemajuan. Bayangkan saja, misal kita tidak mau punya saingan, dalam artian tidak mau bersaing, membiarkan semuanya dengan malas-malasan. It’s not a life, guys! See? Betapa saingan amatlah penting. Namun sayangnya, seringkali persaingan ternodai oleh kelicikan dengan menjatuhkan lawan, meski ada pula yang bersaing secara bersih.

Oke, saya baru saja selesai membaca sebuah novel bergenre paranormal romance yang benar-benar masih fresh di dunia buku. Welehhhh. Beredar pada Agustus 2013. Masih benar-benar baru kan? Dan ini adalah a must read. Kalian wajib baca. Bukan hanya sekedar romance ataupun paranormal yang aneh-aneh, buku ini sarat akan makna. Inspiratif!

Judul Buku                  : Wendy’s Wishes

Pengarang                   : Kyria

Penerbit                       : Grasindo

Tahun                          : Agustus 2013, Cetakan I

Jumlah Halaman          : vi+287 Halaman

Sinopsis

Gigi-gigi gadis itu bergemeletuk. Marah. Murka. Lantas seringai menyeramkan terulas di bibirnya. Dia mengeluarkan sebuah pena kayu berwarna kecokelatan. Sedikit gemetar, dia menulis di belakang foto itu.

“Aku ingin mengambil rupa Anastasia Frida dan akan bahagia karenanya.” Dipandanginya dengan puas hasil coretan tangannya sebelum lantas mengeluarkan sebuah pemantik.

“Aku ingin mengambil rupa Anastasia Frida dan akan bahagia karenanya…,” ulangnya, masih mendesis merapal mantra yang diyakininya akan memberikan kebahagiaan yang dia dambakan selama ini.

Ujung foto terbakar mulai menggeliat termakan api mewujud menjadi abu hitam dan melumat habis kertas di tangannya. Api yang sama membayang berkobar di mata Wendy.

Keriuhan dari luar kamar mandi mengusiknya. Wendy menjatuhkan sisa terakhir lembaran foto yang terbakar ke dalam wastafel dan menekan tombol toilet yang melarut-hanyutkan sisa abu kertas foto.

“Ada apa!?” tanya Wendy kepada seorang staf yang tengah berlari dengan panik.

“Anastasia Farida, sesuatu terjadi kepadanya. Wajahnya tiba-tiba saja membengkak dan luka-luka!” terang orang itu singkat seraya berlalu terburu.
_______________

Pena ini bisa membantumu mencapai tujuanmu dengan merampas apa yang menjadi kelebihan musuhmu hingga mereka tidak akan menghalangimu lagi. Orang-orang yang sudah membuatmu menderita, bisa merasakan penderitaanmu.

Buku ini berisi mengenai perjuangan jatuh bangun seorang gadis 19 tahun untuk menggapai mimpinya menjadi seorang model professional dari bawah melalui jalan yang terbilang rumit. Mulai dari bukan apa-apa menjadi sesuatu yang berharga.

Secara keseluruhan, novel ini dapat dibilang sebagai sebungkus permen dengan berbagai rasa. Jengkel, marah, geregetan, bahagia, puas, sedih, hingga tersipu muncul bergantian dengan aneka perasaan lainnya.

Tokoh utama novel ini adalah seorang model bernama Wendy yang sangat ambisius dalam menggapai mimpinya. Dia memang bukanlah sosok baik berhati malaikat yang kebanyakan mewarnai tokoh utama sebuah novel. Gadis ini justru cenderung semaunya sendiri, namun sangat berani mengambil resiko.

Jika biasanya tokoh akan bersikap jahat ataupun menyebalkan di awal kemudian baik di akhir, tokoh yang satu ini tidak. Penulis berhasil konsisten dalam menciptakan karakter Wendy sehingga pembaca tidak mengalami kebingungan untuk membedakan tokoh satu dengan tokoh lainnya. Dan konsisten itu terjadi pada semua tokoh.

“Pandangilah aku wahai mata. Lihatlah sosokku yang sempurna. Kagumi aku.”

Kalimat yang tertera pada halaman 2 tersebut seolah mencerminkan dunia selebritas yang memang cenderung ingin diperhatikan. Tidak terkecuali Wendy dan model-model lainnya. Novel ini memberikan gambaran yang besar mengenai dunia para model sehingga bisa dibilang novel ini juga penuh ilmu pengetahuan.

Mungkin masih banyak yang belum tahu jika iklan 15 detik membutuhkan casting bertahap-tahap yang memakan waktu lama dan persaingan sangat ketat serta syuting yang tidak cukup satu jam saja. Juga mengenai betapa seorang model harus sangat menjaga penampilannya agar tetap menarik. Menjaga pola makan dan olah raga teratur. Banyak yang menganggap menjadi model itu mudah dan hanya bermodal tampang. Salah besar. Mereka pun butuh perjuangan.

