Cerpen dimuat di Majalah Horison Juli 2014 : Gugus Khayal Laksita

4. Cerpen dimuat di Majalah Horison Kakilangit Juli 2014

Gugus Khayal Laksita
(Oleh : Naelil)

Bruok! Gedubrak! Tarr!

“Lihat jalanmu, Laksita,” teriak ibu dari arah dapur. Laksita hanya cengar-cengir sambil membetulkan tumpukan koran harian yang ia tabrak. “Lain kali jika sedang berjalan, tak perlu sambil meracau,” lanjut ibu masih dengan berteriak. Ia mengangkat bibir atasnya.

Ketika Laksita sampai di pintu dapur, ibu sedang sibuk bergulat dengan pisau dan sayur bayam.

“Ayo, bantu Ibu memasak, daripada berceracau tidak jelas seperti tadi.”

Laksita merengut. Tapi, mau tidak mau, ia harus membantu ibu hari ini. Ibu baru saja sembuh dari sakitnya. Jadi, sebisa mungkin ia harus membantu. Apalagi ia sudah terlalu sering mencari-cari alasan jika dimintai tolong oleh ibu. Kali ini, ia membantu ibu membersihkan beberapa ekor ikan lele sebelum dimasak.

Mereka hening beberapa lama sebelum ibu akhirnya angkat bicara, “Apa sih untungnya meracau sendirian?”

Laksita tergelak, “Ya… bisa menenangkan pikiran, Bu.”

“Kalau punya waktu luang, kenapa tidak belajar saja? Kan itu justru lebih bermanfaat, Ta. Seperti Puri tuh. Waktu Ibu main ke rumahnya, ia selalu sedang belajar. Apalagi beberapa bulan ke depan kan, kamu sudah harus menghadapi UN. Sudah ada persiapan?”

Baru ketika ia hendak menimpali, ibu melanjutkan, “Jangan hanya mengandalkan jawaban teman, Ta. Bagaimanapun, teman tidak bisa 100% dipercaya. Lagian, menjawab sendiri pastilah lebih terasa memuaskan. Berapapun hasilnya.”

“Iya, Bu….,”

“Jangan hanya ber-iya Bu, kamu harus bertindak sungguhan, Ta. Ibu khawatir kalau kamu….”

“Tidak lulus?” potong Laksita. Wajahnya terlihat merah memanas; tangannya bergetar hebat sehingga ia kemudian meletakkan pisau dan lele perlahan. Ada aliran darah yang melesat cepat di dadanya. Berdesir-desir ngilu. “Ibu khawatir Laksita tidak lulus?”

Ibu terdiam. Entah kenapa gadis itu merasa kesakitan. Jauh di dalam hatinya. Ada kekecewaan yang melambung besar. Ia hanya butuh dukungan, kepercayaan, bahwa ia dapat melewatinya. Bukan sebuah ketidakpercayaan yang akan membuatnya semakin jauh terjatuh.
***
Sudah lebih dari satu jam, Laksita berkutat dengan buku persiapan UN di depannya. Tapi matanya sungguh tak sedang menatap ke arah angka-angka itu. Ia menerawang jauh. Kesulitan fokus. Dan, akhirnya pun tidak dapat memahami apa yang ia pelajari. Lalu apa yang ia kerjakan selama tiga tahun ini? Tidur, mengobrol di kelas, melamun, menulis percakapan di buku cacatan, dan menggambar ilustrasinya, tentu saja.

Tapi Laksita sudah hendak berubah, maka dari itu ia pergi belajar. Bagaimanapun, ia tidak ingin mengecewakan ibu. Tetapi, sudah tiga kali ia membolak-balik lembaran buku itu. Dan, sudah tiga kali pula nafasnya gelagapan mencerna.

Kembali ia menatap ke luar jendela kamar yang langsung berhenti menumbuk dinding semen pembatas rumahnya dari pasar Minggu.

