Cermin dimuat di Majalah Horison Juli 2013 : Mawar Hitam

Oke, jadi sebenarnya cermin ini sudah dimuat bulan Juli lalu di Majalah Horisan. Karya pertama saya yang nongol di Majalah Horison. :’) Cerpen ini dikirim sekitar bulan November/Desember 2012. Kemudian akhir Juni 2013, saya dikirimi email oleh Majalah Horison yang berisi tentang pemuatan karya saya. Alhamdulillah. Nah, berhubung udah lama. Ini yang mau saya posting adalah mentahnya. Versi yang belum diedit oleh editornya. Here we go…

1. Cerpen Mawar Hitam - Majalah Horison Juli 2013

Mawar Hitam 

(Oleh : Naelil)

Gambar diambil dari sini

Eliana tak kuasa menahan muntahan air bah kerinduan yang memaksa ke luar melalui dinding rapat yang telah Eliana bangun dengan susah payah. Buncahan rindu atas nama cinta seolah tak pernah mau mengalah. Menyiksa Eliana terus-terusan.

Rindu. Dari kata itulah banyak rasa yang terwakilinya berdatangan. Rindu Eliana kini bukan lagi sekedar rindu. Namun menjadi bumerang penghambat rutinitas. Rindu menukik tajam pada setiap persendian tulang hingga apapun yang Eliana lakukan terasa menyakitkan. Apapun yang Eliana lakukan dihambatnya. Dan kau tahu sendirikan siapa yang Eliana rindukan? Kau Kak Dhan. Kau.

Jingga menggantung pada semak langit kerinduan

Kupetik bungan mawar hitam yang bermekaran

Berharap ‘kan hilangnya suatu kegalauan

            Kepiluan yang merematikkan

            Memberikan hingar-bingar memilukan

Membayangkan wajahmu adalah menyakitkan

Mengingat kenangan bersamamu adalah siksaan

Menatap mawar hitam yang kerap kau berikan adalah meremukkan

            Namun mengapa segala hal yang membawaku ke lembah pesakitan

            Itu menggairahkan?

Bagiku memetik mawar hitam untuk yang kesekian

Membuatku dapat bertelenovela kepura-puraan

Menganggap kau masih di sisi tanpa terpaan jarak kilometeran

Dan masih rutin mengganti gaungan mawar hitam yang selalu kau sematkan

            Biarlah ku dengan sejuta kegilaan

            Merindumu di atas tangkai mawar hitam legam yang melegakan

Eliana memutuskan untuk mengambil bolpoin berisikan tinta hitam yang berdiri menyamping bersadarkan sebuah ruang berbentuk tabung tanpa tutup di atas meja berguratkan warna cokelat kayu itu karena Eliana merasa perlunya surat ini ditulis.

Petang masih menerjang. Menghiasi hiruk-pikuk pasar subuh depan rumah. Eliana pun  demikian, kelam isi hatinya lantaran terpaut jauh dari tambatan rasa yang jauh darinya. Bahkan tak ada hiruk-pikuk keramaian sedikitpun.

Matahari masih malu-malu turun dari singgasananya di ujung dunia sana. Masih menggeliat malas rupanya. Eliana pun menulis surat dengan penuh balutan bulir air mata hitam. Air mata itu hitam. Bagaikan perasan air kerinduan dari kelopak bunga mawar hitam.

Eliana rasa semuanya sudah jelas. Eliana merindukanmu, Kak Dhan. Dan Eliana merasa bukan hanya Eliana yang merindukanmu. Tapi, juga semua alam yang mematung kikuk di sekitar Eliana. Mereka semua terdiam ketika menemukan tangan Eliana menari-nari di atas lembaran kertas. Itu karena mereka tahu Eliana butuh ketenangan untuk menuliskan surat ini. Eliana dapat melihat betapa mereka ingin menyampaikan rindunya juga padamu, Kak Dhan. Hanya saja mereka diam. Mereka diam bukan karena tak punya sesuatu untuk diungkapan. Namun mereka ingin menitipkan. Menitipkan segala rasa mereka kapada Eliana melalui telepati jitunya yang akan Eliana tuliskan kemudian.

