Ketiduran Sampai ke Eropa

Turki merupakan negara dua benua yang memiliki 4 musim. Yaitu musim semi, panas, gugur dan dingin. Pertama kali menginjakkan kaki di Turki, saya disambut oleh musim gugur dimana angin berhembus sepoi-sepoi. Sejuk. Kini Turki sedang musim dingin. Sekolah libur selama satu bulan pada umumnya. Namun di kelas bahasa saya, Ege Universitesi Turk Dunyasi Arastirmalari Enstitusu, hanya dua minggu saja yaitu mulai 17 Januari-1 Februari 2015. Lalu, apa yang saya lakukan selama liburan berlangsung?

1. Berkumpul bersama PPI Izmir untuk melakukan pemungutan suara ketua PPI Turki 2015/2016.
2. Bertamu ke rumah orang Turki bersama beberapa pelajar perempuan asal Indonesia di Izmir.
3. Bertamu dan menginap di rumah salah satu teman perempuan asal Indonesia di Izmir dan membuat beberapa makanan khas Indonesia. Salah satunya cimol; yang pada dasarnya hendak membuat klepon namun jadinya justru cimol.
4. Mengunjungi Istanbul

Sepertinya itu saja sih poin-poinnya. Sisanya, mendekam di asrama. Tapi yang akan saya bahas di postingan ini merupakan kegiatan saya mengunjungi Istanbul.

Dimulai pada tanggal 28 Januari 2015, saya diantar oleh Hida, Mba Piping dan Teh Erna pergi ke Izmir Otogar dengan dolmus dari Stasiun Bornova Metro. Lalu menumpang bus Uludag jurusan Istanbul sekitar pukul 22.00 EET seorang diri. Tidak seorang diri juga sih karena bus tentu saja penuh; penuh orang Turki. ._.

Berkaca dari bus yang saya tumpangi, di sini sangatlah nyaman. Pertama, tidak seperti di Indonesia, sistem kursi di bus sini adalah perempuan dengan perempuan dan laki-laki dengan laki-laki. Sedangkan di Indonesia, campur. Kedua, terdapat televisi pada setiap tempat duduk. Ketiga, terdapat kondektur merangkap pramugara yang selalu siap sedia menyediakan aneka minuman dan kue ringan. Sayangnya, ketika berangkat ke Istanbul, yang saya lakukan hanyalah tidur. Saya mendengar bahwa Izmir-Istanbul adalah 8 jam dengan bus sehingga saya menyenyakkan diri. Naas, saya yang harusnya turun di Harem Otogar di Istanbul Asia justru kebablasan sampai ke Esenler Otogar di Istanbul Eropa. Ceritanya, sadar-sadar bus saya sudah melintasi selat Bosphorus. Ya, saya ketiduran sampai ke Eropa. Padahal, teman yang hendak menjemput saya tinggal di Istanbul Asia. Saya merepotkan dia sekali karena dia harus perjalanan jauh menjemput saya ke Istanbul Eropa.

Akhirnya, saya tiba di Esenler Otogar hampir pukul 06.00 EET pada tanggal 29 Januari 2015. Masih belum adzan subuh; masih gelap. Saya mikir keras, dimana saya harus menunggu teman saya datang menjemput. Apalagi asrama teman saya tersebut terletak di Istanbul Asia. Untung ada Marmaray a.k.a kereta bawah laut yang cepat. Alhamdulillah, ketika saya mendengar suara adzan, kontan saya langsung berhambur mencari masjid terdekat. Rumah Allah adalah tempat paling aman, sekaligus saya juga harus menunaikan shalat subuh.

Setelah shalat subuh, saya menunggu matahari terbit terang benderang di dalam masjid. Saya mencoba mencari colokan karena baterai handphone saya sudah hampir habis namun tak ada. Akhirnya setelah agak siang, saya memutuskan untuk ke luar masjid dan sarapan seraya tidak lupa, terlebih dahulu memotret beberapa bagian masjid.

1

2

3

Ketika hendak selfie di depan masjid, saya mendengar seseorang memanggil nama saya. Alangkah senangnya hati. Dien menemukan saya hanya dengan insting. Bagaimana ceritanya? Teman saya dari Istanbul ini ceritanya sedang tiada pulsa, lalu baterai saya habis sehingga kami tidak berhubungan. Sebelumnya saya sudah bilang sih ke Dien, bahwa saya menunggunya di masjid di Esenler Otogar. Namun itu adalah pertama kalinya Dien pergi ke otogar tersebut. Alhamdulillah tidak nyasar dan kami bertemu.

Selanjutnya yang kami lakukan adalah membeli kartu transportasi di Istanbul seharga 6 TL dan mengisinya. Jika dibanding Izmir, transportasi di Istanbul lebih mahal. Tentu saja. Tapi tak apalah. Ini waktunya berlibur.

Kami mencari pide untuk sarapan dengan menyusuri jalan, namun tak kunjung menemukan sehingga kami memutuskan untuk langsung saja menuju kawasan Sultan Ahmet untuk melihat Hagia Sophia, Blue Mosque dan juga Istana Topkapi.

