Tentang Aylan Kurdi dan September yang Berduka

Selamat datang September biru! *efek dengerin lagu Wake Me Up When September Ends.

sumber : t24.com.tr

sumber : t24.com.tr

Teman pasti sudah melihat foto yang tersebar luas di internet itu kan? Ya, dialah Aylan Kurdi, bocah balita 3 tahun asal Suriah. Rencananya, Aylan, kakaknya Galip (5 tahun) dan kedua orang tuanya akan pergi ke Yunani demi kehidupan yang lebih baik.

Sebelumnya, mereka sempat tinggal di Turki. Katanya, gara-gara orang di Turki tidak baik dengan orang Suriah, mereka pergi. Padahal, pemerintah Turki sudah membangun kamp penampungan untuk mereka para pengungsi. Tapi, beberapa dari mereka memilih hidup liar di jalanan dan taman sehingga tampak mengganggu. Inilah sebabnya, sebagian masyarakat Turki kurang suka dengan orang Suriah. Sebagian doang. Kebanyakan, sangat berempati bahkan ikut pemerintah memberikan bantuan secara nyata kok.

Saya ingat waktu pertama kali saya datang ke Istanbul, yaitu Januari 2015. Saya sama sekali tidak melihat orang meminta-minta di jalanan. Namun ketika saya datang ke Istanbul lagi Agustus 2015 kemarin, banyak sekali. Beberapa dari mereka, orang Suriah. Walau sebagian, memang bukan. Ingat kan kalau akhir-akhir ini di Eropa dibanjiri imigran gelap yang mengaku pengungsi? Etdah! Walau sebagian, memang benar pengungsi. Selain di Istanbul, saya rasa saat ini di berbagai belahan Turki sudah banyak pengungsi.

Nah, lanjut ke Aylan sekeluarga yang naik boat ke Yunani. Gara-gara kelebihan penumpang, boat mereka mulai dimasuki air dan akhirnya terpecah. Entah karam atau bagaimana. Kemarin, jasad balita Aylan ditemukan di tepi pantai Turki. Langsung deh, foto jasad Aylan tersebar luas. Ada yang mengkritik keluarga Aylan gara-gara mengambil resiko dengan naik boat ke Yunani. Ada juga yang berempati.

sumber : facebook

sumber : facebook

sumber : facebook

sumber : facebook

Saya terperangah. Jika mereka bisa melawan, mereka tidak akan pergi. Sepertinya beberapa orang di luar sana tidak tahu apa yang sebenarnya Suriah hadapi. Dipikir cuma sekedar cekcok mulut antar-tetangga atau gimana?

Nih, kata salah seorang pengungsi.

RISALE HABER

sumber : risale haber

Mereka sebenarnya juga nggak mau pergi ke Eropa, kalau di Suriah nggak ada perang. Coba misal kita ditawari tinggal di Inggris sekalipun tapi cuma bawa badan dan tinggal di pengungsian. Mau? Enggak kan? Kalau nggak menginginkan mereka, ya bantu lah. Saya tadi pagi membaca beberapa komentar masyarakat di Daily Mail atas berita meninggalnya Aylan. Kurang lebih isinya begini, “Kenapa harus ke Eropa? Mereka kan muslim, ke negeri Arab aja. Sudah benar di Turki. Turki kan nggak perang, ngapain pergi ke Yunani, blah blah blah. Arab kan kaya tuh, kemana aja kok nggak mau bantu?”

Euy! Nggak tahu aja kalau Turki lagi perang melawan ISIS dan PKK. Kondisi Turki memang aman. Tapi bisa dibilang perang juga, terlebih atas PKK yang akhir-akhir ini menewaskan beberapa aparat kepolisian. Bukalah mata kalian, dunia. Kalau hanya Turki yang menolong, gimana jadinya? Masa iya seluruh pengungsi dilarikan ke Turki? Ada juga yang komentar begini, “Di sini kita juga hidup susah. Dipikir menampung orang itu nggak butuh biaya apa?”

Yah… sama halnya dengan kedatangan pengungsi Rohingya ke Indonesia. Pada protes, lha wong di Indonesia sendiri masih banyak yang susah, masih ada yang mati kelaparan, kok mau bantu bangsa lain? Banyak kan yang masih protes jika ada yang mengirimkan sumbangan ke luar negeri? Sekali lagi, di negeri sendiri banyak yang masih tidur beralaskan tanah dan berselimut awan yang tiap kali lapar hanya bisa melilitkan sarung ke perutnya. Nah, inilah sebabnya, mari gotong royong. Terlebih buat bangsa maju, kuat nan kaya. Menolong pasti berkah kok. Insya Allah nggak rugi :3

Selain komentar yang menyudutkan pengungsi itu sendiri, ada juga yang memaki pemerintah dan dunia karena tidak mampu mencegah terjadinya hal-hal semacam itu.

Sebenarnya, kalau ditelaah, banyak sekali bocah seperti Aylan di dunia ini. Aylan hanya salah satu diantaranya. Kematian Aylan menjadi salah satu pengingat kita. Ingat dengan apa yang terjadi di Palestina? Saya ngeri dan kesal sendiri akan cerita teman Palestina saya akan negerinya. Nggak kebayang kalau setiap saat harus was-was akan serangan. Ngeri juga dengan holocaust pas perang dunia II. Lebih ngeri lagi sama zaman penjajahan Jepang dan Belanda di Indonesia. Intinya perang, apalagi sejenis penjajahan, itu mengerikan.

Ini bukan sekedar masalah orang Islam, tapi masalah dunia. Serangan seperti ini bisa meluas kemana-mana. Suatu saat, jika tidak dihentikan, bisa juga menyerang kita semua. Oleh sebab itulah coba bergandengan tangan dan bertindak.

Dear leaders, kalian tahu bagaimana caranya. Rakyat jelata seperti saya pasti akan mendukung kok jika untuk kebaikan bersama.

Semoga Aylan tenang di alam sana.

Musim gugur telah tiba. Semoga gugurnya daun tidak menyurutkan semangat kita untuk membantu sesama dan berkontribusi demi dunia yang lebih baik.

Iklan

2 thoughts on “Tentang Aylan Kurdi dan September yang Berduka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s