Cerita Tanah Rantau

Pernahkah kalian merasa khawatir berada di negeri orang? Saya ingat waktu pertama kali saya menerima email dari YTB bahwa saya diterima di Ege University jurusan Jurnalistik. Saya khawatir apakah pilihan yang saya ambil ini benar? Apakah saya sudah siap untuk jauh dari keluarga dan berada di ranah rantau? Apakah saya yang baru lulus SMA ini dan sejak dulu selalu berada di Banyuwangi tiba-tiba pergi jauh di dunia lain dimana hanya dapat ditempuh dalam 14 jam dengan pesawat? Siapkah saya? Siapkah?

Mulanya, saya pun meragukannya. Tapi setelah saya pikir-pikir, Allah SWT tidak akan menempatkan saya di tempat yang salah. Insallah. Lagipula, Turki lebih dekat dengan Inggris jika dibandingkan Indonesia dengan Inggris. Masih saja ya … haha

Saya juga sempat khawatir karena minat saya sebenarnya adalah pada Sastra Inggris, bukan Jurnalistik. Tapi setelah saya telaah lebih lanjut dalam catatan mimpi saya. Jika dilihat dari ingin menjadi apa saya di masa depan, jurusan Jurnalistik ternyata jauh lebih cocok daripada Sastra Inggris.

Mungkin memang tidak mudah. Maksudnya, sekarang saya menjalani kelas persiapan bahasa Turki sebelum tahun depan memulai tahun pertama saya di jurusan Jurnalistik. Belajar bahasa Turki, bukanlah suatu hal yang mudah, juga sulit. Tergantung minat, sebetulnya. Tapi insallah bisa. Jika banyak mahasiswa Indonesia lulusan Turki yang berhasil, kenapa saya tidak? Marilah berusaha diiringi dengan doa. Insallah bisa. Kita bisa!

Nah, inilah salah satu alasan saya lebih memilih ini. Saya bisa belajar bahasa Turki di samping meningkatkan bahasa Inggris saya. Juga, tentu saja kehidupan yang mengharuskan saya menjadi lebih mandiri dalam segala hal, termasuk mengatur keuangan dan pola makan, misalnya.

Selain itu, merantau akan membawa kita ke dunia baru, keluarga baru. PPI Izmir misalnya, yang super-super baik anggotanya. Sudah seperti keluarga. Saya ingat ketika saya terkena alergi sabun pada telapak tangan. Karena parah, saya diantar ke dokter kulit. Ribet sekali prosesnya waktu itu karena banyak kartu/dokumen yang belum jadi. Saya hanya berbekal paspor. Tapi keluarga Izmir sangat baik membantu.

Selain keluarga Izmir, ada juga keluarga TOMER. Yaitu kawan-kawan internasional di kelas. Saya kembali teringat akan tanggal 16 Desember 2014 yang lalu. Di hari lahir saya tersebut, saya diberikan kejutan oleh teman-teman sekelas. Mengharukan sekali keluarga kedua saya ini.

Pagi hari, saya menerima email dari teman Korea saya. Beliau mengirimkan file berformat m4a kepada saya yang berisi permainan gitar (kebetulan beliau dapat memainkan gitar) dan lagu selamat ulang tahun dalam bahasa Korea oleh beliau. Manis sekali! Sungguh terharu.

Ketika jam istirahat, saya juga dikejutkan oleh perayaan kecil dari teman-teman sekelas. Mereka kompak menyanyikan lagu selamat ulang tahun dalam bahasa Turki ketika saya memasuki kelas. Lebih manisnya lagi, lampu kelas dimatikan dan hanya tersisa remang-remang cahaya lilin. Haha.

Sebenarnya, saya sudah tahu akan adanya kejutan itu sebelumnya. Namun tidak menyangka akan seramai itu jadinya. Bahkan guru-guru pun hadir. Inilah beberapa fotonya.

10685374_831421466918173_360908080250050147_n

10846304_831421476918172_6275798699314094239_n

Namun, kejutan menjelang puncak (bagi saya), yang bikin mengharu biru adalah salah satu postingan teman saya, Mba Mia. Lihatlah ini!

