[Review Novel] Misteri Benang Merah Kejahatan dan Misteri Empat Tanda #1

Judul Buku : Misteri Benang Merah Kejahatan dan Misteri Empat Tanda
Pengarang : Sir Arthur Conan Doyle
Penerjemah : Sutrisno
Pemeriksa Aksara : Nur Iswarso
Tata Letak : Bayu
Kulit Muka : Ardhie
Penerbit : Indoliterasi
Kota Terbit : Yogyakarta
Tahun Terbit : Cetakan I, 2013
Jumlah Halaman : iv + 392 halaman

IMG-20140421-03218

“Anda melihat, tetapi Anda tidak mengamati.”

#PART 1 Misteri Benang Merah Kejahatan

Eits, kok ada part 1 segala?

Jadi, novel ini itu 2 in 1. Ada dua kisah di dalamnya. Biar seru, aku pisah jadi dua pos ya 🙂

“Otak manusia pada awalnya adalah seperti loteng kecil yang kosong. Orang bodoh memasukkan semua jenis kayu yang ia temukan ke dalam loteng, sehingga pengetahuan yang mungkin berguna baginya menjadi kacau. Sekarang seorang pekerja terampil akan sangat berhat-hati mengenai apa yang harus ia masukkan ke dalam loteng otaknya.” (hal 19)

“Jika Anda memiliki semua detail dari seribu kejahatan di ujung jari Anda, terasa Aneh jika Anda tidak bisa mengungkap kejahatan yang ke seribu satu.” (hal 27)

“Lebih mudah mengetahui hal itu daripada menjelaskan mengapa aku mengetahuinya.” (hal 32)

“Apa yang muncul dari hal biasa, biasanya bisa menjadi kunci dalam penyelesaian masalah bukannya sebagai penghalang. Dalam menyelesaikan masalah seperti ini, hal utama adalah melakukan penalaran ke belakang.” (hal 191)

Udah pada tahu kan siapa itu Sherlock Holmes? John Watson? Kalau belum, silahkan berkenalan. 😀 Jadi, Sherlock Holmes itu adalah seorang Detektif Konsultan dan pekerjaannya itu emang satu-satunya doang. Sedangkan koleganya yang bernama John Watson itu mantan dokter militer.

Untuk lebih mengenal Sherlock Holmes, ini cuplikannya menurut Young Stamford.

“Ia bukanlah orang yang mudah diajak bicara, walau ia bisa menjadi cukup komunikatif ketika fantasi menguasainya.” (hal 7)

“Holmes sedikit terlalu ilmiah untuk seleraku, keilmiahannya berdarah dingin. Aku bisa membayangkan bagaimana ia memberi temannya sejumput alkaloid sayuran, bukan bermaksud jahat kamu tahu, tetapi hanya dorongan semangat inkuiri agar bisa memperoleh ide akurat mengenai efek-efek alkaloid sayuran.” (hal 8)

Sherlock Holmes merupakan pengamat sekaligus penganalisi yang amat jeli dan sistematis selain juga ahli kimia yang arrogant. Bisa kita lihat di bawah ini analisnya terhadap suatu kasus.

“Saat ia menyeberang jalan, aku bisa melihat tato jangkar biru besar di punggung tangannya. Tato itu berbau laut. Namun ia memiliki karakter militer, dan kumis adalah bagian dari regulasi militer. Dari hal-hal itu kita tahu ia seorang marinir. Anda pasti telah mengamati cara ia menegakkan kepalanya dan mengayunkan tongkatnya. Seorang laki-laki paRuh baya, terhormat dan stabil terlihat di wajahnya, semua fakta itu membuatku yakin bahwa ia pernah menjadi seorang sersan.” (hal 33)

“Ketika seseorang menulis di dinding, nalurinya mengarahkannya untuk menulis sejajar dengan matanya sendiri.” (hal 51)

“Tulisan di dinding dilakukan dengan jari telunjuk pria yang dicelupkan ke dalam darah. Dengan bantuan kaca pembesar aku bisa mengamati bahwa plaster dinding sedikit tergores saat menuliskannya, yang tidak akan menjadi kasus jika kuku orang ini telah dipotong. Aku mengumpulkan sedikit abu yang tersebar di lantai. Debu itu berwarna gelap dan berlapis-lapis, seperti debu yang hanya dibuat oleh cerutu Trichinopoly.” (hal 52)

Cukup yah analisis dari Sherlock-nya, nanti nggak penasaran lagi dong 😀

Ah ya, kalau baca novel ini, lumayan juga buat nambah pengetahuan tentang London dan sekitarnya pada era akhir abad ke 19 atau awal abad ke 20, mungkin. Taksi aja masih pakai kusir, yang artinya ditarik pakai kuda.

“Tampilan wajah ramah di keliaran London merupakan hal yang sangat menyejukkan bagi seorang pria kesepian.” (hal 5)

“Audley Court bukanlah lingkungan yang menarik. Lorong sempit membawa kami…” (hal 55)

“Kereta taksi London umumnya lebih sedikit sempit daripada kereta seorang Brougham.” (hal 192)

Jadi di sini ceritanya bermula pada pertengahan hingga akhir abad ke-19 hingga awal abad ke 20, sepertinya. Kisah ini tentang dendam kesumat. Jika penasaran, monggo dibaca latar belakangnya bagaimana. Endingnya tidak terduga kok. InsyaAllah mantab. 😀

Sebagian orang yang menonton dahulu sebelum membaca, mungkin mengira bahwa Study in Pink yang merupakan kasus yang dikupas Sherlock Holmes cs keluaran BBC diadaptasi dari novel Sir Arthur Conan Doyle yang berjudul Study in Scarlet alias Misteri Benang Merah Kejahatan. Dan memang iya sih, mesti sebagian telah digubah 😀 Supaya lebih menarik tentunya.

Pertama membaca novel ini, saya menyesal sekali karena telah menonton filmnya dahulu sebelum membaca novelnya. Gagal deh, merencanakan keliaran imajinasi saya. Terlanjur menonton, imajinasi mengenai tiap peristiwa saya cuma berdasar pada gambar di film. Andaikan berbeda pun, gubahannya sedikit sekali.

Tapi untungnya, menuju ke kasus, perbedaan antara novel dan film/seriesnya makin kentara. Misal kalau di film/seri itu yang dibunuh perempuan serba pink, di sini laki-laki bernama Drebber. Kalau di filn/seri itu pembunuhnya punya sponsor yaitu Jim Moriarty yang gemar sekali bermain-main dengan Sherlock Holmes, di sini enggak gitu. Tetapi…

Dan, kepuasan terpancar dari wajah saya. 😀 Haha. Yang jelas, kece lah. Kalau misalnya ingin menerka-nerka dan berpikir, novel ini cocok sebagai bacaan. Namun untuk bacaan di jalan, kurang cocok kali ya karena bobotnya kurang ringan. Tapi seru kok, tiap peristiwa mengalir natural sehingga kita akan lebih mudah masuk ke dalam kisahnya. 🙂

Happy reading 🙂

Iklan

2 thoughts on “[Review Novel] Misteri Benang Merah Kejahatan dan Misteri Empat Tanda #1

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s