Apakah Kita Harus Menerima Apa Adanya?

I am being bored by you.”

“Ya udah.”

“Kamu jangan jadi orang yang ngebosenin dong!”

“Lah? Lha aku emang gini. Kamu harus terima dong..”

“Kamu bodoh kalau kamu bilang terima apa adanya.”

“Gini-“

“Blah blah blah. Yaudahlah!”

Well, percakapan singkat di atas menginspirasi saya untuk menulis tentang dua sisi dari kata “menerima apa adanya”. Di satu sisi, memang benar bahwa tidak baik untuk menerima orang apa adanya karena daripada menerima apa adanya, bukanlah lebih baik untuk bergandengan tangan sama-sama berusaha menjadi lebih baik? :mrgreen:

Di sisi lain, menerima apa adanya itu dapat berarti untuk menerima orang lain sebagaimana ia dan tidak merubahnya ke bentuk yang tidak sesuai dengan keinginannya. Misal nih si A bilang si B ngebosenin. Normal. Toh ada si C dan si lainnya yang menganggap si B nggak ngebosenin. Ini soal selera, guys. Kalau kamu suka rujak terus nemu rujak dan memaksanya akan berasa seperti bakso di lidah, apakah itu bisa? Jadi, kalau ada orang yang bilang bahwa kamu ngebosenin, nggak usah khawatir karena ada orang lain yang justru suka kepribadian membosankanmu itu.

Ada kondisi nih misal si D punya teman si E, F dan G. Orang di luar keempat tokoh tadi melihat bahwa D lebih nurut kepada E, bersikap 50-50 kepada F dan seringkali menolak ajakan G. Dari luar mungkin tampak seolah si E telah membuat voodo doll terhadap D. Padahal bisa jadi bahwa sesungguhnya ideologi si D emang cocok dengan ideologi yang dianut E sehingga D seringkali menerima ajakan E. Vise versa juga dengan G.

Pada intinya, saya ambil kesimpulan bahwa kepribadian orang itu tidak ada yang sama. Kalau seseorang bosan terhadapmu dan berusaha mengubah beberapa hal dalam dirimu ke bentuk yang tidak kamu sukai, jangan segan untuk menolak. Tapi ini memiliki pengecualian juga ketika sikapmu itu mengganggu orang lain. Dalam hal ini bukan konteks membosankan, tapi “mengganggu” yang sudah terdaftar dalam norma bermasyarakat semisal suka ngutang, suka nyuri buah rambutan di rumah tetangga ataupun suka sebar isu tidak benar. That’s what I think sih. Mari jadi masyarakat terbuka yang menerima diversity!

Iklan

8 thoughts on “Apakah Kita Harus Menerima Apa Adanya?

  1. Ping-balik: Apakah Kita Harus Menerima Apa Adanya? | Khilma Vita Nurmayasari

  2. Ms. Nae.. Voodo doll itu boneka santet, ya?
    Terus aku pernah baca milik Ms. Nae entah tulisan yang mana, yang pasti itu ada kalimat “kupu-kupu melayang dalam perut” begitukah? Nah, what does it mean?

    Suka

  3. Hehe bingung mau kasih komentar apa buat yang ini. Hmmm kayak percakapan di atas pernah ngalamin itu. Dan rasanya nggak enak bangetttt. Dan intinya emang kudu saling mengharai biar pihak satu dan pihak lain sama2 merasa nyaman

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s