[Resensi] Dwilogi Padang Bulan

Judul Novel : Dwilogi Padang Bulan: Padang Bulan dan Cinta di Dalam Gelas
Pengarang : Andrea Hirata
Penerbit : Bentang
Tahun Terbit : 2010
Cetakan : Cetakan II
Tebal Buku : xiv + 252 dan xiii + 264

PADANG BULAN menceritakan Enong yang bertekad untuk belajar bahasa Inggris dengan ikut kursus di Tanjong Pandan. Enong tahu, umurnya akan menjadi tantangan paling besar karena dia harus bersaing dengan anak-anak muda.

Sementara itu, Ikal terpukul oleh penolakan ayahnya. Cintanya kepada A Ling sudah bulat, namun ternyata ayahnya menolak mentah-mentah. Sementara, A Ling juga entah di mana. Akibatnya, Ikal merasa otaknya sedikit terganggu dan memutuskan untuk mencari pekerjaan ke Jakarta, menjadi pegawai berseragam yang memiliki uang pensiun seperti yang diinginkan ayah dan ibunya.

Tepat sebelum nakhoda kapal mengangkat sauh, Ikal berubah pikiran. Ada yang belum tuntas ia selesaikan. Ia harus kalahkan Zinar dalam tanding catur!

CINTA DI DALAM GELAS bertutur tentang tugas berat di pundak Ikal. Dia harus membantu Maryamah memenangkan pertandingan catur saat 17 Agustus nanti. Maryamah, yang menyentuh bidak catur saja belum pernah, harus mengalahkan juara catur selama dua tahun berturut-turut yang sekaligus juga mantan suaminya. Namun, lebih dari itu, jenis kelamin Maryamah menjadi tantangan berat untuk bisa mencebur ke dalam pertandingan penuh harkat bagi kaum lelaki ini.

————————————————————————-
Beberapa kutipan dari novel Padang Bulan :

Saban sore, selama musim hujan, seseorang memindahkan surga dari langit ke kampung kami.

Namun, bukankah adakalanya, menyerahkan diri pada godaan dan memelihara rahasia, menjadi bagian dari indahnya menjalani hidup ini?

Tak dapat dipungkiri, hal paling sinting yang mungkin dilakukan umat manusia di muka bumi ini sebagian besar berasal-muasal dari cinta.

Pepatah lama orang Melayu: nasihat Ibu bak suara Tuhan. Nasihat Ibu, sering meragukan awalnya, apa adanya, tak ilmiah, tak keren, tak penting, namun di ujung sana nanti, pendapat yang hakikat itu pastilah nasihat Ibu.

Jika kau terjun, terjunlah kau sendiri.

Sungguh ganjil rasa cemburu, sungguh berbeda rasa sakit nya. Di kepala, rasanya seperti disiram seember air es. Di mulut, rasanya seperti tergigit semut rambutan.

Ia mengunyah sirihnya dengan frekuensi yang lebih cepat. Aku tahu, jika begitu, ia sedang sedih. Namun, aku tak banyak cincong. Pandangan Ibu mengisyaratkan padaku bahwa perpisahan ini memang berat, tapi kau lelaki, dan jangan mengiba-iba. Merantau itu bagian dari tanggung jawabmu.

Sebagai orang yang harus membenci diri sendiri karena mencintai seseorang, nilainya sama dengan rasa sesal sebesar kepala yang dibelesakkan ke dalam tenggorokan.

Cinta, yang jika seluruh gunung di dunia ini digabungkan, masih akan lebih kecil darinya.

Lidah membuat dosa, semudah parang menampas pisang.

Pertemuan dengan seseorang mengandung rahasia Tuhan. Maka, pertemuan sesungguhnya adalah nasib. Orang tak hanya bertemu begitu saja, pasti ada sesuatu di balik itu.

Orang-orang itu telah melupakan bahwa belajar tidaklah melulu untuk mengejar dan membuktikan sesuatu, namun belajar itu sendiri adalah perayaan dan penghargaan pada diri sendiri.

Dunia ini rupanya penuh dengan orang kita inginkan, tapi tak menginginkan kita, dan sebaliknya. Kurasa itulah postulat pertama hukum keseimbangan alam. Jika kita selalu mendapatkan apa yang kita inginkan, seseorang akan naik ke puncak bukit, lalu meniup sangkakala, dunia kiamat.

Orang yang kalah memang punya seribu alasan tak rela mengakui keunggulan orang lain adalah salah satu sifat paling misterius dari cemburu.

Cinta, akan membawa pelakunya pada kegilaan dan kesengsaraan yang tak terbayangkan. Cinta, adalah sebuah tempat dimana orang dapat menyakiti dirinya sendiri.

Sesungguhnya, serendah apa pun sebuah profesi, selalu bisa dilihat satu segi megah dari profesi itu. Namun, dilihat dari segi mana pun, tak ada keagungan apa pun bagi seorang pelayan warung kopi. Pelayan warung kopi adalah jongos, kacung! Dalam tata sopan santun pergaulan di geladak kapal, kata kampret sering kali dengan anggun disematkan di belakang kata kacung itu.

Yang terakhir itu sebenarnya menurut saya, pelayan warung kopi itu justru mampu menyelamatkan umat manusia dari kantuk yang merajarela serta menghadirkan suasana harmonis untuk membuka wacana sehingga perbincangan panjang dibuka dan diskusi santai menghasilkan ide-ide cemerlang pun bisa bermunculan. Tuh kan… Manfaat pelayan warung kopi itu banyak.

