Sudahkan Menjadi Agen Muslim yang Baik?

Türkçe Öğretim Merkezi atau yang lebih dikenal dengan sebutan TÖMER adalah nama sekolah di Turki yang menyediakan pembelajaran bahasa Turki. Jika kilas balik ke TÖMER saya yang sudah berakhir sejak akhir Juni 2015 lalu, banyak sekali kenangan seru yang ada di dalamnya. Salah satunya adalah mengenai penggunaan jilbab.

Mulanya, terdapat dua orang yang mengenakan jilbab di kelas. Yaitu saya dan teman perempuan asal Thailand. Namun setelah teman Thailand saya itu memutuskan untuk keluar dari kelas bahasa Turki, tinggal saya sendirilah yang tersisa.

Anggota kelas saya berasal dari berbagai kalangan dari segala benua, kecuali benua Australia. Yang dari Amerika, beragama Kristen atau Katolik. Yang dari Eropa, saya kurang bisa mendeteksi agamanya karena mereka cenderung tidak pernah membicarakan soal agama. Yang dari Afrika, separuhnya Muslim, separuhnya lagi Kristen atau Katolik. Yang dari Asia, separuh Muslim dan separuhnya lagi Kristen atau Katolik juga. Nah, kebetulan di kelas saya ini kebanyakan muslim adalah laki-laki. Mungkin cuma saya dan teman Thailand saja yang merupakan perempuan muslim di dalam kelas.

Nah, ada beberapa kejadian unik yang disebabkan karena saya mengenakan jilbab nih. Saat itu, kelas kami sedang mengunjungi pameran. Saya dan teman perempuan Korea saya duduk di bangku panjang yang ukurannya hanya untuk 4-5 orang. Lalu datanglah tiga teman laki-laki sekelas saya. Yang dua, duduk di tepi bangku, yaitu di samping teman Korea saya. Sedangkan satunya, berdiri di samping saya. Kalau dari kacamata saya, dia tampak hendak duduk tapi ragu-ragu.

Saya : “Kamu nggak duduk?”

Dia : “Enggak kok. Enggak.”

Saya : “Kenapa?

Dia : “Nggak apa-apa.”

Saya : “Duduk aja.”

Dia : (hening sesaat) “Nggak apa-apa nih?”

Saya : (tertawa) “Nggak apa-apa lah.”

Akhirnya dia pun duduk seraya mengucapkan terima kasih. Karena ukuran kami mini, muatlah bangku tersebut untuk berlima. Walau sempit-sempitan, dia menjaga sekali jaraknya dengan saya. Ini membuat saya terharu. Dia sangat sopan. Dan itu tidak hanya sekali loh. Dia selalu meminta izin terlebih dahulu jika hendak duduk di samping saya. Yang lainnya mah, duduk ya duduk aja.

Saya pikir, sebab mulanya adalah ketika dia melihat saya menangkupkan kedua telapak tangan ketika teman bukan mahram mengajak saya berjabat tangan. Lambat laun, dia ikut menangkupkan telapak tangan juga untuk menyapa saya. Mungkin dari situ dia menyimpulkan bahwa dalam Islam, bukan mahram dilarang bersentuhan.

Sebenarnya, masalah tidak menyentuh yang bukan mahram ini baru saya terapkan setahun belakangan. Mulanya adalah ketika saya tinggal di rumah saudara di mana seluruh anggota keluarga yang perempuan menggunakan pakaian syar’i seperti Oki Setiana Dewi deh. Sedangkan saya yang saat itu masih kelas 3 SMA, dengan enjoy menggunakan celana panjang, baju pun kadang lengannya masih dilipat-lipat. Belum lagi, jilbabnya masih sekenanya.

Nah, setelah dari situ, setiap kali melihat muslimah berpakaian syar’i, saya jadi malu sendiri. Apalagi setiap kali mereka menangkupkan tangan ketika diajak berjabatan tangan oleh yang bukan mahramnya. Saya jadi merasa bersalah terhadap agama saya. Sebetulnya, saya masih proses mendalami hukum berjabatan tangan ini sih. Antara menyetujui atau menolak. Mungkin teman-teman ada pendapat? Karena satu sisi saya, merasa berdosa jika menjabat tangan yang bukan mahram. Tapi di sisi lain, merasa bahwa seharusnya tidak apa-apa karena jabatan tangan adalah cara untuk menghargai orang lain. Ketika orang lain menawarkan jabatan tangan, ada rasa bersalah untuk menolaknya. Itu seolah telah menjadi norma di masyarakat. Walaupun toh, saya sudah minta maaf. Apalagi kalau dijabat dekan atau rektor kampus, misal.