Ia lalu tersenyum seolah usai menerima wahyu dari Malaikat Jibril. Ia mengambil topi cowboy yang dibelinya di Bali liburan tahun lalu. Kemudian bergegas mengunci pintu dan berdiri di depan kaca. Ia menyeringai dengan gigi gemeletuk sambil membawa pistol mainan di tangan kanan. Bergaya ala cowboy yang sedang berhadapan dengan Indian. Lalu melesat banyak kata lewat bibirnya.

Selang beberapa menit, ia sudah menanggalkan semua itu. Lalu berteriak dengan lantang sambil membawa deodoran batangan. Beraksi seperti seorang pembawa acara Grammy Award di stasiun TV luar negeri yang sudah siap menyebutkan nama para bintang tamunya. Biarpun, bahasa Inggrisnya masih keteteran.

Beberapa kali ia tertawa. Berguling-guling di atas kasur sambil memegangi perut. Lalu mulai beraksi lagi. Membayangkan jadi orang hebat di luar sana. Dan, ia sungguh sangat menikmatinya. Serius.

“Kurasa kita harus membawanya ke psikiater, Pak,” terdengar suara ibu di luar yang khawatir. Laksita mengambil nafas jenuh dari dalam kamar. Ia mendengarnya. Namun sungguh, ia tidak gila. Ia hanya… introvert, mungkin. Dan sialnya, tak ada yang memahami. Apakah ia satu-satunya di dunia ini? Ia rasa tidak.
***
Nyiur angin melambai-lambai di tengah derap panas mentari yang menyergap. Hutan belantara tersibak pohonnya yang tinggi dan seruncing jarum es. Sekelebat bayangan terlihat sejenak, lalu menghilang lagi di antara semak belukar. Gadis itu sudah siap dengan pedang panjang di pinggangnya.

Nafasnya memburu. Giginya saling bertumbukan. Matanya melotot ke segala penjuru. Keringat dingin tertatih-tatih menyusuri wajahnya yang penuh ruam merah. Sesekali ia memegangi lengan kirinya yang dibungkus perban. Darah merah tampak merembas melaluinya. Namun, ia takkan menyerah. Ia akan menang, karena ialah seorang pertarung, pejuang yang tak punyai kosakata menyerah.

Tiba-tiba ia mendengar hentakan kaki lewat dedau daun-daun liar yang berjatuhan. Di antara ilalang. Ia menyeringai. Tahu betul bahwa musuhnya sudah siap menerkam. Ia makin was-was. Seketika kemudian ia menarik pedangnya ke luar dan menancapkannya tepat 180 derajat ke belakang. “Hiyattttttt!” Dan musuhnya itu terkapar tak berdaya dengan bola mata merah yang nyaris ke luar. Darahnya runtuh di dedaunan gugur. Laksita bergumam senang sambil berkacak pinggang.

“Laksita Btari!”

Ia tersentak dan bersiap melawan suara yang dianggap musuh selanjutnya sebelum akhirnya tersadar bahwa itu hanya sekadar lamunannya belaka.

“Sudah berapa kali Ibu bilang untuk memperhatikan dan tidak melamun di kelas, Laksita?! Nilaimu semakin buruk tiap semester. Kau tidak ingin lulus? Pekerjaanmu sehari-hari hanya membayangkan hal-hal yang tidak berguna. Hanya khayalan. Berpikirlah realistis. Hidup ini bukan sekedar fatamorgana, Sayang. Jika kau ingin sukses, kau tidak bisa ala kadarnya,” teriak Bu Maria ketika keduanya berjalan menuju ruang BK, “Dasar bodoh!” umpatnya pelan.

Laksita mendengarnya. Namun ia hanya mengernyitkan dahi.

“Kau perlu berkonsultasi dengan guru BK. Dan kami akan memanggil orang tuamu segera,” lanjut Bu Maria. Kerongkongan Laksita mendadak kering-kerontang.
***
Kedua pasang mata itu menatap gemas ke arah Laksita. Yang satu menyilangkan kedua tangan di dada. Satunya lagi memilin-milin buku jarinya. Nafas Laksita kembali memburu. Ia terus menunduk ke lantai. Mengawasi sepatu sekolahnya yang sedikit menganga pada bagian ibu jari. Batinnya berinteraksi dengan sepatu itu. Pilu.