2

Lengkap ucapannya :

“Hai lihat itu Nae, cewek yang dibilang cantik oleh Zian. Apanya yang cantik? Wajahnya super biasa. Ck. Mungkin mata Zian kelilipan.”

“Iya, dia hanya memiliki senyum yang cukup manis. Kulitnya bahkan tidak putih sepertiku.”

****

“Nae, gadis itu terlalu bermimpi. Hanya memiliki bahasa Inggris pas-pasan, beraninya ingin melanjutkan kuliah ke universitas bergengsi di luar negri …, dengan beasiswa pula.”

“Aku jadi kasihan padanya.”

****

“Apanya yang menerima banyak cinta? Gadis itu hanya beruntung mendapatkan hadiah-hadiah dari kuis yang ia ikuti. Percayalah kekalahannya jauh lebih banyak, lagi pula aku tidak yakin jika dia memang mampu menang.”

“Iya, paling kuis itu diacak secara random dan entah ajian dari mana dia sering beruntung.”

****

Sebenarnya bukannya tidak tahu. Kupingnya lebih sering panas saat ia mendapatkan suatu kebaikan atau prestasi. Naelil …, gadis itu lebih suka menanggapi semuanya dengan senyuman. Usaha dan doa’nya tidak boleh kalah. Ia memasang spanduk tak berwujud itu di dalam kepalanya.

Sebuah tepukan menyadarkan Naelil dari lamunannya.

“Yuk, sayang kita harus segera mempersiapkan barang-barangmu untuk berangkat. Beasiswa itu terlalu sayang jika harus terlewatkan dengan melamun.”

Nae kembali tersenyum, kali ini senyum yang lebih manis dari sebelumnya. Gunjingan memang terkadang membuatnya terpuruk, tapi selalu bisa dijadikannya press untuk melompat lebih tinggi lagi. Karena ia mampu dan bisa menunjukan kualitas dirinya tanpa banyak bicara.

KKK~~ duuuh ini gaje banget ‪#‎Plak‬…. Nae Nae ku Semoga diberikan keberkahan umur dan seha selalu, diberikan kedewasaan dan kemudahan dalam menjalani hidup. aamiin.

Cuplikan semangat di atas, semoga bisa kamu ambil hikmahnya, karena terkadang untuk melompat lebih tinggi dan menggapai angan, banyak ucapan menyakitkan yang malah terkadang bikin kita down. Ngak jarang juga semuanya diperburuk sama keengak percayaan kita sama diri kita sendiri. Jangan terlalu banyak mendengarkan omongan buruk orang lain, karena memang saat ingin menjadi lebih baik, goyahan itu selalu ada. SEMANGAT!!!!! Tekankan dalam diri kamu… bahwa kamu bisa menunjukan passion kamu jadi sesuatu yang berharga.

Karena di dalam hidup ini, kebaikan dan keburukan pasti menjadi sesuatu yang sulit untuk tidak diperhatikan oleh orang lain. Jadi, dimanapun itu, hal seperti cuplikan tadi mungkin aja terjadi baik emang yang bisa kamu lihat langsung ataupun terselubung dalam hati mereka.

Mencoba jadi lebih baik itu menyenangkan, tapi susah dijalani #plak

GO NAE GO NAE GO NAE!!!!! SEMANGAT!!!!

Lalu pada tanggal 16 Desember 2014 kemarin, Mba Mia membagikan postingannya tersebut kepada saya.

1

Membaca postingan di atas membuat saya terharu. Banyak doa di masa lampau yang tanpa kita sadari, dijabah oleh Allah SWT. Setiap perkataan adalah doa. Jadi, marilah berkata yang baik-baik saja.

Puncaknya, saya memperoleh email dari sahabat saya di Indonesia, Indigo (Ana Widiawati) yang berisi ucapan selamat ulang tahun yang sangat manis. Berikut cuplikannya.

Malang, 11 Desember 2014

Untuk Alien
di Tanah Turki
yang Belum Pernah Kupijaki

Assalamualaikum wr. wb.

Hujan bulan Desember telah datang. Merintiki tanah yang kutapakai. Mega mendung hampir setiap sore menenggelamkan senja dalam kegelapan. Tiada bebercak jingga yang bisa kupandangi. Hanya ada rerintik hujan yang menguarkan dingin dalam semilir angin. Aku menggigil.

