Perbedaan Tinggal di Asrama dan di Rumah (Kamar) Sendiri

Kalau udah pegang buku sambil dengerin musik, rasanya nggak mau diganggu oleh siapapun. Bahkan sekedar menyapa pun juga males karena ntar fokus baca bukunya jadi hancur. Gimana bisa menikmati dan menyelesaikan buku bacaan jika setiap baca satu paragraf, udah diajak ngobrol lagi, dan lagi?

Namanya juga tinggal di asrama yang sekamar isinya 4 orang…

Kali ini saya mau bahas soal bedanya hidup di tanah rantau, terutama jika tinggal di asrama-dalam hal ini berdasarkan asrama yang saya tempati di Turki-dan hidup di rumah sendiri bareng keluarga.

  1. PENGGUNAAN FASILITAS BERSAMA

Asrama

Karena sekamar ada 4 orang, kami tidak bisa bersikap seenaknya sendiri. Kalau mau tidur dan teman sekamar lainnya masih belajar, harus diskusi dulu perkara matiin lampunya. Sebenarnya ada ruang belajar sih di setiap lantai di asrama. Tapi gimanapun, belajar di dalam kamar itu asiknya minta ampun. Cuma ya gitu, kalau kondisinya lagi nggak pas… dimana kita pengin tidur dan teman lainnya pengin belajar, salah satu harus ngalah. Belajar mah mending ya bisa dikasih toleransi. Nah kalo begadang cuma buat nonton film atau cari hiburan lainnya, mending matiin lampunya aja kan buat tidur? Makannya itu beberapa teman saya suka bikin perjanjian sama teman sekamarnya. Misal nih, jam 12 malam, lampu harus sudah dimatikan. Apapun yang terjadi.

Itu soal lampu. Adalagi soal penggunaan kulkas yang harus dibagi.

Rumah (Kamar) Sendiri

Kalau di rumah sendiri, penempatan makanan di kulkas memang harus dibagi. Tapi, asal naroh juga nggak apa-apa. Kalau di asrama, bisa tuh asal naroh makanan sesuka hatinya misal udah dibagi bahwa lokasi A buat si A, B buat B? Ada sih tipe teman asrama yang setuju untuk kita menempatkan makanan dimanapun, namun ada juga tipe teman asrama yang bersikap sebaliknya.

  1. PRIVASI

Asrama

Selain masalah pembagian fasilitas kamar, adalagi soal yang menyangkut karakteristik orang. Ada tipe orang yang ramai dan suka ngajakin ngobrol tiap saat, ada tipe orang pendiam yang lebih suka mengobservasi sekitarnya dan berpikir dalam diam, ada yang suka nyanyi-nyanyi sendiri, joget-joget sendiri, suka buang sampah sembarangan, berantakan, suka bersih-bersih dan masih banyak lagi. Hidup di asrama dengan kamar berisikan 4 orang, mewajibkan kita untuk pandai-pandai berbaur dengan berbagai macam karakter orang dari berbagai penjuru bumi.

Bayangin deh misal tipe teman pendiam dan nggak suka ngomong ketemu sama yang tipe teman ramai dan suka ngajakin ngobrol. Setiap kali tipe teman pendiam bahagia dengan dunianya sendiri, tipe teman ramai dengan bahagia ngajakin tipe teman pendiam untuk ngobrol. Ada tipe teman pendiam yang rela meninggalkan kebahagiaannya untuk berdiam diri dan memberi kebahagiaan bagi tipe teman ramai, ada juga tipe teman pendiam yang menunjukkan ketidaksukaannya terhadap apa yang dilakukan tipe teman ramai. Intinya, si tipe pendiam bakal merasa terganggu akan itu.

Ada juga tipe yang suka dandan dan ngomong sendiri di depan kaca demi mempraktikkan kemampuan berhias diri dan aktingnya. Gara-gara tinggal di asrama, ia jadi gagal bersikap sebagai dirinya sendiri. Sama halnya dengan tipe yang gemar mendengarkan musik kencang-kencang. Gara-gara tinggal di asrama, ia yang suka dengerin musik kencang-kencang sambil lompat-lompat pun harus dengerin musik pakai earphone dalam posisi tenang.

