[Review Novel] Misteri Benang Merah Kejahatan dan Misteri Empat Tanda #2

Judul Buku : Misteri Benang Merah Kejahatan dan Misteri Empat Tanda
Pengarang : Sir Arthur Conan Doyle
Penerjemah : Sutrisno
Pemeriksa Aksara : Nur Iswarso
Tata Letak : Bayu
Kulit Muka : Ardhie
Penerbit : Indoliterasi
Kota Terbit : Yogyakarta
Tahun Terbit : Cetakan I, 2013
Jumlah Halaman : iv + 392 halaman

IMG-20140421-03218

“Anda melihat, tetapi Anda tidak mengamati.”

#PART 2 Misteri Empat Tanda

Kemarin kan aku udah posting bagian pertama alias novel pertama dalam buku tersebut. Nah ini novel keduanya.

Here we go 😀

Nih,untuk mengobati rasa kangen terhadap analisis Tuan Holmes.

“Kakakmu memiliki kebiasaan buruk, sangat buruk dan ceroboh. Ia sebelumnya memiliki prospek bagus, tetapi ia menyia-nyiakan kesempatan yang ada. Ketika kamu mengamati bagian belakang arloji, kamu bisa melihat bahwa Continue reading “[Review Novel] Misteri Benang Merah Kejahatan dan Misteri Empat Tanda #2”

[Review Novel] Misteri Benang Merah Kejahatan dan Misteri Empat Tanda #1

Judul Buku : Misteri Benang Merah Kejahatan dan Misteri Empat Tanda
Pengarang : Sir Arthur Conan Doyle
Penerjemah : Sutrisno
Pemeriksa Aksara : Nur Iswarso
Tata Letak : Bayu
Kulit Muka : Ardhie
Penerbit : Indoliterasi
Kota Terbit : Yogyakarta
Tahun Terbit : Cetakan I, 2013
Jumlah Halaman : iv + 392 halaman

IMG-20140421-03218

“Anda melihat, tetapi Anda tidak mengamati.”

#PART 1 Misteri Benang Merah Kejahatan

Eits, kok ada part 1 segala? Continue reading “[Review Novel] Misteri Benang Merah Kejahatan dan Misteri Empat Tanda #1”

Beberapa Kegiatan Bermanfaat Selepas Ujian Nasional

Selamat sore 🙂

Pengin cerita nih. UN SMA/MA dan tingkatannya baru aja dilaksanakan tanggal 14-16 April 2014 kemarin. Aku, termasuk salah satu pesertanya. Kalau berpendapat tentang soal UN-nya. Lumayan sih. Namanya juga ujian, ada yang mudah, ada yang sedang, dan ada yang… rumit. Kalau paham konsep, insyaAllah pasti bisa ngerjain. 🙂

ujian

Nah, habis UN, kita anak kelas 3 libur. Boleh istirahat di rumah. Banyak yang bilang, pengangguran. Soalnya digantungin. Kalimat bekennya, PDKT 3 tahun, jadiannya 3 hari, eh digantungin sebulan. Iyakah? Haha. Pengumuman UN memang masih Mei nanti. Begitu juga dengan pengumuman hasil SNMPTN sama PMDKPN. Dag dig dug yah pastinya.

Justru itu, diem aja di rumah justru malah bikin jantung ser-seran. Eits, bukannya aku mau nyaranin buat main-main mulu, bukan, tapi lakukan aktivitas yang bermanfaat. Beberapa teman juga kayaknya mulai tanggal 25 April dan sekitarnya besok udah mulai bimbel buat persiapan SBMPTN. Aku sendiri nggak ikut. Belajar di rumah aja, ditemani tumpukan buku, internet, dan cemilan yahut.

Emang nggak bosen? Continue reading “Beberapa Kegiatan Bermanfaat Selepas Ujian Nasional”

Cerpen dimuat di Majalah Horison Januari 2014 : Mbah Selo

Ini edisi mentahnya ya, teman-teman 🙂

Mbah Selo
(Oleh : Naelil)

Cerpen dimuat di Majalah Horison Kakilangit Januari 2014

Aku mendengar berita yang sama pagi hari ini. Pembunuhan, pemerkosaan, pencurian, penculikan, gerombolan preman merusak pasar, gerombolan wanita tuna susila dagang paha dan dada di pinggir jalan, juga gerombolan petinggi yang ramai-ramai dibopong KPK.

Itu saja. Semuanya seolah menggambarkan bahwa kehidupan di kotaku sudah sangat kacau. Porak-poranda. Tidak seperti dulu. Kini semua masyarakatnya sangat liar dan berani. Berani berjudi, berani mabuk, berani main wanita. Bahkan anak SD pun sudah mengenal miras hingga sabu-sabu. Continue reading “Cerpen dimuat di Majalah Horison Januari 2014 : Mbah Selo”

Puisi dimuat di Radar Banyuwangi 2014 : Duri dalam Tepung

Biasanya sih kalau karyaku dimuat di Koran, pembina KIR-ku selalu bilang. Beliau kan langganan koran harian gitu. Tapi kali ini enggak 😦 Ya, nggak apa-apa sih mungkin beliau enggak lihat. 😀 Anyway busway, ini sedikit freak. Entah gimana aku bisa nulis tentang duri dalam tepung. Bisa ya? Entahlah. Just take it easy and enjoy! 🙂

Duri dalam Tepung
(Oleh : Naelil)

Sangat dekat
Bahkan terbilang sobat
Selalu dalam satu mufakat
Di setiap harakat
Ya…
Kepercayaanku padamu tak punya sekat
Terlanjur pekat
Hangat

Hingga… kau tiup lentera merahku
Sebarkan paku
Lukai tiap jemariku
Robohkan tiang semangatku
Kau bagai duri dalam tepung terigu
Rasuk jiwaku dahulu
Hingga anggapmu sahabat sejatiku
Lalu perlahan kau hancurkanku
Tanpa maaf; tanpa rasa bersalah
Kau abai seolah tak bersisa kisah
Apapun yang kita lalui dalam masa kuat dan lemah