Cerpen dimuat di Media Jawa Timur, Nopember 2013

Assalamu’alaikum. Fiuh, kesibukan sekolah membuat rumah kecil ini sedikit bersarang lelaba. Tidak bisa dijadikan alasan juga sih. Yah, tapi namanya prioritas utama sekolah, jadi ya begini. Nah, berhubung pagi ini ada waktu cukup senggang karena PR nggak terlalu banyak, saya mau berbagi mengenai cerpen saya yang dimuat di Majalah Media Jawa Timur. Tapi ini mentah yang saya kirimkan oke.

Selamat membaca… Semoga bermanfaat

Panggil Aku Bung Tomo
(Oleh : Naelil)

2. Cerpen Panggil Aku Bung Tomo - Media Pendidikan Nopember 2013

Lelehan lilin mengucur deras dari dahi hingga ke dagu. Aku mengelapnya dengan tisu. Tidak banyak membantu. Masih saja terus meleleh. Matahari bagai api yang tak mau menyerah habisi lilinku. Dan ruang angkutan umum berkulit kuning yang melengang ini semakin membuatku kejang bagai belut tanpa air. Aku menyeka dahiku sekali lagi.

“Saya heran, apa untungnya demo,” supir angkot di sampingku melempar pendapat. Aku yang paling dekat dengannya terpaksa nyeletuk, “Kan menyuarakan pendapat, Pak.”

“Emang didengar?”

“Paling tidak sudah berusaha berpendapat.”

Pak supir memonyongkan bibirnya ke depan; mencibir, “Tapi jalanan macet gara-gara mereka berpendapat. Susah cari penumpang. Banyak yang pilih ojek.”

Oh…jadi ini inti masalahnya. Aku manggut-manggut. Baru saja mulutku membuka setengah untuk menimpali, pak supir kembali membuka suara, “Emang nggak ada sarana lain selain jalan? Lewat facebook atau twitter begitu.”

“Ya…tapi kurang maksimal.”

“Iya…maksimalnya di jalan sambil rusak sarana yang ada. Dikira nggak pakai duit apa? Sudah penuhi jalan, masih ngerusak juga. Sudah tahu kalau penanganannya lambat, duit juga nggak banyak, masih juga diremukkan,” pak supir terdengar nyolot.

Aku melempar pandang ke luar jendela. Sepertinya bulan akhir-akhir ini begitu menyulut semburat sinar yang mengetuk-ngetuk tulang semangat. Mulai dari Agustus sampai November. Bermula dari Indonesia merdeka pada 17 Agustus dan berduka pada 30 September, lalu semangat kesaktian pancasila pada 1 Oktober, kemudian dijemput Hari Pahlawan pada 10 November. Aku jadi teringat salah seorang temanku di SMA dulu. Dia selalu semangat memperbincangkan kepahlawanan. Menyangkut kemerdekaan. Seolah ada alarm di setiap sendi di tubuhnya yang siap menyalak ketika tombol-tombol merah dengan kata kunci “merdeka” menggema.

Pada saat temanku ini terpilih menjadi ketua OSIS, program-program nasionalisme di sekolahku semakin banyak. Dan, kemudian banyak siswa yang menyesal telah memilihnya. Sungguh. Setiap bulan sekali ia mengadakan perlombaan dalam programnya. Hafalan UUD 1945, 45 butir pancasila, hingga menjelaskan peta Indonesia beserta budaya dan sejarahnya. Sialnya, yang golput akan dikenakan denda perkelas. Bah!
Lalu ketika upacara 17 Agustus berlangsung, ia melancarkan program baru yaitu bagi yang tidak ikut untuk menyalin UUD 1945 dengan tulisan tangan.

Tiap hari Jumat, kami membersihkan jalanan hingga selokan yang bau dan rupanya sudah dihinggapi aneka kotoran. Itu semua idenya dan sekolah sangat menyetujuinya.

Dasar Tomo! Ya, namanya Tomo. Dan ia sangat bangga akan itu. Hampir setiap hari ia memberitahu kami, “Panggil aku Bung Tomo!” Semangatnya memang bisa dibilang seperti tokoh besar itu. Aku tiba-tiba memimpikan andai ia jadi presiden. Atau paling tidak pemimpin dalam suatu kabupaten. Pastilah akan sangat mencintai Indonesia dan segala tentangnya. Ia saja dulu setiap ke sekolah selalu mengenakan tas batik dan blankon. Bukan hanya itu. Tomo juga mampu memainkan angklung dan gamelan serta…ia mendalang dalam acara wisuda kami. Cerita pewayangan, ia nyaris hafal semua. Mengagumkan!

“Neng belok mana? Di depan ada demo tuh?” pak supir angkot hancurkan lamunanku dengan topik demo yang hari ini jadi favoritnya untuk dibahas.

Aku terjingkat sedikit karena kaget, “Belok…,” mataku memutar bersamaan dengan otakku. Entah kenapa aku mendadak lupa dengan tujuanku. “Emmm…demo apa di depan, Pak?” alihku sambil mencari wangsit kemana akan berhenti.

“Itu demo penambang emas liar.”

“Dimana?”

Pak supir mengangkat bahu, “Yang jelas pimpinannya namanya Tomo.” Bola mataku mendadak was-was melotot.

“Masih mahasiswa loh, sudah berani main curang,” lanjut Pak supir.

“Kiri, Pak!”
Aku memilih berhenti di depan warung tegal. Bukannya aku lapar, hanya ingin mencari kepastian. Langkahku pelan menghampiri kawanan pendemo setelah menyodorkan dua lembar uang dua ribuan kepada supir angkut. Hati-hati karena beberapa dari mereka sudah mulai tersulut emosi.

Aku berusaha menyesap anyaman benang yang menyulam wajah seorang pria muda di banner yang mereka bawa.

“To-mo?” Nafasku tercekat menyadari siapa yang mereka demo. Pimpinan penambang liar yang merusak ekosistem hutan di kawasan pegunungan. Secepat itu kah Bung Tomo-kawanku-berubah? Ah…pergaulan. Rupanya tinggal nama saja yang masih sama. Kulanjutkan jalanku pulang sambil menggeleng-geleng tak percaya. Sedikit kecewa namun bisa apa.

Iklan

One thought on “Cerpen dimuat di Media Jawa Timur, Nopember 2013

  1. Ping-balik: Cerpen Komedi Gagal : Bulat Onde-Onde – Naelil The Climber

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s