Semuanya berubah. Ia harus merelakan privasinya diganggu. Bahkan ganti baju pun jadi tidak bisa dilakukan di kamar sendiri. Selain harus merelakan kemungkinan privasinya untuk diganggu, ia juga harus menghargai privasi orang lain.

Sisi positifnya sih, dengan begitu, para penghuni asrama dapat belajar untuk menjadi pribadi yang semakin menghargai privasi orang lain. Kan ngerti tuh betapa sebelnya digangguin…

Rumah (Kamar) Sendiri

Kalau di kamar sendiri mah mau jungkir balik terserah. Mau begadang, nonton film, baca novel, nari-nari nggak jelas, lompat tali, nangis, ketawa dan lain sebagainya, terserah kamu. Cukup kunci pintunya dan tidak ada yang akan menganggumu. Kecuali kalau kamu puter musik kencang-kecang ketika adikmu yang mau ujian lagi fokus belajar di kamar sebelah, siap-siap aja diomelin mamih 😀

  1. KEAMANAN

Asrama

Namanya juga asrama. Banyak mata dimana-mana. Entah kenapa, berada di asrama membuat saya merasa sangat dilindungi. Hehe. Asrama kami merupakan halaman luas yang berisikan banyak sekali gedung/blok yang dikelilingi oleh pagar bergerbang. Nah, di pintu masuk utama asrama, terdapat beberapa security. Selain itu, di setiap gedung/blok juga memiliki security. Bukan hanya security, asrama dihuni oleh banyak sekali mahasiswa. Saya rasa, jika kekuatan kami dikumpulkan, self-defense kami cukup kuat kok. Hehehe.

Asrama kami juga memiliki banyak anjing penjaga yang siap memangsa penjahat. Eh!

Rumah (Kamar) Sendiri

Kalau ini, tergantung rumahnya sendiri. Ada rumah yang memiliki security dan CCTV, ada juga yang tidak. Meskipun demikian, serumah isi berapa orang sih? Nggak begitu banyak anggota keluarganya. Kecuali jika tinggal di perumahan atau apartmen, lumayan melegakan karena jarak/posisi antar tetangga sangat dekat.

  1. KETAKUTAN

Asrama

Selama tinggal di asrama ini, saya nggak ada ketakutan atau parno berlebih tuh ketika nonton film horror. Soalnya kan sekamar ada 4 orang… Meskipun cuma saya yang nonton film horror dan teman kamar lainnya sibuk sendiri, tidak masalah. Apalagi walau asrama pemerintah Turki yang saya tempati ini gedung-gedungnya sudah tua, saya belum pernah mendengar desas-desus ada kuntilanak dan sejenisnya yang menetap. Jadi biasa aja kalau jalan sendirian di kegelapan. Lagipula, kuntilanak Indonesia dan kawan-kawannya butuh visa buat masuk ke Turki. Daripada hantu, saya justru lebih sering dibuat merinding sama anjing-anjing penjaga asrama. Padahal anjing-anjing itu juga nggak ngapa-ngapain. Hanya saja, kalau kamu keluar pagi atau tengah malam, mereka akan mengikutimu. Cuma mengikuti kok, nggak menggonggong atau gigit.

Rumah (Kamar) Sendiri

Kalau di rumah, saya sukanya minta temenin orang rumah buat nonton film horror. Biasanya sih saya yang nonton film horror sendiri dengan orang rumah yang terlelap di samping saya, atau lagi ngobrol, yang jelas posisinya lagi di samping saya. Kalau enggak gitu, saya akan nonton sendirian tanpa orang rumah di samping saya, namun dengan bersembunyi dibalik selimut. Heheh.

Bukan hanya itu. Waktu di Indonesia, saya juga sering parno kalau jalan sendirian dalam kegelapan. Tiap kali lihat pohon mangga, berasa lihat ada sesuatu berwarna putih yang bergelantungan di sana. Bahkan tumpukan sampah aja terlihat seperti tuyul. Ya Allah!