Kembali lagi ke menggunakan pakaian syar’i. Entah kenapa, setiap kali saya melihat mereka, hati saya rasanya adem. Akhirnya, pelan-pelan, meski belum syar’i sempurna, saya mulai mengubah penampilan saya. Dari celana, menjadi rajin menggunakan rok. Dari baju yang suka dilipat-dilipat, menjadi lebih sering dibiarkan memanjang. Dari jilbab sekenanya, menjadi yang setidaknya menjulur menutupi dada. Alhamdulillah, sekarang mulai rajin pakai kaos kaki juga.

Saya jadi ingat ketika guru di kelas bahasa Turki menunjuk satu per satu siswa untuk mendeskripsikan temannya. Saat itu, teman saya mengatakan bahwa saya ini sosok yang religius karena mengenakan jilbab. Padahal saya baru berjilbab, juga, pada tahun 2011 yang lalu.

Seperti kita ketahui, tidak (belum) semua perempuan muslim mengenakan jilbab. Nah, teman saya yang dari USA inilah yang sepertinya paling penasaran dengan agama Islam. Dia seringkali bertanya kepada saya mulai dari mengapa mengenakan jilbab dan bagaimana rasanya, mengapa tidak boleh menyentuh anjing, mengapa tidak boleh makan babi, mengapa tidak boleh minum bir, mengapa begini dan begitu sampai pernah tuh ketika diskusi kita sudah mendalam, dia ingin mendengarkan saya membaca Al-Qur’an.

Mungkin karena berjilbab, keberadaan muslimah lebih mudah dikenali dibanding laki-laki muslim. Jadi, dia lebih memilih untuk bertanya kepada saya. Di sinilah tugas berat seorang agen muslim. Jika saya tidak menjawab atau memintanya untuk bertanya kepada yang lebih ahli, pandangannya akan muslim bisa jadi memburuk. Oleh sebab itu, saya berusaha menjawab seraya memberikan keterangan serasional mungkin. Ini membuat saya ingin terus belajar. Supaya suatu saat ketika ada non-muslim yang hendak bertanya, saya dapat menjawabnya dengan baik. Kita tidak pernah tau kan jika jawaban kita itu mungkin bisa membawa perubahan yang besar untuknya?

Adalagi teman Latin yang penasaran kenapa saya tidak mau berjabat tangan, selalu menggunakan rok dan berjilbab walau cuaca sangat panas. Mungkin, dia pikir saya orang yang berpikiran radikal, kaku karena dia lebih memilih untuk menanyakan hal ini kepada teman muslim yang lain. Padahal, ini bukan soal paham radikal. Ini soal saya pribadi yang introvert. -_- Jika dia bertanya langsung kepada saya, pastilah akan saya jawab dengan senang hati. Apalagi dia orang yang sangat sopan. Yah… mungkin itulah sebabnya dia khawatir jika akan menyinggung saya.

Dengan mengenakan pakaian sesuai syariat Islam, beberapa non-muslim mungkin akan bertanya-tanya. Meski sebagian mungkin akan membenci, sebagiannya lagi adalah penasaran. Jika saya yang belum berpakaian sempurna sesuai syariat Islam saja sudah dikhawatirkan adalah orang yang kaku, apalagi yang berpakaian benar-benar syar’i. Oleh sebab itu, kita imbangilah dengan sikap dan pikiran terbuka supaya ketika ada yang hendak bertanya mengenai Islam, kita dapat menjawabnya dengan pikiran terbuka tanpa menghakimi ataupun tersulut emosi.

Oh ya, ini nih hijab yang nyaman di hati menurut saya untuk di Indonesia dan sekitarnya. Seperti ini sudah cukup.

sumber :www.indriashop.com
sumber :www.indriashop.com

Kalau di Yaman, misal, barulah mengenakan niqab seperti ini.

sumber : www.telegraph.co.uk
sumber : http://www.telegraph.co.uk

Mengapa berbeda? Kata teman perempuan Yaman saya, untuk keamanan, dia harus berpakaian seperti itu ketika keluar rumah di Yaman. Sedangkan saat ini ketika dia menetap di Turki, dia menanggalkan cadarnya. Namun tetap dengan gamisnya. Yang terpenting, menjulur menutupi dada.

وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلاَ يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلاَّ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ

Katakanlah kepada wanita yang beriman, “Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kehormatannya; janganlah mereka menampakkan perhiasannya kecuali yang (biasa) tampak padanya. Wajib atas mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya. (QS an-Nur [24]: 31).

يَاأَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ ِلأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلاَبِيبِهِنَّ

Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang Mukmin: Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. (QS al-Ahzab [33]: 59).

sumber : facebook
sumber : facebook

Tulisan ini diikutsertakan dalam Giveaway “HIJAB YANG NYAMAN DIHATI”

Iklan

8 thoughts on “Sudahkan Menjadi Agen Muslim yang Baik?

  1. MasyaAllah… mudah2an trs istiqomah ya mba..terutama dalam memberi edukasi yg benar bila ada org bertanya ttg islam dan halal haramnya.. lucky you.. di pilih Allah berdakwah melalui pakaian yg dikenakan.. 😉

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s