Move On Internal dan Eksternal

Kalian pernah lihat mendung kan? Ketika hujan datang membawa petir dan halilintar… Gemuruh liar memekik-patahkan reranting dan dedaunan yang menggigil ketakutan. Itulah kiranya suasana hatiku kala itu. Ketika move on, sama sekali tak terlintas dalam bianglala pemikiran. Ya… bawaannya suntukkkkk… terus. Hujan badai dalam hati. Meski luarnya, pura-pura meringis berkembang api.

Jadi, kenapa aku bisa begitu? Ibaratnya gini, ketika kalian mencintai seseorang, lalu berusaha berjuang mendapatkan hatinya hingga akhirnya pun jadi, eh ternyata kalian harus meninggalkannya. Padahal, perjuangan yang kalian lalui sangatlah luar biasa. Tiap tapak langkah harus melalui banyak kerikil tajam yang beterbangan, jalan yang berliku-liku. Dan, ketika dapat, baru saja dapat, kalian harus meninggalkannya. Ingat film Thailand yang judulnya Crazy Little Thing *kalau nggak salah*?

Kisahku juga begitu, kurang lebih. Ada suatu impian. Suatu target yang benar-benar ingin kudapatkan sejak awal masuk SMA. Waktu itu, banyak yang bilang mustahil, mencemooh dan meremehkan, tidak percaya. Sempat down waktu itu. Namun percayalah, yang dapat membuat kita down itu hanya diri sendiri, sebetulnya. Jika kalian semangat, itu dapat mengalahkan rasa takut gagal yang dibangun oleh beberapa orang di sekitar kalian. Just believe in yourself! If you think you can, yes my dear, YOU CAN!

Nah, setelah melalui perjuangan panjang hampir 3 tahun, hasil final menyatakan bahwa target a.k.a impianku itu terwujud. Apa itu? Menjadi mahasiswa UGM. Di postingan sebelum-sebelumnya, kalian mungkin akan menjumpai betapa aku mencintai kampus tersebut setengah mati.

Aku ingat waktu temanku bilang PTN tersebut kalah debat dengan UNJ, entah dalam event apa, aku lupa, ada rasa terbakar di dada. Rasa tidak terima jika PTN tersebut dikatai payah oleh dia. Padahal saat itu, aku belum diterima di PTN tersebut.

Yang jelas, setiap hinaan yang dilontarkan kepada PTN tersebut, aku ikut bergemuruh kesal. Dan ketika PTN tersebut dipuja, PTN tersebut memenangkan kompetisi atau menciptakan inovasi baru, aku ikutan bangga. Sayangku pada PTN tersebut memang rada alay.

Kontan, waktu aku dinyatakan diterima di PTN tersebut, bersyukurku berlipat-lipat gandanya. Gara-gara diterima di PTN tersebut juga, semangat sekolah S1 di luar negeri (LN)-ku, sedikit menyusut.

Aku gagal di Mitsui-Bussan Scholarship. Karena PTN tersebut, aku bisa move on. Makasih ya? Setelah diterima di PTN tersebut pun, aku enggan ikutan Monbukagakusho. Padahal, dulunya itu merupakan program beasiswa yang ingin sekali kuikuti usai lulus SMA. Tapi, batal kuikuti karena tambatan hatiku-UGM-telah menerimaku.

Namun, setelah daftar ulang di PTN tersebut, aku mendapat kabar bahwa aplikasi beasiswa LN-ku lolos *daftarnya sebelum pengumuman SNMPTN* dan aku berhak mengikuti wawancara yang diadakan di Jakarta. Awalnya, itu hanya iseng. Hatiku tetap pada PTN tersebut. Hanya sekedar mencari pengalaman. Aku penasaran, gimana sih rasanya di interview? Pakai bahasa Inggris, lagi…

Semua berubah ketika aku berjumpa dengan para pelamarnya. Semangat mengejar beasiswa LN-ku naik lagi. Labil banget kan? ckckck

Hingga akhirnya… Aku harus meninggalkan PTN tersebut. Lalu, apakah cintaku pada PTN tersebut hilang? Tentu saja tidak. Aku tetap cinta UGM kok. Hanya saja, aku harus move on. Aku harus ikhlas untuk tidak menjadi mahasiswa S1 UGM. Ngarepnya sih, jika tidak menjadi mahasiswanya, kelak dapat diundang menjadi pembicaranya :p Aaamiin.

