Berdagang Mukena di Turki? Kenapa Tidak?

Sudah siapkah menyambut datangnya bulan suci Ramadhan? Bagi bocah rantau seperti saya, kedatangan Ramadhan membuat benak saya berkicau penasaran mengenai keseruan melewati bulan suci Ramadhan di tanah rantau. Belum lagi, lebaran di tanah rantau dimana jauh dari keluarga dan saudara. Alhamdulillahnya, masih diberikan kesempatan untuk memiliki saudara-saudari seperjuangan di sini.

Membicarakan mukena, mengingatkan saya pada bulan September 2014 lalu dimana saya sibuk memilah dan memasukkan barang ke koper untuk saya bawa ke Turki. Karena saya belum tahu medan Turki, saya dan teman-teman pelajar Indonesia yang akan pergi ke Turki di tahun yang sama pun berdiskusi mengenai barang-barang yang sebaiknya dibawa dan tidak dibawa.

Telusup punya telusup, saya mendengar kabar bahwa orang Turki melakukan shalat tanpa menggunakan mukena. Namun hanya mengenakan pakaian panjang seadanya. Hal ini mengingatkan saya akan seorang saudari yang sempat melakukan pertukaran pelajar ke Jepang. Katanya, di sana ia shalat tanpa mengenakan mukena. Cukup pakaian panjang saja.

Saya kembali mendengar kabar bahwa mukena itu, cuma Indonesia yang punya. Masa sih?

Jadi, saya hanya membawa satu mukena Bali. Karena selain ringan dan dingin ketika dipakai, motifnya pun terlihat manis. Nah, sesampainya saya di Jakarta, yaitu beberapa hari menjelang keberangkatan ke Turki, saudara saya di sana memberi saya sebuah mukena parasit dan “beberapa barang lainnya”. Keberadaan “beberapa barang lainnya” inilah yang menyebabkan koper saya terasa semakin sesak. Kita memang memperoleh jatah barang bawaan seberat 40kg. Tapi, saya ogah dong bawa-bawa barang seberat itu sendirian. Seleksi punya seleksi, berat akhir koper saya adalah 23kg. Yay!

Sayangnya, karena telah mendapatkan mukena parasit dan berpikir bahwa di Turki sudah umum untuk shalat tanpa mengenakan mukena, saya meninggalkan mukena Bali yang sudah saya siapkan. Secara, ukuran mukena parasit lebih kecil dengan berat yang lebih ringan.

Sesampainya di Turki, apa yang terjadi? Meskipun memang benar adanya bahwa perempuan Turki shalat tanpa mengenakan mukena dan hanya mengenakan pakaian panjang, saya merasa lebih nyaman mengenakan mukena.

Sehingga, kemanapun saya pergi, mukena parasit tersebut tidak luput dari tas saya mengingat di setiap masjid dan mushola di Turki, hanya terdapat rok panjang, cardigan dan kerudung persegi. Bukan mukena. Akhirnya, baru beberapa bulan di Turki, mukena parasit saya sudah sobek-sobek. Huhuhu.

Waktu itu saya sempat bingung dan khawatir. Dimana saya bisa membeli mukena? Sedangkan saya telah memutuskan untuk tidak pulang ke Indonesia tahun ini. Apakah saya perlu minta tolong teman Afghanistan saya untuk dibelikan mukena dari negaranya?

Ya, ternyata, terdapat mukena juga dari beberapa negara. Beberapa teman perempuan saya dari Afghanistan, Somalia dan Suriah tampak mengenakan pakaian shalat sejenis mukena.

Alhamdulillah, seorang teman kawan saya pulang ke Indonesia pada liburan musim dingin Januari lalu. Saya pun segera meminta tolong untuk dibelibawakan mukena Bali. Daripada titip teman dari negara lain, lebih baik titip teman dari negara sendiri, kan?

Setelah saya kembali dapat mengenakan mukena Bali, rasanya bahagia sekali. Tapi di masa itu, saya sudah mulai terbiasa untuk shalat tanpa mengenakan mukena jika berada di luar asrama. Sehingga, mukena Bali tersebut hanya saya kenakan ketika berada di dalam asrama.

Suatu ketika, salah seorang teman Turki memuji mukena saya. Katanya, bagus. Eh, beberapa teman yang lain pun tiba-tiba berdatangan untuk memuji mukena tersebut. Wedehhh! Bahkan, teman Turki dan Afghanistan saya bertanya mengenai harga mukena tersebut. Rupanya, mereka berminat. Kata teman Turki saya, “Kalau harganya murah, saya mau beli juga dong.” Kurang lebih begitu. Hal ini menyebabkan saya memperoleh pikiran untuk berdagang mukena di Turki. Mungkin kita bisa kerja sama, Mbak Arinta? Huehe. Karena, jika saya perkirakan, harga mukena di Indonesia jika ditukar ke mata uang Turkish Lira adalah seharga gamis Turki, bahkan sangat bisa jadi lebih murah.

Itulah salah satu cerita saya dan mukena.

Intinya, kemanapun perginya, jangan lupa bawa alat shalat.

“Tulisan Ini Diikutkan dalam Giveaway Menyambut Ramadhan”

Iklan

6 thoughts on “Berdagang Mukena di Turki? Kenapa Tidak?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s