Cuplikan Novel : The Fault in Our Stars

1098004_M

Judul Buku : The Fault in Our Stars
Penulis : John Green
Penerjemah : Ingrid Dwijani Nimpoeno
Penerbit : Qanita
Tahun : Cetakan IV, Juni 2014
Jumlah halaman : 422 hlm

Ketika air pasang datang menerpa,
Lelaki Tulip Belanda itu memandang lautan:
“Pemersatu, pengganjar, peracun, pemendam,
penyingkap. Lihatlah, pasang dan surut,
membawa segalanya bersamanya.”
“Apa itu?” tanya Anna.
“Air,” jawab lelaki Belanda itu. “Dan juga waktu.”
Peter Van Houten, Kemalangan Luar Biasa

Meski keajaiban medis mampu mengecilkan tumornya dan membuat Hazel bertahan hidup beberapa tahun lagi, Hazel Graze tetap putus asa. Hazel merasa tak ada gunanya lagi hidup di dunia. Namun, ketika nasib mempertemukannya dengan Augustus Waters di Grup Pendukung Anak-Anak Penderita Kanker, hidup Hazel berubah 180 derajat.

Mencerahkan, berani, dan menggugah, The Fault in Our Stars dengan brilian mengeksplorasi kelucuan, ketegangan, juga tragisnya hidup dan cinta.

“The Fault in Our Stars, kisah cinta paling mengharukan, tapi juga sebuah tragedi yang cerdas, berani dan memilukan.”
-Time Magazine

“Ini bukan kisah yang mengoyak hatimu, melainkan akan membuat hatimu mengembang dan membesar hingga akhirnya pecah berkepanjangan.”
-The Atlantic

“Menonton televisi adalah pasivitas. Bukan aktivitas.” (hlm. 14)

“Akan tiba saatnya ketika tidak ada lagi umat manusia yang tersisa untuk mengingat bahwa manusia pernah ada atau spesies kita pernah melakukan sesuatu.” (hlm. 22)

“Rokok tidak akan membunuhmu, kecuali jika dinyalakan.” (hlm. 31)

“Di hari-hari terkelam, Tuhan meletakkan orang-orang terbaik dalam hidupmu.” (hlm.42)

“Terkadang orang tidak memahami janji yang mereka ucapkan ketika mereka sedang mengucapkannya.” (hlm. 86)

“Kepedihan menuntut untuk dirasakan.” (hlm. 89)

Hal ganjil mengenai rumah adalah, walaupun sebagian besar kehidupan kita berada di dalamnya, dari luar tampak seakan tidak ada sesuatu pun yang terjadi di dalamnya. (hlm. 189)

“Tokoh-tokoh yang ada di dalam novel tidak punya kehidupan di luar coretan-coretan itu. Mereka semua tidak ada lagi begitu novelnya berakhir.” (hlm. 259)

“Ketidaktahuan adalah kebahagiaan.” (hlm. 295)

“Tanpa penderitaan, kita tidak bisa mengenal kebahagiaan.” (hlm. 365)

***
Ya, ini tentang Augustus Waters yang terkena osteosarkoma dan Hazel Graze yang terkena kanker tiroid. Bukan mereka saja sebetulnya. Masih ada Isaac, Patrick, Caroline, Monika, Kaitlyn, Peter Van Houten, Lidewij, Mom, Dad, dll. Novel ini berlatarkan Indianapolis, Amerika Serikat dan Amsterdam, Belanda.

Berawal dari pertemuan Hazel Graze di Grup Pendukung Anak-Anak Penderita Kanker dengan Augustus Waters, cowok seksi (menurut Hazel) yang menatapnya di awal perjumpaan. Kenapa Augustus Waters menatap Hazel Graze dan bukan yang lainnya? Sedangkan di Jantung Harfiah Yesus, banyak anak-anak selain Hazel. Apa saking cantik dan menariknya si Hazel? Atau karena Hazel mengingatkannya pada seseorang? Atau…? Temukan jawabannya dengan membaca novel ini 😀

Rupanya cowok seksi itu berhasil menarik perhatian Hazel hingga keduanya saling jatuh cinta. Novel ini, by the way, bukan hanya berisi soal percintaan melulu loh. Namun juga membahas banyak sekali hal mengenai kanker dan para pejuang pengindapnya. Kenapa dibilang pejuang? Hazel bilang, untuk penyembuhannya, ia menerima berbagai macam suntikan dan obat yang ketika dimasukkan ke tubuhnya, sakitnya minta ampun. Padahal menurutnya juga, pengobatan itu tidak bisa menyembuhkannya. Namun hanya bisa memperpanjang waktunya. Bahkan jika boleh memilih, Hazel lebih memilih untuk mati saja. Tapi ia ingat orang tua yang begitu menyayanginya.

