Tentang Jurusan Jurnalistik dan Saya

AB15521

sumber : http://www.huffingtonpost.com (Abaikan putung rokok!)

Jika kita melakukan sesuatu dengan cinta, insya Allah hasilnya akan maksimal.

Sudah sering mendengar petuah seperti itu? Sama halnya ketika kita memilih jurusan. Baik di SMA atau perkuliahan.

Rasanya bersyukur sekali setelah menemukan bahwa kaki melangkah di ranah yang insya Allah tepat. Waktu masih kelas 1 SMA, saya sama sekali belum memiliki gambaran jelas hendak menjadi apa di kemudian hari. Jika ditanya, agar lebih aman, pasti jawabnya ingin jadi orang sukses dan berhasil. Nah, berhasil dan sukses yang bagaimana tuh? Terus dalam bidang apa? Dulu sih masih mudah sekali berganti.

Saya pernah ingin jadi pedagang gegara melihat keseruan nenek berdagang, penjahit gegara saya suka dandanin boneka barbie pakai kain-kain sisa, designer pakaian gegara saya suka gambar pakaian, arsitek gegara suka banget lihat ibu design rumah (rumah kami, waktu awal dibangun itu menggunakan design gambar dari ibu loh, tapi sekarang udah diubah sih), photographer gegara baca novel dimana tokohnya adalah photographer yang keren (sampai sekarang masih mikir kalau photographer itu keren banget), psikolog anak gegara lihat keponakan yang jadi psikolog, bahkan secret agent gegara waktu itu sempat suka banget nonton James Bond dan sejenisnya. Bahkan saya sempat ikut bela diri demi cita-cita itu. Meski nggak dilanjutkan karena cita-citanya udah ganti lagi.

Saya juga pernah pengin jadi dokter. Dokter apa? Dokter jantung dan pembuluh darah supaya bisa obatin orang sakit seperti almarhum kakek. Dulu tuh suka sedih tiap kali nganterin kakek kontrol di dokter jantung dan pembuluh darah :’) Sedih tiap kali kakek disuntik. Pokoknya sedih banget sampai mikir harus jadi dokter jantung dan pembuluh darah supaya bisa rawat kakek. Ya, meskipun kakek udah meninggal, setidaknya bisa rawat orang yang sakit seperti kakek. Kalau ngomongin kakek, pasti ingat penyesalan kenapa dulu nggak sering-sering nemenin kakek. Inget banget moment waktu nenek kasih kabar meninggalnya kakek. Huwaaa, rasanya kaya dihantam pakai api.

Makannya, sekarang selagi masih ada ayah, ibu dan saudara-saudara, diusahakan untuk berkomunikasi dengan mereka. Selagi masih ada waktu supaya nggak menyesal.

Oke, jadi akibat dari kegalauan itu, atas dasar nasehat orang-orang yang mengatakan bahwa jika masuk IPA, kelak dapat memilih jurusan perkuliahan baik di bidang IPA sendiri ataupun IPS, saya memutuskan untuk masuk IPA. Di samping alasan-alasan lainnya.

Menjelang kelulusan, saya dapat tawaran dari dosen teman guru Bahasa Indonesia di SMA, untuk kuliah jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia di kampus tempat beliau mengajar. Mau dibayarin, katanya. Tapi guru Bahasa Indonesia saya tampaknya tidak mengizinkan. Justru mendukung saya untuk jadi dokter. Lah? Mahal, Pak. Terus tante dan nenek dukung saya kuliah di STAN. Kalau ibu penginnya saya jadi dokter (tapi nggak maksa juga), ayah lebih mendukung apapun keputusan saya dengan mewawancarai saya-halah-kenapa pengin jadi itu dan gimana rencana kedepannya.

Menjelang kenaikan kelas 3 SMA, saya bawa tulisan tangan saya ke keponakan yang seorang grafolog. Selagi gratis. Hehe. Saya bilang kalau saya minat untuk ambil Matematika Murni, Teknik Industri atau Arsitektur. Katanya kalau dari tulisan saya, cocok untuk ambil Teknik Industri dengan alasan sebagai berikut dan sebagai berikut.

Tapi eh pas SNMPTN, saya justru ambil Sastra Inggris dan Sastra Indonesia. 😀 Namun ketika saya daftar beasiswa Mitsui-Bussan ke Jepang, saya justru mengambil jurusan Teknik Arsitektur. Beda lagi. Penyebabnya, entah karena dilarang lintas jurusan atau apa ya, lupa.

Terus pas daftar beasiswa Turki, saya mantap memilih jurusan Jurnalisik. Calon pendaftar beasiswa Turki kan boleh mengambil 12 pilihan tuh. Saya cuma ambil 6 gegara jurusan Jurnalistik hanya ada di 7 universitas pilihan. Nggak mau jurusan lain.

