Persiapan Menuju Tahun 2016

Rasanya udah lama banget nggak ngisi blog. Kaya ada yang hilang, gitu. Akhirnya di malam terakhir pada tahun 2015 ini, saya memutuskan untuk menulis sesuatu. Selagi belum ujian akhir. Habis ini udah guling-guling belajar buat ujian akhir semester 1 yang akan dilaksanakan pada pertengahan bulan Januari 2016 nanti.

Sebelum masuk ke ranah resolusi, mari berintropeksi diri. Kurang apa ya tahun ini? Saya pribadi merasa kurang sabar, masih suka panik haha, masih menghindari orang tertentu, masih belum berhasil nulis fiksi lagi. Semoga deh tahun depan jadi orang yang semakin sabar dalam menghadapi apapun, lebih tenang dan nggak panik, nggak menghindari orang tertentu walaupun nggak ingin bertemu. Perlu diingat ya bahwa tidak baik memutus tali persaudaraan. Jadi semoga nggak kabur-kabur lagi kalau ketemu orang tertentu. Hadapi aja, senyum dan bicara secukupnya ya introvert. Terus juga bisa konsisten nulis fiksi meskipun hasilnya amburadul. Sesuatu yang diasah, selama niatnya baik, insya Allah membawa berkah. Hehe.

Terus apa ya yang perlu disyukuri? Banyak deh. Kesehatan adalah salah satu hal yang perlu disyukuri, misalnya. Adalagi nih yang bikin saya bergidik bahagia. Tanggal 18 Desember 2015 lalu, saya mempresentasikan sejarah Indonesia, hubungan Indonesia dan Turki, serta  budaya-budaya Indonesia di kelas sejarah Turki.

Jadi, hari Jumat tuh jadwalnya mata kuliah bahasa dan sejarah Turki. Kelas anak Jurnalistik dibagi 2 karena jumlahnya yang tidak sedikit. Karena nomer induk mahasiswi saya ganjil, saya dapat kelas pagi bahasa Turki dan kelas siang sejarah Turki. Namun hari itu dosen bahasa Turki izin sehingga kami yang bernomer induk ganjil masuk langsung ke kelas pagi sejarah Turki milik mahasiswa/i bernomer induk genap. Kelas rame banget waktu itu. Saya dan teman dekat saya dari Kazakistan pun saling bergidik menyiapkan mental untuk presentasi.

Yang pertama presentasi adalah si N, mahasiswa asal Afghanistan. Karena ada 2 mahasiswa asal Afghanistan di kelas kami, keduanya bekerja sama. Si M membuat bahan presentasi dan si N yang mempresentasikannya. Tanggapan anak-anak sih begitu aja, mungkin karena si N ini serius sekali dalam presentasi. Kelas pun hening. Gimana saya nggak takut? Saya kan udah nyiapin beberapa lelucon. Waktu melihat tanggapan anak-anak, saya nyaris memutuskan untuk batal melempar lelucon.

Yang kedua presentasi adalah antara saya dan teman Kazakistan.

“Kamu dulu atau aku dulu nih?” tanya saya berbisik ketika teman Afghanistan menutup presentasinya.

“Kamu dulu gih!” jawabnya seraya memberi kode ke arah saya.

Akhirnya saya pun maju ke depan dengan degupan jantung yang kencang lantaran itulah pertama kalinya saya presentasi menggunakan bahasa Turki. Untuk menghilangkan tekanan, saya membatinkan beberapa doa dan tersenyum selebar-lebarnya ke arah anak-anak.

Tahu-tahu, saya dengan percaya diri mondar-mandir di depan kelas seraya melempar beberapa pertanyaan dan lelucon di beberapa kesempatan. Bahkan, beberapa ide lelucon datang spontan ke kepala saya untuk membuat kelas semakin meriah.  Saya sama sekali tidak menyangka bahwa tanggapan anak-anak sekelas dan dosen sangat luar biasa. Saya merasa bahwa yang presentasi di depan kelas tadi bukanlah saya. Rasanya seolah deja vu ke masa ketika interview beasiswa Turki. Kaya bukan saya. Rasanya seolah Allah SWT mengirimkan suatu keajaiban yang luar biasa. 😀 Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

Ketika interview beasiswa Turki dulu, saya dapat menjawab pertanyaan tanpa tekanan yang berat. Padahal sebelum itu saya sama sekali belum pernah-catat ya-belum pernah berbicara dengan orang asing menggunakan bahasa Inggris. Kalau sekedar chat sih sering. Tapi kalau berbicara, sama sekali belum lho. Ada beberapa kesempatan sih sebenarnya untuk saya berbicara bahasa Inggris dengan orang asing. Tapi saya tak punya nyali. Jadi ketika interview itu, saya sebenarnya sudah sedikit was-was apalagi ketika salah satu peserta interview mengatakan bahwa logat bahasa Inggris para penanya sangat sulit dipahami. Namun sekali lagi, dengan doa, saya masuk ke ruang interview. Bismillah aja lah, yang penting udah berusaha. Akhirnya, keajaiban itu pun terjadi.

Inilah sebabnya selalu saya tekankan bahwa pernyataan “nothing is impossible” dan “man jadda wajada” itu memang benar adanya. Jadi kalau di antara kalian ada yang berniat kuliah di luar negeri tapi merasa bahasa Inggrisnya masih pas-pasan, jangan menyerah! Usahanya dimaksimalin dulu. Terus coba daftar. Jangan lupa berdoa! Karena bisa kok. Pasti bisa!

Resolusi untuk tahun 2016 mengenai blog, apa ya…

  1. Dapat mengisi blog naeliltheclimber ini dengan hal-hal yang bermanfaat seperti memposting tulisan yang bisa memotivasi pembaca dan bukannya asal-asalan atau menjerumuskan.
  2. Dapat lebih sering bersilaturahmi ke blog milik blogger lainnya dan berkirim komentar.
  3. Dapat menjadikan blog ini beralamat naeliltheclimber.com
  4. “Dapat” menulis fiksi kembali supaya bisa posting fiksi di blog. 😀
  5. Dapat mengadakan giveaway kembali minimal sekali dalam setahun.

Aaamiin.

Kalau resolusi teman-teman apa nih? Sampai jumpa tahun depan!

 

İzmir, 31 Desember 2015

23.08 EEST (waktu setempat)

Iklan

4 thoughts on “Persiapan Menuju Tahun 2016

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s