Cerpenku : Nyai Renjana

Assalamu’alaikum. Selamat malam. Saya masih diliputi perasaan bahagia nih.
Karena apa? Alhamdulillah kemarin Minggu, 20 Oktober 2013, saya mendapatkan informasi bahwa cerpen saya yang berjudul “Nyai Renjana” menjadi Juara I Caninus Short Story Competiton yang diadakan oleh Pers Caninus Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Jember.

Ya, sekedar berbagi kisahnya. Saya pun masih belajar. Jadi, mohon kritik dan sarannya ya… Semoga cerpen sederhana ini bermanfaat. =)

Nyai Renjana
(Oleh : Naelil)

Tak ada penari sebaik Renjana.

“Saya yakin Nyai telah melakukan pemujaan terhadap iblis!” tukasnya menyalak.

Warga yang masih heboh membawa obor pun demikian. Saling berdesakan ke depan demi mengepalkan tangan dan melihat rupa ayu wanita paruh baya yang diduga keras telah melakukan tindakan musyrik.

“Saya sependapat dengan saudara Paringgit. Setiap bulan purnama tiba, usai melaut, saya selalu mendapati Nyai sedang menari di bawah rembulan. Di sana!” ia menunjuk ke ujung gua di pantai. “Nyai berdiri di atas bebatuan dan menari seperti orang kesurupan!”

Wanita tua itu hanya menunduk di balik bedak tebalnya. Tidak mengelak walau dihakimi warga. Lagipula, ia memang tidak dapat melakukannya. Kedua lengannya dicekal kencang oleh manusia berotot baja.

“Tenang-tenang….” seorang pria berkumis lebat datang dan masuk ke tengah kumpulan.

“Bagaimana kami bisa tenang, Kepala? Nyai telah melakukan tindakan terlarang. Nyai musyrik. Kita harus mengusirnya sebelum kawasan kita tercemar.”

“Setuju! Usir Nyai!”

Mereka seolah melupakan ideologinya. Persatuan. Tradisi baru memang sulit sekali diterima di kawasan mereka. Mereka menduga Nyai adalah jelmaan siluman yang menyembah iblis. Sejenis dedemit. Dan, itu tidak bisa dibiarkan.

Oh ya, dan…masalah keberadaan Nyai di desa tersebut, dulunya juga entah bagaimana. Yang jelas Nyai bukan warga asli. Namun tahu-tahu, dia sudah ada. Entah terlahir dari rahim siapa.

Ketika warga masih saling menikam Nyai, seorang bapak tua tergopoh-gopoh berjalan menghampiri kepala. Ia menjinjing sarungnya sampai lutut dengan kucuran kaca meleleh di dahinya.

“Maaf, Tuan. Anak Rusmini mengejang, lagi.”

Warga saling berbisik di telinga yang paling dekat dengan mereka. Kemudian suara riuh-renyah datang tak terhingga. Lalu mereka saling bertabrakan ketika berjalan dengan arah berlawanan. Sebagian ke rumah Rusmini, sebagian pulang ke rumah masing-masing sehingga Nyai dilupakan.

Selalu begitu. Ketika tensi darah mereka naik ke ujung tanduk dan nyaris putus, mereka akan beramai-ramai mengamuk Nyai dengan dugaan musyrik. Dan itu tak pernah berhasil sejauh ini. Seolah ada saja yang menentang keinginan warga. Beberapa warga menduga bahwa sesembahan Nyai-lah yang membantu hingga mereka selalu gagal mengusir Nyai.

Padahal alasan mereka mengamuk juga bukan sepenuhnya karena Nyai. Beberapa yang fanatik, mungkin benar. Namun nelayan biasa dan para gembala itu sesungguhnya hanya ikut-ikutan. Dibayar seseorang untuk menyingkirkan Nyai. Ada pula yang marah dengan urusan rumah tangganya sehingga Nyai menjadi alasan pelampiasan.

Sehari-hari Nyai bekerja normal sebagai pelatih sanggar tari. Beliau melatih setiap anak di kawasan itu untuk menjadi penari terbaik. Ya, penari terbaik. Tak ada penari sebaik Nyai. Ketika wanita itu menari, apapun yang ada di sekitarnya akan terabaikan. Ia seolah menari untuk sesuatu yang tak terlihat. Ia menari dengan penghayatan yang besar bahkan seringkali tampak seperti orang kesurupan. Ya! Nyai menari seperti orang kesurupan. Ia menari dengan mata yang melompat cepat bergeser ke kanan dan ke kiri bahkan hingga bola mata abu-abunya bersembunyi entah dimana.

Begitu juga tangan Nyai, gemulai sekali. Lebih lembut, pun daripada kibasan kain sutera. Kakinya, pinggulnya, bahunya, semua bekerja seirama sehingga Nyai dikenal sebagai penari terbaik. Terbaik dari yang terbaik walau usianya telah menguning senja.

