[Review Novel] : The Adventures of Huckleberry Finn

“Seluruh karya sastra Amerika modern berawal dari Huckleberry Finn.”
– Ernest Hemmingway

bentang-Huckleberry_Finn

Judul Buku : The Adventures of Huckleberry Finn
Penulis : Mark Twain (1835-1910)
Penerjemah : Ambhita Dhyaningrum
Penerbit : PT Bentang Pustaka
Tahun Terbit : Cetakan Pertama, Januari 2011
Kota Terbit : Yogyakarta
Jumlah Halaman : iv + 396 halaman

Huckleberry Finn mungkin saja sangat kaya berkat harta temuannya. Namun, kemudian seseorang ditemukan mati dan semua mengira itu adalah Huckleberry! Apa yang harus dia lakukan? Jika mengaku masih hidup, dia akan dikembalikan pada ayahnya yang kejam. Sebaliknya, nyawa Jim, pelarian budak yang setia menemaniya, benar-benar terancam jika Huckleberry terus bersembunyi.

The Adventures of Huckleberry Finn merupakan karya yang bertutur tentang sebuah pencarian kebebasan. Di dalamnya Mark Twain banyak menentang prasangka rasialis pada masa itu. Pedas, tetapi penuh kedalaman, karya ini pun sempat menjadi sebuah kontroversi besar. Beberapa pihak bahkan melarang novel ini ada dalam rak perpustakaan. Kontroversi ini terus berlanjut sampai saat ini hingga muncul suara-suara yang menentangnya sebagai bacaan wajib di sekolah-sekolah.

Lepas dari kontroversi tersebut, The Adventures of Huckleberry Finn dipuji banyak kalangan sebagai novel yang sarat nilai-nilai kemanusiaan. Mark Twain sendiri menyebutnya sebagai “karyaku yang menampilkan kekalahan akal sehat dalam pembenturannya dengan suara hati”.

———————————————————————————–

Eng… apa ya.. Ini termasuk dalam resensi/review yang menurutku spesial. Kenapa? Karena aku seringkali mengenalkan diriku sebagai Naelil Finn. Serius. Sebenarnya itu singkatan dari Arifin-jika bisa disebut singkatan-Naelil Arifin. Namun banyak yang menduga karena aku tergila-gila pada tokoh Huckleberry Finn. Atau bahkan mungkin aku salah satu keturunannya? Haha. Jika tidak begitu, karena aku menggilai Finn Hudson. Itu loh, tokoh laki-laki dalam drama musikal Glee yang diperankan oleh Almarhum Cory Monteith. Padahal, ketika aku sudah seringkali mengenalkan diriku sendiri sebagai Naelil Finn-tidak di dunia nyata pastinya, aku belum mengenal Huckleberry Finn. Aku sekedar pernah mendengar nama Mark Twain. Tapi belum pernah membaca karya-karyanya. Ya, begitulah. Sehingga aku menggolongkan ini sebagai resensi spesial. Aye!

Novel ini berisikan kisah petualangan Huckleberry Finn yang biasa disapa Huck. Dia adalah tipikal anak laki-laki yang pemberani, menurutku. Dibuka dengan keberadaan Huck di kediaman Janda Douglas dan Nona Watson yang merawatnya dengan sangat beradab hingga suatu ketika ayahnya yang kejam datang. Mengapa kejam? Selain gemar mabuk, ayah Huck juga seringkali memukulinya.

Suatu ketika, Huck harus tinggal bersama ayahnya di hutan. Ketika ayahnya pergi ke seberang, Huck akan dikurung di dalam gubuk mereka di hutan tersebut. Nah, di sinilah petualangan yang sebenarnya dimulai. Huck tipikal pecinta kebebasan. Ia berencana untuk kabur. Dengan kecerdikannya dalam mengecoh semua orang, ia akhirnya berhasil berpetualang seorang diri dengan rakit. Namun tidak berapa lama, ia berjumpa dengan Jim, budak Nona Watson. Berpetualanglah mereka. Keduanya sama-sama menyukai kebebasan. Dan perjalanan itu, sangat luar biasa. Monggo dibaca! 🙂

Kalau baca novel ini, ada sisi ngenesnya, mengingat kondisi kaum kulit hitam pada masa itu hanya dapat bertahan sebagai budak yang diperjualbelikan. Miris melihat betapa mereka diperlakukan layaknya barang dagangan. Contohnya Jim, dia harus berpisah dengan istri dan anak-anaknya karena mereka semua memiliki majikan yang berbeda-beda. Nggak kebayang, tega nian orang-orang pada masa itu memisahkan keluarga dan menjadikannya budak; sesorang yang tidak merdeka.