Alhamdulillah, insya Allah tidak salah jurusan. Soalnya suka banget sama mata kuliah yang ada di Departemen Jurnalistik Universitas Ege di kota Izmir. Di semester 1 ini, kami ada 10 mata kuliah. 8 mata kuliah wajib dan 2 mata kuliah pilihan. Saya ambil mata kuliah Reading Skills dan History of Communication.

Awalnya dulu ambil Reading Skills dan Arts and Aesthetics, tapi mata kuliah pilihan yang Arts and Aesthetics itu terlalu berat buat saya yang bahasa Turkinya masih belum wah banget. Setelah konsultasi sama academic advisor yang baik banget dan cantik, akhirnya pindah ke History of Communication yang ternyata seru. Kan kalau bayangin sejarah itu ngebosenin ya, yang ini sama sekali enggak. Bikin ketagihan, malah. Dosennya seru soalnya. Kayak ngedongeng ke kita. Interaktif juga ngajarnya.

Kalau yang Reading Skills, andai bahasa Turki saya udah keren banget, pasti bakalan seru. Sayangnya, belum. Jadi ya gitu. Misalnya nih kemarin kita ada permainan di kelas buat baca puisi terus nulis maknanya di kertas dan dikumpulin. Saya aja puisinya nggak paham. Jadi saya tulis kalau saya nggak paham sama puisinya, gimana saya bisa menginterpretasikannya? Bahasanya berat euy. Pas kertas tulisan saya itu dibacain sama dosen di depan kelas, eh diketawain sama anak-anak.

Tapi serunya sih, kita sering bahas buku-buku, baik klasik ataupun modern, baik fiksi atau non-fiksi. Serulah buat referensi bacaan. Bikin saya nyadar kalau masih kurang banyak baca. Selain itu, mata kuliah ini juga asyik banget karena di kelas, sambil pelajaran, dosen saya yang satu ini pasti selalu puterin kita musik klasik. Berasa gimana gitu. Seneng deh 😀

Selain 2 mata kuliah pilihan, 8 mata kuliah wajib lainnya juga nggak kalah seru. Kalau mau coba, datanglah ke Universitas Ege. Hehe. Itulah mengapa saya bilang bahwa saya insya Allah nggak salah jurusan. Karena mata kuliah yang disediakan itu saya banget! Jadi ngejalaninnya pun enjoy. Mungkin ada sedikit masalah sama mata kuliah sejarah Turki karena minimnya pengetahuan saya tentang itu. Dari SD sampai SMA kan dicekokin sejarah Indonesia. Alesan!

Makannya itu teman-teman, sebelum memilih jurusan, pikirkan matang-matang. Lakukan sesuai passion. Ini tentang cinta. Kalau teman-teman cinta sama bidang yang digeluti, sekalipun susah, insya Allah akan dimudahkan. Yang penting cinta dulu sama bidangnya. Itu poin pertama.

Poin kedua, seperti yang sudah dikatakan pada poin pertama, semua itu soal cinta. Mungkin teman-teman sering mendengar bahwa bahasa Turki itu sulit. Saya nggak akan nambah-nambahin ketakutan teman-teman akan itu. Mungkin memang sulit karena struktur bahasanya berbeda dengan Bahasa Indonesia. Jika kita biasa menggunakan Subjek+Predikat+Objek+Keterangan (SPOK), Bahasa Turki menggunakan SKOP. Lebih masalah lagi, terdapat subjek juga di dalam predikat. Tapi asal cinta, insya Allah akan dimudahkan. Minggu awal kuliah, saya juga suka kesel tiap kali udah seru-serunya baca buku pelajaran, eh harus buka kamus atau google translate. Lambat laun, lebih telaten dan menikmatinya.

Poin ketiga, itulah sedikit gambaran mengenai Departemen Jurnalistik Universitas Ege. Siapa tahu di antara teman-teman ada yang berminat untuk masuk ke jurusan ini. Hehe. Boleh kok kalau mau tanya soal Universitas Ege ke saya 🙂

 

Iklan

24 thoughts on “Tentang Jurusan Jurnalistik dan Saya

  1. Kirain saya aja yang pernah galau menentukan jurusan. 😦

    Keren, Kak. Bermanfaat dan kisahnya seru. 😀

    Saya pernah curhat sama kakak psikolog (lewat fb) tentang study saya selanjutnya, beliau pun mewanti2 agar saya memilih jurusan yang dicintai. :3
    Cinta oh cinta… Gahgahgah :mrgreen:

    Suka

    • Tahun 2014 lalu, beasiswa YTB cuma menyediakan jurusan Jurnalistik di 7 universitas. Istanbul Univ, Ankara Univ, Ege Univ, Selcuk Univ, Anadolu Univ, Akdeniz Uniz dan satunya lagi saya nggak ingat. Tapi tiap tahun bisa berubah kok. Misalnya aja jika tahun 2014, Univ di kota Zonguldak masih masuk ke list. Tapi 2015 lalu udah dihapus dari list.

