Lütfen, Teman Saya Terkunci di Kamar Mandi!

Tepat pada tanggal 28 Oktober 2014, saat tiba Hari Sumpah Pemuda kemarin, terdapat kejadian yang spesial di Ege TöMER. Apakah itu?

Kejadian bermula usai kelas TöMER ditiadakan. Sekitar pukul 12.00 EEST, tiga jam lebih cepat dari biasanya karena keesokannya –yang berarti hari ini- merupakan hari jadi Republik Turki.

Saat itu, saya sedang berada di luar gedung Ege TöMER, menunggu seorang teman saya yang bernama Hida. Konon, dia sedang berada di kamar mandi. Padahal, hari menjelang siang dan lautan warga Ege TöMER sudah berhambur ke luar gedung untuk pulang. Sudah bisa ditebak kan arah pembicaraan kita ke mana? Ya, Hida menelpon saya dan mengatakan bahwa dia terkunci di dalam kamar mandi di lantai dua. Demi apa?! Sedangkan saya tahu, di dalam sudah sepi.

Mula-mula, saya berkeliling di lantai satu. Hanya 1-2 ruangan yang pintunya masih terbuka.

“Hocam… hocam, affedersiniz?”

Tidak ada jawaban. Saya segera naik ke lantai dua untuk mencari pertolongan. Saya mendengar gemerincing kunci dari lantai tiga, saya pun segera naik namun saya tidak menemukan apapun di sana. Gemerincing kunci itu bergema lagi, kedengarannya di lantai dua. Saya turun, dan masih tetap sama. Sepi. No one there. Bahkan beberapa pintu sudah terkunci. Saya lebih panik, lagi. Lalu saya melihat seorang perempuan muda keluar dari ruangan di lantai tiga, saya naik lagi, dengan buru-buru, “Affedersiniz, Hocam. Lütfen, benim arkadaşım, tuvalette ikinci kattada, anahtar! Anahtar!”

Saat itu saya benar-benar lupa bahasa Turkinya “di dalam” dan “pintu” walau sering diperdengarkan. Maklum, lagi panik. Haha. Meski sudah saya praktikkan gerakannya, rupanya Hoca tersebut masih belum mengerti. Lalu beliau berkata, “English?” dan saya segera menjelaskannya dalam bahasa Inggris. Eh, beliau baru ngeh. Kenapa nggak dari tadi? -_-

Lalu beliau membawa saya ke sebuah ruangan, terdapat dua orang di sana. Yang satu bapak-bapak berdasi, satunya lagi om-om dengan pakaian santai. Hoca perempuan yang tadi pun segera menjelaskan masalah saya kepada mereka. Sebelum hoca perempuan pergi, beliau memberitahu saya untuk mengikuti bapak-bapak dan om-om tersebut. Tidak lupa, saya mengucapkan terima kasih.

Ketika saya sedang mengucapkan terima kasih dan siap mengikuti, tahu-tahu si bapak tadi sudah ada di lantai dua. Cepet amat? Iya, beliau menggunakan lift dan saya menggunakan tangga bersama om-om tadi. Nah, di lantai dua, saya melihat Hida tergelak tawa dan bapak tadi tersenyum bertanya-tanya. Saya bingung kan, kenapa?

Rupanya, teman-teman, Hida tidak terkunci di dalam kamar mandi. Hanya saja, caranya membuka pintu salah. Seharusnya, di dorong ke dalam, bukan ke luar. (Atau sebaliknya? Saya lupa, yang jelas karena salah mendorong pintu). SubhanAllah, saya kesal bukan main kepada Hida saat itu. Saya tadi berlarian ke sana ke mari, panik pula. Dia tidak tahu betapa saya mengkhawatirkannya dan betapa jantung saya memompa lebih cepat. Tapi ya sudahlah, toh itu karena ketidaksengajaan Hida. Dan yang terpenting, aman.

Lain kali, harus lebih berhati-hati nih. Konyolnya dari kejadian ini, mengapa saya tidak mengecek pintu kamar mandi dulu sebelum meminta pertolongan? Saya rasa, efek panik. Siapa sih yang tidak khawatir temannya terkunci di dalam kamar mandi, sedang gedung tempat kamar mandi tersebut sudah sepi?

Iklan

4 thoughts on “Lütfen, Teman Saya Terkunci di Kamar Mandi!

  1. Ping-balik: Buru-Buru Bencana Batin (B4) | Naelil The Climber

  2. Ping-balik: Arkadaşıma Yardım Edebilir Misiniz? | Naelil The Climber

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s