Selain itu, novel ini juga mengulas setting tempat di luar negeri seperti New York dan DC di Amerika. Yang tentunya tidak jauh-jauh dari pagelan busana, dunia para pecinta gemerlapan dan keramaian. Memberikan pengetahuan mengenai beberapa tempat seperti salah satunya Empire State Building.

Novel ini juga menggambarkan kritikan akan KKN, uang, dunia suap-menyuap hingga senioritas yang masih sangat kental di manapun. Memang tidak dapat dielak hal demikian. Sudah mendarah daging. Dan betapa tidak adilnya bagi yang tersingkir dan tidak memiliki uang, seperti Wendy. Walaupun ia berbakat.

Namun, sosok Wendy memberikan harapan bahwa apapun bisa dicapai jika ia mau berusaha. Walaupun toh ia berada dalam lingkup masyarakat bawah. Wendy sudah tidak memilik ayah dan ibu serta hanya tinggal bersama keluarga adik ibunya. Cukup memprihatinkan. Tetapi novel ini seutuhnya tidak membahas penderitaan seorang anak yatim piatu yang hidupnya terus sengsara karena disiksa. Hidup Wendy justru berbeda. Walau tak berorangtua, ia tetap optimis dan semangat meraih mimpinya walau harus bertentangan dengan harapan orang yang merawatnya.

Disini juga dipaparkan secara tersirat bahwa kesuksesan membutuhkan keberanian mengambil resiko. Gelar dan ijazah bukanlah satu-satunya jalan untuk meraih kesuksesan. Semuanya tergantung passion terutama. Seperti passion Wendy yang sudah sangat jelas di dunia model. Passion yang ditekuni akan berbuah manis. Novel ini saya rekomendasikan kepada segala kalangan terutama yang masih kebingungan memilih jurusan dan mengenai mimpinya, serta yang hendak masuk ke dunia model. Paling tidak sebelum masuk, tahu dulu bagaimana pergulatannya.

Mengenai pena perampas yang tertera pada sinopsis, Wendy memang terbilang menyalahi takdir. Oleh sebab itu ia membayarnya. Sesuai dengan pepatah, “Apa yang kamu tanam, itulah yang akan kamu tuai.” Jadi itulah. Untuk menggapai mimpi memang membutuhkan perjuangan. Namun tidak baik juga jika menghalalkan segala cara.

Dari segi fisik, novel ini seimbang antara dialog dan narasi sehingga tidak membuat mata pening. Kertas mendukung dengan tulisan yang tiada typo sama sekali. Recommended!

===========================================================================

Secara keseluruhan, saya pribadi menyukai novel ini karena berhasil memperdaya saya masuk ke dunia mode. Dunia Wendy. Saya tidak bisa berhenti membacanya hingga hanya membutuhkan waktu beberapa jam menuntaskannya. Dan saya tidak menyesal membaca novel ini. Awalnya saya memang sedikit bingung pada BAB Pena Perampas. Apakah saya salah tebak, novel ini semacam novel fantasi? Ternyata genre novel ini adalah paranormal romance. Saya juga sedikit kurang terima kenapa tiba-tiba ada pena perampas. Saya langsung berpikir sebal menebak-nebak apakah sebegitu mudahnya menggapai mimpi menggunakan pena perampas? Dan bagaimana bisa ujug-ujug ada wanita seram datang memberi pena perampas. Darimana asalnya dan bagaimana bisa?

Ternyata saya salah besar, pena perampas tidak selalu membawa kebahagiaan. Seperti pada halaman belakang yang dijelaskan. Mata saya memerah ketika membaca sekitar halaman 270an, manis mengharukan terlebih setelah tahu apa yang terjadi pada Leon karena dengan aneh saya memang menyukai tokoh ini sejak awal. Ending novel ini tidak mengecewakan. Seolah dikejutkan dengan bagaimana datangnya pena perampas tersebut, saya senang mengetahui asal-usulnya dan bagaimana bisa demikian pada penghujung halaman. Karena sebetulnya pembaca memang lebih suka tertipu.

Tokoh favorit saya di sini adalah Wendy dan Leon. Wendy. Walaupun gadis ini cenderung urakan, jahat, bahkan tidak berhati namun positifnya ia sangat ambisius dan optimis. Jarang sekali ada orang seambisius Wendy. Ia memiliki impian tinggi namun tak sekedar melamunkannya, tetapi berusaha menggapainya mati-matian. Ini keren sekali. Dan Leon. Saya menyukainya karena….. Lebih baik kalian baca novelnya, kalian pasti akan menyukai sosok Leonardo Theo ini walau ia cenderung rese dan menyebalkan.

Selamat membaca

Iklan

2 thoughts on “[Review Novel] Wendy’s Wishes

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s