Review Novel : The Kite Runner

The Kite Runner.0

Judul Buku : The Kite Runner
Pengarang : Khaled Hosseini
Penerjemah : Berliani M. Nugrahani
Penerbit : Qanita
Tahun Terbit : Cetakan I, Maret 2006
Jumlah Halaman : xiv + 618 halaman

    Aku memiliki satu kesempatan terakhir untuk mengambil keputusan, untuk menentukan apa jadinya diriku.
    Aku bisa melangkah memasuki gang itu, membela Hassan dan menerima apapun yang mungkin menimpaku.
    Atau aku bisa melarikan diri.
    Akhirnya aku melarikan diri.

Amir telah mengkhianati Hassan, satu-satunya sahabatnya. Saudaranya. Rasa bersalah menghantuinya. Menyingkirkan Hassan dari kehidupannya adalah satu-satunya pilihan yang ada. Namun setelah Hassan pergi, tak ada lagi yang tersisa dari masa kecilnya. Seperti layang-layang putus, sebagian dari dirinya terbang bersama angin. Tetapi, masa lalu yang telah terkubur dalam-dalam pun senantiasa menyeruak kembali. Hadir membawa luka-luka lama. Dan seperti layang-layang, tak kuasa menahan badai, Amir harus menghadapi kenangannya yang mewujud kembali.

The Kite Runner adalah sebuah kisah penuh kekuatan tentang persaudaraan, kasih sayang, pengkhianatan, dan penderitaan. Khaled Hosseini dengan brilian menghadirkan sisi-sisi lain dari Afghanistan, negeri indah yang hingga kini masih menyimpan duka. Tetapi, bahkan kepedihan selalu menyimpan kebahagiaan. Di tengah belantara puing di kota Kabul, akankah Amir menemukannya?
***
Untukmu, keseribu kalinya …

“Anak-anak bukanlah buku mewarnai. Kau tak bisa begitu saja mengisi mereka dengan warna-warna kesukaanmu.” (hlm. 48)

“Seorang anak laki-laki yang tak mampu membela dirinya sendiri akan tumbuh menjadi pria yang tak mampu menghadapi masalah apapun.” (hlm. 49)
“Lebih baik disakiti oleh kenyataan daripada dinyamankan oleh kebohongan.” (hlm. 119)

Tahukan dia bahwa aku tahu? Dan kalau dia tahu, apa yang akan kulihat jika aku melihat matanya? Tuduhan? Kemarahan? Atau yang paling kutakuti, pengabdian tanpa pamrih? (hlm. 151)

“Kalau pembicaraan mulai berubah menjadi pergosipan, aku lebih baik pergi.” (hlm. 251)

“Sesuatu yang terjadi dalam beberapa hari, kadang-kadang bahkan dalam sehari, bisa mengubah keseluruhan jalan hidup seseorang.” (hlm. 252)

“Luka bisa disembuhkan. Reputasi tidak bisa dipulihkan.” (hlm. 261)

Bagaimana mungkin aku, dari semua orang lain, menghakimi seseorang atas masa lalu mereka? (hlm. 289)

“Beberapa kisah memang tak perlu diceritakan.” (hlm. 364)

“Kehilangan sesuatu yang kita miliki selalu lebih menyakitkan daripada tidak memiliki sama sekali.” (hlm. 365)

Tapi waktu sungguh serakah. Kadang-kadang ia mencuri semua detail tanpa menyisakan apapun. (hlm. 369)

Untuk sisanya, saya mohon maaf kelupaan untuk mencatat karena terlalu asyik sendiri dengan isinya 😀
***
Kisah ini tentang dua anak laki-laki dari Kabul, Afghanistan. Amir seorang Pashtun dan Hassan seorang Hazara. Pada masanya, kaum Hazara itu ditindas secara sosial. Selain menjadi pelayan Pashtun, Hazara juga kerap kali diolok-olok dan dinomerduakan; banyak yang mencibir padanya. Ingat novel To Kill A Mockingbird? Jika di sana yang ditindas adalah kaum kulit hitam, di sini adalah Hazara.

