Apakah Kamu Yakin Sudah Mengenal Dia dengan Baik?

Kenal.

Apa sih maksudnya? Apakah sekedar tahu nama dan wajah tanpa si sosok tersebut mengenal kita? Contoh: Saya kenal Taylor Swift tapi Taylor Swift tidak mengenal saya. Apakah hal tersebut dapat disebut sebagai kenal? Itu merupakan definisi kenal, pertama, menurut saya. Yang kedua, apakah kenal itu artinya berteman, satu sama lain harus saling mengenal? Ya, walaupun sekedar tahu nama dan muka. Yang ketiga, apakah harus benar-benar kenal luar-dalam, baik fisik ataupun jiwanya? Maksudnya, sebagaimana ibu mengerti bahwa kita lapar tanpa kita perlu berkata. Cukup dilihat dari gerak-gerik kita saja. Karena sudah hafal.

Kamis lalu (16/04), pada ekstra kelas, hoca (guru) memberi pertanyaan kepada masing-masing dari kami mengenai intropeksi diri. Hal ini membuat saya berpikir  lama, mengingat bagi saya, cukup sulit untuk menyebut sikap baik dan kurang baik diri sendiri secara objektif. Karena saat itu  banyak siswa yang menghadiri ektra kelas dan waktu tidaklah banyak, saya merasa  lega karena saya tak kunjung ditunjuk oleh sang hoca. Eh… pada detik-detik ketika hanya tersisa 3-4 siswa terakhir, hoca menyebut, “Kucuk Hanim” dengan pandangan mata ke arah saya. Kontan saya menjawab, “Ben mi?” (Saya?) karena masih shock baik dengan “nama” yang diberikan kepada saya hari itu maupun karena belum siap menjawab. “Evet, sen,” (Iya, kamu.) jawab beliau sambil tersenyum.

Saya menyebut beberapa hal. Salah satunya adalah bahwa saya tipe orang yang lumayan sulit untuk berkenalan dengan orang baru. Setelah saya selesai berbicara, seorang teman dari republik kecil di sekitar Rusia yang saya lupa nama republiknya, menimpali bahwa dia setuju dengan apa yang saya katakan. Menurutnya, semua dari kita tidak ada yang bisa dengan mudah mengenal orang lain. Kita butuh waktu. Padahal, maksud saya bukan begitu. Untuk mengenal orang, semuanya memang membutuhkan waktu. Namun, saya tipe orang yang susah untuk memulai perkenalan. Begitu maksud saya.

Pulang sekolah, kami kebetulan searah sehingga memutuskan untuk berjalan bersama-sama. Dia membuka percakapan mengenai diskusi di kelas tadi. Saya menambahkan contoh bahwa misalnya saja terdapat beberapa orang yang mudah tersinggung dan blak-blakkan. Kedua tipe berbeda itu akan berbeda pula reaksinya jika dilempar candaan. Pada pertemuan pertama, tentu saja susah untuk membedakan mana tipe yang mudah tersinggung dan tidak.

Lalu kami berlanjut membahas negara. Dia bilang, di negaranya adalah 100% muslim. Letaknya di sekitaran Rusia. Berupa republik kecil. Sayang sekali, saya lupa namanya. Memalukannya, saya ngeyel, “Itu negara atau kota di Rusia?” dan diapun sekali lagi menegaskan, “Negara.” Mungkin, saat itu saya sudah lelah, kawan.

Membahas mengenai perkenalan, saya jadi teringat salah satu peristiwa. Pada suatu permainan tebak jawaban, 4 grup pemain bersekongkol untuk bercanda dengan sang pemberi pertanyaan. Aturannya, grup yang kalah akan memperoleh hukuman berupa olesan bedak di pipi masing-masing anggotanya oleh grup yang menang. Namun, pada akhir permainan, beberapa pemain justru mengeroyok pemberi pertanyaan dan mengolesi pipinya dengan bedak. Otomatis, sang pemberi pertanyaan marah besar. Sangat marah besar hingga memutuskan untuk mengakhiri kegiatan. Padahal, niatnya hanya bercanda. Namun, efeknya fatal. Padahal, pemberi pertanyaan dan para pemain sudah mengenal cukup lama. Hampi tiga tahun, mungkin? Bukankah harusnya sudah paham tipe orang seperti apa sang pemberi pertanyaan tersebut? Rupanya mereka tidak begitu saling mengenal. Jika sudah begini, solusinya apa? Nggak boleh bercanda? Cukup bersikaplah ramah dan berpikir positif kepada semua orang. Memang, tidak semua orang itu baik. Ada juga tipe yang suka menyalahgunakan kebaikan orang lain. Tapi, urusan balas-membalas itu urusan Allah SWT. Ya, tahu…. Ngomong emang gampang sih. Hehe

Jadi intinya, saya saja, bisa jadi tidak begitu mengenal teman-teman lama saya. Sudah berteman lama, ketika suatu peristiwa terjadi padanya, masih saja kaget. “Kok dia bisa begitu ya?”

Menurut saya, tidak ada orang yang 100% mengenal orang lain sebelum orang tersebut masuk tepat di bawah kulit orang yang hendak dikenali tersebut. Seperti pepatah pada novel To Kill A Mockingbird, “Kau tak akan pernah mengenal sesorang sampai kau berada dalam posisinya dan mencoba menjalani hidupnya.”

Jadi, apakah kamu yakin sudah mengenal teman-temanmu dengan baik?

Iklan

4 thoughts on “Apakah Kamu Yakin Sudah Mengenal Dia dengan Baik?

  1. saya juga sama, susuh untuk akrab sama orang yang baru kenal, biasanya butuh waktu untuk akrab dengan teman baru gitu. . . tapi kalau sering bareng biasanya lebih cepat akrab

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s