Beberapa kutipan dari novel Cinta dalam Gelas :

Seandainya kita bisa tahu dengan siapa kita akan berjumpa lalu jatuh cinta seperti tak ada lagi hari esok, maka beruk bisa melamar pekerjaan menjadi ajudan bupati.

Lelaki muda, sehat walafiat, terang pikiran, dan punya ijazah, tidak bekerja? Sepatutnya disiram dengan kopi panas!

Untuk menjadi modern, memang diperlukan persiapan yang tidak kecil.

Namun, kuterima saja semua kegilaan itu dengan membayangkan betapa mengerikannya akibat pengangguran yang berkepanjangan pada kejiwaan seseorang.

Belajar adalah sikap berani menantang segala ketidakmungkinan; bahwa ilmu yang tak dikuasai akan menjelma di dalam diri manusia menjadi sebuah ketakutan. Belajar dengan keras hanya bisa dilakukan oleh seseorang yang bukan penakut.

Pelajaran moral nomor 22: kemiskinan susah diberantas karena pelakunya senang menjadi miskin.

Betapa ajaib perempuan itu. Betapa kuat tekadnya. Terpampang di depanku kini, akibat yang dahsyat dari orang yang tak pernah gamang untuk belajar dari orang yang berani menantang ketidakmungkinan.

Melalui Maryamah, aku belajar menaruh hormat pada orang yang menegakkan martabatnya dengan cara membuktikan dirinya sendiri, bukan dengan membangun pikiran negatif tentang orang lain.

HANYA empat kali orang Melayu menyandang baju terbaik. Habis disunat—itu
pun kalau dibelikan bapaknya, Lebaran—itu pun kalau maskapai timah membagi jatah
kain, saat menikah—pernikahan yang pertama, dan saat menonton pertandingan catur.

Sepertinya Andrea Hirata melupakan satu hal, orang Melayu juga menyandang baju terbaiknya ketika mengambil rapor anaknya. Baju safari empat saku, Boi! :’)

——————————————————–
Jika diringkas, Padang Bulan mengisahkan kecintaan dan kesetiaan tokoh Ikal pada A Ling. Sedangkan Cinta dalam Gelas mengisahkan warung kopi dan permainan catur. Meskipun sebetulnya dalam Padang Bulan juga sudah disinggung mengenai warung kopi dan permainan catur walau tak begitu sering. Tapi keduanya sama-sama berintikan seorang tokoh perempuan tangguh bernama Maryamah Karpov. Iya, nama yang menjadi judul novel terakhir Andrea Hirata dalam Tetralogi Laskar Pelangi. Iya, ibunya si Nurmi. Hehe

Ketika mulai membaca Padang Bulan, hati saya rasanya sudah terisak duluan menghayati musibah yang menimpa Zamzani, ayah Maryamah. Apalagi sudah kita ketahui bahwa Andrea Hirata pawai menyulam kata menjadi susunan kalimat indah bermakna. Namun turun ke bawah, memang benar bahwa cinta akan membawa pelakunya pada kegilaan dan kesengsaraan yang tak terbayangkan. Entah mengapa, dari sisi kisah cinta Ikal dan A Ling, rasanya terlalu berlebihan. Begitu pula dengan kisah Maryamah. Mulanya seru, mengharu biru. Tapi selepasnya, terasa ada yang kurang untuk saya pribadi. Sedangkan Cinta dalam Gelas, beberapa bagiannya seru. Namun sebagiannya juga terasa berlebihan. Mungkin karena saya tidak memahami catur dan tidak suka kopi. Terlalu banyak susunan catur yang untuk orang awam seperti saya tidak mudah diimajinasikan. Rasanya justru membosankan. Meskipun sebetulnya, perjuangan Maryamah sangat menginspirasi untuk dipetik hikmahnya.

Secara keseluruhan, saya pribadi lebih menyukai Tetralogi Laskar Pelangi dibandingkan dengan Dwilogi Padang Bulan sih. Tapi mungkin untuk penyuka kopi dan catur, novel ini bisa jadi penyegar. Terlebih, bagi yang ingin mengenal orang Melayu. Meskipun tidak sepenuhnya benar, setidaknya berdasar pada pandangan tokoh Ikal sebagai seorang Melayu. Tentunya tidak terlepas juga dari pengamatan penulisnya sendiri, Andrea Hirata.

Tapi okelah… Bisa baca dua novel dalam satu buku. Hihi

Iklan

6 thoughts on “[Resensi] Dwilogi Padang Bulan

    • Hm… enggak bisa dibilang sambungan sih Mas Slamet, kayanya. Soalnya udah lepas dari tetralogi kan. Bikin dwilogi sendiri. Di novel ini fokusnya lebih ke kehidupan Maryamah Karpov.

      Suka

  1. Dwilogi Padang Bulan semacam proyek kejar setoran dari Andrea Hirata. Terlihat dari tuturan bahasanya yang tidak selancar Tetralogi Laskar Pelangi. Tapi Padang Bulan masih jauh lebih baik dari Sebelas Patriot. Mudah-mudahan (karena saya belum baca) perbaikan ada di novel Ayah yang baru terbit ini.

    Salam kenal.

    Suka

    • Wah, terima kasih atas perncerahannya, Kak. Pantes aja berasa ada yang kurang jika dibandingkan dengan Tetralogi Laskar Pelangi. Rupanya kejar setoran toh. Yang Sebelas Patriot juga kejar setoran?
      Salam kenal kembali.

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s