Celoteh Anak SNMPTN

Alhamdulillah, 27 Mei 2014 yang lalu, saya dinyatakan diterima di Program Studi Sastra Inggris Universitas Gadjah Mada lewat jalur SNMPTN. Dulunya, SNMPTN Undangan atau PMDPK.

Untitled

Mungkin, bagi sebagian orang, masuk kampus nomer wahid di Indonesia (versi saya) ini cukup mudah. Namun bagi sebagian yang lainnya, susah. Bagi saya, susah-susah gampang. Susahnya, untuk memilih saja perlu berpikir panjang mengingat UGM peminatnya bejibun. Harus mengalahkan rasa ragu dan memupuk optimis. Harus siap bergelut dengan berbagai kesibukan di kampus tersebut nantinya. Plus, ada yang bilang, untuk lulus dari kampus nomer wahid, butuh perjuangan ektra. Itu bisa jadi bahan pertimbangan. Walau demikian, percayalah, bahwa dibalik kepahitan, ada kemanisan *ngek??* Kita bisa memperoleh hasilnya nanti. Bersusah-susah dahulu, bersenang-senang kemudian. Gampangnya apa? Kalau sudah niat mau masuk kampus ini, insyaAllah mudah.

Jangan bilang kalau anak SNMPTN itu gampang banget loh ya. Ya, emang mudah sih. Tapi bukan berarti kami tidak berusaha. Bukan berarti kami hanya mengandalkan keberuntungan. Sungguh, tidak seperti itu.

Ngomong-ngomong, gimana bisa sih saya sampai di UGM? UGM kan jauh. Saya notabenenya dari Banyuwangi, Jawa Timur. Di Jawa Timur sendiri, banyak juga kok kampus-kampus kece. Beberapa di antaranya, Universitas Brawijaya dan Universitas Airlangga. Kenapa harus jauh-jauh ke Jogja?

Saya pertama kali datang ke UGM, yaitu pada akhir tahun 2012. Ketika saya baru duduk di kelas XI dalam rangka study tour anak kelas XI ke Yogyakarta. Dan, saya langsung terkesima dengan UGM. Baru melintasi bunderan UGM, dari jendela bus rasanya, saya melihat ribuan serbuk keemasan menggantung di langit-langit. Tersenyum riang ke arah saya seolah mengucapkan selamat datang. Bergema riuh membentuk keberagaman Indonesia. Saya seolah disambut dengan aneka tarian daerah, lagu daerah, dan musik daerah dari seluruh penjuru negeri. Ciat! Ini sungguh alay banget. Hiperbola…

Oke, jadi entah kenapa, selain karena keluarbiasaan UGM, saya seperti ada ikatan dengan UGM. Seolah UGM itu soulmate saya. UGM seolah bilang, “Kamu kuliah di sini aja, Nae.” Muahaha. Udah deh ya, kayanya yang baca udah pada sakit perut mau muntah. Intinya mah, saya udah niat masuk UGM waktu itu.

Untuk masuk UGM, bagi saya, pada mulanya terdengar tidak mungkin jika lewat jalur SNMPTN. Mengingat, tidak ada siswa SMA saya yang lolos ke UGM. Eh, ada sih 1 orang, D3 di UGM. Jalur mandiri, tapi. Entah karena tidak ada yang daftar, atau yang daftar semuanya ditolak.

Angkatan saya sendiri, setahu saya, yang memilih UGM sebagai pilihan pertamanya, ada sekitar 5 anak. Hasilnya, 3 ditolak, 2 diterima. Salah satunya saya. Teman saya satunya lagi, diterima di prodi Budidaya Ternak, kalau tidak salah.

Lalu, gimana ceritanya, saya bisa yakin ambil UGM begitu? Ini pertarungan batin, teman-teman. Takut-takut gimana, gitu. Tapi saat itu saya meyakinkan diri, tak lolos SNMPTN, SBMPTN pun jadi. Saya juga udah beli buku latihan untuk SBMPTN loh. Buat persiapan. Namun, ngarep SNMPTN sih tetep. Soalnya, kalau saya nantinya tidak lolos SNMPTN dan harus mengambil SBMPTN, saya tidak akan bisa lagi mengambil jurusan Sastra Inggris. Mengapa? Karena saya berasal dari IPA. Jika lintas jurusan, saya harus belajar IPS dari awal. Entah kenapa, saya meragukannya karena hanya belajar sendiri dan bukan di lembaga bimbingan belajar. Agak mengunderestimate sih emang. Jika SBMPTN, saya sebaiknya mengambil Matematika Murni saja.

Sebegai bekal, saya berusaha agar nilai rapot saya baik dan membaik. Juga, ikut beraneka macam perlombaan supaya dapat piagam/sertifikat. Saya emang dasarnya suka ikutan lomba sih, jadi perjuangan ini nggak terasa begitu melelahkan. Namun, saya tak pernah menjadi pemenang hingga duduk di kelas XII.