Setelah insiden pemberitaan mengenai anak Rusmini yang mengejang beberapa menit lalu, warga yang datang ke rumah Rusmini berusaha melafadzkan doa-doa di telinga putri janda itu. Mereka berdoa pada Tuhan masing-masing. Beberapa menyemburkan air sisa minuman, beberapa memegang kepala anak itu dan menggoyangkannya kencang. Beberapa bahkan ada yang mengikat perutnya dengan tali dari kain kafan.

Gulita mulai pekat. Gemintang yang tadinya berhambur ke langit kini telah meluruh hanyut. Suasana makin mistis ketika pekikan doa warga seperti bebunyian sebuah mantra. Bibir mereka komat-kamit. Desas-desusnya terdengar di antara suara jangkrik dan tokek malam. Sajak yang transparan.

Rusmini melipat tangannya. Menutupi derai-derai tangisan yang tak dapat lagi ia bendung. Ia terbaring di kaki sahabatnya. Tubuhnya terlalu lemas untuk sekedar duduk bersandar. Melihat putrinya sekarat dengan perut membuncit, wajah pucat, dan busa di mulut, ia tidak sanggup.

Tiba-tiba seorang perempuan renta memekik di samping pintu.

“Amerta!” Ia menari mengelilingi tubuh kurus putri Rusmini. Tangannya yang gemulai, matanya yang elok berpilin, bahunya, pinggulnya, kakinya, membuat setiap warga terlena dan melupakan siapa identitas wanita renta yang menari itu.

Selalu begitu. Tarian Nyai selalu membuat setiap orang terpana. Walau tadinya mereka menyerang dengan obor dan tombak berapi, akhirnya mereka hanya dapat membiarkan bibir mereka membeku bak es batu karena tarian Nyai.

Detik demi detik berlalu namun tak ada perubahan pada fisik putri Rusmini yang bernama Lasi. Justru tubuh Nyai tampak linglung, tariannya seperti orang mabuk walau dilihat tetap mengagumkan.

Beberapa menit kemudian, keringat-keringat asam mulai tumpahi dahi Nyai. Bedaknya seperti luntur. Maskara di mata Nyai pun luruh sehingga wajah Nyai tampak menyeramkan. Namun polesan lipstiknya masih tetap terang. Seterang dan segalak tatapan matanya yang tajam. Ia menari dalam kobaran api.

Tak berapa lama, tubuh Nyai limbung ke lantai. Lasi, putri Rusmini, matanya membuka dan menyala terang. Seperti sihir, wajah Lasi tampak segar.

Sejak saat itu, Nyai selain sebagai guru tari juga dianggap seperti dukun. Ia juga diberi sebutan Nyai Renjana yang artinya seseorang yang berhati kuat karena warga telah melihat ketangguhan hatinya dalam menolong sesama walau dihina-hina.
Kini, tak ada lagi yang berkomentar mengenai ritual tarian Nyai ketika bulan purnama tiba. Tak ada pula yang protes. Justru, semakin banyak yang menyegani Nyai. Mereka percaya, Nyai memang siluman. Dukun yang bisa menyembuhkan berbagai penyakit. Selama mereka pikir keberadaan Nyai menguntungkan dan tidak merugikan, mereka akan tetap membiarkan Nyai tinggal.

Rupanya setelah itu kehidupan kawasan pantai jauh lebih tenteram dari sebelumnya. Pembunuhan, perampokan, dan pemerkosaan jarang lagi terjadi. Langit-langit malam yang dulunya pekat gelap sekarang terang benderang. Separuh mentari siang seolah berpendar mengelilingi kawasan mereka tiap malam. Dan, mereka bahagia. Warga pun sangat menyayangi Nyai yang lihai menari itu.

***

Nyai Renjana mengunyah sirih sambil menyulam kain katun di beranda rumahnya yang dibuat dari anyaman bambu. Duduk di atas kursi panjang yang sudah geripis. Sesekali matanya menengok ke atas, seolah memantau keadaan langit. Kemudian ia mengambil lintingan batang rokoknya yang tinggal separuh. Ia hisap pelan-pelan, lalu kembali mengunyah sirih.

Ia tiba-tiba terperanjat hingga jarumnya terjatuh ketika mendengar suara daun bergeser tempat. Terseruk-seruk seperti dedaunan yang diburu langkah tergesa. Benar saja, tak berapa lama, di balik rerimbunan bakau pantai, kepala seseorang menyumbul ke luar.

“Nyai…”

“Rupanya kau Paringgit.”

Ya, dia adalah pria yang dulu sempat memusuhi dan ikut berkoar-koar untuk melenyapkan Nyai.

Paringgit berdiri sedikit condong ke arah Nyai, membungkuk sopan, “Saya ingin minta tolong, Nyai. Keluarga saya dikejar-kejar penagih hutang. Mereka membawa golok dan bisa sewaktu-waktu merobek serta mencacah kulit tubuh saya sekeluarga. Saya takut Nyai. Tolong saya..,”

Nyai melepaskan sulamannya, “Tenang…tenanglah…! Sekarang pulanglah dan segera tidur.”

“Nyai?” Paringgit tidak mengerti.

