[Review Novel] Le Comte de Monte-Cristo

the

Judul : Le Comte de Monte-Cristo (The Count of Monte Cristo)
Pengarang : Alexandre Dumas (berkolaborasi dengan Auguste Maquet)

Mari dimulai dengan beberapa kata mutiara yang terdapat di dalam novel ini :

Kegembiraan tidak pernah membahayakan.


“Kalau seorang gadis dipanggil dengan nama tunangannya, dia bisa celaka.”

-> Katanya seperti itu. Sehingga, lebih baik dipanggil dengan nama belakangnya sendiri daripada nama belakang tunangan. Sama halnya ketika seseorang sedang proses menuju menjadi presiden. Karena masih calon, tidak boleh dipanggil presiden supaya tidak celaka. Begitu katanya. Berbanding terbalik dengan The Secret ya… Padahal dengan memanggil presiden, bisa jadi The Law of Attraction.

Keduanya sangat berbahagia sehingga mereka tidak melihat orang lain kecuali dirinya sendiri.

-> Jika sudah bahagia, jangan sampai lupa yang lainnya ya…

“Orang tidak boleh mempercayai kesan pertama.”

“Apabila orang yang dengki itu berada dalam lingkungan kawan-kawan saya, lebih baik saya tidak mengetahuinya, sebab saya akan terpaksa membencinya.”

Dengan hilangnya penglihatan, pendengarannya menjadi lebih tajam.

Untuk orang yang berada dalam kesenangan, doa hanyalah merupakan rangkaian kata tanpa makna, sampai pada suatu saat kesedihan dan kepedihan datang menerangkan makna kata-kata agung yang ditujukan kepada Tuhan itu.
->Jangan sampai ya…

Lambat atau cepat, yang baik akan mendapat imbalan kebaikan dan yang buruk akan dihukum.

“Kalau mahkota hanya diperuntukkan bagi wajah yang tercantik dan kepala yang paling cerdas, Mercedes sudah menjadi ratu sekarang.”

Makin sering kita melihat orang mati, akan makin mudah bagi kita menghadapi kematian sendiri.

“Kalau engkau bermaksud bohong, lebih baik tidak berbicara sama sekali.”

Yang Maha Kuasa itu ada tetapi tak dapat dilihat. Engkau tidak akan melihat sesuatu yang menyerupainya karena Ia bekerja melalui relung-relung rahasia dan bergerak di jalur-jalur tersembunyi.

Aku hanya mengenal dua perasaan saja yang mampu menghilangkan nafsu
makan seorang laki-laki. Kesedihan dan cinta.

“Masih juga belum mengerti? Apakah engkau begitu baik, begitu halus, begitu sukar
mempercayai kejahatan orang lain sehingga tidak dapat menduga alasan-alasannya?”

“Tabahkan hati dan berusaha tetap hidup, karena akan datang suatu hari di mana engkau akan merasa berbahagia dan menghargai hidup.”

“Apa pun yang akan engkau katakan tak akan lebih berharga daripada apa yang saya
lihat pada sorot matamu.”

“Kekasih-kekasih yang telah meninggal kita kuburkan dalam hati kita, bukan dalam tanah.”

Seorang yang lemah selalu melihat persoalan dari segi gelapnya saja.

“Sebaiknya orang mati di tempat di mana ia pernah merasa berbahagia.”

“Tuhan menghendaki kita mengerti-NYA dan memikirkan tujuan-NYA: Itulah sebabnya kita diberi kebebasan dan kemauan.”

Sebenarnya dalam dunia ini tidak ada kebahagiaan atau ketidakbahagiaan itu. Yang ada hanyalah perbandingan antara sesuatu keadaan dengan keadaan yang lain.

Hanya orang yang pernah merasakan puncak kepedihan akan dapat merasakan puncak kebahagiaan.

Yang rada susah dari novel ini merupakan banyaknya tokoh yang ada. Mungkin bukan banyak sih sebetulnya. Hanya saja, nama-nama tokohnya lumayan membuat lidah keriting.

1. Edmond Dantès (The Count of Monte Cristo/English Chief Clerk of the banking firm Thomson and French/Lord Wilmore/Sinbad the Sailor/Abbé Busoni)
2. Louis Dantès
3. Abbé Faria
4. Haydee
5. Giovanni Bertuccio
6. Barrois
7. Ali
8. Baptistin
9. Jacopo
10. Benedetto (Andrea Cavalcanti)
11. Bartolomeo Cavalcanti
12. Baron Danglars
13. Madame Hermine Danglars (Hermine de Nargonne)
14. Eugénie Danglars
15. Gérard de Villefort
16. Renée de Villefort
17. Valentine de Villefort
18. Héloïse de Villefort
19. Édouard de Villefort
20. Monsieur Noirtier de Villefort
21. The Marquis and Marquise de Saint-Méran
22. Mercédès Mondego
23. Fernand Mondego: Count de Morcerf
24. Albert de Morcerf
25. Pierre Morrel
26. Maximilien Morrel
27. Julie Herbault
28. Emmanuel Herbault
29. Baron Franz d’Épinay
30. Luigi Vampa
31. Peppino
32. Gaspard Caderousse
33. Lucien Debray
34. Beauchamp
35. Raoul, Baron de Château-Renaud
36. Louise d’Armilly
37. Monsieur de Boville
38. Monsieur d’Avrigny
39. Dan beberapa tokoh lagi yang hanya satu-dua-tiga scene muncul

Pusing? Nggak dilarang. Tapi worth it kok. Insallah nggak nyesel baca novel keren ini.

