Review Novel : LONDON

index

Judul Buku : London
Pengarang : Windry Ramadhina
Penerbit : Gagasmedia
Kota Terbit : Jakarta Selatan
Tahun Terbit : Cetakan III, 2013
Jumlah Halaman : x+330 hlm

Pembaca tersayang,

Mari berjalan di sepanjang bantaran Sungai Thames, dalam rintik gerimis dan gemilang cahaya matahari dari London Eye.

Windry Ramadhina, penulis novel ‘Orange’, ‘Memori’, ‘Montase’, membawa kita menemani seorang penulis bernama Gilang mengejar cinta Ning hingga ke Fitzrovia. Namun, ternyata tak semudah itu menyatakan cinta. Kota London malah mengarahkannya kepada seorang gadis misterius berambut ikal. Dia selalu muncul ketika hujan turun dan menghilang begitu hujan reda. Sementara itu, cinta yang dikejarnya belum juga ditemuinya. Apakah perjalanannya kali ini sia-sia belaka?

Setiap tempat punya cerita.
Dalam dingin kabut Kota London, ada hangat cinta menyelusup.

Enjoy the journey.

Editor
…………………………………………………………………………

Aku bisa keluar dari tempat indekos dengan niat mengunjungi acara sastra, tetapi malah berakhir di kafe. (hlm. 11)

“Lagian, gadis mana yang tidak luluh hatinya saat didatangi oleh lelaki yang menempuh ribuan kilometer cuma untuk mengatakan cinta?” (hlm. 27)

“London terlalu menarik untuk dikunjungi satu kali.” (hlm. 44)

Perjalanan cinta sejati tidak pernah mulus. Begitu kata Shakespeare. (hlm. 56)

Aku tidak jauh-jauh datang ke London hanya untuk minum-minum, apalagi mabuk dan terbangun pada keesokan paginya dengan seorang gadis yang tidak kukenal di sisiku. (hlm. 61)

Lagi pula, hanya orang Asia yang mandi dua kali sehari. Saat ini, aku ingin berpura-pura bahwa diriku bukan orang Asia. Mumpung aku sedang berada di Eropa. (hlm. 74)

Gara-gara Hugh Grant dan Pangeran Charles, aku berpendapat semua lelaki Inggris kaku dan membosankan. (hlm. 75)

“Lupakan Fakultas Teknik, Gilang. Mungkin, masa depanmu ada di dunia sastra. Kau ingin masuk Teknik Sipil karena si sok macho dari kelas sebelah memengaruhimu. Dia berhasil bikin kau percaya kalau membangun gedung tinggi itu pekerjaan keren.” (hlm. 97)

Ning seorang pemimpi dan aku dibuatnya percaya. (hlm. 98)

“Semanis apapun awalnya, cinta hanya meninggalkan luka. Ilusi, itulah cinta. Ilusi yang membutakan mata.” (hlm. 132)

“Kalau kau mengatakan cintamu dan ternyata Ning tidak punya perasaan yang sama, dia tidak akan bisa melihatmu sebagai sahabat lagi, Gilang.” (hlm. 151)

“Lelaki yang salah tingkah di depan perempuan yang disukainya itu manis, tahu.” (hlm. 169)

“Aku tidak bisa berbuat apa-apa. Aku cuma bisa melihatnya melukai diri sendiri. Yang jadi masalah, kalau dia terluka, aku ikut terluka. Apa itu masuk di akal?” (hlm. 236)

Manusia adalah makhluk dengan nalar dan emosi yang jauh lebih besar. Bagaimana nasib manusia kala dia kehilangan seseorang yang telah menghidupkan jiwanya selama belasan tahun? Apakah dia sanggup bertahan? (hlm. 292)

“Kau tidak belajar mencintai. Kau mencintai dengan sendirinya.” (hlm. 297)

Aku malas membahas apa yang terjadi semalam. Terlalu menyakitkan. Karena itu, aku pura-pura tidak paham. (hlm. 304)

Ngomong-ngomong, saya suka momen di halaman 251. Meskipun itu bukan momennya si tokoh utama.

I love you without knowing how, or when, or from where. I love you straightforwandly, without complexities or pride; in which there is no I or you. So intimate that your hand upon my chest in my hand. So intimate that when you fall asleep it is my eyes that close. (Soneta 17 – Pablo Neruda, hlm. 120)

Bisa dibilang, ini buku yang manis. Sangat manis malah. Wait, bukan berarti seluruh kisah dalam buku ini manis. Tidak. Yang nyesek banyak juga, malah. Tapi jangan khawatir, buku ini oke kok. Terlebih untuk penyuka hujan dan London. Heaven, my goodness!

Kak Windry pandai merangkai kata. Detail London sangat terasa. Beruntungnya, penuturan Kak Windry tidak kaku. Saya berasa terbang sendiri ke London dan menjadi si Gilang. Haha.

Jadi, buku ini menceritakan kisah Gilang yang mengejar cinta Ning sampai ke London. Waktu pertama dengar begitu, saya pikir, novel ini bakal membosankan dan mainstream. Ternyata saya salah.

Betul, pada kenyataannya hey, kita hidup bukan hanya di dunia imajiner. Di dunia nyata, tidak semua kisah cinta berakhir seperti kisah para princess. Tapi percayalah, “Setiap orang punya keajaiban cintanya sendiri.”

Happy Reading!

Iklan

4 thoughts on “Review Novel : LONDON

  1. yap, bener banget. Baca novel ini berasa ‘nguntit’ si gilang waktu di Londong juga.
    Buku saya sampe jadi copot dari sampulnya sangking lamanya dipinjem temen tapi gak dirawat ._.’

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s