Derita Anak Jurnalistik

Jika membicarakan soal jurnalistik, apa sih hal pertama yang timbul dari kepalamu? Bolpoin? Recorder? Kertas? Koran? Berita? Kamera? Atau apa?

Sebelum membicarakan jurnalistik lebih lanjut, saya mau bahas dikit mengenai etimologi kata jurnalistik itu sendiri.

Secara etimologi, jurnalistik terdiri dari dua kata yaitu jurnal dan istik. Kata jurnal berasal dari bahasa Perancis yaitu journal yang berarti catatan harian. Kata istik merujuk pada kata estetika  yang berarti ilmu pengetahuan yang membahas tentang keindahan. Keindahan yang dimaksud adalah menghasilkan produk seni keterampilan dengan bahan-bahan yang diperlukan. Dengan demikian secara etimologis, jurnalistik diartikan sebagai suatu karya seni dalam hal membuat catatan tentang peristiwa yang terjadi sehari-hari. Istilah jurnalis pun berasal dari bunyi istilah diurnarius atau diurnarii, yang mengandung arti orang yang mencari dan mengolah (mengutip dan memperbanyak) informasi kemudian dijual kepada mereka yang membutuhkan. Sehingga istilah jurnalistik mengandungarti keterampilan atau karya seni para jurnalis, dalam arti mencari informasi, memilih dan mengumpulkan bahan berita, serta menyusun naskah berita tersebut untuk memenuhi kebutuhan khalayaknya. (sumber)

Cukup jelas, ya?

Meski terlihat menyenangkan, dunia jurnalistik itu sebenarnya keras, kawan. Silahkan tonton video ini.

Itu hanyalah salah satunya.

Bukannya mau menakut-nakuti. Just to make you aware. Makanya itu banyak orang yang nggak suka sama jurnalis. Hew.

Soal tekanan, sama halnya dengan bidang lain, para jurnalis juga memiliki banyak tekanan mulai dari dikejar deadline sampai dikejar kriminal. Eh! Itu tekanan di dunia jurnalistik yang sesungguhnya. Bagi yang masih menempuh pendidikan jurnalistik, termasuk saya yang baru masuk ke semeter 2 ini, juga memiliki tekanan atau derita yang… boleh dibilang sifatnya lebih ringan. Apa itu?

  1. Ketika kamu ketinggalan berita…

Meski baru mahasiswa/i jurnalistik, percaya atau tidak, banyak yang menganggapmu adalah jurnalis. Dalam pandangan masyarakat, jurnalis itu wajib tahu berita terbaru. Nah, ketika saya sebagai mahasiswi jurnalistik ketinggalan berita, saya pun langsung dilempari tanya.

“Gimana sih? Jurnalis kok nggak update berita?”

Sejujurnya saya udah baca berita tiap hari.  Meski udah mengulik mulai dari portal berita di Indonesia sekelas Kompas dkk, lalu portal berita di Turki sekelas haberturk, millet, cumhuriyet dkk, hingga ke portal berita seperti Aljazeera English, Reuters, CNN, BBC, AFP dkk, tetap saja ada berita yang lewat dari jangkauan mata saya. Ya iya saya nggak baca semua berita yang ada dalam portal berita tersebut. Paling cuma baca judul. Baru deh kalau menarik, saya baca.

“Jurnalis itu harus tahu segalanya, walaupun cuma sedikit.”

Sekali lagi ini soal interest, meski ada benarnya juga.

Adalagi nih yang lucu. Ada teman saya yang tahu informasi terbaru mengenai sosok A. Ketika mendengar kabar terbaru tentang si A ini, saya terkejut karena baru tahu. Eh si teman yang ngasih tahu saya ini malah mengolok bahwa saya sebagai jurnalis seharusnya tahu kabar berita tentang si A lebih dulu. Ya ngapain saya cari tahu atau kepoin si A jika tidak mengandung news value serupa timeliness, proximity, unusualness, conflict, impact dll, misalnya?

  1. Ketika kamu males ketemu orang…

Sebenarnya kalau males doang sih nggak masalah. Tapi kalau itu serupa personality? Saya yakin pasti ada mahasiswa/i jurnalistik yang introvert karena saya pernah baca beberapa blog jurnalis yang mengungkapkan tekanan, tantangan dan keseruannya ketika harus bertemu orang baru sedangkan ia adalah introvert. Padahal sebagai jurnalis, bertemu orang itu nggak bisa dihindari karena jurnalis emang berurusan sama itu. Jadilah ketika saya seringkali males ketemu orang, sebagian teman saya selalu bawa-bawa nama jurnalis. Hadew… >.<

  1. Ketika kamu nggak suka ngomong…

Meskipun tangan saya ceriwis kalau disuruh nulis, saya aslinya pendiam lo. Saya jarang sekali mengungkapkan isi pikiran dan hati saya kepada orang lain, terutama kepada orang yang baru saya kenal. Kalau nulis kan kita memiliki banyak waktu untuk berpikir. Namun ketika berbicara, ada kalanya kita mengatakan sesuatu yang tidak seharusnya. Yep, saya memang bukan orang yang spontan. Ketika spontan, saya justru seringkali menyesali apa yang sudah saya katakan. Ini semua karena lidah itu lebih tajam daripada silet. Bolpoin juga tajam sih. Tapi ketika nulis, seperti yang udah saya katakan tadi, kita memiliki waktu yang lebih banyak untuk berpikir. Baru deh kalau udah yakin, kita bisa menuliskan dan membaginya kepada orang lain.