“Kata Jim, hal yang sangat ingin dilakukannya setiba di negara bebas perbudakan adalah menabung dan tidak akanmembelanjakan uangnya satu sen pun. Saat uangnya sudah cukup, dia akan membeli kembali istrinya yang menjadi budak di sebuah peternakan di dekat tempat tinggal Nona Watson. Lalu, suami istri itu akan bekerja untuk membeli kedua anak mereka.” (hal 119)

Itu menyakitkan. Untuk berkumpul dengan keluarga sendiri hingga darah daging, bahkan seperti harus memberikan tebusan.

Bahkan, sampai-sampai kaum kulit hitam pada masa itu menganggap kaum kulit putih berada di atas segala-galanya seperti kaliamat di bawah ini. Kami di bawah ini adalah, Huck, yang merupakan kaum kulit putih.

“Jim menganggap hal itu tidak masuk akal, tetapi karena kami berkulit putih, dia menganggap kami lebih pintar darinya.” (hal 332)

Namun di samping itu, di beberapa bagian, novel ini juga menawarkan keluguan yang menimbulkan senyuman. Seperti percakapan singkat antara Huck dan Jim pada hal 107.

Huck : “… Aku pernah membaca buku percakapan bahasa Prancis. Misalnya, ada orang mengatakan, Polly-voo-franzy, apa maksudnya menurutmu?”

Jim : “Entahlah, tidak tahu. Aku akan mematahkan lehernya kalau dia bukan orang kulit putih. Aku tidak akan membiarkan ada negro memanggilku seperti itu.”

Huck : “… itu bukan panggilan. Itu hanya sebuah ungkapan. Kau tahu bagaimana cara berbicara dalam bahasa Prancis?”

Jim : “Kenapa dia tidak bisa mengatakannya langsung?”

Huck : “Dia sedang mengatakannya. Begitulah cara orang Prancis mengucapkannya.”

Jim : “Wah, caranya konyol sekali. Aku tidak mau mendengat cerita ini lagi. Ini tidak masuk akal.”

Nah, dari percakapan di atas, sebenarnya dapat ditarik konklusi betapa pentingnya berbaur dengan dunia internasional. Sesungguhnya, keberbedaan budaya antar tempat di seluruh dunia ini teramat indah dan menarik untuk dilewatkan.

Namun, bagian favoritku adalah ketika Huck memutuskan untuk membebaskan Jim sebagai budak. Padahal, secara agama itu pun menimbulkan dosa. Huck bertarung dengan nuraninya.

“Baiklah, kalau begitu, aku akan pergi ke neraka.” (hal 286)

Itu merupakan keputusan Huck, ia sudah siap menerima segala resiko. Berdosa, dipersalahkan, bahkan mungkin dikucilkan(?) Ia ingat perjalanannya selama ini bersama Jim. Luar biasa! Apalagi ketika mengingat betapa Jim sangat menyayangi dirinya. Perkataan Jim usai Huck menipu orang kulit putih yang bisa jadi akan menagkap Jim sebagai budak pelarian. Huck mengatakan pada orang-orang kulit putih bahwa di rakitnya hanya ada ia dan ayahnya yang sakit cacar sehingga tidak ada yang berani mendekat untuk mengintip karena tidak mau tertular. Padahal di sana ada Jim. Huck melindunginya!

“… Aku tidak akan bebas kalau tidak ada Huck. Huck-lah yang membebaskanku. Jim tidak akan pernah melupakanmu, Huck. Kaulah teman terbaikku, dan kaulah satu-satunya teman yang kumiliki saat ini.” (hal 120)

Selain itu, novel fenomenal ini juga memiliki banyak sekali pelajaran dan pengetahuan, terutama tentang Amerika. Mulai dari New Orleans, Desa Arkansaw, Illinois, Missouri, dll. Setidaknya kita bisa belajar mengenali budaya masyarakat dan suasana sekitar pada tahun-tahun di masa itu.