“Kau akan memimpikan petunjuk jalan. Namun ingat, jangan kau beritahu siapapun tentang mimpimu malam ini,” Nyai melempar pandangan tajam ke arah Paringgit sebelum ia akhirnya kembali melanjutkan sulamannya dan mengusir Paringgit dengan galak, “Sekarang pulanglah! Cepat pulang!”

Paringgit menurut walau tak mengerti. Baru sepersekian detik setelah punggung Paringgit ditelan malam, Nyai bergegas menyiapkan bahan-bahannya untuk ritual di atas bebatuan pinggir pantai. Ia berjalan tergesa-gesa dan tampak was-was walau sudah tak ada yang melarangnya lagi.

“Amerta!” teriaknya sebelum mulai menari molek hingga waktu berganti fajar dan lolongan anjing serta serigala malam terdengar.

Esoknya, warga heboh dengan apa yang telah ditemukan Paringgit. Setelah heboh dengan cerita Paringgit tentang mimpinya bertemu Pangeran Ular yang memberikan segenggam emas murni untuknya di kawasan pegunungan yang sudah diberi patok, kini mereka heboh dengan emas yang ternyata bukan sekedar mimpi namun nyata. Warga pun berbondong-bondong menuju pegunungan yang terletak di dekat pantai untuk memperoleh kekayaan. Nyai pun marah. Paringgit telah mendustai amanahnya. Walau demikian, ia hanya memendam amarah dan berpesan pada warga, “Ambilah emas seperlunya.”

Namun, rupanya nasehat Nyai tidak digubris warga. Mereka justru gencar sekali menggali lubang emas sebanyak-banyaknya. Bahkan tidak jarang di antara mereka yang sampai bermalam di pegunungan. Mereka seolah lupa rumah dan otaknya hanya dipenuhi oleh emas…emas…dan emas. Mereka memilah emas dengan raksa, kemudian menjualnya ke pedagang. Sedangkan raksa, mereka lempar di sembarang tempat hingga kawasan pantainya tercemar.

Tahu-tahu kawanan kerang sampir sudah lenyap nyaris tak bersisa. Ikan-ikan hasil nelayan melaut yang biasanya menggunung, kini hanya berupa gundukan kecil. Jadinya, banyak dari mereka yang beralih profesi menjadi penggali emas, juga.

Mengetahui hal tersebut, Nyai marah besar. Namun warga menentang dan menganggap Nyai hanyalah iri karena tak mampu menggali emas. Usia Nyai yang semakin renta membuatnya tak dapat berbuat lebih.

“Kalian akan menanggung kerugian sendiri!” teriaknya marah pada suatu senja ketika warga masih sibuk menggali lubang emas di pegunungan.

***

Pada malam yang pekat dan hanya didampingi bulan purnama sebagai lilinnya, Nyai menangis di atas bebatuan. Air matanya bak permata murni jatuh mengetuk-ngetuk ke bebatuan lainnya. Tangannya yang sudah mulai menghitam dan keriput ia basuhkan ke dalam air laut yang memantulkan cermin kerentanan dirinya.

“Saya sudah tidak sanggup lagi duh Gusti..,” ujarnya pedih.

Mata Nyai tiba-tiba mencolok merah terang. Ia membenahi kemben dan kebayanya sesaat. Ia sampirkan selendang di bahunya dan mulai menari perlahan-lahan hingga ritmenya dipercepat.

“Amerta!” pekiknya pada malam.

Seketika itu petir menggelegar, langit-langit bergemuruh dalam tangisan, pekikan Burung Elang berkelok-kelok di ruang angkasa raya, siluet-siluet buram kerang sampir merajai angin malam. Hingga dari arah Barat, pegunungan emas meluruh longsor timbuni rumah-rumah warga sekitar. Lubang-lubang hasil galian yang dibiarkan, lubang-lubang yang tidak ditimbun kembali itu longsor dan celakai mereka sendiri, bersamaan dengan racun raksa yang terkandung di dalamnya.

Gulita malam semakin mencekam. Tubuh Nyai Renjana mendadak limbung dan menghitam bagai tinta yang disiramkan cumi-cumi untuk melindungi dirinya. Kemudian semuanya merata. Gumpalan sisa tubuh Nyai meresap ke tanah dan menghilang. Mungkin, Nyai telah kembali ke tempatnya berasal yang…entah dimana letaknya. Ia datang tak diundang, membawa kemakmuran berupa emas dan kemampuan yang paranormal. Pulang-pulang, ia membawa pergi kehancuran beserta isinya atas peringatan yang diabaikan. Siapa sih Nyai Renjana itu? Apakah Anda mengenalnya?

Iklan

9 thoughts on “Cerpenku : Nyai Renjana

    • Thanks a lottttttt, Ornella 😉
      Aku masih belajar kok. 😀 Aamiin, semoga cita-cita kita terwujud. Aamiin ya Allah.
      Salam Menulis dan Membaca, juga 🙂 Eh, kritiknya dong 🙂
      Terima kasih sudah berkunjung 🙂

      Suka

  1. Ping-balik: Cerpen Komedi Gagal : Bulat Onde-Onde – Naelil The Climber

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s