“Sebenarnya apa yang kau inginkan, Nak?” pria separuh baya dengan kumis lebat itu memandang lekat-lekat ke arah putrinya.

Laksita menatap pria itu sekilas, lalu menunduk lagi, “Maafkan aku, Yah.”

Kedua orang tua itu baru saja pulang dari sekolah Laksita untuk yang kesekian kalinya karena dipanggil atas perilaku Laksita di dalam kelas yang… aneh-aneh.

“Jika memang ada yang kau inginkan, katakan saja pada Ayah. Apa ada yang kau inginkan sehingga selalu berkhayal dan berceracau sendiri di kelas?” ayah berkata sangat pelan. Khawatir akan melukai hati Laksita yang memang sudah terkelupas pedih. “Sebentar lagi kau akan ujian, Nak. Setelah itu kau akan kuliah jauh. Kami tidak mungkin melepasmu dalam keadaan seperti ini.”

Ayah mengambil nafas panjang perlahan, “Buanglah khayalanmu, Nak. Buang gugus khayal dan ilustrasimu yang… kau tahulah, tidak ada gunanya.”

Laksita tersentak. Lelehan larva panas seketika jatuh aliri kedua belah pipinya. Khayal itu kawannya. Dan, kata-kata itu menyakitkan bagi Laksita. Semakin ia mendengar, semakin terasa sakit. Seolah sepasang paru-parunya sengaja dimasuki banyak air dan karbon monoksida. Sesak. Ia seperti mau mati. Tapi ia… takkan menyerah.

Perbincangan dengan kedua orang tua bukannya memberikan keleluasaan dan ketenangan baginya, ia justru merasa semakin disudutkan. Tak ada yang mengerti dirinya. Tak satu pun.

Matanya yang masih merah mengiba basah memandang ke hamparan tembok pembatas lewat jendela kamar. Di pikirannya, ia melihat ribuan pasang mata menghujaninya dengan tatapan tidak suka. Menganggap remeh sambil berkacak pinggang. Mata-mata itu melotot tepat ke arahnya dengan bibir yang membentuk siluet kasar menyebalkan.

“Bodoh!”

“Idiot!”

“Dasar sakit!”

“Kau gila!”

“Soal semudah ini saja kau tak bisa mengerjakan?!”

“Bagaimana bisa kau masuk SMA ini?! Kau harusnya berada di SLB, Idiot!”

“Sudah berapa kali aku menjelaskan materi Biologi ini kepadamu, huh?! Dan kau masih bilang tidak paham?! Kau benar-benar… bodoh.”

Lamat-lamat, suara-suara yang hanya terdengar seperti dengungan lebah di telinganya itu terasa kian mendekat. Mengerubunginya kian kencang. Ia seperti ditunjuk-tunjuk oleh ribuan jari yang tidak memihaknya hingga ia tersudut ke dalam ruangan gulita tanpa lampu yang penuh sarang laba-laba dan kotoan anjing.

Ia memeluk kedua lututnya yang sudah tak berdaya. Rambut ikal bergelombangnya yang acak-acakan tidak karuan menempel di wajahnya karena terkena lelehan airmata. Begitu juga dengan baju seragamnya, telah basah untuk menyeka airmata dan juga ingus.

Laksita Btari menjerit sejadi-jadinya.
***
Ia duduk lemas di depan kaca. Memandang matanya yang sembab dan gurat-gurat lekukan kecil di mukannya akibat terlelap di ujung meja. Laksita masih sama seperti kemarin. Berantakan. Jika boleh memilih, ia juga tak ingin seperti ini. Ia ingin menjadi gadis rajin yang tiap hari berkutat di depan buku pelajaran. Namun, sekuat apapun ia menolak, arus jiwa tetap membawanya ke pemberhentian yang sama. Berceracau, atau menulis ceracauannya. Bukan membaca buku pelajaran.