      Suka

  2. kak, kaka lewat beasiswa bukan masuk jurnalistiknya? kalau lewat beasiswa kaka pas interviewnya gimana? terus ngisi essaynya gimana?? makasih kak, mohon jawabanya

    Suka

  3. Assalamualaikum Mbak Nae, Merhaba!!!
    Nama saya Dio. Bachelor Degree of Communication Science UNS Solo. Btw, podho wong Jatim e lho wkwkwk *lupakan*
    Sejujurnya saya mengalami permasalahan yang kurang lebih sama dengan Mbak Nae, yaitu kegalauan akan menemukan passion. Bahkan sekarang dalam keadaan sudah lulus S1 pun saya merasa tidak pernah benar-benar mencintai ilmu komunikasi (no offense) namun saya melihatnya lebih kepada kebutuhan dan selalu ada manfaat mempelajari disiplin ilmu lain, terlepas kita suka atau tidak.
    Singkat cerita, ketika masa-masa perjuangan skripsi saya seperti mendapatkan hidayah. Periode setelah itu seringkali saya lalui dengan mencoba menyelami agama saya lebih baik. Hingga pada satu titik saya mulai mempelajari literatur seperti Komunikasi Islam hingga Sejarah dan Peradaban Islam. Entah mengapa saya sangat antusias mempelajari topik itu ketimbang teori-teori komunikasi. Pemikiran subjektif saya bahwa dengan mempelajari topik Sejarah Islam saya bisa menyelam sambil minum es teh *eh* maksudnya belajar sejarah agama kita sendiri sekaligus memupuk keimanan yang kuat dengan mengetahui nilai-nilai yang terkandung dalam sejarah itu. Oleh karenanya saya sangat berharap bisa belajar lebih mendalam tentang topik ini, Sejarah Islam secara umum, dan Sejarah Turki Utsmani secara khusus. Itu salah satu alasan kenapa saya memilih Turki.
    Saya mau tanya sama Mbak Nae, dengan pemilihan jurusan non-linier seperti ini akan menyulitkan ketika sudah masuk dalam proses pekuliahan? dan dengan pemilihan jurusan yang non-linier ini apakah kemungkinan kecil untuk diterima melalui beasiswa YTB bahkan di step seleksi administrasi?
    Maap yak jadi curhat. Tapi saya kira Mbak Nae seorang manusia dengan hati yang baik hihihi
    Tesekkur Ederim!!!

    Suka

    • Wa’alaikumussalam. Merhaba!
      Wah, menarik sekali ceritanya. Terima kasih sudah berbagi 😀
      Setahu saya, YTB nerima-nerima aja kok yang pilihan jurusannya non-linier dari pendidikan sebelumnya. Asalkan pelamar bisa meyakinkan YTB apa alasannya. Walaupun background pendidikannya non-linier, kalau ada sedikit background yang linier dengan pilihan jurusan, bisa juga untuk nambah poin tuh. Tapi yang terpenting adalah alasan dan rencana ke depannya kenapa pilih jurusan itu.
      Kalau menyulitkan, mungkin iya. Tapi kan kakak udah mempelajari literatur di bidang yang ingin kakak ambil. Lagian kalau udah cinta, pasti bakal lebih mudah kok menjalaninya. Sukses yaa 😀

      Suka

      • Alhamdulillah. Wah terima kasih banyak Mbak Nae atas responnya di sela2 kesibukan.
        Tapi itu hanya sekedar preferensi pribadi ya. Maksudnya dg memilih jurusan di luar itu tidak lantas menjadi kurang taat thd agama, tidak. Tapi itu setidaknya yg saya rasakan. Mengenal lebih jauh mengenai Islam dari perspektif sejarah.
        Iya nih saya masih dalam tahap menggali berbagai informasi dan kasak-kusuk terkait YTB. Rencana InsyaAllah taun depan mau daftar *doakan ya hehe
        Pengen bgt mengenal Turki nih, dari sejarahnya yg panjang, kebudayaan sampai masyarakatnya. Apalagi Turki seperti memiliki kedekatan emosional dg umat Muslim seperti saya.
        Oh iya gmn keadaan di Turki skrg? Kondisi politiknya sudah stabil kah?

        Suka

  4. Amiiin yaa Rabb. Makasih doanya Mbak Nae.
    Tp emg bener ya di bawah Erdogan, Turki semakin maju skrg?
    Oh iya ada kiat-kiat atau tips selama proses pengumpulan hingga apply dokumen Mbak Nae?

    Suka

  5. Halo Kak, salken ya! lihat artikel ini aku jadi makin semangat ntuk menimbang pilihan yang mqu aku ajukan tahun depan. Oh ya kak. kalau misalnya jalur beasiswanya itu sama seperti jurusannya kakak ini. apa harus satu jurusan yang kita pelajari di indonesia? sekian~

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s