Jangan Takut untuk Merantau!

Entah kenapa, saya tiba-tiba teringat akan hari pertama menginjakkan kaki di Turki. Dengan mata di antara sadar dan tidak alias merem melek, kami diangkut dari landasan pendaratan pesawat hingga ke indoor bandara Istanbul Eropa. Maklum, setelah perjalanan semalam suntuk, rasanya jiwa dan raga masih merasa aneh. Di dalam pesawat, saya habiskan dengan tidur, makan dan mendengar/menonton sesuatu. Jika tidak begitu, mengecek sampai manakah pesawat kami meluncur. Rasanya, masih seperti mimpi melintasi berbagai negara. Jika bisa, pengin terjun ke beberapa negara dan menjelajahinya dahulu sebelum sampai ke Turki.

Di bandara, rombongan kami berkerumun mencari petunjuk kemanakah kaki harus melangkah. Maklum, masih jetlag. Akhirnya, kami menemukan stand YTB (Turkiye Burslari). Di sana, kami lapor diri. Ada kejadian manis nih di sini. Sebelum kami diberikan merchandise Turkiye Burslari berupa tas dan buku catatan, kami mengantre pada petugas yang bertugas mengecek berkas-berkas penting kami. Salah satu petugasnya, mirip sekali dengan Harry Styles; rambut keriting dengan bentuk rahang sedikit lonjong. Fangirling alert! Ketika saya meluncur ke petugas tersebut, bersamaan dengan seorang teman laki-laki dari Afrika. Harry Styles KW 2 tersebut bilang, “Ladies first,” sambil tersenyum dan segera melayani saya terlebih dahulu. Ketika mengecek berkas, Harry Styles KW 2 tersebut mengucap, “Perfect!” seraya memberitahu saya untuk menuju ke stand sebelah untuk mengambil merchandise. Alhamdulillah, jet lag saya pun hilang. Hihi. Lumayan menambah keoptimisan saya terhadap negerinya Sultan Muhammad Al-Fatih ini lah. Artinya, mungkin orangnya ramah-ramah.

Selanjutnya, rombongan dengan tujuan kota sama, dibimbing petugas untuk check in. Tahu tidak? Rombongan saya dan teman-teman menuju ke pesawat menggunakan angkutan terakhir. Tidakkk! Nyaris saja kami terlambat. Di pesawat, kami kembali merasa damai karena disuguhi sarapan dan hiburan. Dalam perjalanan yang menghabiskan kurang lebih 14 jam ini, kita sudah disuguhi 3 macam makanan besar loh mulai dari makan malam, makan tengah malam dan sarapan di samping makanan ringan lainnya. Sip kan? Turkish Airlines :p

Semendaratnya kami di kota Izmir, yang pertama kali kami lakukan adalah mengambil barang berupa koper dan meluncur ke toilet untuk bersih diri. Selepas itu, kami keluar bandara dan taraaa… sudah ada perwakilan YTB dan kakak-kakak terdahulu yang menjemput dan membantu kami menggiring barang-barang bawaan. Superlah PPI Izmir!

Di dalam mobil, yang saya rasakan adalah campur aduk antara exited dan anxious. Exited karena untuk pertama kalinya menginjakkan kaki di Turki dan akan berada di sini untuk jangka yang lumayan panjang. Penasaran dengan betapa seru dan berbedanya budaya Turki bersama teman-teman baru dari berbagai penjuru dunia. Anxious karena…ini konyol, tapi saya takut jika saya gagap bicara. Apakah bahasa Inggris saya sudah cukup sebagai bekal komunikasi dengan lainnya? Bisakah saya berkomunikasi dengan menggunakan bahasa alien dalam kehidupan sehari-hari? Bisakah saya belajar bahasa Turki dengan cepat?

Melihat jajaran orang dengan wajah berbeda di jalanan saja sudah membuat saya bergidik. Ini bule semua lho. Saya bakal nggak lihat barisan pengendara motor yang beragam seperti pedagang sayuran, cilot ataupun makhluk pencari ilmu yang berseragam.

Yang pertama kali lakukan adalah mendaftar asrama dan registrasi di kampus beserta makan siang. Pada makan siang inilah saya kembali dilanda kegalauan apakah saya sanggup memakan makanan seperti itu setiap hari? Kebetulan waktu itu, teman-teman memesan makanan sejenis Doner di Antakya Doner, Bornova, Izmir. Tapi Alhamdulillah, justru sebaliknya, makanan di sini enak-enak kok. Baik di asrama, kampus ataupun di luar keduanya. Dan jangan khawatir bagi pecinta nasi karena akan terdapat nasi yang lezat setiap siang/sore/malam sebagai salah satu menu pilihan di asrama, meski paginya cuma makan sejenisan roti. Tapi beragam kok, jangan khawatir! Apalagi pecinta ayam petok-petok, maknyus!

