Review Novel Agatha Christie : Buku Catatan Josephine

sumber : id.wikipedia.org

sumber : id.wikipedia.org

Judul Buku : Buku Catatan Josephine
Penulis : Agatha Christie
Alih Bahasa : Mareta
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Jumlah Halaman : 272 hlm

Keluarga Leonidas adalah keluarga besar yang hidup berkelimpahan di rumah besar di daerah terpandang di pinggiran kota London. Setelah kematian Aristide Leonidas, baru terungkap bahwa salah satu anggota keluarga itu ternyata pembunuh.

“Buku ini salah satu favoritku. Menulisnya merupakan kenikmatan tersendiri. Dan aku yakin buku ini salah satu karya terbaikku.” (Agatha Christie)

Semalam tuh rasanya bosen banget mau belajar setelah menjalani seminggu pertama kuliah. Rasanya mau muntah bahasa Turki. Soalnya beda banget sama TÖMER. Dari bagaimana cara dosennya ngajar, cara teman-temannya bersikap. Secara ya… dulu temennya orang asing semua eh sekarang orang Turki doang. Ada sih beberapa mahasiswa asing. Itupun dari Suriah, Kazakistan, Ukraina dan Afganistan. Yang dari Suriah ada 4 orang. Kazakistan dan Ukraina masing-masing 1 orang. Afganistan juga 2 orang. Otomatis, mereka bisa saling ngobrol dengan bahasa mereka. Yang sesama orang Suriah ngobrol pakai bahasa Arab, yang Afganistan pakai bahasa Persia, dan yang dari Kazakistan maupun Ukraina sama-sama berbicara bahasa Rusia. Saya? Sendirian deh. Meski mereka pun bisa bahasa Inggris, tapi tahu kan bahwa bagaimanapun juga, berbicara menggunakan bahasa Ibu itu jauh lebih menyenangkan dari pada berbicara menggunakan bahasa asing?

Akhirnya, saya memutuskan untuk menghibur diri dengan membaca novelnya Agatha Christie. Kalau dibanding dengan novel beliau yang saya baca sebelumnya, Pena Beracun (baca resensinya di sini), saya lebih suka Pena Beracun. Mungkin karena faktor membaca dengan terburu-buru kali ya. Saya mulai membaca novel ini sekitar pukul 9 malam. Karena saya nggak suka kalau baca novel putus-putus, menuju halaman akhir, yang saat itu sudah pukul 12 malam, saya ngebut menyelesaikannya supaya segera tidur karena keesokannya ada kuliah pagi.

Maaf eh jadi curhat. 😀 Langsung aja deh menuju kilas panjang isi novel ini.

AWAS SPOILER!!!

Konflik bermula ketika Charles Hayward yang dikirim ke Timur selama 2 tahun kembali ke Inggris untuk menepati janjinya yaitu menikahi Sophia Leonidas, cucu jutawan Yunani dari Smyrna yang sukses di Inggris, Aristide Leonidas. Ngomong-ngomong nih teman, Smyrna adalah nama tua Izmir, kota tempat saya tinggal sekarang. Itulah kenapa, novel ini memberi perasaan tersendiri bagi saya. Kan konon keluarga Leonidas lainnya masih menetap di Smyrna. Loo?

Namun ketika Charles membaca surat kabar hari itu, ia menemukan bahwa kakek Sophia, Aristide Leonidas meninggal dunia. Charles pun buru-buru mengirim telegram berbela sungkawa. Keduanya berjumpa di tempat bernama Mario untuk membicarakan beberapa hal. Salah satunya adalah Sophia tidak bisa menikah dengan Charles sebelum urusan kematian kakeknya selesai. Sophia yang sangat menyayangi kakeknya tersebut merasa curiga bahwa kakeknya mati dibunuh. Charles pun masuk dalam dunia penyelidikan karena posisinya sebagai kekasih Sophia. Ditambah lagi, ayah Charles adalah polisi yang menangani kasus tersebut.

