You’re The Winner of Yourself!

Pernah diremehkan? Atau justru sering? Namanya orang hidup, pasti ada cobaannya. Termasuk cobaan ketika dicerca, dihina dan diremehkan oleh orang lain. Sebenarnya, semua itu kembali ke diri sendiri sih. Apakah cercaan itu akan dijadikan sebagai sebuah kritik untuk mawas diri? Apakah cercaan itu akan dijadikan sebagai motivasi untuk menjadi lebih baik? Apakah cercaan itu akan dijadikan sebagai sebuah dendam untuk menjatuhkan si pencerca? Apakah cercaan itu justru akan dijadikan sebagai sebuah pukulan keras yang menjatuhkan diri sendiri?

Besar tidaknya pengaruh sebuah cercaan itu tergantung bagaimana kita menilainya. Sekarang mari kita bahas beberapa cara orang mencerca.

1. Melalui Mimik Muka
Anggap saja di dalam sebuah ruangan, terdapat dua orang yang duduk saling berhadapan. Sosok pertama berpakaian mahal rancangan seorang designer ternama. Menurut sosok pertama, sosok kedua berpakaian sangat kuno dan telihat tua. Mata sosok pertama pun menyusuri dari ujung kaki sosok kedua sampai ke matanya. Ketika mata sosok pertama dan kedua bertemu, bibir sosok pertama terangkat sebelah. Itu misal saja, karena cara orang mencerca menggunakan mimik mukanya itu berbeda-beda. Tapi pasti selalu ketahuan kok jika itu memang mimik mencerca. Lihat saja matanya. Mata kan nggak bisa bohong :3

sumber : http://giphy.com
sumber : http://giphy.com

2. Melalui Ucapan
Baik berupa sarkasme ataupun lugas. Ini sudah jelas ya.

sumber : www.memecenter.com
sumber : http://www.memecenter.com

sumber : google
sumber : google
sumber : http://www.reactiongifs.com
sumber : http://www.reactiongifs.com

3. Melalui Penindasan Fisik

sumber : infogurubk.blogspot.com
sumber : infogurubk.blogspot.com

Ini dapat terjadi ketika sosok A merasa dirinya adalah yang terhebat dan sosok B adalah sosok yang sangat tidak berguna sehingga pantas untuk ditindas.

Lalu apasih yang biasanya orang lain cerca? Topik cercaan timbul pada titik seseorang merasa berada di titik paling atas. Sedangkan yang lain, hanya ada di bawahnya.

Masa awal kuliah begini, cercaan yang cenderung diterima adalah mengenai jurusan. Beberapa orang merasa jurusannya adalah jurusan paling keren dan jurusan orang lain adalah jurusan yang buruk.

Saya belum pernah melakukan survey dalam hitam di atas putih sih. Tapi dari penglihatan saya selama ini, jurusan yang menjadi bulan-bulanan adalah jurusan filsafat, sastra, peternakan, pertanian, kesenian, dan jurnalistik. Ada yang ingin menambahkan?

Sebut saja namanya P, dia berasal dari USA dan datang ke Turki untuk menyelesaikan studi tingkat doktoralnya di bidang pertanian. Dia cerita ke saya bahwa ketika ia mengambil jurusan pertanian, teman-temannya justru mencibir. “Kamu mau ngapain? Korek-korek tanah?” Untungnya, dia tidak begitu peduli dengan cercaan orang lain. Buktinya, dia masih lanjut di bidang yang sama sampai S3. Apakah yang menghina itu lupa bahwa tanpa pertanian, kita mau makan apa? Hal ini sama dengan peternakan.

Sastra? Kesenian? Filsafat? Anak kamu mau dikasih makan apa?

Lulusan filsafat biasanya adalah sosok yang kritis sehingga bisa menjadi konsultan rekrutmen perusahaan, eksekutif pemasaran, guru atau dosen filsafat, wartawan, psikoterapis, pejabat pemerintah daerah, anggota departemen agama dan departemen pariwisata, rohaniawan serta penulis buku. (http://www.berkuliah.com/)

Mau bilang filsuf nggak bisa dapat uang? Tahu Carly Fiorina kan? Beliau lulusan jurusan filosofi dan sejarah abad pertengahan dari Universitas Stanford. Tahu Eka Kurniawan? Beliau lulusan Fakultas Filsafat UGM.

Kalau lulusan sastra? Selain bisa berkarir menjadi sastrawan seperti W.S Rendra, mereka juga bisa berkarir di Kementrian Luar Negeri. Penerjemah juga bisa. Siapa tahu jadi penerjemah presiden?

Terus kesenian. Harga lukisan Pablo Picasso bisa mencapai ratusan juta USD loh. Ada lagi seniman Soimah Pancawati yang merupakan lulusan Institut Seni Indonesia (ISI). Selain Soimah, ada juga seniman tari Didik Nini Thowok dan seniman theather Butet Kertaredjasa.

