Hari Terakhir Jalan-Jalan di Istanbul

Libur musim dingin pertama saya di Turki ini Alhamdulillah saya lalui dengan jalan-jalan di Istanbul selama 4 hari. Namun hari keempatnya, hanya berburu oleh-oleh dan pulang. Jadi, kita hitung 3.

Hari Pertama : Ketiduran Sampai ke Eropa
Hari Kedua : Mengunjungi Saudara Istana Buckingham di Timur Tengah
Hari Ketiga : Hari Terakhir Jalan-Jalan di Istanbul

Hari ketiga di Istanbul! Jadwal pertama adalah pergi ke Taksim untuk melihat tunel dan Monumen Republik. Jadwal kedua pergi ke Warung Nusantara untuk menikmati makanan Indonesia. Jadwal ketiga pergi ke masjid Sultan Suleymaniye karya arsitek terkenal Mimar Sinar.
Taksim dianggap sebagai jantung kota Istanbul modern.
DSCN3165 Baca lebih lanjut

Iklan

Mengunjungi Saudara Istana Buckingham di Timur Tengah

Melanjutkan perjalanan hari ke-2 saya mengelilingi Istanbul dari postingan sebelumnya. Kali ini saya dan teman berangkat agak siang karena paginya kami gunakan untuk beristirahat usai perjalanan hari sebelumnya yang lumayan melelahkan. Sebelum menyeberang ke Istanbul Eropa menggunakan vapur, saya menyempatkan diri untuk membingkai beberapa potret dari sisi Istanbul Asia tepat sebelum selat Bosphorus.

DSCN2996
Baca lebih lanjut

Ketiduran Sampai ke Eropa

Turki merupakan negara dua benua yang memiliki 4 musim. Yaitu musim semi, panas, gugur dan dingin. Pertama kali menginjakkan kaki di Turki, saya disambut oleh musim gugur dimana angin berhembus sepoi-sepoi. Sejuk. Kini Turki sedang musim dingin. Sekolah libur selama satu bulan pada umumnya. Namun di kelas bahasa saya, Ege Universitesi Turk Dunyasi Arastirmalari Enstitusu, hanya dua minggu saja yaitu mulai 17 Januari-1 Februari 2015. Lalu, apa yang saya lakukan selama liburan berlangsung?

1. Berkumpul bersama PPI Izmir untuk melakukan pemungutan suara ketua PPI Turki 2015/2016.
2. Bertamu ke rumah orang Turki bersama beberapa pelajar perempuan asal Indonesia di Izmir.
3. Bertamu dan menginap di rumah salah satu teman perempuan asal Indonesia di Izmir dan membuat beberapa makanan khas Indonesia. Salah satunya cimol; yang pada dasarnya hendak membuat klepon namun jadinya justru cimol.
4. Mengunjungi Istanbul

Sepertinya itu saja sih poin-poinnya. Sisanya, mendekam di asrama. Tapi yang akan saya bahas di postingan ini merupakan kegiatan saya mengunjungi Istanbul.

Dimulai pada tanggal 28 Januari 2015, saya diantar oleh Hida, Mba Piping dan Teh Erna pergi ke Izmir Otogar dengan dolmus dari Stasiun Bornova Metro. Lalu menumpang bus Uludag jurusan Istanbul sekitar pukul 22.00 EET seorang diri. Tidak seorang diri juga sih karena bus tentu saja penuh; penuh orang Turki. ._.

Berkaca dari bus yang saya tumpangi, di sini sangatlah nyaman. Pertama, tidak seperti di Indonesia, sistem kursi di bus sini adalah perempuan dengan perempuan dan laki-laki dengan laki-laki. Sedangkan di Indonesia, campur. Kedua, terdapat televisi pada setiap tempat duduk. Ketiga, terdapat kondektur merangkap pramugara yang selalu siap sedia menyediakan aneka minuman dan kue ringan. Sayangnya, ketika berangkat ke Istanbul, yang saya lakukan hanyalah tidur. Saya mendengar bahwa Izmir-Istanbul adalah 8 jam dengan bus sehingga saya menyenyakkan diri. Naas, saya yang harusnya turun di Harem Otogar di Istanbul Asia justru kebablasan sampai ke Esenler Otogar di Istanbul Eropa. Ceritanya, sadar-sadar bus saya sudah melintasi selat Bosphorus. Ya, saya ketiduran sampai ke Eropa. Padahal, teman yang hendak menjemput saya tinggal di Istanbul Asia. Saya merepotkan dia sekali karena dia harus perjalanan jauh menjemput saya ke Istanbul Eropa.

Akhirnya, saya tiba di Esenler Otogar hampir pukul 06.00 EET pada tanggal 29 Januari 2015. Masih belum adzan subuh; masih gelap. Saya mikir keras, dimana saya harus menunggu teman saya datang menjemput. Apalagi asrama teman saya tersebut terletak di Istanbul Asia. Untung ada Marmaray a.k.a kereta bawah laut yang cepat. Alhamdulillah, ketika saya mendengar suara adzan, kontan saya langsung berhambur mencari masjid terdekat. Rumah Allah adalah tempat paling aman, sekaligus saya juga harus menunaikan shalat subuh.

Setelah shalat subuh, saya menunggu matahari terbit terang benderang di dalam masjid. Saya mencoba mencari colokan karena baterai handphone saya sudah hampir habis namun tak ada. Akhirnya setelah agak siang, saya memutuskan untuk ke luar masjid dan sarapan seraya tidak lupa, terlebih dahulu memotret beberapa bagian masjid.

1
Baca lebih lanjut