Buru-Buru Bencana Batin (B4)

Barangkali kita semua telah tahu bahwa yang namanya terburu-buru, pastilah menimbulkan sesuatu yang kurang baik. Mengapa demikian? Karena kondisi kita dikejar sesuatu, kita akan bersegera mungkin mengerjakan sesuatu itu untuk mengejar sesuatu yang lain, yang mengejar kita. Bingung? Namun jangan dipersoalkan, saya akan membahas beberapa keterburu-buruan saya yang menyebabkan hal kurang baik. Bukan apa-apa. Hanya saja, agar tidak ada di antara teman-teman yang mengalami kejadian tersebut di kemudian hari.

1. Jatuh Ketika Berjalan

Saya ingat waktu itu di TOMER (semacam kelas persiapan bahasa Turki), saya ada jadwal kelas tambahan bersama penerima beasiswa YTB lainnya. Karena kelas TOMER berakhir pada pukul 14.45 EEST dan kelas tambahan untuk siswa-siswa penerima beasiswa YTB tersebut dimulai pada pukul 15.00 EEST, saya buru-buru turun ke lantai bawah (kelas saya di lantai 2) menuju gedung sebelah untuk menunaikan sholat.

Saat itu, entah bagaimana ceritanya, namun saya terbilang terlambat masuk kelas. Saya melihat jam digital yang tertera pada handphone saya; jam telah menujuk ke angka tiga lebih sedikit. Ketika menaiki tangga (nggak ada lift? / ada, tapi jangan tanya kenapa saya lebih prefer tangga), saya berjalan dengan buru-buru seraya menjinjing rok. Saya lihat, di kelas saya, teman-teman sudah duduk rapi seperti sedang menyimak materi dari hoca. Namun anehnya, pintu tidak ditutup. Saat itu saya bahkan tidak memperhatikan itu. Lalu BRAKK! Di lapisan tangga paling atas, saya jatuh nyosor ke depan dan otomatis beberapa teman memandang saya seraya menahan tawa. Setelah seorang teman membantu saya berdiri, saya buru-buru masuk kelas dengan perasaan yang tidak karuan. Malu! Udah gerang gini-18 tahun lho, masa jalan aja masih begitu? Apalagi teman-teman TOMER kan beragam. Nah kan, maka dari itu jangan buru-buru. Daripada berakhir jatuh dan malu, ya kan?

Peristiwa saya memeluk tanah ini juga terjadi lagi di kemudian hari (semoga itu yang terakhir). Jadi, saya dan beberapa teman saya sangat buru-buru berjalan menuju TOMER karena waktu sudah hampir menujukkan pukul 10.00 EEST, jam kelas kami akan dimulai. Jadi, setelah menyeberang jalan, saya tiba-tiba tersandung sesuatu dan nyaris jatuh. Rupanya keseleo, kawan. Haduh!

“Are you ok? Are you ok?” tanya teman-teman saya.

Saya hanya mengangguk, “I am fine. Not a big problem” meski aslinya itu sakit euy. Lebih tepatnya, susah untuk berjalan cepat kembali. Tuh kan! Buru-buru bikin sakit, malu. Mana itu di tempat umum, pula. Namun ya sudahlah, anggap tidak ada yang tahu dan melihat.

2. Salah Bertindak

Ingat postingan saya yang berjudul, “Lutfen, Teman Saya Terkunci di Kamar Mandi?” Iya betul. Di postingan tersebut juga sebenarnya dampak dari keterburu-buruan saya. Coba, jika saya lebih jeli lagi dan tidak terburu-buru berpikir bahwa gedung TOMER akan segera ditutup, yang pertama kali saya lakukan pastilah mengecek kamar mandi, bukan langsung meminta pertolongan.