Selanjutnya jurusan jurnalistik. Kata orang, jurnalistik adalah jurusan yang nggak penting kerana nulis itu bisa otodidak. Padahal ya, mahasiswa jurnalistik tidak hanya diajari soal tulis-menulis, tapi juga soal hukum, ekonomi, politik, komputer, fotografi dan masih banyak lagi. Mahasiswa jurnalistik dituntut untuk cepat, tanggap dan kritis. Terlebih dalam menyiarkan informasi baik melalui media tulisan, gambar, suara ataupun video. Coba bayangin deh jika negara tanpa seorang jurnalis! Atau kalau enggak, kebebasan jurnalisnya dikekang dan dikendalikan oleh sebagian pihak yang berkuasa? Jadi baper kan. :3

Intinya, semua jurusan itu penting dan pasti bermanfaat. Tinggal bagaimana para mahasiswanya memanfaatkan hal tersebut. Kalau jurusan itu nggak penting, nggak akan ada yang mau ambil jurusan itu dan jurusan itu sudah pasti akan dihapuskan dari permukaan bumi. Lagipula, mengambil jurusan A bukan berarti kita harus menjadi A. Banyak peluang untuk menjadi B sampai Z. A adalah sebuah ilmu yang memang jika kita ingin bekerja dalam bidang A, alangkah baiknya untuk mengambil jurusan A. Tapi kalau ingin bekerja dalam bidang A, namun kuliah dalam bidang B, ya nggak masalah juga. Mencari ilmu kan tiada batasnya.

Terus ada yang tanya, kalau cuma cari ilmu kenapa nggak otodidak aja? Ada sebagian orang yang lebih bisa mengembangkan diri ketika belajar sendirian. Namun ada juga yang membutuhkan bimbingan orang yang lebih ahli dalam bidangnya, semisal dosen, untuk memilih buku apa yang bagus dibaca dan kegiatan apa yang bagus untuk mengembangkan kemampuan dalam bidang tersebut.

Intinya, berasal dari jurusan apapun kamu, terus PD aja kembangin kemampuan dan kejar ilmunya. Asal passion 🙂 insya Allah berkahnya dapat kita tuai dikemudian hari. Jangan pernah berkecil hati ya! Bukan hanya soal jurusan, tapi juga kampus. Percaya atau enggak, di sekeliling saya banyak mahasiswa yang memperoleh beasiswa berasal dari universitas yang tidak begitu terkenal. Tapi prestasi mereka, wah sekali! Kata orang kan, berlian pasti terlihat walau dalam lumpur sekalipun. Kalau kamu berlian, kamu pasti akan terlihat di bidang manapun, dari manapun. Semangat!

Duh jadi panjang ya. Hehe.

Hinaan juga bisa dilontarkan kepada pemilik fisik yang dianggap ‘berbeda’. Anggap saja cantik dan tampan. Itu standarnya dari mana? Kenapa bisa bilang A cantik dan B tidak? Salah satunya karena tayangan iklan yang ada di media. Padahal, cantik dan tampan itu datangnya ya dari hati. Kecuali kalau mau jadi model iklan, cantik dan tampannya ya harus berdasarkan pada standar masyarakat seperti yang ada di media. Kalau mau jadi yang lainnya, apakah cantik dan tampan standar media itu berpengaruh?

Yang sering digambarkan di drama televisi juga mengenai si kurang mampu dan si kaya raya. Dunia pasti berputar, bro. Sekali lagi, standar kaya itu bagaimana? Orang hidup nyarinya apa? Kebahagiaan yang hakiki? Apakah orang kaya selalu bahagia? Apakah orang yang bahagia selalu kaya? Jawab sendiri deh ya pertanyaannya.

Terakhir, tapi bukan akhir dari segala jenis hinaan yang ada di muka bumi, adalah mengenai selera. Baik dalam selera berpakaian, makan, dan lain sebagainya. Ada kan tipe orang yang suka mencerca selera orang lain? Sesuatu yang tidak umum, seringkali menjadi gunjingan. Padahal, jalan yang kita anggap benar mungkin sama sekali tidak dianggap benar oleh orang lain. Vise versa. There are no right or wrong choices when it comes to how we want to spend our time, how we choose our clothes etc. Karena sesungguhnya memang tidak ada yang mutlak benar dan mutlak salah. Yang ada hanyalah yang terasa benar dan terasa salah.

Jadi, teman-teman jangan pernah merasa berkecil hati atas hinaan dan cercaan dari orang lain. Anggap saja itu sebagai kritikan yang membangun untuk mawas diri. Jika tidak benar, jangan dimasukkan hati, tapi justru dijadikan alat untuk menyemangati diri. Tidak ada orang yang bisa menjatuhkanmu, kecuali dirimu sendiri. 🙂

Ngomong memang tidak semudah kenyataan. Nah kalau nggak mudah, ya jangan dimasukkan hati lah. Kan yang tahu diri sendiri ya cuma diri itu sendiri. Kalau udah tahu begini, jangan suka hina orang lain juga. Ok?

Iklan

10 thoughts on “You’re The Winner of Yourself!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s