Awalnya Eliana ragu untuk mengirimkan surat ini karena jika Ayah tahu beliau pasti marah seperti biasanya. Tapi, Kak Dhan tenang saja. Eliana berhasil mengundang Ali. Pegawai pos yang amat suka bermain catur denganmu itu berbaik hati akan datang ke rumah. Mengambil dan mengirimkan surat ini padamu dengan selamat.

“Eliana, kau tenang sajalah. Rindumu pasti akan tersampaikan. Surat cinta ini pasti terbalaskan. Aku tahu pasti di mana dia (Kak Dhan) berada. Surat ini amat di genggamanku. Kau bersabar ya! Aku yakin dia amat mencintaimu. Dia pergi bukannya tak beral;asan. Itu semua demi masa depan. Masa depan kalian. Aku harap hubungan jarak jauh kalian tetap berjalan. Cinta kalian bagaikan mawar hitam. Meskipun aku sendiri tak tahu mengapa mawar hitam.”

Kawanmu itu manis sekali ya, Kak Dhan. Eliana mengamini doanya itu setiap saat. Berharap kita kan bersua hingga akhir hayat.

Menyikapi pertanyaannya, Eliana nyeletuk saja seperti gurauan Kak Dhan yang sudah layaknya kebiasaan jika ditanya tentang mawar hitam legam itu.

“Banyak yang tidak tahu betapa luar biasanya mawar hitam itu. Segala keunikan dan perbedaannya, membuat mawar hitam sering sendirian dan digunakan hanya oleh sebagian orang. Karena itu, ia sifatnya langka, sulit ditemui. Seperti cinta kita berdua yang luar biasa gaungnya. Takkan tertepis ombak walau nyaris karang di tengah lautan. Takkan terbaur kelam walau debu polusi ikutaan menerjang di daratan. Dan takkan terbang terbawa angin beliung di udara. Cinta kita menembus ruang dan waktu.”

Tampaknya mentari sudah mulai tak sabaran. Terangnya yang demikian sudah mulai bertampakan. Ada baiknya jika Eliana menyampaikan sebuah kabar yang layaknya ultimatum buatan ini.

Satu minggu yang lalu, Ayah, tanpa todong aling-aling, mendatangkan seorang pemuda ke rumah. Eliana mulanya tak tahu apa maksudnya. Bunda dengan saripati kelembutannya menjelaskan akan perjodohan dengan berdalil menggunakan filsafat-filsafat masa lampau. Eliana bilang sudah bukan jamannya Siti Nurbaya. Alih-alih memahami, Bunda justru semakin gencar menggaungkan betapa baiknya perjodohan.

Perjodohan itu dilakukan dengan paksaan. Eliana marah-marah. Sebisa mungkin menolak mengingat cinta kita yang belum tersucikan melalui jenjang pernikahan. Eliana minta waktu dua minggu untuk menunggu pulangnya Kak Dhan. Eliana hanya ingin menikah dengan Kak Dhan. Tak peduli meski tetangga menggojloki lantaran pekerjaan Kak Dhan sebagai TKI dan pemuda itu yang pegawai negeri. Yang penting halal. Dan itu dilakukan atas dasar cinta. Ya kan, Kak Dhan?

Semisal, Kak Dhan telah membaca surat ini. Eliana harap Kak Dhan mau meminta cuti barang sehari dua hari untuk pulang menikahi Eliana. Jika tidak, perjodohan itu akan tetap berlangsung. Dan Kak Dhan tahu siapa yang akan Ayah jodohkan kepada Eliana? Dia Ali, sahabatmu sendiri.

Beruntungnya Ali menolak. Tapi entahlah. Masalahnya, kedua orang tua Eliana dan Ali sudah menyetujuinya dengan penuh sukacinta. Pulanglah, Kak Dhan. Jangan sampai cinta kita berwarna sama dengan mawar yang sering Kak Dhan berikan. Hitam. Apakah karena bunga itu kisah cinta ini demikian? I LOVE YOU.

Iklan

6 thoughts on “Cermin dimuat di Majalah Horison Juli 2013 : Mawar Hitam

  1. Ping-balik: Cerpen Komedi Gagal : Bulat Onde-Onde – Naelil The Climber

  2. Ping-balik: Majalah Sastra Kebanggaanku | Naelil The Climber

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s