Hujan yang meluruhi kota Malang membuatku penasaran dengan kota Izmir di Turki yang kini menjadi tempatmu bernaung. Apakah di sana juga ada hujan di bulan Desember? Apakah kau juga merasakan dingin yang sama sepertiku? Ataukah tidak ada hujan bulan Desember di sana? Sungguh aku ingin tahu. Tetapi sejujurnya ada atau tidaknya hujan bulan Desember di Izmir hanyalah setitik keingintahuanku. Selebihnya, yang menggebu, yang terkadang membuatku kelabu dalam risau, yang mengusik pikiranku adalah keadaanmu. Maka kukatakan: Apakah kau baik-baik saja, Alien? Kuharap jawabannya adalah selalu.

Aku ingin menyapamu. “Hai, Nae!” Berseru padamu dengan melambaikan tangan. Bukankah itu menyenangkan jika aku benar-benar melakukannya? Dan, jika sekarang aku melakukannya maka yang ada adalah aku sekadar menyapa barisan gunung, gedung fakultasku, dan atap-atap rumah. Dari atas kostku (di lantai 4) ini tak akan kujumpai dirimu. Cuma pemandangan itu yang akan kujumpai. Tapi tak apa. Aku akan tetap manyapamu. Semoga angin bulan Desember mampu mengarungi samudera dan benua. Menembus bagian imigrasi Turki dan Indonesia. Maka bersiaplah! Kau harus menajamkan telinga, mungkin angin akan membisikimu.

Nae, my beloved Alien, apa kau makan dengan teratur? Apa kau tidur dengan nyenyak? Apa kau belajar dengan rajin?

Kuharap kau selalu baik-baik saja di sana. Aamin. Sehat, sukses, dan tetap semangat! Aku tidak tahu harus berbicara apalagi. Intinya, hari ulang tahunmu sudah berlalu dan aku tidak ada di sisimu, api doaku selalu untukmu, kawanku.

Sebetulnya surat ini masih lebih panjang. Tersebut hanyalah pecahannya. Sisanya, biarlah saya simpan sendiri. Hehe

Super terima kasih untuk Allah SWT dan juga kerabat baik di Indonesia ataupun Turki. Semoga sehat selalu dan dimudahkan segala urusannya. Aamiin 😀

Begitulah cerita tanah rantau. Insallah indah. Saya kasih kutipan terkenalnya sang guru besar Imam Syafi’i :

” Orang berilmu dan beradab tidak akan diam di kampung halaman.
Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang.
Merantaulah, kau akan dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan.
Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang.

Aku melihat air menjadi rusak karena diam tertahan.
Jika mengalir menjadi jernih, jika tidak, kan keruh menggenang.

Singa jika tak tinggalkan sarang tak akan dapat mangsa.
Anak panah jika tidak tinggalkan busur tak akan kena sasaran.
Jika matahari di orbitnya tidak bergerak dan terus diam
tentu manusia bosan padanya dan enggan memandang.
Bijih emas bagaikan tanah biasa sebelum digali dari tambang.
Kayu gaharu tak ubahnya seperti kayu biasa jika di dalam hutan. ”

Mari bersama-sama ucapkan mantra mujarab! Mantra dari salah satu buku favorit saya, Negeri 5 Menara.

“MAN JADDA WAJADA”

Iklan

6 thoughts on “Cerita Tanah Rantau

  1. Suka sama surat-suratnya, sy tipe org melankolis..kurleb sangat phm btl isi surat itu, sy baca suratnya terharu ada kerinduan yg dalam. Apalagi org yg brsangkutan lsg yg baca..taulah rasanya..hahaha jd sotoy dan lebay ak, ko malah curhat di komen si. Nae ak suka bgt sm blog mu..blog mu ku kepoin dr tadi pg sm mgrb hahaha

    Suka

    • Aku juga terharu bacanya Kak :’)
      Serius kak dari pagi sampai Magrib? Ya Allah, jadi terharu. Makasih banyak loh, Kak udah baca dan komen. Paling sukaaaa kalau dapat komentar 😀

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s