[Review Novel] Misteri Benang Merah Kejahatan dan Misteri Empat Tanda #2

Judul Buku : Misteri Benang Merah Kejahatan dan Misteri Empat Tanda
Pengarang : Sir Arthur Conan Doyle
Penerjemah : Sutrisno
Pemeriksa Aksara : Nur Iswarso
Tata Letak : Bayu
Kulit Muka : Ardhie
Penerbit : Indoliterasi
Kota Terbit : Yogyakarta
Tahun Terbit : Cetakan I, 2013
Jumlah Halaman : iv + 392 halaman

IMG-20140421-03218

“Anda melihat, tetapi Anda tidak mengamati.”

#PART 2 Misteri Empat Tanda

Kemarin kan aku udah posting bagian pertama alias novel pertama dalam buku tersebut. Nah ini novel keduanya.

Here we go 😀

Nih,untuk mengobati rasa kangen terhadap analisis Tuan Holmes.

“Kakakmu memiliki kebiasaan buruk, sangat buruk dan ceroboh. Ia sebelumnya memiliki prospek bagus, tetapi ia menyia-nyiakan kesempatan yang ada. Ketika kamu mengamati bagian belakang arloji, kamu bisa melihat bahwa arloji ini tergores di hampir seluruh bagian belakangnya karena kebiasaan kakakmu menyimpan benda-benda keras, seperti uang koin dan kunci, di saku yang sama dengan arloji ini. Tentunya ini bukanlah prestasi besar untuk berasumsi bahwa seorang pria yang memperlakukan arloji seharga lima puluh guinea dengan begitu congkak pastilah orang yang ceroboh.

“Ini sudah menjadi kewajiban bagi para pemilik rumah gadai di Inggris, ketika mereka menerima gadaian berupa arloji, mereka menggesekkan nomer tiket di bagian dalam arloji dengan ujung peniti. Tidak kurang dari empat nomor yang terlihat oleh lensaku di bagian dalam arloji ini. Kesimpulan lainnya adalah bahwa ia sesekali hidup berkecukupan, atau dia mungkin tidak bisa menepati janjinya. Lihatlah ribuan goresan di sekeliling lubang yang menandai di mana kunci dimasukkan. Hanya kunci milik orang bukan pemabuk yang bisa mencetak alur goresan semacam itu? Tapi kamu tidak akan pernah melihat jam tangan milik seorang pemabuk tanpa goresan semacam itu.” (hal 214)

Cuplikan…

“Aku membenci rutinitas yang membosankan. Aku mendambakan peningkatan mental.” (hal 204)

“Ia memiliki dua dari tiga kualitas yang diperlukan sebagai seorang detektif ideal. Ia mempunyai kelebihan dalam melakukan observasi dan melakukan deduksi. Ia hanya membutuhkan lebih banyak pengetahuan.” (hal 207)

“Ia sebelumnya memiliki prospek bagus, tetapi ia menyia-nyiakan kesempatan yang ada.” (212)

“Aku tidak bisa hidup tanpa kerja otak.” (214)

“Apa gunanya memiliki kekuasaan ketika ia tidak memiliki bidang di atanya ia bisa melampiaskan kekuasaannya?” (hal 215)

“Kualitas emosional bertentangan dengan penalaran yang jernih.” (hal 222)

“Ketika kamu telah menyingkirkan ketidakmungkinan, maka apapun yang tersisa, bagaimanapun tidak mungkin, pasti itu adalah kebenaran.” (hal 264)

“Tentu itu mungkin sebagai tanda bahaya palsu; tetapi ini tugasku sebagai penegak hukum untuk memastikan setiap kesempatan tidak lepas begitu saja.

Jadi ceritanya…

Dibuka dengan Sherlock yang menyuntikkan kokain 7% ke dalam tubuhnya pada suatu hari, lalu datang kilennya yang bernama Miss Mary Morstan; memiliki masalah dengan hilangnya sang ayah-Kapten Morstan-secara misterius sepuluh tahun lalu, serta kiriman paket rutin di tanggal yang sama oleh pengirim tak benama sejak enam tahun yang lalu, satu bulan setelah kematian Mayor Sholto yang merupakan teman dekat Kapten Morstan, ayah Mary.

Rupanya ini mengenai harta karun Agra dan ada sangkut pautnya dengan empat tanda atau empat orang yang… siapakah mereka?

Di sini aku dapat pelajaran, klasik mungkin, tapi memang benar bahwasanya keserakahan dapat mendatangkan mala petaka. Ketika kita mulai gelap mata akan harta, ego merasuk ke dalam jiwa hingga tanpa sadar dapat melakukan hal-hal gila yang tak mempedulikan apa-apa kecuali dirinya semata.

Itu yang pertama. Yang kedua, kebohongan, penipuan, pencurian, serta kejahatan lainnya pasti akan mendatangkan kegelisahan. Intinya, jangan bermain api jika tidak mau terkena panasnya. Seperti Mayor Shalto yang parno sendiri terhadap setiap orang yang berkaki kayu hingga sempat melukai seorang pedagang biasa yang berkaki kayu karena dikiranya pedagang berkaki kayu itu adalah seseorang yang memburunya. Lalu kenapa Mayor Sholto diburu? Apakah menyangkut peristiwa masa lalu?

Dalam buku ini, entah novel satu ataupun dua, Sir Arthur Conan Doyle tampaknya menyukai alur campuran. Setelah Sherlock Holmes cs berhasil menguak misteri teka-teki kejahatan dan menangkap tersangkanya, akan dipaparkan kejadian di masa lalu yang melatarbelakangi tindak kriminal tersebut. Cukup menarik, karena hidup memang tak terlepas dari yang namanya sejarah. Ini mengingatkan kita untuk selalu berhati-hati dalam setiap langkah. Yang kita lakukan saat ini, kelak jadi masa lalu berupa sejarah juga kan? Dan kita tak pernah tahu apa akibat yang dapat ditimbulkan atas tindak-tanduk kita sebelum masa depan itu datang. Iya?

Yang disayangkan dari novel ini, tidak adanya footnote atau catatan kaki. Di sini terdapat Bahasa Jerman dan Prancis meskipun eksistensinya tidak begitu sering. Untuk yang mengerti, tidak ada masalah. Namun bagi kaum awam? Apalagi lumayan panjang kalimatnya. Salah satunya seperti ini.

“Schade dass die Natur nur einen Mensch aus dir scuf, Denn zum wurdigen Mann perang und zum Schelmen der Stoff.” (hal 381)

Aku sih tahunya cuma aus, einen, sama und. Haha. Tapi overall, novel ini keceh kok untuk dinikmati. Sebagai bacaan liburan juga seru. Hitung-hitung mengasah pikiran supaya enggak tumpul karena terlalu larut dalam suasana kebebasan liburan. Enjoy!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s