Jlek! Gagang pintu ditarik. Laksita buru-buru menyeka airmata sambil memeluk bantal Spongebob.

“Kau tidak berangkat sekolah?” tanya ibunya. Gadis itu menunduk hingga membuat ibunya mendekat. “Kenapa?”

Laksita membalik badannya dari arah ibu, menolak untuk disentuh. Ibu pun hanya membelai rambut dan mengecup kepalanya. “Bersiaplah. Hari sudah siang, Sayang.”

Setelah ibunya pergi, Laksita kembali menatap kaca di depannya. “A-Aku… tidak ingin sekolah.” Ia bicara sendiri.
***
Kaki kanan dan kirinya melambai-lambai ke depan secara bergantian. Ia bernyanyi-nyanyi kecil seraya memandang ke sisi kanan dan kiri jalanan. Namun yang terdengar justru hanya gumaman remaja tanggung yang tidak bisa bernyanyi. Ia lalu menghampiri tiang listrik yang tidak berlampu. “Kasihan sekali kau ini, pasti tidak enak hidup dengan separuh jiwamu yang terlepas,” ia meringkuk di samping tiang. Menyadari bahwa nasibnya sama dengan sang tiang. Ia berbicara lagi. Kali ini dengan menatap tiap tersebut. Ia tertawa pongah. Sedih lagi. Terkekeh lagi. Seolah tiang itu sedang bercerita kepadanya.

Ketika warna kemerahan mulai menghiasi birunya langit, Laksita baru menyadari hari sudah sore. Ia beringsut pergi. Melambaikan tangan ke arah tiang pinggir jalan itu. Tak peduli apa kata orang sekitar.

Rumah Laksita tak jauh dari tiang itu sehingga ia tidak masalah pulang sore dari sana. Ketika ia baru sampai di depan benteng pembatas pasar Minggu dan rumahnya, ibu yang sedang menyirami bunga tersenyum ke arahnya. Laksita membalas senyum ibu, lalu masuk ke dalam seolah persoalan kemarin telah hilang.

Tanpa ganti baju, atau bahkan sekedar cuci tangan, Laksita berlari ke kamar. Menuju almari cokelat dari pohon jati. Ia menarik laci paling atas pada almari itu. Seketika mataanya terbelalak. Ia limbung ke lantai. Matanya memerah. Namun air mata tak kunjung keluar. Sudah habis ia gunakan untuk menangis pilu seharian kemarin. Ia beringsut duduk. Dadanya berdegup kencang. Memerah. Gigi gerahamnya saling bertumbukan. Kemudian tangannya menggempal. Ia mengernyitkan kening sambil menyeringai seram.

Biarpun kemarin hari ia dinasehati ayah untuk membuang coretan khayalnya tersebut, ia tidak bergegas. Teman tak mungkin membuang temannya, bukan? Dan, coretan itu sudah seperti temannya.

Laksita berlari menghampiri ibunya di depan, masih dengan gigi gemeletuk dan bergetar. “I-Ibu membuang coretan Laksita?”

Ibu tersentak hingga bahunya terguncang. Membelalak ke arah putrinya.

“Ibu pikir kamu lupa membuangnya. Lagipula, bukankah dengan begitu kamu bisa fokus belajar untuk UN seperti yang dilakukan Puri? Itu jauh lebih bermanfaat, sayang.”

Ada rasa yang tak wajar mengguncang separuh nafas Laksita. Ibu tidak mengerti. Ia yakin coretannya itu memiliki guna. Hanya saja… ia belum tahu cara-cara menggunakannya.
***
Laksita mencoba untuk ikhlas. Mungkin itulah upaya terbaik untuknya melupakan segala khayal dan segera bergegas fokus pada UN yang sudah sebentar lagi. Ia yakin ibu tak pernah salah. Tapi… ada separuh jiwanya yang memberontak.

