[REVIEW] Forever Sunset

1947813_10203190436622109_269701206_n

Judul Buku : Forever Sunset
Penulis : Stanley Meulen
Penerbit : Moka Media
Tahun Terbit : 2013
Kota Terbit : Jakarta Selatan
Jumlah Halaman : viii+372 halaman

Apa jadinya jika dua buah benda angkasa bertemeu dan bertabrakan? Dan, bagaimana jadinya jika dua buah mobil bertubrukan? Kerusakan!

Itu jawabannya. Tapi, apa yang terjadi jikayang bertabrakan adalah dua pasang mata dari seorang lelaki dan perempuan? Jatuh cinta.

Dinda adalah pusat dari semesta bagi Zora. Mereka adalah Galaksi Bima Sakti yang memuat cinta berdua.

Pada senja yang menggaris nama mereka di langit, sebenarnya mereka tidak pernah menyatu. Cinta yang tidak pernah sempurna saat kesedihan memisahkan mereka.

Pada senja yang selalu menunggu cinta, apakah mereka akan benar-benar bersatu?

Sesungguhnya, senja yang selamanya menyatukan mereka adalah pengharapan yang tak pernah ada habis-habisnya: sebuah cinta sejati.

————————————————————————————

“Have I told you lately that I love you. Have I told you there’s no one else above you. Fill my heart with gladness, take away all my sadness, ease my trouble that’s what you do…” Have I told you lately – Rod Stewart (hal 59)

Life is tough, babe. Nggak setiap hal yang kita harapkan jadi kenyataan. Kejutan! Terkadang, kenyataan jauh beda dengan harapan. But at least, dengan harapan, kita bisa merangkai masa depan sehingga memaksimalkan usaha untuk mencapai tujuan yang benar-benar kita inginkan.

Baca novel Forever Sunset ini, ngenes banget rasanya. Serius. Cobaan sepertinya enggan pergi dari kisah-kasih Dinda dan Zora. Bikin geregetan juga. Sekali lagi, kenapa uang selalu jadi penghalang? Money can buy power. Banyak uang, banyak kuasa. Apa bener? Seperti mereka berdua yang beda kasta. Dinda dari golongan kelas atas. Sedangkan Zora dari kalangan menengah.

Jadi gini, kedua anak manusia itu saling mencintai. Tapi nggak dapat restu dari keluarga Dinda. Ya, karena kasta itu tadi. Semua bermula ketika Dinda baru pulang dari Australia. Ia langsung menuju Bali untuk menemui kekasihnya, Zora. Di sana, Zora melamar Dinda. Habis itu, Dinda balik ke rumahnya di Jakarta. Sedangkan Zora, ke NTB. Nah ternyata, sesampainya di Jakarta, Dinda dijodohin sama orang tuanya. Padahal, Dinda udah bilang iya atas lamaran Zora di Bali. Tapi Dinda nggak bisa mengelak, orang tuanya ngotot banget buat jodohin Dinda sama pria bernama Gary, anak teman orang tuanya.

Walhasil, Gary dan Dinda merried. Zora down banget pastinya, ketika tahu cintanya diambil orang dengan paksa begitu. Apalagi ketika Zora tahu siapa Gary sesungguhnya.

Karena suntuk, Zora balik lagi ke Bali buat… istilahnya kabur kali ya, dari sakit hati itu. Zora dan Dinda pun udah kayak lost contact. Dinda dengan kehidupannya sendiri. Begitu pula dengan Zora. Hingga pada suatu masa, waktu mempertemukan mereka. Ciee… Ya, jodoh enggak akan kemana. Sayangnya, ending-nya sad euy.

Mau tahu kenapa Dinda nggak bisa nolak perjodohan itu? Kenapa sih orang tuanya Dinda ngotot banget jodohin Dinda sama Gary? Apa iya cuma perihal kasta yang berbeda? Oh ya, terus Gary emang siapa sesungguhnya? Lalu, kok bisa Dinda sama Zora ketemu lagi? Nah kok justru sad ending? Mau tahu, beli dan baca novelnya! Haha 😀

Baiknya dari novel ini, kesannya itu menyorot kawasan-kawasan yang ada di Indonesia. Terutama Bali. Lumayan memuaskan dalam hal ekplorasi tempat. Nambah pengetahuan juga.

“Seperti biasa, Kuta, Legian hingga Seminyak tetap saja ramai oleh keriuhan turis dari berbagai negara. Banyak turis yang berjemur dan surfing di Pantai Kuta yang sudah sangat melegenda itu.” (hal 18)

“Gili Meno adalah pulau yang tergolong sepi dari kunjungan para turis jika dibandingkan dengan kedua pulau lain yaitu…” (hal 87)

“Pantai Sanur adalah salah satu pantai terkenal di selatan Bali….” (hal 231)

“Dreamland atau New Kuta Beach atau penduduk asli biasa mengenal dengan nama Pantai Cemongkak, memang selalu menjadi sasaran turis-turis yang lebih mengutamakan privasi. Pantai ini tidak seramai Kuta.” (hal 305)

Contoh kecilnya seperti di atas. Masih lebih banyak lho.

Selain itu, novel ini juga cenderung manis. Namanya juga romance kan ya (?)

