[Review] Temui Aku di Surga

www.goodreads.com
http://www.goodreads.com

Judul Buku : Temui Aku di Surga
Penerbit : Quanta, Imprint dari Elex Media Komputindo (Grup Kompas Gramedia)
Pengarang : Ella Sofa
Tahun : Juni 2013, Cetakan I
Jumlah Halaman : viii + 279 halaman

Malik dan Yudho adalah dua pemuda yang bersahabat. Berlatar belakang dan bernasib berbeda. Malik adalah pemuda manja dan agak urakan dalam keluarga berada. Dulunya merupakan anggota geng motor yang sempat masuk bui dan rumah sakit karenanya. Sedangkan Yudho adalah pemuda rajin dalam keluarga kekurangan hingga ia tidak dapat mengenyam pendidikan sarjana di perguruan tinggi. Sehingga harus bekerja untuk membiayai adik-adiknya. Bapak dan emak Yudho hanyalah seorang petani biasa.

Keduanya dipertemukan karena ketidaksengajaan yaitu ketika Yudho membesuk burung-burung milik Pak Rohmadi, ayah Malik.

Masalah mulai tumbuh ketika Yudho keluar dari bisnis kaca Solikin yang sudah beberapa tahun digelutinya dan menjalin kerja sama dengan Malik sebagai penanam modalnya. Namun Malik yang sudah taubat setelah peristiwa tawuran dan sempat mengenyam pendidikan agama di pesantren tiba-tiba meninggal dunia. Padahal ia berencana menyalonkan diri sebagai petinggi di tahun depan. Keluarga dirundung duka. Alhasil Yudho dijadikan penggantinya. Konflik demi konflik makin meruncing perihal ini lantaran saingannya adalah pak petinggi lama yang sangat licik dan gila kuasa. Politik dan budaya bersatu. Dukun, orang bayaran, dan amplop mewarnai kehidupan masyarakat Randusari menjelang pemilihan kepala desa. Disanalah terkuak misteri kematian Malik dan pemilihan kepala desa yang tidak jujur.

Secara keseluruhan, isi buku ini memiliki daya tarik tersendiri karena mengupas konflik politik yang berbaur bersama budaya masyarakat daerah perdesaan. Penulis terbilang berani secara gamblang mengupas masalah dalam pemilihan kepala desa yang sering disembunyikan. Termasuk meminjam nama tempat yang benar-benar ada di Indonesia sebagai latarnya. Konflik dalam novel ini terbilang cukup berat karena menyangkut pembunuhan dan politik. Tiap bab memiliki unsur yang memicu adrenalin dengan peristiwa yang sengaja dibuat penuh teka-teki dan tidak tertebak.

Penulis juga kritis menyikapi kejadian yang terjadi karena pemaparan pada beberapa peristiwa cukup detail. Beberapa diantaranya adalah mengenai jalanan tak beraspal yang rusak parah karena letaknya di pedesaan. Tidak dipungkiri bahwasanya jalanan rusak memang jauh lebih banyak di desa. Beberapa kali diperbaiki namun mudah rusak diduga karena kualitas yang dinomerduakan. Kemudian mengenai gaji yang tidak pernah dinaikkan atas dasar alasan berstatus tetangga sendiri. Hal itu umum terjadi di masyarakat namun jarang sekali diulas. Begitu juga dengan kebakaran kios di pasar yang seringkali melanda.

Meskipun demikian, novel ini memiliki penyegaran walau tak banyak seperti kisah cinta Malik calon petinggi dengan Hesti yang seorang calon hafiz al-quran. Dua insan yang saling jatuh cinta itu memang tidak dideskripsikan secara gamblang seperti umumnya gaya berpacaran saat ini. Tidak akan ditemukan peristiwa berpegangan tangan ataupun berpelukan karena pada dasarnya novel ini memang berada dalam lingkup novel islami. Selain serius, penulis juga memberikan suasana muda dengan sapaan khas remaja beserta lemparan lelucon dibeberapa bagian ketika Yudho dan Malik saling melempar canda.

Penulis menuturkan peristiwa demi peristiwa dalam novel ini menggunakan bahasa yang sangat sederhana dan tidak terlalu puitis, kecuali pada cuplikan puisnya. Sehingga siapapun dapat membaca novel ini tanpa kebingungan.

Novel ini juga memiliki ciri khas berbeda karena dialeg masih digunakan dibeberapa bagian. Oleh karena itu, pada bagian belakang novel terdapat catatan kata tidak baku agar pembaca yang tidak memahami bahasa daerah tersebut dapat mengerti maksud yang hendak disampaikan penulis.

Ukuran novel ini 12,7 x 19 cm sehingga mudah dibawa kemanapun. Warna kafer buku hijau sehingga lebih mudah terlihat di antara tumpukan buku. Sayangnya, nama penulis pada kafer ditulis dengan ukuran yang kecil. Padahal penulisan nama yang lebih besar dapat lebih mudah dikenali terutama bagi yang telah tahu kelebihan novel penulis sebelumnya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s