Mengenai salah bertindak, saya kembali teringat akan pengalaman akan masa SMA kelas 2 saya. Ceritanya, saya buru-buru mengendarai motor ke sekolah. Hari itu, saya merasa ada yang aneh, namun tak tahu apa. Sampai di tengah perjalanan, saya berjumpa dengan seorang teman yang juga mengendari sepeda motor. Saya merasa janggal, dia mengenakan seragam putih-putih sedangkan saya mengenakan seragam putih abu-abu. Kami saling bertukar sapa, saya masih belum sadar apa salahnya hingga melihat beberapa siswa dari SMA saya yang berlalu-lalang mengenakan seragam putih-putih. Lalu saya menepi seraya melihat dengan cepat seragam yang dikenakan anak sekolah lainnya dan JLEB!

Saya baru ingat bahwa itu hari Selasa dan saya harusnya mengenakan seragam putih-putih dan bukannya putih abu-abu yang harusnya dikenakan di hari Rabu dan Kamis. Kontan, saya segera memutar arah pulang ke rumah. Astagfirullah! Saat itu saya bahkan memacu kecepatan 80 km/jam. Bagi saya, itu ngebut meski mungkin menurut teman-teman tidak. Saya biasanya hanya memacu kisaran 40 km/jam sampai 60 km/jam saja. Daripada terlambat. Meski ujungnya, saya dimarahi gara-gara ngebut. Katanya, lebih baik terlambat daripada celaka.

3. Salah Masuk Kamar Orang

Nah, ini yang paling baru. Jadi, kemarin Senin, saya salah masuk kamar orang di asrama. Kok bisa? Iya. Jadi ceritanya, saya kan habis dari lantai satu dan hendak menuju kamar saya di lantai enam. Berhubung waktu sudah siang dan saya harus segera mempersiapkan diri untuk datang ke TOMER, saya membopong langkah besar-besar.

Di lantai empat, saya bertemu dengan salah satu teman yang kamarnya di lantai enam juga seperti saya. Setelah saling sapa, tanpa sadar, saya langsung berjalan ke koridor lantai empat menuju kamar yang terletak di paling ujung, tepat sebelum balkon. Karena letak kamar saya memang paling ujung. Entah kenapa, saat itu saya merasa aneh. Namun, masih belum sadar kenapa-as always!– Saya melihat pintu menuju balkon adalah full wood, sama sekali tidak terdapat kaca sedangkan di lantai enam itu, terdapat kaca pada bagian pintunya. Namun saya sama sekali tidak berpikir. Entah bagaimana bisa, saya langsung menuju kamar bernomor 8 dan dengan percaya diri membuka pintu kamarnya yang tidak terkunci.

JRENG JRENG! Mula-mula, saya bingung melihat penuhnya penghuni kamar tersebut. Dan, terdapat seseorang yang tidur di kasur saya! Saya bahkan tidak mengenalinya (setiap kamar terdiri dari empat kasur untuk empat orang). Masih saling memandang, yaitu saya memandang bingung ke arah empat orang yang kontan memelototi saya. Mungkin pikir mereka, “Ini anak siapa? Tanpa ketok pintu, asal masuk aja.”

Setelah sadar, baru deh saya minta maaf sambil senyum lebar, terus pergi. Untung mereka nggak marah-marah. Nggak asyik juga jika sudah malu, dimarahi, lalu terlambat datang ke TOMER. Padahal, hari itu adalah hari ujian pertama saya di Turki.

Kurang lebih seperti itulah hal-hal buruk yang dapat ditimbulkan karena keterburu-buruan. Oleh sebab itu, kawan-kawan, jangan terburu-buru dalam melakukan sesuatu, mengambil keputusan. Lalu bagaimana supaya tidak terburu-buru? Tentu saja, dengan mengawalinya. Jangan menunda-nunda. Misal, datang lebih awal, mengerjakan PR langsung setelah PR diberikan. Gitu. InshaAllah hal-hal yang tidak diinginkan tidak akan terjadi. Semangat ya!

Iklan

2 thoughts on “Buru-Buru Bencana Batin (B4)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s