“Kamu cantik banget hari ini, sama cantiknya dengan suasana sore ini. Senja saat ini. Senja milik kita berdua. Kamu tahu, aku suka sekali dengan sunset. Setiap kali aku melihatnya, aku selalu merasa nyaman. Sama seperti kamu, kamu itu meneduhkan. Selalu buat aku nyaman. Dan buat aku, kamu lebih dari sunset itu.” (hal 41)

“…Aku ingin setiap sunset datang, itu berarti kamu. Dan, hanya dengan kamu aku ingin melihat matahari terbenam lagi.” (hal 223)

“Kamu tahu, kamu sungguh merebut hatiku. Kondisi kamu yang sekarang tidak akan mengubah apapun. Kamu tetap wanita tercantik bagiku. Sayangku ke kamu bukan karena kondisi tapi karena aku yang telah memutuskan untuk terus menyayangi kamu.” (hal 322)

“Enggak Dinda. Aku serius. Aku baru sadar sekarang, sunset yang selama ini aku kagumi, ternyata udah ada di depan mataku sendiri. Kamu itu lebih indah dari sunset, Dinda…” (hal 337)

Itu yang dikatakan Zora kepada Dinda. Alay dan bikin geli sih, tapi manis.

Terus ada juga beberapa quotes yang aku suka :

1. “Hidup ini terlalu misterius untuk dimengerti. Tapi, dalam setiap kejadian, pasti ada alasan untuk dimengerti.” (hal 132)

2. “Mas, dunia belum kiamat, kan? Apa yang mas alami, bukan berarti hancur segala-galanya. Hadapi saja Mas. Kalo kita tidak bisa mengubah keadaan, ubah saja perasaan kita. Itu bisa mengubah apa yang terjadi di luar kita kok.” (hal 156)

3. “..apa yang sudah pernah terjadi dalam hidup kita tidaklah penting. Kita dan masa depan kita, itu jauh lebih penting. Ingat Zora, masa lalu tak akan pernah dapat kembali.” (hal 170)

4. “… Kita tidak bisa memilih angin atau ombak seperti apa yang datang ke perahu kita. Tapi kita bisa memilih, ke pelabuhan mana kita akan berlabuh… jangan sampai keadaan di luar kamu yang mengendalikan keputusan kamu untuk senang.” (hal 201)

5. “…Tuhan tidak pernah salah merancang sesuatu. Hanya kadang memang, rencana-Nya itu sulit dimengerti…” (hal 239)

6. “…Tetaplah punya harapan sekalipun kamu nggak ngelihat lagi dasar untuk kamu bisa berharap.” (hal 323)

Ada juga pengungkapan kebenaran di sini. Mungkin, sindiran kali ya. Tapi emang bener sih. Justru dengan ini bikin aku senyum sendiri. Saatnya kita berani mengemukakan pendapat, guys. Jangan ditahan! Utarakan! Toh, negara kita kan memperbolehkan untuk bebas berpendapat, yak!

“…. orang asia itu terlalu banyak basa-basi. Takut untuk bicara apa adanya.” (hal 253)

Jadi?

“…Seharusnya memang seperti itulah hidup. Kita harus mulai belajar berkata hitam itu hitam, putih itu putih.” (hal 253)

Nah, itu pilihan sih. Beberapa mengatakan bahwa lebih baik jujur biarpun itu menyakitkan. Tapi beberapa juga berkata bahwa negara kita ini negara ramah sehingga perlu untuk menjaga ucapan agar tidak menyakiti orang lain.

Cuplikan (again) :

Grazie. Grazie. Kata-kata yang sangat familiar. Sangat simpel. Ya, itu bahasa Italia pertama yang papa ajarkan ke kamu. Tapi kadang mempraktikkan dan berkata grazie untuk hidup ini tidaklah sesimpel kata-katanya….” (hal 170)

“Pergilah zora. Kalau kamu pikir dengan kamu pergi ke bali, itu adalah jawaban terbaik, pergilah!” (hal 171)

“Zora tidak sedang khawatir tidak memiliki teman di Bali. Tapi ia lebih khawatir tentang kesiapannya untuk benar-benar tinggal di sini.” (hal 196)

Nah sekarang, yang kurang aku sukai dari novel ini secara pribadi adalah, kesinetronannya di beberapa bagian. Nggak masalah sih sebenarnya, terutama bagi pecinta sinetron, surgaaa! Beberapa itu, kesannya ng-drama banget. Klise. Eh, bukan-bukan. Istilah kerennya, mainstream kali ya. Contoh :

“Kamu orang yang dapat menyelamatkan keluarga kita. Ayahmu sebenarnya sudah berada di ambang kebangkrutan. Perjodohan inilah yang dapat menyelamatkan kita semua. Melalui perjodohan ini, bisnis ayahmu dapat ditolong oleh Om Bimo.” (hal 95)

Padahal waktu baca, berharap banget supaya alasan perjodohan ini bukan karena hal seperti ini. Jadi ingat kisah Siti Nurbaya.

“Ayah bukan lagi ayah yang pernah aku kenal…”(hal 81)

Ini ceritanya Dinda pas dimarahi oleh ayahnya. Gimana gitu baca bagian ini rasanya.

But overall, oke kok buat bacaan santai. Terlebih untuk penyuka sunset, Bali, romance, dan juga sinetron. Tapi bukan berarti yang kurang suka hal-hal tersebut tidak cocok membaca novel ini. Coba baca aja dulu. And tell me what you think (keminggris ih! Haha 😛 Namanya juga belajar)

Ngomong-ngomong, nama tokoh di sini unik loh sehingga mudah nyangkut di otak. Unik, tapi tulisan dan pengejaannya nggak ribet. Zora Angelo Mauri. Nyentik ya? Kalau di daerahku ada nama begitu sih, nyentrik 😀

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s