Cuplikan Buku: To Kill A Mockingbird

To Kill A Mockingbird

Judul Buku : To Kill A Mockingbird
Penulis : Harper Lee
Penerjemah : Femmy Syahrani
Penerbit : Qanita PT Mizan Pustaka
Tahun Terbit : Cetakan I, Maret 2006
Jumlah Halaman : IX + 568 hlm

Sebelumnya, sudah pada tahu Mockingbird, belum? Ini dia gambarnya.

index

……………………………………………………………….

Dia membeli kapas, istilah sopan untuk menganggur.

Boo tidak gila, dia hanya kadang-kadang tidak bisa menjaga kelakuan.

“Kalau aku mati, kamu bagaimana?”

Atticus berkata Jem akan dengan senang hati menunjukkan letak ruang kelasku. Aku menduga ada uang yang terlibat dalam transaksi ini.

Aku dan Miss Caroline sudah bercakap-cakap dua kali, dan mereka memandangku dengan keyakinan lugu bahwa “kedekatan” kami akan menghasilkan pengertian.

Andai saja sikapnya padaku lebih ramah, tentu aku akan merasa kasihan. Dia cantik dan manis.

“Kau tak boleh negur mereka di meja gara-gara mereka beda. Anak itu tamumu, dan kalau dia mau makan taplak meja, kau biarkan saja. Ngerti?”

Atticus akan begitu tenggelam dalam buku sehingga tak akan mendengar walaupun hari kiamat telah datang.

“Jangan menginjak peti sawi, bunyinya bisa membangunkan orang mati.”

“Keberanian adalah saat kau tahu kau akan kalah sebelum memulai, tetapi kau tetap memulai dan kau merampungkannya, apapun yang terjadi.”

“Tidak selalu perlu menunjukkan semua yang kita ketahui.”

“Orang akan merasa lebih baik jika mereka punya alasan.”

“Ada satu hal di negara ini yang menunjukkan bahwa semua manusia diciptakan sederajat. Ada satu lembaga kemanusiaan yang membuat seorang pengemis sederajat dengan seorang Rockfeller, seorang bebal sederajat dengan seorang Einstein, dan seorang tak berpendidikan sederajat dengan seorang rektor universitas manapun. Lembaga itu, Tuan-Tuan, adalah pengadilan.”

“Jika seseorang seperti Atticus Finch mau membenturkan kepalanya pada dinding batu. Biarkan saja. Itu kepalanya sendiri.”

“Punya pistol adalah undangan bagi orang lain untuk menembakmu.”

Penindasan berasal dari orang-orang yang berprasangka buruk.

“Kau tak akan pernah mengenal sesorang sampai kau berada dalam posisinya dan mencoba menjalani hidupnya.”
…………………………………………………………………………………………………………………………………….

Mari sejenak meluangkan waktu di teras depan sambil menyesap aroma melati pada secangkir teh dan biskuit-biskuit harum yang menunggu untuk disantap.

Tokoh utama dalam buku ini bernama Jean Louise Finch. Namun ia lebih akrab disapa Scout. Seperti nama anak laki-laki ya? Memang. Keseharian Scout yang sangat dekat dengan kakaknya, Jem, berserta kawannya, Dill, yang juga laki-laki, membuatnya bertingkah bahkan berpenampilan seperti laki-laki. Scout lebih memilih untuk mengenakan overall dan bermain bersama Jem dan Dill ketimbang mengenakan rok dan duduk di samping Bibi Alexandra-nya di ruang tamu bersama ibu-ibu lain untuk mendiskusikan berbagai macam hal.

Tokoh Scout ini menarik menurut saya. Dia pemberani. Saya ingat ketika Scout menyusup di antara kerumunan orang berwajah dan bertubuh garang hanya karena mengkhawatirkan ayahnya yang dikepung. Dia berhasil membuat orang-orang berwajah garang yang tampak hendak menghabisi Atticus ayahnya, untuk kembali pulang dengan tangan kosong.

Baiklah. Jadi, cerita ini bermula ketika Scout, Jem, dan Dill menghabiskan liburan musim panas bersama. Mereka sangat penasaran dengan Boo Radley. Yang tidak lain dan tidak bukan adalah Mister Arthur Radley. Mengapa mereka penasaran? Karena Boo tidak pernah ke luar rumah. Itu setidaknya yang mereka tahu. Dan desas-desus menyebutkan bahwa Boo Radley penah menusukkan gunting ke kaki ayahnya, memakan telunjuk kanan ibunya karena tidak ada kucing, tupai, yang bisa dimakan. Ya, menurut desas-desus, Boo memakan mereka tanpa dimasak. Banyak yang bilang, Boo sudah sinting. Oleh karena itu, Scout dan Jem selalu berlari saat melewati rumah keluarga Radley.

