Cerpen dimuat di Majalah Horison Januari 2014 : Mbah Selo

Ini edisi mentahnya ya, teman-teman 🙂

Mbah Selo
(Oleh : Naelil)

Cerpen dimuat di Majalah Horison Kakilangit Januari 2014

Aku mendengar berita yang sama pagi hari ini. Pembunuhan, pemerkosaan, pencurian, penculikan, gerombolan preman merusak pasar, gerombolan wanita tuna susila dagang paha dan dada di pinggir jalan, juga gerombolan petinggi yang ramai-ramai dibopong KPK.

Itu saja. Semuanya seolah menggambarkan bahwa kehidupan di kotaku sudah sangat kacau. Porak-poranda. Tidak seperti dulu. Kini semua masyarakatnya sangat liar dan berani. Berani berjudi, berani mabuk, berani main wanita. Bahkan anak SD pun sudah mengenal miras hingga sabu-sabu.

Aku jadi ingat kisah yang kakek ceritakan padaku ketika aku kecil dulu. Kakek bilang, dulu kotaku dikepalai oleh seorang pria bernama Mbah Selo. Mbah Selo digambarkan sebagai seorang pria dewasa yang sehari-harinya memakai peci hitam, kemeja lusuh, dan sarung komprang. Kemudian dengan gagahnya mengendarai kuda dan mengelilingi kota. Ah tidak, sebenarnya postur Mbah Selo tidak tinggi benar, tapi cenderung kecil. Namun wibawanya melejit kalahkan gedung pencakar langit di Eropa.

Jika sudah begitu, kata kakek, sudah tidak akan ada lagi orang yang berani macam-macam. Pun berada di halaman rumah, apalagi menatap Mbah Selo dengan kasat mata. Wibawa dan kharismanya memancar luar ke seluruh belahan dunia. Semuanya tunduk dan takluk kepada Mbah Selo. Oleh sebab itu, dulu, kotaku selalu membawa berita gembira tiap harinya. Tidak seperti saat ini. Ketika media saling bertarung heboh-hebohan menayangkan kebobrokan kota beserta isinya.

Heranku, kemana perginya Mbah Selo? Sayang sekali, sebelum kakek sempat menuntaskan kisahnya mengenai Mbah Selo, beliau sudah duluan dipanggil Tuhan. Jadi, aku pun tak tahu betul bagaimana kelanjutan ceritanya. Lagipula, kakek sejujurnya memang sulit sekali ketika kutanya tentang Mbah Selo. Katanya pamali.

Aku sebenarnya tak yakin jika keberadaan Mbah Selo benar-benar nyata. Menurutku, kebaikan dan kejahatan itu harus seimbang untuk mendapatkan keharmonisan. Mana mungkin ada suatu masa dimana semua serba indah dan baik? Rasanya tidak mungkin kecuali itu surga.

Tapi aku juga tak mau menyangkalnya karena itu kisah leluhur yang dijatuhkan turun-temurun. Dari galih asem, debog bosok, gropak sente, gantung siwur, udeg-udeg, wareng, canggah, buyut hingga ke embah. Kisah itu sudah mendarah daging.

Ada juga yang bilang bahwa Mbah Selo itu terlalu sakti untuk dibunuh. Sehingga konon pada maraknya pembantaian di akhir September, Mbah Selo menyamar sebagai pria biasa yang usianya lebih muda kemudian menghilang entah kemana. Katanya, hendak membalaskan dendam pembantaian yang dilimpahkan kepada rakyaktnya. Entahlah.

Ada pula sumber yang mengatakan, Mbah Selo berakhir ketika terjadi penyerangan di akhir September tahun 1965. Ketika usianya sudah lebih dari seratus. Aku tak tahu Mbah Selo masuk golongan yang mana. Yang jelas kata beberapa sumber, Mbah Selo berakhir ketika kepalanya disabit di samping rumahnya. Dan kau tahu rumahnya dimana? Tepat di tanah sekolahku. Ini juga yang menyebabkan sebagian kawanku percaya bahwa adanya kerasukan pada siswi-siswi ketika sekolah dibenahi adalah perilaku prajurit setia Mbah Selo. Mereka tak mau rumahnya diperbaiki. Sehingga mereka protes. Itu diduga karena penghancur gedung adalah ciri-ciri musuh mereka. Dan mungkin mereka kira tukang bangunan itu musuh mereka yang dulu membantai mereka dengan parang dan sabit.

“Kenapa tidak diusir saja dan diberikan tempat baru?” usulku asal ketika aku teringat pada perataan rumah warga yang menghuni lahan sah perusahaan.

Pak Wagiman menggeleng, “Kita pun tidak bisa mengusir mereka karena nyatanya mereka lebih dulu yang menghuni sekolah ini. Bukan kita.”

“Lalu apakah terus begini saja, Pak? Dibiarkan hingga banyak anak yang kerasukan?”

“Mau bagaimana lagi? Itu sudah tradisi turun-temurun. Berani berbenah, artinya siap menerima resiko amukan mereka.”

Aku terperangah mendengar suara Pak Wagiman-guru sejarah kami-yang pasrah. Aku pun juga tak tahu bagaimana memberantasnya. Ujar Pak Wagiman, yang penting kita selalu mengingat Tuhan dan menghindari kegiatan mengosongkan pikiran.

Aku hanya mengiyakan walau hati berkecamuk di antara dua. Aku kembali teringat Mbah Selo.

“Tetapi bukankah Mbah Selo menyenangi perdamaian, Pak?”

“Betul. Tetapi bagaimana pun kita bukan rakyat Mbah Selo. Rakyat beliau itu mereka yang tidak tampak. Dan Mbah Selo selalu mendahulukan kepentingan rakyatnya.”

