Setiap Orang Bertanggung Jawab atas Kebahagiaannya Sendiri

sumber : thespiritscience.net
sumber : thespiritscience.net

Judul di atas, sekilas memang terdengar egois. Maksudnya begini, kita tidak boleh memaksakan kehendak kita pada diri orang lain untuk membuat diri kita bahagia. Setiap orang memiliki haknya. Selama itu tidak melanggar hukum dan norma yang telah ditetapkan atau disetujui dalam masyarakat, ya biarlah begitu.

Misalnya nih, hobi sosok A adalah bermain basket. Lalu kerabat si A memprotes akan perilaku A yang senang bermain basket. Jika penyebabnya adalah bola basket si A mengenai dan membahayakan banyak pihak, si A seharusnya mencari tempat dan waktu yang lebih tepat demi kepentingan banyak orang. Namun jika si pemrotes tadi hanya beralasan bahwa ia tidak suka si A bermain basket dan memaksa A untuk memiliki hobi bermain badminton sepertinya, menurut saya itu kurang benar.

Namanya suka ya tidak bisa dipaksakan. Siapa tahu si A suatu saat jadi pemain basket sukses? Jika si kerabat tadi beralasan bahwa kegiatan si A membuatnya merasa tidak memiliki teman bermain badminton dan sedih, ya bukan salah si A juga. Kenapa? Karena setiap orang bertanggung jawab atas kebahagiaannya sendiri. Terus kalau si kerabat sedih karena si A nggak mau main badminton bersamanya, si A gitu yang disalahkan? Kok lucu.

A, sebagai makhluk sosial memang sudah sepatutnya membantu orang lain. Membantu kerabat, misalnya. Tapi jika bantuan itu membuatnya menjauh dari hobinya, menjadikannya gagap bermain basket dan kemampuannya menurun, padahal itu adalah cita-citanya dan salah satu jalan untuk berbakti pada orang tuanya, itu sama saja dengan hidup di mimpi orang lain. Yakni, sibuk mengurus orang lain dan melupakan mimpinya sendiri. Sekali dua kali bolehlah ikut si kerabat main badminton meskipun hatinya berkata tidak. Karena manusia tidak boleh egois. Tapi kalau kegiatan itu dilakukannya berulang kali tanpa merasa bahagia dan menyebabkan kemampuan main basketnya menurun, apakah itu patut?

Ada loh orang yang baiknya minta ampun sampai melupakan mimpinya sendiri dan hidup di mimpi orang lain. Dalam hatinya, tujuan hidupnya adalah membahagiakan orang lain. Tapi perlu kita ingat bahwa membahagiakan orang lain, dalam artian adalah seseorang atau sebuah grup, bisa jadi membuat sedih yang lainnya. Bingung?

Gini, gini. Gampangnya, ada dua buah toko buku dimana di dalamnya terdapat sebuah buku yang ingin kita beli. Jika uang kita pas, kita harus membeli buku di salah satu toko buku tersebut dimana akan membuat pemilik toko lainnya bersedih. Hidup juga gitu. Katakanlah biarpun tidak bahagia, asal kita bisa membahagiakan suatu kalangan, itu cukup. Sebenarnya itu prioritas sih. Seperti kisah si A dan kerabatnya itu. Ia bisa memilih untuk membahagiakan kerabat atau orang tuanya yang akan membuat sedih sebelah pihak. Tapi, pilihan itu haknya. Si kerabat tidak bisa memaksa A untuk memprioritaskan dirinya di atas kedua orang tua si A sendiri. Ingat ya, kita sendiri loh yang bertanggung jawab atas kebahagiaan kita sendiri. Menurut saya, si A harusnya berkehendak sesuai prioritasnya, tentunya dengan mempertimbangkan resikonya, karena seseorang tidak akan pernah mampu untuk membahagiakan semua orang. Serius.

Ada juga orang yang sifatnya seperti si kerabat yang gemar memaksakan kehendaknya atas orang lain. Jika itu diri kita, marilah kita berkaca ya… Nggak kasihan apa jika sosok seperti si A harus dihantui rasa bersalah hanya karena sikap egois kita? Terserahlah dia mau apa selama tidak melanggar hukum dan norma. Coba bayangin aja jika kita ada di posisi A. Kasihan batinnya jika terus-terusan dipaksa untuk melakukan sesuatu hal yang tidak diinginkannya. Biarlah dia menghidupkan mimpinya. Dan kita dengan mimpi kita. Sesekali boleh saling membantu, asal jangan berlebihan. Ingat, setiap orang bertanggung jawab atas kebahagiannya.

sumber : www.reloveplanet.com
sumber : http://www.reloveplanet.com

Yang di atas cuma contoh ya. Saya harap, postingan ini cukup jelas walaupun tampaknya kok muter-muter, gitu.

Iklan

7 thoughts on “Setiap Orang Bertanggung Jawab atas Kebahagiaannya Sendiri

  1. suka sama tulisan nya, dan setuju banget sama statement kita bertanggung jawab atas kebahagiaan kita sendiri. dan sejauh mana kita bisa mendefinisikan sesuatu menjadi kebahagiaan kita. 🙂

    Suka

  2. Assalamu’alaikum mbak Naelil, minta email boleh? hehehe ini punya aku lillahasri77@gmail.com dari smanggar. suka sama tulisannya yang sangat memotivasi, padahal belum pernah liat orangnya, ngestalk mbak nae ngga ada abisnya, semoga harinya berkah terus yaa

    Suka

    1. Wa’alaikumussalam. Tapi kalau email, nggak bisa fast respond loh. Mungkin ada sosmed yang lain?
      Aamiin. Makasih ya. Kamu juga. Duh kan jadi malu haha. Salam ya buat smanggar. Angkatan kapan?

      Suka

  3. Kelas XI sekarang mbak, terimakasih ya mbak, tulisan mbak naelil itu bikin semangat dan enak dibacanya. aku cerita ke temen – temen, dan kemaren mbak naelil jadi topik hangat di kelas. mbak naelil uda memotivasi kami melalui tulisannya. makasih banyak, dan semangat terus

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s