Meski demikian, mereka tetap penasaran dengan Boo. Ketiganya sempat hendak memberikan surat kepada Boo, hingga bahkan menyusup ke ladang sawi keluarga Radley hanya untuk mengintip Boo. Keanehan mulai terjadi saat itu. Ah tidak! Keanehan sudah bermula sejak mereka menemukan bungkus timah berisi permen karet yang berada dalam ceruk pohon di depan rumah keluarga Radley. Mereka tidak hanya menemukan itu, namun juga patung kecil yang menyerupai mereka.

Nah, mari kita beralih ke lain masa kemudian, ketika Atticus membela seorang kulit hitam bernama Tom Robinson atas tuduhan penganiayaan dan pemerkosaan terhadap Mayella Ewell, anak perempuan Bob Ewell. Banyak orang yang mengata-ngatai Atticus sebagai pecinta Nigger. Tak ada yang salah dengan itu. Tapi Scout merasa, yang salah itu adalah cara orang-orang dalam mengucapkannya. Seperti Cecil misalnya, ia menguncapkannya seperti ketika mengucapkan “dasar anak ingusan”.

Banyak lembar buku yang digunakan untuk membahas kasus Tom Robinson ini. Saya kira, ini adalah konflik utamanya. Menariknya, yang terjadi di ruang pengadilan pun tidak luput dari penulisan Madam Harper Lee. Namun tenang saja, buku ini tidak melulu serius, terkadang juga lucu kok.

Lalu apa hubungannya dengan Boo Radley? Kenapa ia tiba-tiba menghilang? Tidak sepenuhnya.

Bob Ewell memang menang atas Tom Robinson dalam kasusnya. Karena… ia kulit putih. Sedangkan Tom itu kulit hitam. Rasis memang. Pada masanya, belum ada kulit hitam yang menang atas kulit putih. Apapun kasusnya. Meski demikian, Mister Ewell berniat untuk balas dendam terhadap Atticus karena telah mempermalukannya di pengadilan. Mempermalukan seperti apa?

Bob Ewell bahkan pernah meludahi muka Atticus serupa bentuk salah satu tahap balas dendamnya. Dan, apa yang Atticus lakukan? Hanya menyeka ludahan Bob Ewell tanpa membalas. Bukankah ia sangat bijak? Atticus bilang, ia terlalu tua untuk berkelahi. Tapi saya yakin, ia sebenarnya mampu kalau mau.

Rupanya Mister Ewell serius ketika ia bilang akan membalas dendam. Itu terjadi pada malam Scout bermain peran menjadi babi. Jem yang mengantarkannya ke gedung pertunjukkan. Saat itu Jem sudah kelas tujuh dan Scout baru kelas tiga. Bagaimana Mister Ewell membalas dendam? Sebaiknya kalian membaca sendiri.

Kurang lebih seperti itu. Ah tidak juga! Banyak momen yang saya lewatkan. Tidak seru juga kan jika saya membeberkan semuanya di sini?

Saya menyukai tokoh Atticus. Saya rasa kalian juga akan jatuh cinta dengan sosok ayah sepertinya. Pada momen akhir, ia sekilas mengingatkan saya kepada Ratu Sima yang memotong jari putranya karena melanggar aturan (cmiiw) karena hukum itu harus ditegakkan. Andai saja ada banyak Atticus di sini…. Lalu saya juga menyukai Jem. Meski kadang kasar, Jem adalah kakak yang baik. Scout juga, ah! Saya rasa, semua tokoh di sini memang menarik.

Buku ini syarat akan makna. Mulanya, membaca buku ini mengingatkan saya akan Huck Finn dan Tom Sawyer karya Mark Twain karena sama-sama terdapat petualangan bocah-bocah. Tapi percayalah, setiap buku punya keajaibannya masing-masing.

Happy Reading! 🙂

Iklan

5 thoughts on “Cuplikan Buku: To Kill A Mockingbird

  1. Ping-balik: Review Novel : The Kite Runner | Naelil The Climber

  2. Ping-balik: Apakah Kamu Yakin Sudah Mengenal Dia dengan Baik? | Naelil The Climber

  3. Ping-balik: [Review] The Diary of A Young Girl : The Definitive Edition – Naelil The Climber

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s