Mulanya, saya berencana untuk menghabiskan akhir pekan dengan novelnya Orhan Pamuk yang berjudul My Name Is Red. Jumlah halaman dalam novel ini sekitar 600an. Baru baca 100an halaman, saya menemukan novel The Count of Monte Cristo. Entah mengapa, membacanya membuat saya ketagihan untuk sampai di akhir novel. Akhirnya, novel Orhan Pamuk tersebut pun terpaksa ditunda dilanjutkan. Padahal, saya pinjam novel tersebut sudah dari lama sekali. Duh!

Nah, itulah mengapa di awal membaca novel The Count of Monte Cristo, beberapa tokoh dalam novel My Name Is Red masuk, sehingga lumayan belibet. Namun selanjutnya, novel The Count of Monte Cristo pandai memasukkan saya ke dalamnya tanpa mengingat-ingat karyanya Orhan Pamuk, lagi.

Bagaimana kisah dalam novel The Count of Monte Cristo tersebut?

Tokoh utama dalam novel ini adalah Edmond Dantès. Seorang pelaut berhati putih. Penyayang, jujur dan terlalu polos. Itulah sebabnya ia sama sekali tidak mengerti mengapa teman (yang dianggapnya teman) dapat menjebaknya. Ia tidak menemukan titik mengapa orang dapat berbuat jahat kepadanya. Dengan keberhasilnya di usia yang sangat muda-19 tahun-tentu banyak yang iri kepadanya. Novel ini digambarkan terjadi pada sekitar abad ke 18/19. Musimnya Revolusi Prancis dimana masa berkuasanya Raja Louis XVI ya? Lalu naiknya Napoleon Bonaparte. Di dalam novel ini digambarkan tentang pertentangan dua kubu, pendukung monarki dan Napoleon Bonaparte. Baca novel ini mengingatkan saya akan novel Tales of Two Cities-nya Charles Dickens. Itu zamannya Revolusi Prancis juga kan? Ingat adegan penyerbuan rakyat ke Bastille. Huh!

Nah, kita lanjutkan. Jebakan teman-teman Edmond Dantès tersebut membuatnya menjadi salah satu tahanan penjara If dimana ia berjumpa dengan seorang lelaki tua yang dianggap gila, Abbé Faria. Keduanya berteman baik meski berada dalam ruang penjara yang berbeda. Mengapa demikian? Sudah rahasia umum apabila banyak tahanan yang merencanakan kebebasan ilegalnya dengan menggali lubang, bukan? Galian luar biasa Abbé Faria ternyata tidak menuju ke luar penjara. Namun justru ke penjara Edmond Dantès sehingga keduanya berteman. Abbé Faria sudah seperti ayah sekaligus guru yang mengajari Edmond Dantès tentang kehidupan.

Sebagai tahanan, membuat Edmond Dantès belajar banyak hal. Termasuk pasca keluarnya dari penjara. Ia yang semula polos, menjadi berhati hitam. Kejam, mungkin, kepada beberapa yang membuatnya dan orang-orang yang disayanginya menderita. Namun berhati mulia seperti kepada orang-orang yang baik kepadanya. Inilah, kawan, alangkah baiknya kita selalu bersikap baik dimanapun dan kepada siapapun. Dendam itu tidak akan ada habisnya sampai tujuh turunan sekalipun. Ingat cerita Ken Arok kan? Bagaimana pembalasan dendam menjadi turun temurun ….

Bermulalah petualangan Edmond Dantès yang sudah menjadi pribadi berbeda. Dengan penemuannya di pulau Monte Cristo, mendukung segala rencananya untuk membalas budi dan dendam walaupun sebetulnya, itu tugas Tuhan untuk menghukum yang jahat dan memberi barokah kepada yang baik. Novel ini membuktikan bahwa uang memang dapat membeli segala hal, termasuk hukum. Kecuali satu, kebahagiaan. Dan satu lagi, yang jahat pasti celaka sedangkan yang baik insallah menemukan keberkahan pada akhirnya.

Kurang lebih, begitulah. Tidak ragu saya berikan nilai 4 dari skala 5 untuk karya Alexandre Dumas ini.

Iklan

2 thoughts on “[Review Novel] Le Comte de Monte-Cristo

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s