Yang pertama adalah Hagia Sophia. Hagia Sophia adalah sebuah bangunan bekas basilika, masjid, dan sekarang museum. Saat Konstantinopel ditaklukkan Sultan Mehmed II pada hari Selasa 27 Mei 1453 dan memasuki kota itu, Mehmed II turun dari kudanya dan bersujud syukur kepada Allah, lalu pergi ke Gereja Hagia Sophia dan memerintahkan mengubahnya menjadi masjid yang dikenal dengan Aya Sofia. Berbagai modifikasi terhadap bangunan segera dilakukan agar sesuai dengan corak dan gaya bangunan mesjid. Pada masa Mehmed II (1444-1446 dan 1451-1481) dibuat menara di selatan. Selim II (1566-1574) membangun 2 menara dan mengubah bagian bangunan bercirikan gereja. Termasuk mengganti tanda salib yang terpampang pada puncak kubah dengan hiasan bulan sabit. Lantas selama hampir 500 tahun Hagia Sophia berfungsi sebagai mesjid. Patung, salib, dan lukisannya sudah dicopot atau ditutupi cat.

Pada tahun 1937, Mustafa Kemal Atatürk mengubah status Hagia Sophia menjadi museum. Mulailah proyek “Pembongkaran Hagia Sophia”. Beberapa bagian dinding dan langit-langit dikerok dari cat-cat kaligrafi hingga ditemukan kembali lukisan-lukisan sakral Kristen. Sejak saat itu, Gereja Hagia Sophia dijadikan salah satu objek wisata terkenal oleh pemerintah Turki di Istanbul. Untuk lebih jelasnya, klik di sini.

Untuk masuk ke sana, dibutuhkan kartu museum bernama muzekart. Andaipun tak ada, cukup membayar tunai. Tapi saya kurang tahu harga tepatnya. Misal ke Ephesus di Izmir saja 20 TL, mungkin sekitar itu. Lumayan mahal, memang. Buat beli simit, dapat 20 buah. Hehe. Tapi tidak rugi kok, dibayar dengan keindahannya.

6

7

9

10

11

12

4

Yang kedua adalah Blue Mosque yang letaknya tepat berada di depan Hagia Sophia. Namun tentu saja jaraknya lumayan jauh jika ditempuh dengan kaki. Untuk masuk ke sini, gratis. Namun ketika jam shalat, ditutup, tentu saja. Blue Mosque atau yang juga dikenal dengan sebutan Sultanahmet Camii merupakan masjid yang dibangun antara tahun 1609 dan 1616 atas perintah Sultan Ahmed I, yang kemudian menjadi nama masjid tersebut. Ia dimakamkan di halaman masjid. Masjid ini terletak di kawasan tertua di Istanbul, di mana sebelum 1453 merupakan pusat Konstantinopel, ibukota Kekaisaran Bizantin/Bizantium. Mengapa disebut Blue Mosque? Karena warna cat interiornya didominasi warna biru. Akan tetapi cat biru tersebut bukan merupakan bagian dari dekor asli masjid, maka cat tersebut dihilangkan. Sekarang, interior masjid ini tidak terlihat berwarna biru. Untuk lebih jelasnya, klik di sini.

13

14

15

16

17

18

Yang ketiga adalah Istana Topkapi. Untuk masuk, cukup menggunakan muzekart juga. Istana Topkapi adalah istana di Istanbul, Turki, yang merupakan kediaman resmi Sultan Utsmaniyah selama lebih dari 600 tahun (1465-1856). Lebih lengkapnya, klik di sini. Berada di istana ini, terasa sekali nuansa klasiknya.

19

20

21

22

Mengunjungi istana ini benar-benar mengingatkan saya akan keraton Yogyakarta. Memang sih keduanya merupakan hal yang berbeda. Namun tata letak bangunan utama dan sebagainya, mirip-mirip. Sayangnya, kami tidak boleh memotret bagian dalam istana ini karena memang wah sekali. Juga demi keamanan, sepertinya. Dalamnya berkilauan.

Yang terakhir untuk hari itu adalah Warung Malaysia. Karena perut kami berdua sudah sangat keroncongan meski tadi sempat makan jagung di kawasan Sultan Ahmet.23

24

Kami memesan nasi goreng, nasi lemak, teh tarik dan juga pastel. Nyum nyum. Itulah hari pertama saya di Istanbul.

DSCN2840

Sampai jumpa di postingan berikutnya!

Iklan

12 thoughts on “Ketiduran Sampai ke Eropa

  1. Ping-balik: Mengunjungi Saudara Istana Buckingham di Timur Tengah | Naelil The Climber

  2. Ping-balik: Hari Terakhir Jalan-Jalan di Istanbul | Naelil The Climber

  3. Ping-balik: Liburan Musim Panas di Turki – Naelil The Climber

  4. “Hamdim, Pistim, Yandim” karya Ayun Qee paling berkesan di hati saya. Cieee… Gahgahgah 😀

    Lalu, Shema : tarian cinta yang hilang: whirling dervish dance buah karya Zhaenal Fanani tak kalah keren.

    Hanya saja, karya Ayun Qee lebih saya sukai. Mungkin karena tokoh utamanya orang Indonesia. Gahgahgah 😀

    Dua-duanya twist ending. Rancak bana deh! ^^

    Sukses, ya, Mbak! ^^

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s