Namun keluarga Amir sangat menghargai Hazaranya. Amir sehari-hari tinggal bersama babanya (ayah) karena sang ibu meninggal ketika melahirkannya. Di belakang rumah mewah mereka, terdapat pondok kecil yang dihuni oleh Ali (ayah Hassan) dan Hassan, Hazaranya. Ali kalau tidak salah sudah mengabdi pada keluarga baba selama 40 tahun lamanya. Ckckck. Kok bisa selama itu? Apa rahasianya? Membicarakan rahasia, novel ini sarat akan rahasia yang mengejutkan lho. Jadi, untuk yang suka kejutan, inshaAllah tidak kecewa. Dan jangan takut jantungan karena kejutan dalam novel ini diberikan perlahan dengan menyertakan sedikit demi sedikit clue-nya. Novel ini menggunakan plot flashback (bener nggak?)

Masalah datang pada musim dingin 1975, ketika Amir mengikuti kompetisi menerbangkan layang-layang. Aturannya, siapa yang layang-layangnya bertahan paling terakhir, dialah pemenangnya. Jadi, setiap peserta kompetisi akan berusaha untuk memutuskan benang layang-layang peserta yang lain. Amir tidak pernah menang sebelumnya, selalu hampir. Itu membuatnya sedih karena sang baba adalah pemenang. Babanya memang perkasa, konon katanya bahkan pernah bertarung dengan beruang tanpa membawa senjata apapun alias tangan kosong hingga dijuluki Tophan agha. Ckck. Babanya juga jago olah raga. Sedangkan Amir, dia adalah sosok yang sangat berbeda dengan babanya. Amir lebih suka menghabiskan waktunya di kamar. Membaca buku atau mengarang. Lebih ke lelaki kalem, bahkan ia tidak pernah meninju orang lain sekalipun orang itu berniat jahat padanya hingga Hassan yang selalu melindunginya. Sosok yang sangat malaikat atau pengecut?

Nah, di tahun 1975 itu, Amir memenangkan kompetisi tersebut. Pada saat layang-layang terakhir jatuh, Hassan berlari untuk menangkapnya seperti yang sudah-sudah. Tradisi memang, untuk mengejar dan menangkap layang-layang yang terakhir jatuh. Dan Hassan, adalah jagonya.

Magrib telah datang dan Hassan tak kunjung datang. Amir mencarinya kemana-kemana sebelum akhirnya menemukannya di sekitar pasar. Apa yang ia lihat di depannya, membuatnya kalut. Apa itu? Silahkan baca. 😦 Ini juga salah satu penyebab perpisahannya dengan Hassan, bahkan dengan Ali juga.

Hal tersebutlah yang menghantuinya bertahun-tahun bahkan hingga ia menikah dengan seorang perempuan bernama Soraya di Amerika Serikat. Beberapa tahun setelah pernikahan, sebuah telepon dari Rahim Khan membuka lembar-lembar lamanya. Amir harus terbang ke Peshawar, Pakistan sebelum akhirnya menuju Afghanistan. Pada masa itu, Afghanistan dikuasai Taliban. Orang-orangnya berjanggut, gemar menghitung tasbih dan memamerkan hafalan kitabnya, konon.

Di Afghanistan, Kabul tepatnya, banyak peristiwa terjadi. Banyak sekali. Janjinya pada Soraya, ia pergi paling lama adalah dua minggu. Namun ternyata lebih dari sebulan karena itu tadi, banyak sekali peristiwa luar biasa yang dilaluinya. Luar biasa di sini dalam arti mengerikan, mengenaskan, dan mengharukan ya.

Ketika Amir berangkat dari Amerika Serikat menuju Pakistan, ia hanya membawa satu nyawa. Namun sekembalinya ia ke Amerika, ia membawa dua nyawa untuk menebus dosanya. Sesosok pria kecil berwajah boneka Cina. Siapakah dia? Dan apakah dosa yang telah diperbuat Amir?

Iklan

12 thoughts on “Review Novel : The Kite Runner

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s