Mungkin bisa menjadi pertimbangan adik-adik yang berencana ikutan SNMPTN tahun depan, SNMPTN tahun ini, pilihan saya adalah sebagai berikut:

1. Sastra Inggris Universitas Gadjah Mada
Daya tampung program studi Sastra Inggris UGM
1
Ngeri nggak lihat daya tampungnya? Dulu, saya juga sempet ngeri kok. Cuma 24 se-Indonesia, masa?

Jumlah pendaftar, yang diterima, berdasarkan jurusan asal di SMA
2
Ini lebih parah. Masa persentase yang diterima cuma 0,99% doang? Kecil banget itu mah. Nggak nyangka kan kalau sastra ternyata banyak peminatnya? Saya juga nggak nyangka.

Jumlah siswa yang diterima berdasarkan propinsi
3
Tahun 2013, sama sekali tak ada siswa dari Jawa Timur yang diterima di program studi Sastra Inggris UGM lewat jalur SNMPTN. Tahun 2014 ini, lumayan kayanya.

2. Sastra Indonesia Universitas Gadjah Mada
Daya tampung program studi Sastra Indonesia UGM
4
Ini malah cuma 19 -_-

Jumlah pendaftar, yang diterima, berdasarkan jurusan asal di SMA
5
Persentasenya juga cuman 1,56%

Jumlah siswa yang diterima berdasarkan propinsi
6
Dari Jawa Timur, lumayan nih 😀

3. Bahasa dan Sastra Inggris Universitas Negeri Malang
Daya tampung program studi Bahasa dan Sastra Inggris UNM
7
Cuma 30, tapi lebih banyak sih dari kuotanya UGM.

Jumlah pendaftar, yang diterima, berdasarkan jurusan asal di SMA dan jumlah siswa yang diterima berdasarkan propinsi
8
Persentasenya 1,86% dan banyak sekali yang dari Jatim. Muehe

Nah, kenapa pilihan ketiga saya di Universitas Negeri Malang? Saat itu, yang terpikir di otak saya selain Jogja adalah kota Apel, Malang. Adem, damai, murah (katanya), membuat saya tertarik. Namun target saya adalah Universitas Brawijaya. Bahkan, ketika kakak angkatan datang ke sekolah untuk sosialisasi UB, saya begitu antusias. Catat nomer kakaknya, kepoin. Haha. Ternyata, ketika pendaftaran SNMPTN tiba, saya kecele. Universitas Brawijaya tidak menerima siswa lintas jurusan. Jadi, saya banting setir ke Universitas Negeri Malang. Saya lihat, Sastra Inggris di sana oke.

Btw, ketika saya memutuskan untuk memilih UGM, tidak sedikit juga kok yang meremehkan dan bilang bahwa peluang saya kecil sekali. Nilai rapot naik turun, belum ada alumni yang lolos lewat SNMPTN, bukan anak Jogja, sekolah biasa aja. Nah kan! Banyak yang menyuruh saya untuk mempersiapkan SBMPTN dan mandiri saja ketimbang berharap lebih pada SNMPTN. Beruntungnya, guru BK kami adalah sosok yang sangat optimis dalam memandang masa depan anak didiknya. Terima kasih banyak, Pak Gik! Jadi, saya berani mengambil UGM. Apapun resikonya.

Saya jadi ingat waktu pengumuman hasil SNMPTN. Usai dzuhur, saya dan Ana pergi ke warnet untuk melihat hasil SNMPTN bersama-sama. Kalau pakai modem, takutnya lemot gegara banyak yang buka. Sesampai di sana, dengan gemetar, kami berdua melihat halaman hasil SNMPTN untuk beberapa lama sebelum memutuskan untuk membuka hasil milik salah seorang teman kami yang meminta tolong untuk dilihatkan hasilnya. Ternyata, dia tidak lolos. Hal itu membuat saya dan Ana tertunduk lesu. Saya pribadi saat itu benar-benar pasrah apapun hasilnya nanti. Berusaha legowo. Lalu berikutnya, Ana membuka hasil SNMPTN-nya. Ternyata, dia diterima di Hubungan Internasional Universitas Brawijaya. Pilihan pertamanya. Saking senangnya, dia sampai menangis. Saya spontan memeluknya. Ikut bahagia, meski ada rasa semakin takut akan hasil SNMPTN saya nanti. Setelah itu, giliran saya yang membuka. Takut sekali waktu itu. Perasaan kaget menyelimuti saya ketika hasil SNMPTN saya keluar. Saya pikir, saya bakal lolos di Bahasa dan Sastra Inggris Universitas Negeri Malang, atau bahkan tidak lolos SNMPTN. Namun, Allah Maha Baik. Saya dan Ana spontan saling berpelukan dan histeris di warnet. Tidak peduli betapa ramainya suasana warnet saat itu. Oh ya, Ana ini sahabat saya, meski kami banyak sekali perbedaannya. Kesamaannya, kami sama-sama seorang pemimpi sekaligus pejuang (salah satunya pejuang beasiswa) yang gemar menulis. Manisnya, alhamdulillah saat ini saya dan Ana mendapatkan beasiswa seperti apa yang kami impikan. Meski beasiswa kami berdua berbeda.