“Ada banyak pegunungan di sepanjang daratan Missouri, dan hutan kayu yang lebat di daratan Illinois.” (hal 87)

Di sini, di dalam novel ini, banyak sekali penipuan yang sudah dilakukan untuk “bertahan hidup”. Intinya, penipuan itu sama sekali tidak mudah. Salah satunya adalah ketika Huck menyamar sebagai gadis perempuan bernama Sarah Mary Williams di rumah Nyonya Judith Lotfus. Misalnya perbedaan cara anak laki-laki dan anak perempuan dalam melempar, kemudian memasukkan benang ke dalam jarum. Anak laki-laki akan mendekatkan jarum ke arah benang, sedangkan anak perempuan sebaliknya. Akhirnya, Nyonya Judith tahu bahwa Huck berbohong. Namun ia tetap saja berbohong dengan mengatakan bahwa namanya George ketika didesak nyonya itu bahkan Huck itu bocah laki-laki yang menyamar. Ah, satu hal lagi! Nama! Huck seringkali lupa akan nama samarannya, ia bahkan sampai mencatatnya di kertas siapa nama samarannya ketika berada dalam rumah Kolonel Grangerford yang merupakan musuh bebuyutan keluarga Sheperdson.

Yang jelas, menipu itu sangat beresiko. Cari amannya, nggak usah nipu. Apalagi kalau sampai sepeti nasib dua kawan baru Huck dan Jim yaitu yang mengaku Raja Prancis dan seorang bangsawan, keduanya hampir dipenggal gara-gara menipu bangsawan untuk memperoleh harta warisan sebesar 600 dollar.

Dalam novel ini juga banyak sekali quotes indah yang bertebaran, beberapa di antaranya :

1. “Begitulah sebagian orang. Mereka suka merendahkan sesuatu padahal mereka tidak tahu apa-apa.” (hal 3)

2. “Aku hanya ingin perubahan. Aku tidak ingin menjadi biasa-biasa saja.” (hal 3)

3. “Tidak ada cara yang lebih baik untuk menghabiskan waktu saat kau sedang merasa kesepian. Kau tidak bisa berdiam diri, kau harus segera melenyapkannya.” (hal 53)

4. “…Tidakkah dia berani maju sendirian tanpa menghasilkan apa pun? Apakah menurutmu hanya Christopher Colombus yang menemukan negeri baru?”
(hal 91)


5. “Aku tidak suka membunuh orang selagi kita bisa menghindarinya. Membunuh akan membuat perasaan kita tidak tenang, dan itu juga bukan perbuatan yang baik.” (hal 94)

6. “Kalau kau tidak berpikir tentang betapa malang dan sepinya dirimu di tengah kabut dan bagaimana kau sendirian pada malam hari, kau akan dapat berpikir dengan jernih dan kau akan lihat hasilnya.” (hal 112)

7. “Tapi, sebuah kelompok tanpa pimpinan itu sangat menyedihkan.” (hal 196)

8. “Tapi, kita semua bisa saja pergi sewaktu-waktu. Jadi, yang harus kita lakukan adalah bersiap-siap sehingga kita semuanya akan berjalan dengan baik.” (hal 215)

9. “Kau tidak dapat berdoa demi sebuah kebohongan.” (hal 284)

10. “Selama aku melakukan perbuatan itu demi kebaikan, aku juga tidak akan tanggung-tanggung dalam melakukannya.” (hal 286)

11. “… Aku hanya menyerahkan keyakinanku kepada Tuhan untuk menunjukkan jalan saat waktunya tiba. Aku tahu Dia selalu seperti itu saat aku memasrahkan semua kepada-Nya.” (hal 293)

12. “…Aku tidak peduli pandangan tokoh-tokoh hebat itu terhadap caraku.” (hal 328)

Banyak sekali sebetulnya, tapi jika kutulis semuanya. Bisa jadi, aku akan terlihat sedang menyalin novel yang nyaris 400 halaman itu. Serius nah!

“Menurut kami, tidak ada tempat senyaman rakit. Kau akan merasa begitu bebas, santai, dan nyaman di sebuah rakit.” (hal 156)

Sampai terlampau lamanya berada di atas rakit ataupun sampan, mereka seolah menganggapnya rumah sendiri.

Oke, itu saja untuk kali ini. Selamat membaca! Oh ya, novel ini juga masuk ke dalam 100 novel yang wajib di baca sebelum tiada loh. Entah peringkat berapa dan menurut apa/siapa, lupa. Intinya, recommended! (y) 😀

Iklan

One thought on “[Review Novel] : The Adventures of Huckleberry Finn

  1. Ping-balik: Review Buku 3 Sisi Susi dan Sang Dirigen (Perjalanan Jahja Setiaatmadja Hingga Menjadi CEO BCA) | Naelil The Climber

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s