Nilai Kehidupan : Perlakukan Orang Lain Sebagaimana Kamu Ingin Diperlakukan

Entah kenapa, akhir-akhir ini, topik di kelas rasanya terlalu menarik untuk dilewatkan. Salah satunya adalah sebuah bacaan mengenai akhlak yang ditulis oleh Nurullah Ataç. Dengan kemampuan terbatas, saya mencoba menerjemahkan bacaan dalam bahasa Turki tersebut ke dalam bahasa Indonesia. Jadi, mungkin kedengarannya akan sedikit aneh. Hehe

Akhlak

Anda harus memperlakukan orang lain sebagaimana Anda ingin diperlakukan.

Menurut saya, “Anda harus memperlakukan orang lain sebagaimana Anda ingin diperlakukan,” adalah sebuah komponen dasar akhlak. Dapatkah Anda mengabaikan perintah tersebut? Coba Anda renungkan. Namun Anda tidak perlu khawatir mengingat Anda adalah makhluk yang berakhlak. Tidak seorang pun yang berhak mengatakan bahwa Anda tidak berakhlak. Anda tidak membunuh seseorang. Artinya, Anda tidak mengganggu siapapun.

Anda harus memperlakukan orang lain sebagaimana Anda ingin diperlakukan… Tampaknya memang mudah. Padahal, praktiknya sama sekali tidak mudah. Kebanyakan aturan meneriakkan, “Akhlak, akhlak …” Keberadaan aturan tersebut membuktikan bahwa perintah di atas sama sekali tidak mudah untuk dilakukan. Anda tidak bisa memperlakukan orang lain suatu hal dimana Anda juga berharap agar suatu hal tersebut tidak terjadi kepada Anda. Maksudnya, jika Anda memposisikan diri sebagai orang tersebut, Anda tidak akan menjadi egois. Sama seperti daging dan tulang Anda, dia pun juga memiliki daging dan tulang. Anda akan dapat merasakan emosi yang juga dia rasakan. Sayangnya, hal tersebut tidak cukup. Ada beberapa hal yang Anda tidak harapkan terjadi kepada Anda, Anda pun tidak akan melakukan hal-hal tersebut kepada siapapun. Sekali lagi, ini pun tidak cukup. Bisa jadi, dia memiliki beberapa hal lain yang tidak dia harapkan terjadi kepadanya. Namun hal-hal tersebut justru Anda inginkan keberadaannya. Jika Anda memposisikan diri sebagai dia, Anda akan memahami emosinya dan dapat meresapi apa yang dia rasakan. Jika sudah demikian, Anda tidak akan memperlakukan beberapa hal tersebut kepadanya.

Anda memang tidak akan melakukannya. Tapi, sekedar tidak melakukannya pun tidak cukup jika Anda tidak peduli pada perlakuan buruk orang lain kepadanya. Yakni, jika Anda mengatakan, “Saya tidak memiliki urusan dengan mereka.” Artinya, Anda tidak serius memposisikan diri sebagai dia. Artinya, Anda tidak menginginkan hal tersebut terjadi kepada Anda, namun Anda justru memperlakukan hal tersebut kepada orang lain. Karena jika Anda tidak bersikap adil seperti itu, ketika hal buruk tersebut menimpa Anda, orang lain pun akan memperlakukan Anda sebagaimana Anda memperlakukan orang lain tersebut. Di dalam kehidupan bermasyarakat di dunia ini, bisa jadi Anda akan tinggal sebatang kara. Jika begitu, sekedar dengan Anda tidak melakukan suatu hal yang tidak Anda harapkan untuk terjadi kepada Anda, belum berarti cukup. Anda harus mencoba menghadapi masalah yang keluar dan membantu mengurangi penderitaannya.

Akhlak, bukan hanya sekedar untuk memerangi kejahatan. Namun juga untuk melakukan kebaikan. Yakni, diharapkan juga untuk mencegah terjadinya kejahatan.