Ngomong-ngomong, mengambil UGM, juga jadi pergulatan bagi keluarga saya. Mereka menyarankan saya sekolah di Jember atau Malang supaya dekat, lebih mudah disambangi (dikunjungi). Bahkan sebelumnya, nenek dan salah satu tante saya semangat untuk menyekolahkan saya di sekolah dinas, yang saya tolak mentah-mentah. Saya tahu sekolah kedinasan itu bagus. Saya tahu. Hanya saja, saya merasa kurang cocok.

Mengambil jurusan sastra pun demikian, mereka protes. Kenapa sastra? Heran deh, kenapa banyak yang berpandangan bahwa sastra itu buruk. Tapi saya ngeyel. Meyakinkan dengan menjelaskan segala prospek bagus yang saya ketahui. Mereka baru akhirnya percaya ketika saya memenangkan suatu kompetisi cipta puisi yang menghasilkan sesuatu.

Down nggak sih, digituin? Iya. Tapi sekali lagi, saya berterima kasih karena punya Allah SWT yang Maha Baik, ibu yang optimis, guru yang positif, dan sahabat-sahabat yang selalu bersorak dalam binar mata, “Kamu pasti bisa!”

Pada intinya, dalam postingan ini, saya berharap untuk adik-adik yang hendak melanjutkan ke perguruan tinggi, untuk tetap semangat berjuang. Do the best and let Allah does the rest, kata orang bijak. Tidak ada yang tidak mungkin. Percayalah, banyak jalan menuju kampus idaman. Meski kalian dari sekolah pelosok. Karena saya pun demikian.

Belajar dengan giat supaya berprestasi untuk bekal SNMPTN, namun sekaligus mempersiapkan SBMPTN. SEMANGAT!

Iklan

128 thoughts on “Celoteh Anak SNMPTN

  1. Halo kak Naeeelll!!! Assalammu’alaikum ;))
    Kak aku mau nanya nih, waktu kakak wawancara beasiswa turki itu suasananya gimana? Maksudnya, yang jawab harus bener2 serius dan lancar atau gimana kak? Kakak sempet bingung juga nggak waktu jawab? Bahasa inggris nya berarti harus bener2 lancar ya? Hehe dijawab yaaaa kak ;)) terimakasiihh wassalammu’alaikum warrahmatullahi wabarrakatuh

    Suka

    • Hi Melany! Wa’alaikumussalam …
      Kalau serius, nggak serius amat sih soalnya saya dan pewawancara bisa cekikikan kecil. Iya, harus lancar. Tapi kan itu bisa disiasati dengan pelajari formulir pendaftaran yang kita buat, nanya sana-sini tentang pertanyaan wawancara dan praktik. Insya Allah ngaruh banget. Karena planning dan persiapannya udah matang, ngomongnya bisa lancar 🙂

      Suka

  2. Kakakkk, Alhamdulillah nemu tulisan ini.
    Aku Rey dari Solo yang tahun ini daftar UGM Sastra Inggris lewat SNMPTN. Ya Allah, celotehan ini tuh lagi aku rasain bangeeeeettt kak XD Gundah, gelisah, ragu, cemas, nggak PD, gitu kan ya rasanya?
    Kak Nael dulu rata2 nilai rapornya berapa kak? Terus gini, apa dulu waktu SMA, kakak bahasa inggrisnya udah lancar banget?
    Tolong dijawwab ya kak. Ini bakalan membantu banget. Makasih banyakkk<3

    Suka

  3. salam kenal kakak. Aku jadi termotivasi kembali setelah membaca postingan kakak untuk masuk ilkom ugm melalui jalur snmptn. Tapi kak kalau sebelum nya aku udh daftar um karena takut snmptn gak keterima itu gimana kak?

    Suka

    • Oh, pengumumannya UM dulu ya baru SNMPTN? Kalau emang jalur masuk membedakan perlakukan univ terhadap kamu di kemudian hari, pilih aja yang paling pas. Misal keduanya keterima, satunya tinggalin. Hehe. Nggak mudah ya? Ya kan gimana masuk lewat dua jalur…

      Suka

  4. Kak, mau tanya. Banyaknya peminat sastra inggris di angkatan mempengaruhi peluang gak? Dan juga, nilai rapor kakak waktu sma naik terus, stabil atau naik turun? Terimakasih 😊

    Suka

  5. Kak jadi aku minat buat masuk sasing UGM, tapi bhs inggris aku tuh pas-pasan, jadi agak ga PD dan ragu-ragu. Itu ngaruh ga sih buat ke depannya kalau semisal sudah masuk kesanaa???
    Makasiii kak😊

    Suka

    • Hm mungkin ngaruh. Tapi setahu saya, semuanya diulang dari awal. Jadi belajar lebih keras saja dari yang bahasa Inggris-nya sudah bagus. Pas saya daftar ulang dulu ketemu bebebrapa anak yang udah pengalaman jadi english debater. Tapi nggak apa-apa, bisa karena biasa. 🙂

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s