  1. MASAKAN

Asrama

Huhuhu. Ini yang paling menyakitkan. Ibu saya gemar sekali memasak sehingga beliau menjadi kreatif dalam berkreasi meracik aneka masakan. Ampuhnya, masakannya enak. Terbukti dari setiap kali saya bawa makanan ke sekolah pas SMA dulu atau pas ada kegiatan buka bersama, masakan buatan Ibu saya selalu ramai diserbu anak-anak. Sayangnya, kemampuan memasak Ibu tidak turun ke saya. Mungkin karena saya malas mencoba untuk masak, saya nggak bisa masak, bahasa kasarnya. Anggap saja begitu. Soalnya dulu pas di rumah, selalu Ibu yang memasak. Saya bantu pekerjaan lainnya yang penting di luar kegiatan masak-memasak -kan masakan Ibu sudah enak, ngapain saya masak? 😛 -sehingga sekarang ketika tinggal di asrama, saya kena imbasnya.

Sebenarnya, asrama kami melarang mahasiswanya untuk memasak karena toh sudah ada kantin yang menyediakan makanan untuk kita dari jam 6 pagi sampai jam 12 malam. Namun kalau mau masak sih bisa aja dengan sembunyi-sembunyi. Kalau nggak gitu, masak aja di rumah teman. Karena saya jarang masak, saya tidak mungkin memasak sesuatu yang saya inginkan-karena tidak pernah saya masak sebelumnya-di rumah teman. Masa iya buat percobaan? Iya kalau tinggal di rumah sendiri, bisa coba masak ini-itu karena ketika hasilnya buruk, bisa diulang lagi. Lah kalau di rumah teman? Udah ketemunya jarang, eh sekalinya masak hasilnya buruk. Apalagi masak buat orang lain/teman-teman juga. Di samping sebenarnya saya malas juga untuk cari resepnya sih. :mrgreen: Maunya langsung makan. Hiks.

Rumah (Kamar) Sendiri

Kalau ini mah enak. Tinggal bilang, “Mamihhh, masak ini dong… Udah lama nggak makan ini,” pasti langsung dimasakin 😀 Apalagi jika posisi kita adalah baru pulang dari tanah rantau. Mau makan apapun, pasti akan diusahakan.

Saran saya, mending belajar bikin masakan favorit kamu deh… Karena ada masanya ketika kita akan sulit menemukan makanan favorit kita dan diharuskan untuk memasak. Misal nih ketika kamu lagi menetap di negara orang nun jauh di sana. Nggak ada noh Warung Makan Mak Roh yang bisa kamu datangin 3 kali sehari.

  1. DALAM SAKIT

Asrama

Kamu sakit? Sana ke dokter! Sana minum obatnya! Seorang teman, mungkin akan peduli ketika kita sakit. Namun percayalah, kepedulian mereka berbeda dengan kepedulian orang tua kita. Ini mungkin lebih tepatnya adalah posisi sakit di tanah rantau ya daripada di asrama.

Oh ya, berbagi kamar dengan orang lain juga membantu kita untuk belajar merawat temat yang lagi sakit, di samping belajar merawat diri sendiri. Apalagi kalau teman sekamar kita kena flu, hati-hati kena juga!

Rumah (Kamar) Sendiri

Nggak ada kegiatan nularin flu dari sesama teman kamar. Hehe. Selain itu, kita juga bisa bermanja-manja dengan orang tua. Pas lagi sakit, bisa makan bubur ayam tanpa perlu jalan sendiri nyari tukang bubur… pokoknya terima jadi aja.

Enam poin dulu aja ya mengenai perbedaan tinggal di asrama dan di rumah (kamar) sendiri. Semoga bermanfaat! Ada yang mau nambahin? 😀

Iklan

10 thoughts on “Perbedaan Tinggal di Asrama dan di Rumah (Kamar) Sendiri

  1. Assalamualaikum kak naelil,kalau blh tahu ppi turki yg kuliah juruan business adm ada berapa ya? Kaka punya tmn jurusan business adm di turki tdk ? 😊

    Suka

  2. Halo kak, boleh nanya ? Jika telah dinyatakan lolos sampai tahap wawancara, apakah itu sudah dapat dinyatakan mendapat beasiswa sekaligus lolos jadi mahasiswa di universitas pilihan kita ? Atau hanya lolos beasiswa tapi selanjutnya juga perlu tes masuk universitasnya ? Terimakasih atas jawabannya.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s