Merindukan Allah

Pernahkah kalian merasakan suatu kehampaan aneh meski kalian telah berada di keramaian? Bukan! Bukan merasa sendiri dalam keramaian. Namun, kehampaan. Sesuatu yang tiba-tiba menghilang. Jika kalian pernah terjepit dalam lemari tua yang sempit, rasanya jauh lebih tidak nyaman dari itu.

Jumat (17/10), saya merasakan hal yang demikian. Menjelang Magrib, ketika saya dan kedua teman saya berada di Konak, Izmir, Turki, menyegerakan diri untuk shalat Ashar karena tak pelak lagi adzan Magrib akan dikumandangkan. Hari itu, mungkin menjadi kesekian kalinya saya shalat di sana. Namun, hari itu merupakan kali pertama saya shalat Magrib berjamaah di Masjid, bahkan selama berada di Turki, mungkin.

Tak ada yang berbeda ketika saya menunaikan shalat Ashar di sana. Sama halnya dengan ketika saya menunaikan shalat di asrama, ataupun di rumah teman di Izmir, Turki. Namun ketika adzan Magrib dikumandangan dengan lantang, saya merasakan suatu hal yang lain. Tanpa sadar, mata saya terasa panas. Tidak lama setelahnya, saya hanyut dalam tangis. Tak sanggup menahannya. Bahkan pun ketika saya menulis catatan ini, saya menahan diri untuk tidak menangis. Bukankah benar apabila kita sedang menulis suatu kejadian yang membahagiakan, kita akan merasa senang? Begitu pula ketika kita sedang menulis suatu kejadian yang sendu.

Meskipun sendu, sejujurnya, saya merasa bahagia pada hari itu. Saya jadi ingat rumah. Tidak, ini bukan homesick. Saya sangat mensyukuri karunia Allah SWT atas kemurahan-Nya menempatkan saya di negeri Muhammad Al-Fatih. Saya hanya teringat pada mushola kakek yang dibangun tepat di samping rumahnya. Setiap hari, selalu terdengar adzan dari sana. Juga, gema bahagia umat muslim yang menjalankan shalat berjamaah.

Di kota Izmir, dari asrama, saya memang mendengar adzan setiap hari. Walau dikatakan sebagai kota paling sekuler di Turki, saya dapat mendengar adzan lengkap sebanyak 5 kali sehari. SubhanAllah. Saya pikir, saya akan jarang mendengarnya di sini. Ternyata tidak. Alhamdulillah.

Sehari-harinya, saya hanya shalat di mushola asrama dan sekolah. Kami menyebutnya mescit (dibaca: mesjid) karena letak masjid-di sini kami menyebutnya cami (dibaca: jami)- lumayan jauh dari asrama.

Ngomong-ngomong, apa bedanya mescit dan cami? Apakah sama halnya dengan mushola dan masjid? Sejujurnya tidak. Teman Turki saya mengatakan bahwa terdapat adzan di cami, namun tidak dengan mescit. Sedangkan pada mushola dan masjid, sama saja terdengar adzan.

Nah, kembali pada hari itu. Saya terharu dari mulai dikumandangkannya adzan Magrib hingga shalat Magrib selesai. Wah! Sensasinya luar biasa alhamdulillah. Dari mulai merasakan sangat dekat dengan Allah SWT, merasa sangat diberkahi, saya juga sadar bahwa saya sangat-teramat merindukan-Nya. Sangat merindukan Allah SWT. Rupanya, shalat setiap hari pun bahkan masih bisa memunculkan kerinduan. Saya jadi penasaran betapa luar biasanya dapat merasakan shalat di Masjidil Haram, pasti sudah banjir sungai.

Jika teman-teman merasakan hal yang sama, mungkin obatnya adalah dengan mengambil air wudlu, shalat sunnah, membaca Al-Qur’an dan berdoa. Tempat bersandar terbaik adalah Allah SWT. Semoga bermanfaat!

Iklan

2 thoughts on “Merindukan Allah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s