Terus gimana agar move on?

1. Percayalah bahwa rencana Allah SWT selalu lebih indah
Itulah yang pertama kali kulakukan. Aku ingat doaku dulu. Aku memohon supaya apapun jalanku, dimudahkan dan aku diberi kebesaran hati. Allah SWT itu baik. Beliau pasti punya alasan mengapa menempatkan kita di posisi ini, di posisi itu. Itu toh untuk kebaikan kita. Pasti ada hikmahnya. InshaAllah. Just believe in Him!

2. Timbang sisi baiknya
Timbang deh, kalau perlu di list. Contoh mudahnya, misal kamu putus dari kekasihmu yang gampang bikin galau, artinya kan Allah SWT nggak mau kamu galau lagi. Beliau pengin aku fokus ke cita-citamu, misal. List tuh, sebanyak-banyaknya, supaya kamu lega dan ikhlas.

3. Simpan segala kenangan terlihatnya
Misal aku, jaket almamater UGM yang kudapat pun, kubungkus plastik dan kurekat rapat-rapat. Lalu, kumasukin almari. Supaya apa? Aku nggak gatal pengin balik lagi ke PTN tersebut. Jadi misal kalian mau move one, benda-benda a.k.a kenangan terlihatnya, segera masukin ke tempat yang jarang kalian temui. Atau jika pengin beneran cepet move on, buang *kalau tega* atau kasihin orang. Ini salah satu cara untuk move on secara eksternal.

4. Jangan stalking!
Ini nih! Katanya mau move on, eh stalking akun mantan, misal. Sama aja wes, membuka memori lama. Kalau mau move on, ya udah, janji pada diri sendiri untuk benar-benar move on. Lah, berarti move on sama kaya melupakan dong? Beda lah. Bedanya apa? Eng… beda pokoknya. Move on itu kan artinya melajutkan, berjalan terus. Kalau melupakan itu, jalan terus, ketemu di jalan pun tetap acuh tak acuh, terus berjalan. Kalau move on, emang nggak boleh nengok ke belakang. Tapi kalau nggak sengaja ketemu dalam perjalanan, nggak apa-apa saling sapa. Gitu ibaratnya, menurutku.

5. Berdoalah agar hatimu dikuatkan
Kalau tahapan-tahapan di atas udah kelar. Berdoalah. Minta petunjuk sama Allah SWT supaya hatimu dibesarkan. Dikuatkan. Semangat move on ya!

Sekiranya itulah caraku move on dari salah satu impianku tersebut. Jika ada yang menambahkan, dipersilahkan. Jika ada yang tanya, apakah tutorial move on tersebut berhasil untukku? Masih proses. Move on eksternalnya sih udah. Tinggal move on internalnya, move on dari hati. Pelan tapi pasti, aku sudah mulai mencintai masa depan baruku ini kok. Hehe. Apalagi, teman barunya juga baik-baik. Alhamdulillah. Disyukuri.

Oh ya, jika ada yang mau tahu perihal giveaway yang kemarin aku selenggarakan, masih dalam proses penilaian ya… Sudah ada 5 kandidat terkuat nih *halah*. Jadi, tunggu saja pengumumannya sambil ikutan giveaway lain, atau scroll blog ini sampai habis. Terus, kasih komentar juga boleh :p

Iklan

11 thoughts on “Move On Internal dan Eksternal

  1. Selamat ya.. kadangkala tanpa sengaja kita sendiri lho yang memilih jalan untuk masa depan,
    dan terkadang terbaik pilihan kita tidak lebih baik dari pilihan yang maha kuasa :).
    Salam kenal

    Suka

  2. Nice story kak, post nya kakak ngasih banyak wejangan sekaligus ke aku, hahaha. Btw, thanks for inspiring me. Salam kenal!

    Suka

  3. Ping-balik: Tentang Jurusan Jurnalistik dan Saya | Naelil The Climber

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s