“Tapi, Pak…”

“Sudahlah, Nat. Sebaiknya jangan membicarakan Mbah Selo dan rakyatnya. Yang penting sama-sama nggak nggangu.”

Bagaimana tidak menganggu, adanya kesurupan sangat mengganggu kegiatan belajar-mengajar, pekikku dalam hati. Setiap kali terdapat siswi yang kerasukan, guru-guru akan berhamburan ke luar untuk menyelamatkan. Sedangkan muridnya, lari tunggang-langgang karena keingintahuan yang besar. Kompak mengelilingi mushola dengan berjinjit-jinjit. Berusaha menangkap gambaran langsung siswi yang kerasukan. Hal itu seolah tidak boleh dilewatkan. Dan pelajaran pun, gagal total.

Oke, aku mungkin memang bukan tipe orang yang senang pelajaran. Aku juga lumayan senang jika ada jam kosong yang disematkan. Tapi jam kosong yang berlebihan bukankah tidak baik? Akan ada semakin banyak siswi yang mengosongkan pikiran. Dan akhirnya, bukan hanya satu-dua siswi yang kerasukan. Terkadang bahkan lebih dari tiga.

Karena penasaran, aku ingin sekali bernegoisasi dengan Mbah Selo. Tapi bagaimana caranya aku tak tahu. Mungkin menginap di sekolah hingga larut malam?

Aku ingat kisah kakak kelasku. Malam itu temanku pulang larut karena mengerjakan tugas. Ketika melewati arena sekolah, ia melihat sekolah ramai sekali. Padahal sudah larut malam dan tidak sedang ada kegiatan perkemahan. Ia melihat banyak orang bersih-bersih. Menyapu halaman. Kontan ia lari terbirit-birit. Ketika kutanya mengapa ia lari dan apakah tidak penasaran, ia justru menjawab bingung dan dipikirannya hanya ada kata kabur.

Apakah aku juga akan demikian? Nyalinya saja terlihat kuat. Ketika bertemu langsung, lari terbirit-birit. Tapi haruskan aku membiarkan ini? Dan semuanya setelah ini hanya akan memendam pertanyaan yang tak pernah terjawabkan. Tentang Mbah Selo, kisahnya, juga dengan arwahnya dan rakyatnya yang konon bergentayangan di sekolahan. Menjadi penunggu yang bisa sewaktu-waktu mengamuk dan merasuki siswi-siswi. Haruskan seperti itu dibiarkan? Kemudian leluhur akan saling mendongeng tentang Mbah Selo, sang penunggu sekolahan.

Anehnya, Pak Wagiman bilang, kecendurangan siswi yang dirasuki adalah yang tidak percaya akan keberadaan Mbah Selo serta senang melamun. Tapi ah, aku juga demikian. Bahkan hatiku sering berkecamuk untuk menantangnya ke luar dan menyelesaikan persengketaan dengan negosiasi. Tapi aku tidak pernah kerasukan.

Hingga suatu ketika. Di sore yang pekat, ayah duduk di sampingku. Berceloteh tentang masa kecilnya. Berceloteh tentang ia yang dimanjakan sebagai anak terakhir dari lima belas bersaudara. Tentang kisahnya di tahun 1965. Tentang bagaimana kakekku dulu menyamar sebagai pria lebih muda karena pembantaian nyaris merenggut keluarganya. Tentang kakek yang nama aslinya adalah Seloagung.

Iklan

28 thoughts on “Cerpen dimuat di Majalah Horison Januari 2014 : Mbah Selo

  1. Salam,

    mbak keren deh bisa masuk horison~ (>_<)

    bagi, dong, mbak … percikan kekerenannya … misalnya soal: bagaimana, sih, kirim cerpen ke horison itu? (^_^)

    saya cari di internet belum ketemu juga … malah ketemunya horison online (-_-)

    makasih, mbak …

    Suka

  2. Apakah ada perbedaan untuk pengiriman cerpen biasa dan cerpen untuk kaki langit (penulisnya anak sekolah)? Kebetulan saya masih SMA, Mbak. Kalau berekenan, mungkin Mbak ada rekomendasi dan tips tema cerpen yang bagus dikirim ke Horison.. Ditunggu balasannya ya 🙂 Trims.

    Suka

    • Bedanya iya, penulisnya anak sekolah. Jadi, dalam Majalah Horison itu nanti akan disediakan beberapa halaman khusus yang memuat cerpen dan puisi anak sekolah yang disebut kakilangit. Plusnya Majalah Horison, untuk karya yang dimuat di kakilangit akan diberikan ulasan oleh redaksi sehingga untuk karya penulis selanjutnya bisa lebih baik lagi. Tapi baik yang kakilangit atau bukan, itu berada dalam satu majalah. 🙂

      Suka

  3. Ping-balik: Cerpen Komedi Gagal : Bulat Onde-Onde – Naelil The Climber

  4. Ping-balik: Majalah Sastra Kebanggaanku | Naelil The Climber

  5. sampai pada pertengahan cerpen sudah berhasil masuk dalam jiwa cerita ini pertanyaan dan beberapa tanda tanya. namun ketika tiba-tiba sampai pada akhir cerita aku menjadi kecewa karena cepen ini tak berhasil membuatku penasaran lagi.

    cerpen yang mantap!

    Suka

  6. Mbak, entah kenapa plot twist-nya ‘hampir’ sama dengan novel WHEN MARNIE WAS THERE karya Joan G. Robinson. Apa ini cuma kebetulan?

    (Novelnya juga sudah difilmkan oleh Studio Ghibli dengan judul yang sama)

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s