Nah, dalam dunianya, terdapat yang namanya Keisimewaan Kanker. Yaitu, keistimewaan untuk anak-anak yang terkena kanker. Salah satunya adalah Permintaan yang diberikan oleh peri-peri kepada penderita kanker untuk diwujudkan. Permintaan Hazel diwujudkan ketika ia berusia 13 tahun, di Disney land. Sesuatu yang lazimnya diinginkan anak-anak.

Sedangkan Augustus, menyimpan Permintaannya. Ia menggunnakannya setelah bertemu dengan Hazel, yaitu meminta untuk pergi ke Belanda, memenuhi keinginan Hazel, terutama, untuk bertemu dengan penulis idolanya. Peter Van Houten. Mengapa? Hazel ingin tahu kelanjutan novel Kemalangan Luar Bisa karya Peter Van Houten karena endingnya menggantung. Lumayan konyol, sebetulnya. Tapi tidak juga sih, karena Hazel memang sangat mengagumi novel tersebut. Namun sayang, bertemu dengan Peter Van Houten justru mengecewakannya. Mengapa? Baca dong haha. Sehingga Hazel minta maaf kepada Augustus karena telah menggunakan satu-satunya Permintaannya untuk hal yang kurang bermanfaat. Namun Augustus menjawabnya dengan manis, “Kuakui bahwa kau memang menghabiskan satu-satunya Permintaanku, tapi kau tidak menghabiskannya untuk lelaki itu. Kau menghabiskannya untuk kita berdua.” (hlm. 264)

Memang. Keberadaan mereka bersama-sama di Amsterdam-bersama mamanya Hazel juga sih-makin mempererat hubungan keduanya. Sayangnya, selain kebahagiaan bersama, ada juga kekecewaan bahkan kedukaan. Sesuatu yang disembunyikan oleh Augustus yang baru diketahui Hazel. Apa itu?

Novel ini, sejujurnya penuh kelucuan pada awal-awal bab. Juga manis. Namun banyak juga tegangnya. Untuk konflik antara Augustus dan Hazel, tidak mainstream kok inshaAllah. Tidak pakai kisah backstreet ataupun perselingkuhan. Hehe. Namun karena penyakit 😦 Itu sih yang bikin nyesek.

Ngomongin penyakit, Hazel kan setiap kemana-mana harus bawa kereta dorong berisi tangki oksigen, kebayang kan betapa repotnya? Ada nih pendapat Hazel tentang rokok, yang memang kaitannya tidak jauh-jauh dari pernapasan. Paru-paru.

“Kau memberikan uangmu pada sebuah perusahaan untuk meraih peluang mendapatkan lebih banyak kanker lagi. Kuyakinkan dirimu bagaimana rasanya tidak bisa bernafas itu. Menyebalkan.” (hlm 31) Karena Hazel juga merasakan susahnya bernafas tanpa alat bantu, misalnya. Maka dari itu…

Kurang lebih, seperti itulah. Endingnya seru kok. Tapi bab terakhirnya, saya kurang puas sejujurnya. Loh, ending emang bukan bab terakhir? Eng… berarti belum masuk ending, bagian serunya. Tapi udah masuk anti-klimaks kok bagian seru tersebut. (baca: jleb duar) Oh ya, bagi pecinta puisi, dalam novel ini banyak loh puisi yang bertebaran.

Sebagai penutup, saya ambilkan kutipan Peter Van Houten soal lagu. Kenapa lagu? Suka-suka saya dong ya :p

“Yang terpenting bukanlah segala omong kosong yang diucapkan oleh suara-suara itu, tapi apa yang dirasakan oleh suara-suara itu.” (hlm. 254)

Saya juga gitu kok. Dulu suka banget dengerin lagu bahasa Jepang atau Korea, meski sama sekali nggak ngerti artinya… Yang penting catchy di telinga dan feeling-nya dapet *hiyah*, ya udah puter.

Iklan

One thought on “Cuplikan Novel : The Fault in Our Stars

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s