Untuk mengusir rasa jenuh, ia mempelajari latihan soal Kimia. Ia membacanya kencang-kencang agar seisi kamar mendengar sehingga pemahaman itu segera memantul ramai-ramai ke arah dirinya. Dan, ia pun segera paham, pikirnya. Namun nyatanya tidak. Ia sama sekali tak mengerti. Sulit sekali memahami materi Kimia, biarpun sekedar unsur atom. Bukan hanya itu saja sih, ia memang juga kesulitan memahami pelajaran lainnya.

Sejenak ia tersentak sendiri. Teringat sesuatu. Ia masih menyimpan satu bendel coretan khayalnya di bawah dipan. Ia segera mengecek. Gurat panjang pun melingkar di wajahnya. Ia peluk bendel itu rapat-rapat. Bernafas lega.

Ia akan menyimpan bendel itu ke suatu tempat entah dimana. Yang pasti, ia masih bisa menemukannya lagi. Jika di rumah, berbahaya jika ibu melihat. Bendel itu akan dibuang dan dibakar. Laksita mengambil langkah tegas menuju halte bus tanpa sepengetahuan ibunya.
***
Bus melaju pelan-pelan. Laksita diam memandangi coretannya. “Maafkan aku, teman-temanmu pergi karena aku.”

Ia lalu memandang kursi kosong di sampingnya. Mengajaknya bicara seolah ada sesorang di sana. Ia tertawa, tersenyum, tersipu, marah, gemas, dalam waktu yang bergulir cepat.

Kernet bus memandanginya dari samping pintu. Sadar bahwa gadis yang ditatapnya itu terlihat sedikit aneh, kernet bus mengibas-kibaskan handuk, berjalan menghampiri Laksita. Takut gadis itu kerasukan hantu bus.

“Ngomong sama siapa, Mbak?”

Laksita menyeringai kesal, membuat kernet bus itu pergi dengan sendirinya. Ia lalu melanjutkan aktivitasnya tadi. Yaitu… berbicara dengan kawan imajinernya.

Namun belum beberapa lama, tiba-tiba seorang bapak gendut datang menghampirinya, tersenyum. Laksita membalas sebentar sebelum membuang muka masam. Teman imajinernya pergi gara-gara bapak itu.

“Mau kemana?” pria gondrong itu bertanya kepada Laksita.

“Saya….“

“Itu apa?” pria itu menarik coretan yang Laksita pegang sebelum ia sempat menjawab. Laksita hendak mengambilnya lagi dengan paksa, tapi pria itu terlalu cepat dan kuat.

“Itu hanya coretan khayalku yang….”

“Ini karyamu?”

Laksita mengangguk malas.

“Hm….”

“Iya, saya tahu. Tapi saya tidak gila.”

Pria itu terpingkal. “Saya tahu. Imajinasimu liar.”

Laksita menyeringai sebal.

Pria itu melanjutkan. “Kenapa tidak diterbitkan saja jadi komik? Atau… sepertinya bagus juga untuk dijadikan naskah drama. Dan kamu juga bisa mendapatkan uang untuk tambahan uang jajan.”

Sepasang bola mata cokelat Laksita membulat.

“Saya Roy dari penerbitan.”

Hati Laksita menjerit tidak percaya. Rona merah berbintang mengendarai komidi putar di kepalanya. Gugusan khayal tersenyum. Ini baru permulaan.

“Namamu siapa?” tanya pria itu.

“Laksita Btari,” senyum gadis itu mengembang. Ia telah siap membanggakan Ibu Pertiwi dengan cara yang disukainya. Biarpun orang mengatainya… sinting, bodoh….

Karena setiap anak memiliki keistimewaan…

Iklan

12 thoughts on “Cerpen dimuat di Majalah Horison Juli 2014 : Gugus Khayal Laksita

  1. Keren! Cerpennya bagus banget mbak! Apalagi laksita itu mirip banget sama saya, sama sama suka ngayal sampe dikira aneh sama orang orang. Habis baca ini saya seneng, jadi nggak ngerasa sendirian, makasih banyak ya sudah menghibur lewat cerpennya :’)

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s