Membicarakan keberadaan di sini, ada beberapa hal yang saya sukai. Salah satunya adalah ketika saya pulang sendirian dari sekolah bahasa dan bertemu kawan, lalu mengobrol sampai ke asrama; dan cuma berdua saja. Kenapa? Kalau bertiga, obrolannya kurang efektif. Senangnya lagi, setiap pulang sendirian, pasti memperoleh teman mengobrol dari negara-negara yang berbeda. Dulu saya pikir, akan sulit mengobrol dengan teman-teman Internasional. Tapi, semuanya memang butuh waktu. Alhamdulillah. Misalnya, hari ini bersama calon sarjana dari Ethiopia. Tepat kemarin, dengan kakak calon PhD dari Lebanon. Kemarin ngobrol menggunakan bahasa Inggris dengan bahasan kehidupan sosial di kampus, asrama hingga ngalor-ngidul ke arti nama saya. Kebetulan seperti yang teman ketahui bahwa Lebanon berbahasa Arab dan nama saya diambil dari bahasa tersebut. Kalau hari ini, ngobrol mengenai bahasa Turki dan teman-teman di sekolah menggunakan bahasa Turki dan sedikit Inggris karena… saya baru tahu (sebenarnya sudah sejak awal masuk sekolah bahasa di Turki sih) kalau Ethiophia ternyata berbahasa ibu 2, bahasa sana dan bahasa Inggris British. Hari ini, kami sepayung berdua, lagi, sehingga meskipun hujan, obrolannya terasa hangat. Haha.

Di samping itu, biasanya saya dan teman ngobrol saya akan membahas mengenai kebudayaaan di negara kita, part-time job, beasiswa, mimpi masa depan, bahasa Turki, teman asrama, makanan, politik, resiko bolos kuliah di Turki hingga obrolan nggak jelas yang nggak perlu saya tulis di sini. Hehe.

Inilah yang terkadang sangat saya syukuri dan menyarankan teman untuk berbaur dengan teman-teman dari negara lain. Entah kenapa, saya merasa bahwa pikiran saya menjadi lebih terbuka alias open-minded dan tidak lagi merasakan senioritas. Dulu semasa SMA, paling, ngobrol juga sama teman-teman sebaya yang nyambung. Tapi sekarang, berbincang dengan kakak PhD, master maupun sarjana terasa menyenangkan. Merasa mendapat banyak sekali pelajaran, plus tambah teman. Dan mereka pun tidak menganggap kita seperti adik yang harus patuh. Mungkin ini juga efek bertukar pikiran dalam diskusi kelas yang sering kami lakukan di kelas bahasa di mana misalnya, di kelas saya, berasal dari kalangan berbeda-beda. Lengkap loh, ada yang dari benua Asia, Afrika, Amerika dan Eropa. Kecuali Australia doang. Mereka pun sedang perjalanan menuju S1, S2, S3 ataupun hanya berminat belajar bahasa Turki.

Setelah curhat ngalor-ngidul, sebenarnya apasih yang ingin saya sampaikan?

Merantaulah, kejar citamu sampai ke Inggris :p karena dalam perjalananmu menuju salah satu mimpi tinggimu, akan ada banyak pengalaman yang dapat dicecap. Mungkin, awalnya memang akan terasa berat dan susah. Namun seiring berjalananya waktu, dengan keteguhan hati, pasti kesulitan akan terlampaui dan kemudahan akan mendatangi.

Ini bukan bermaksud mengatakan bahwa tidak baik untuk sekolah di Indonesia. Tentu saja baik. Tahu sendiri kan bahwa beberapa universitas di Indonesia masuk 500 besar ranking universitas dunia? Meski rangking itu bentuknya relatif, dilihat dari apanya dulu.

Pada intinya sih, merantaulah!

Iklan

12 thoughts on “Jangan Takut untuk Merantau!

  1. Melihat anak anak muda yang sudah merantau ke negeri orang terlebih dg beasiswa selalu membuat saya iri. Mudah mudahan anak anak saya setelah lulus sma bisa meneruskan study di luar negeri juga.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s