Cerita singkat nih ya soal keluarga Leonidas. Mereka terdiri dari Aristide Leonidas, Brenda Leonidas yang merupakan istri keduanya karena istri pertamanya meninggal, Philip dan Roger Leonidas yang merupakan putra dari istri Aristide Leonidas yang pertama, Magda yang merupakan istri Philip Leonidas, Clemency yang merupakan istri Roger Leonidas, Sophia, Eustache dan Josephine yang merupakan anak dari Philip dan Magda, Laurence Brown yang merupakan guru privat Eustache dan Josephine, serta Edith de Haviland yang merupakan adik dari istri pertama Aristide Leonidas.

Menurut kepolisian, anggota keluarga yang patut dicurigai adalah Brenda Leonidas karena ialah yang secara rutin menyuntikkan insulin ke Aristide Leonidas. Ia berkemungkinan telah mengganti cairan insulin dengan obat tetes mata. Motif dugaannya adalah Brenda ingin menikah dengan Laurence dan menguasai warisan Aristide Leonidas. Secara nih ya, usia Brenda masih 30an sedangkan usia Aristide Leonidas sudah 70an. Biasalah… kalau ada perempuan atau lelaki muda yang menikah dengan orang tua kaya raya, pasti tuduhannya selalu sama; cuma mau hartanya. Jika pun bukan Brenda yang melakukannya, pastilah Laurence Brown.

Tapi, dugaan saya jatuh pada Clemency atau Magda. Magda, karena dia adalah seorang aktris yang ‘agak gila’, berlebihan dan sedikit kekanak-kanakan yang dibuat-buat. Kalau saya membayangkan berada diposisi dia dengan kondisi seperti itu, untuk menciptakan suatu drama yang menarik, dia pasti tidak akan ragu untuk membunuh mertuanya. Motif dugaan memang kurang kuat. Tapi seseorang yang gila drama, pasti tidak akan ragu untuk melakukan tindak kriminal, termasuk membunuh dengan cara halus yaitu meracuni. Namun mari kita singkirkan Magda karena sebenarnya saya juga masih agak ragu sih kalau pembunuhnya adalah dia. Mengapa? Karena ketika Josephine mengatakan kepada Charles bawa dia tahu sesuatu soal pembunuhan itu, seseorang mencoba melukai Josephine. Meski ada tipe ibu yang akan tega melakukan itu kepada putrinya, Magda bukanlah tipe seperti itu kalau dilihat dari perilaku sehari-harinya. Walau sekali lagi, ia memang terlihat ‘agak gila’.

Lalu Clemency yang berkepribadian tenang. Orang yang sangat tenang dalam bersikap, patut dicurigai sebagai pembunuh dalam kasus ini karena pembunuhannya adalah menggunakan racun. Sesuatu yang bersifat halus. Maksudnya, nggak langsung tusuk-menusuk. Motifnya apa? Aristide Leonidas dianggap lebih menyayangi Roger daripada Philip. Itulah sebabnya, Aristide tampak menguasai hidup Roger. Clemency yang sangat menyayangi Roger pasti merasa cemburu karenanya. Apalagi ketika usaha Roger yang diberikan ayahnya collapse. Roger dan Clemency berniat untuk pergi dari rumah keluarga Leonidas dan hidup dengan sederhana sebagaimana Clemency sangat menginginkannya. Namun rencana itu nyaris gagal karena ayahnya hendak membantu usaha Roger. Tentu saja Clemency tidak akan senang mendengarnya.

