[REVIEW] Why Didn’t They Ask Evans?

sumber : www.insanayu.com

Judul Buku : Pembunuh di Balik Kabut
Penulis : Agatha Christie
Alih Bahasa : Mareta
Penerbit : PT Gramedia
Tahun : 1989
Jumlah Halaman : 320 hlm

Berikut cuplikan dari beberapa bagian novel ini :

“Tak seorang pun dari mereka yang berumur di atas lima puluh mau mengerti. Mereka selalu mengkhawatirkan hal-hal yang kecil dan remeh.”

Waktu memang kadang-kadang menakutkan.

Semakin banyak pembunuhan mereka lakukan, semakin bertambah keinginan mereka untuk membunuh.

Tapi orang-orang berkata bahwa pembunuh kejam biasanya demikian, tampan dan menarik.

“Aneh ya, kalau ada orang bicara tentang seseorang atau sesuatu, lalu orang lain pun bicara tentang hal yang sama tak lama kemudian.”

Menunjukkan perhatian berlebihan akan menimbulkan kecurigaan.

Mata wanita itu hampir tak pernah lepas dari suaminya. Frankie bingung. Ini cinta atau rasa takut?

Ahli hukum memang tidak biasa bicara terus terang.

“Menjengkelkan kalau dipikir. Orang berusaha macam-macam untuk menyingkirkan orang lain karena dia mengira orang itu tahu sesuatu padahal dia tak tahu apa-apa.”

“Hukum adalah binatang yang tak pasti rupanya. Dia punya kelitan dan liku-liku yang dapat membuat orang awam heran. Saya selalu berpendapat bahwa sebaiknya suatu kasus, kalau bisa, lebih baik diselesaikan di luar pengadilan saja.

“Seperti bercermin pada kaca yang retak saja. Semua orang yang kelihatan baik rupanya tidak begitu. Orang yang kelihatannya baik ternyata… Harus ada cara untuk mengenali bahwa seseorang adalah criminal alis mata, atau telinga, atau apa.”

Judul asli novel ini adalah “Why Didn’t You Ask Evans?” jika di antara kalian bertanya-tanya mengapa judul resensi saya begitu. Buat saya pribadi sebenarnya judul aslinya lebih mengundang tanya sih.

Cerita bermula ketika Bobby Jones, anak laki-laki keempat seorang pendeta di Marchbolt, sebuah kota kecil di tepi pantai daerah Wales (Inggris), bermain golf bersama temannya, Dokter Thomas. Ketika Bobby berjalan ke tee 16 dan memukul bolanya, ia mendengar teriakan. Bobby berpikir bahwa bolanya mungkin telah mengenai seseorang. Tapi, ia tidak dapat melihatnya dengan jelas lantaran terdapat kabut yang naik dari laut saat itu.

Tee berikutnya tepat di tepi tebing karang, di atas jurang. Pada tee itu, mereka harus memutar jurang dan melewati jalan setapak. Ketika Bobby memukul bolanya, bola itu menggelinding ke depan dan lenyap di bibir jurang. Pada saat Bobby hendak mengambil bolanya, ia melihat seseorang telah tergeletak di dasar jurang. Bobby segera memanggil Dokter Thomas dan keduanya bersama-sama turun ke dasar jurang. Dokter Thomas pun memeriksa orang tersebut dan mengatakan bahwa tulang punggung orang itu patah. Dokter Thomas meminta Bobby untuk menjaga orang tersebut sementara ia mencari pertolongan.

Bobby pun menunggu dan menunggu. Namun Dokter Thomas tak kunjung datang. Ketika Bobby mulai menganalisis fisik orang tersebut dan membayangkan matanya, orang tersebut tiba-tiba membuka mata dan berkata, “Mengapa mereka tidak memanggil Evans?” sebelum akhirnya meninggal dunia. Bobby menarik sapu tangan di saku mayat itu dan menutupkannya ke wajahnya. Tapi, ada yang tertarik keluar bersama sapu tangan mayat tersebut. Ternyata, benda itu adalah sebuah foto perempuan muda yang cantik. Bobby mengembalikan foto tersebut ke saku si mayat.

Waktu berjalan begitu lambat dan Bobby teringat bahwa ia ada janji dengan ayahnya. Tapi tentu saja, Bobby tidak mungkin meninggalkan orang itu meskipun ia sudah menjadi mayat. Beruntungnya, datanglah seseorang dengan nama Bassington-ffrench yang mengaku kebetulan lewat di situ. Ia menawarkan diri untuk menunggui mayat sampai pertolongan datang. Bobby pun segera pergi menemui ayahnya.

Pada saat pemeriksaan mayat-yang kemudian di ketahui namanya adalah Alex Pritchard- Dokter Thomas dan Bobby memberikan kesaksian. Ada yang janggal di situ. Ketika pemeriksa memanggil saudara perempuan Alex Pritchard yaitu Nyonya Leo Cayman, Bobby melihat bahwa foto yang dilihatnya dari saku Alex Pritchard sama sekali berbeda dengan penampakan Nyonya Leo Cayman yang mengaku bahwa foto di saku Alex Pritchard adalah fotonya. Mulanya, ia mengira bahwa perbedaan itu disebabkan oleh keahlian tukang foto memanipulasi dan faktor waktu.