Manusia, dimanapun itu, memiliki empati dan kepedulian terhadap hal-hal buruk yang menimpa siapapun. Apakah mereka sedih terhadap orang-orang yang ditimpa keburukan? Tidak, mereka justru merasa sedih terhadap orang-orang yang melakukan kejahatan. Anda harus memperlakukan orang lain sebagaimana Anda ingin diperlakukan. Apakah Anda ingin menjadi jahat? Menjadi seseorang yang tidak mempedulikan keburukan yang menimpa orang lain. Keburukan yang menimpanya akan menjadi seolah-olah Anda yang melakukannya, Anda tidak bisa memberikan empati dan rasa peduli karena seolah-olah Anda yang melakukan kejahatan itu sendiri.

Nurullah Ataç

Bener, nggak? Kalau nggak mau orang lain berbuat buruk kepadamu, ya jangan berbuat buruk ke orang lain. Sama halnya kalau mengharapkan kebaikan dari orang lain, berbuat baiklah kepada orang lain.

Karena apapun yang kita lakukan di masa kini, kelak pada suatu masa, akan berbalik kepada diri kita sendiri 🙂

Misalnya nih, kita duduk di dalam kereta api dengan posisi berhadapan. Salah satu dari dua orang di depan kita itu sedang tertidur. Satu lainnya, mencoba untuk mencuri barang-barang berharga yang berada di dalam tas orang yang tertidur. Kita melihatnya nih. Menurut teman-teman, kita perlu nggak, bangunin orang di depan kita? Setidaknya, berusaha mencegah terjadinya kejahatan. Tapi, bisa jadi penjahat tersebut punya anggota lain yang ikut memantau di dalam kereta. Nggak takut tuh? Tapi kalau nggak kita cegah, kasihan kan, orangnya? Coba bayangkan kalau kita ada di posisi dia. Misalnya nih, pas mudik lebaran, pergi bawa banyak oleh-oleh, baik berupa uang saku ataupun barang-barang berharga ke kampung halaman. Eh, di tengah perjalanan, kecopetan. Nyesek kan?

Selain hal kurang baik, ada juga hal baik. Dimana kita menebar kebaikan, insya Allah di masa depan kita akan menuai kebaikan tersebut.

Nah, membicarakan komponen dasar akhlak untuk memperlakukan orang lain sebagaimana kita ingin diperlakukan, mengingatkan saya akan beberapa kondisi tertentu. Misalnya nih, ketika sedih, saya tidak suka ditanya-tanya atau bahkan dihibur. Dihibur boleh sih tapi lebih cenderung suka sendirian. Nggak ngapa-ngapain kok. Paling cuma berdiam diri untuk berpikir, mengurutkan kronologi peristiwa, lalu mencari celah untuk melihat hikmahnya. Karena saya ingin diperlakukan seperti itu ketika sedih melanda, saya pun memperlakukan teman saya yang sedih dengan demikian. Eh dianya justru makin ngambek. Katanya, dia maunya dipeluk ketika sedang sedih. Yah… saya kan nggak tahu. Maka dari itu, komponen dasar akhlak di atas tidak dapat diterima seutuhnya.

Ada beberapa tindakan yang kurang kita sukai, namun justru disukai oleh orang lain. Begitu juga sebaliknya.

Menurut teman-teman, bagaimana?

Iklan

3 thoughts on “Nilai Kehidupan : Perlakukan Orang Lain Sebagaimana Kamu Ingin Diperlakukan

  1. Ping-balik: Hidup dengan Komentar Orang Lain – Naelil The Climber

  2. Saya pernah mendasari berakhlak agar kita mendapatkan balasan yang sama dari orang lain. Mirip dengan “Anda harus memperlakukan orang lain sebagaimana Anda ingin diperlakukan.”

    Tetapi hal itu sering membuat saya kecewa terutama saat orang lain tidak membalas kebaikan yang pernah kita lakukan.

    Kalau pemahaman saya sekarang tentang akhlak adalah bahwa akhlak itu perintah dari Allah Swt. maka kita berakhlak baik semata-mata karena perintah Allah Swt. bukan atas pertimbangan ada manfaat atau mafsadat setelahnya.

    Saya juga pernah menulis tentang akhlak di blog. https://dhicovelian.wordpress.com/2014/11/05/mengapa-harus-berakhlak/

    Itu menurut saya. 🙂

    Disukai oleh 1 orang

  3. Ping-balik: Hidup dengan Komentar Orang Lain – Je-A-GE (Jurus anti galau)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s