Menuju ending, Edith de Haviland ditonjolkan oleh penulis dengan ciri-ciri sebagai pelakunya. Apalagi ketika Josephine yang tahu banyak hal karena gemar mencuri dengar, menuduh Edith sebagai pelakunya. Saat Josephine dengan sombongnya mengatakan bahwa ia tahu siapa pembunuhnya, Charles mendengar suara gerakan seseorang dibalik pintu. Charles pun segera membungkam Jospehine karena khawatir bahwa yang sedang menguping dibalik pintu adalah pembunuhnya. Ia mengkhawatirkan keselamatan Josephine. Setelah itu tiba-tiba Edith mengajak Josephine keluar berdua saja. Tak berapa lama kemudian, mereka mendapat kabar bahwa Edith dan Josephine meninggal di dalam mobil yang tergeletak di dekat bekas tambang, area menuju hutan. Kecurigaan pun makin besar jatuh pada Edith.

Tapi Charles teringat sesuatu. Sebelum pergi bersama Jospehine, Edith menulis dua surat yang dimasukkan ke dalam amplop. Charles pun buru-buru mencari amplop tersebut. Salah satu isi amplopnya adalah buku catatan Josephine. Jadi, Josephine yang gila akan cerita detektif ini memang gemar sekali mencatat hal apapun di dalam buku hitam yang dibawanya kemana-mana tersebut.

Tenyata…. yap!

Josephine lah pembunuhnya. Berdasarkan buku catatannya tersebut, ia membunuh kakeknya lantaran tak diperbolehkan ikut kursus menari balet. Dengan meninggalnya Aristide Leonidas, ia dan ibunya dapat segera pergi ke London dan ia pun akan diperbolehkan kursus menari balet.

Nih, saya kasih cuplikan akhir dari isi buku catatan Josephine yang ditulisnya sendiri.

“Kalau aku tua dan meninggal nanti aku akan mengirim catatan ini ke Kepala Polisi. Mereka akan melihat bahwa aku pembunuh yang hebat.”

Setiap orang membutuhkan pengakuan akan keberadaannya. Termasuk anak-anak. Magda, ibunya, sibuk bekutat dengan dramanya. Philip, ayahnya, sibuk berkutat dengan buku-buku sejarahnya. Brenda, nenek tirinya, menganggap ia kurang waras. Pelayannya, menganggap ia cuma anak kecil yang suka pamer. Kakak laki-lakinya, Eustache, menganggapnya hanya seorang anak perempuan dan tak ada gunanya main detektif. Dari hal-hal yang meremehkannya itulah timbul keinginan besar Josephine agar terlihat.

Kata orang, dendam dapat membuatmu melakukan hal gila yang sangat luar biasa. Saya pikir, itulah yang terjadi pada Josephine.

“Kasihan anak itu….” kata ayah Charles.

Pada akhirnya, novel ini keren kok. Lumayan terkecoh dengan status Josephine sebagai anak-anak sehingga saya nggak kepikiran untuk menjadikannya tokoh yang mencurigakan. Padahal, Agatha Christie sudah banyak menyinggung dengan halus lho dari cara anak itu bersikap dan berbicara. Untuk tokoh favorit, nggak ada. Tokoh yang nggak disukai; Sophia. Penulis mengatakan bahwa Sophia adalah sosok yang wow sekali. Tapi tindakan wow-nya kurang ditonjolkan. Menurut saya sebagai pembaca, dia terlihat justru sebaliknya. Saya juga nggak suka Charles. Dia terlalu… ya sudahlah. Hehe. Banyak ya tokoh yang nggak disukai. Tapi dari segi ceritanya, suka kok. 🙂 Saya juga suka sama nama Aristide Leonidas. Keren aja kedengerannya hhe

Iklan

5 thoughts on “Review Novel Agatha Christie : Buku Catatan Josephine

  1. Ping-balik: [REVIEW] Why Didn’t They Ask Evans? – Naelil The Climber

  2. Iya nih keren bgt bukunya. Mungkin bagi Saya ini buku AC terbaik. Dari judulnya sungguh tak mnyangka bhw pembunuhnya adalah nama yg tertera di judul buku itu. Aaarghhh…

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s