Setelah pemeriksaan, Tuan dan Nyonya Cayman tiba-tiba mendatangi rumah Bobby dan menanyakan kejadian mendetail mengenai detik-detik kematian Alex Pritchard. Bobby bilang bahwa Alex Pritchard tidak mengatakan apapun sebelum ia meninggal. Lalu Tuan dan Nyonya Cayman pun berlalu. Semuanya berjalan datar.

Beberapa waktu kemudian, Bobby teringat bahwa sebelum Alex Pritchard meninggal, pria itu sempat berkata, “Mengapa mereka tidak memanggil Evans?” Karena merasa bersalah, ia mengirim surat kepada Tuan dan Nyonya Cayman. Dalam balasan surat Tuan Cayman sih ia hanya berterima kasih kepada Bobby dan menganggap bahwa hal itu memang bukan hal yang begitu penting.

Tapi beberapa hari berikutnya, datang surat dari perusahaan Henriquez & Dalio di Buenos Aires yang menawarkan pekerjaan kepada Bobby dengan gaji seribu pound setahun. Namun ia menolaknya lantaran sudah berjanji untuk bekerja mengurus bengkel dengan Badger temannya.

Tidak lama kemudian, tahu-tahu Bobby telah tergeletak di rumah sakit gara-gara menelan delapan butir morfin. Untung ia tidak meninggal. Sahabatnya sejak kecil, Lady Frances Darwent yang biasa dipanggil Frankie pun datang menjenguknya. Entah kenapa, sejak awal kasus kematian Alex Pritchard, Frankie seolah berharap dan menebak bahwa mayat itu mati dibunuh, bukan kecelakaan. Katanya sih supaya seru. Namun setelah mendengar peristiwa yang menimpa Bobby, ia semakin yakin bahwa Alex Pritchard memang dibunuh. Dan pembunuhnya sedang mencoba menyingkirkan Bobby agar jejak kotornya tidak terlacak.

Bobby sih cuek-cuek saja sampai ia membaca koran Marchbolt Weekly Times yang memuat kasus kematian Alex Pritchard. Ia menemukan bahwa foto yang ditemukan polisi di saku mayat bukanlah foto yang Bobby lihat. Foto dalam koran tersebut memanglah foto Nyonya Cayman. Namun foto yang ia temukan di saku mayat adalah foto perempuan cantik yang jauh berbeda dengan Nyonya Cayman. Ia pun menyadari bahwa fotonya memang telah diganti. Ternyata, bukan karena ulah tukang foto dan faktor usia yang membuat kedua foto perempuan itu tampak berbeda. Bobby pun segera mendiskusikan hal tersebut dengan Frankie.

Langkah berikutnya, Frankie menyiapkan rencana berupa sebuah drama dengan memanfaatkan gelar kebangsawanannya untuk campur tangan dalam penyelidikan kasus kematian Alex Pritchard. Frankie dan Bobby pun siap menjadi sepasang detektif. Ternyata, justru Frankie dan Bobby sendiri yang dimainkan oleh drama :/

Awalnya, saya juga berpikir bahwa pembunuhnya adalah Roger Bassington-ffrench. Siapa lagi yang berkesempatan mengganti foto di saku mayat jika bukan dia? Tapi, terlalu awal untuk menebak 😀

Apalagi seiring berjalannya cerita, Frankie dan Bobby juga menunjukkan gejala mencurigai Roger Bassington-ffrench. Pikir saya, biasanya Madam Agatha Christie ini, dari dua buku sebelumnya yang sudah saya baca (Pena Beracun dan Buku Catatan Josephine), tidak menunjukkan sosok pembunuh dengan jelas melalui kecurigaan tokoh-tokoh lainnya. Maksudnya, nggak terduga, gitu. Ya udah, berikutnya, saya entah gimana, lanjut aja baca tanpa pikir siapa pembunuhnya. Soalnya saya mencurigai semua orang. Tapi Roger Bassington-ffrench susah saya hilangkan dari daftar tokoh pembunuh. Saya cuma butuh mencari alasan-alasan kuat lainnya di samping ia yang telah menukar foto dari saku Alex Pritchard. Apalagi ketika ia mengungkapkan alasannya menukar foto tersebut kepada Frankie, saya rasa sangat tidak masuk akal. Pasti dia pembunuhnya. Tapi apa motifnya? Terus Evans itu siapa? Foto perempuan di saku mayat Alex Pritchard juga siapa?

Secara keseluruhan, novel ini seru meski bagi saya nggak seseru dua novel yang saya baca sebelumnya sih. Soalnya pembaca suka ditipu, dan saya merasa kurang tertipu dalam novel ini.

Iklan

2 thoughts on “[REVIEW] Why Didn’t They Ask Evans?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s