Sesungguhnya, jurnalis itu bukan soal banyak ngomong aja loh. Jurnalis juga harus merupakan pendengar yang baik. Bayangin deh kalau ada jurnalis yang ngomongnya lebih banyak daripada narasumber? Misal nih narasumber ngomongnya baru bentar eh udah dipotong karena jurnalisnya nggak sabaran. Nggak lucu, kan?

Padahal, jurnalis yang diam itu sebenarnya sedang melakukan pengamatan terhadap sekitar. :mrgreen:

  1. Ketika kamu suka tidur…

Jurnalis, erat kaitannya dengan istilah jarang tidur. Karena saya suka tidur, istilah jurnalis ini sering dibawa-bawa kepada saya. Kata saya sih selagi belum kerja jadi jurnalis beneran, mending saya manfaatkan waktu tidur selagi ada. #dijitak

  1. Ketika kamu menulis tidak sesuai EYD…

Ya masa iya kita harus nulis sesuai EYD terus? Ada waktunya juga kan untuk santai? Masa iya chatting sama sahabat dekat sesuai EYD? Hiks hiks. Itu sih mending ya. Karena ada kondisi ketika kita benar-benar tidak tahu yang sesuai EYD itu yang bagaimana.

  1. Ketika kamu lambat dalam menulis…

Saya bukan termasuk orang yang jago nulis cepat. Sekarang sedang dilatih sih supaya nulisnya secepat roket mengudara. Soalnya kalau nulis cepat itu sering typo. Udah gitu, tulisannya amburadul sehingga gagal untuk dipahami ketika dibaca ulang.

  1. Ketika kamu mengkhayal di siang bolong…

Ada masanya ketika orang gagal fokus terhadap sesuatu. Misal nih ketika kamu sedang lapar atau ngantuk, pasti sulit sekali untuk fokus. Akibatnya, kamu bisa tertidur atau pikiranmu kabur ke dunia lain. Nah, karena jurnalis itu harus peka dalam mengobservasi sekitarnya, istilah mengkhayal di siang bolong ini wajib dihindari.

  1. Ketika kamu memotret objek dengan buruk…

Karena di semester 2 ini ada mata kuliah Dasar Ilmu Fotografi, ketika saya memotret objek kurang baik, saya bakal kena omel. Padahal mah matkul ini baru akan dimulai minggu depan.

Itulah delapan dari sekian derita anak jurnalistik. Meskipun beberapa bagian terasa menyudutkan seolah jurnalis harusnya tahu segalanya dan bisa banyak hal, calon jurnalis diharapkan dapat memetik sisi positif dari segala tekanan itu untuk terus memperbaiki diri.

Jurnalis hanyalah manusia biasa yang tak lepas dari kesalahan. Tapi marilah sama-sama meminimalisir kesalahan itu supaya para calon jurnalis mampu menjadi jurnalis yang cerdas dan amanah ketika tiba masanya kelak.

Sekian postingan saya untuk menutup bulan Februari yang spesial ini, karena tanggal 29 Februari hanya akan datang lagi pada tahun 2020 kelak. Yuk kita tutup bulan ini dengan hamdalah dan kita buka bulan Maret besok dengan basmalah.

Salam sukses!

Iklan

12 thoughts on “Derita Anak Jurnalistik

  1. poin paling aneh sih yang pertama. masa kita harus upsate berita terus. orang yang nanya aneh juga sih. masa kita harus tiap menit mantengin ada beruta baru atau enggak

    Suka

    • Makanya itu… Saya juga kadang kesel sendiri >.< Lebih ngeselin lagi kalau misal saya melakukan kesalahan, terus disangkutpautin soal jurnalistik. Salah ya udah sih saya, nggak usah bawa-bawa nama jurnalistik. Lagian jurnalis kan juga manusia. Huhu

      Suka

  2. Ambil jurusan jurnalistik ya Naeli? Waaa seruuu, jadi inget pengalaman pas ngurusin mading sekolah 🙂
    Ngomong2, di Turki pakai EYD yang sama kaya di Indonesia?
    Coba tonton film 3 (tiga) alif lam mim deh, salah satu aktornya berperan jadi jurnalis, keren..

    Suka

    • Hihi.
      Beda loh EYD di Turki sama di Indonesia. Misalnya aja dalam penempatan tanda baca untuk percakapan langsung dalam cerpen atau untuk gelar.
      Udah nonton kok. Iya, keren! Aktornya juga keren :mrgreen:

      Suka

  3. Mbak sekali-kali share dong pelajaran tentang jurnalistik. Saya penasaran banget dengan ilmu jurnalistik. Mau belajar dikit2 biar blog saya lebih profesional please ya mbak….

    Suka

  4. Journalistic is risky, isn’t it?
    Ada nggak matkul paparazzy (gimana nulisnya, aku blm ngerti), Ms. nae? 😀
    Saya udh nonton video yg disuruh Ms. Nae…dan itu..ya kayak yg tadi aku bilang “risky”.
    But, i am sure you can do the great things! Banyuwangi citizen, go grabbing the world!

    Suka

  5. Jurnalistik ya… sewaktu smp tiga tahun berturut-turut ikut ekstra ini. Well, emang bener-bener capek. Padahal masih jurnalistik sekolahan, makanya SMA nggak mau ambil jurnalistik lagi wkwkwk trauma sama kesibukkannya yang lari-lari ngejar narasumber dan lagsung nulis berita. Alhasil, sekarang kangen sama masa-masa itu hiks semangat ya kak! Gantikan lelah dengan lillah 😀 #ikutankata-katayanglagimainstream

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s