Cerpen Komedi Gagal : Bulat Onde-Onde

Sebenarnya… sebenarnya… cerpen ini bukan saya banget! Mungkin cerpen komedi pertama dan terakhir saya :mrgreen: Makanya itu saya sebut sebagai cerpen komedi gagal. Cerpen ini saya ikutkan ke proyek KIR di SMA. Tapi ya gitu… ya sudahlah. Entah gimana saya bisa bikin cerpen beginian.

Nah, terus cerpen yang kamu banget tuh gimana, Nae?

Ini nih cerpen yang saya banget – yang ada di blog ini : Nyai Renjana, Tenggelam di Laut Kidul, Panggil Aku Bung Tomo, Mbah Selo, Jeritan Sungai Cupit Urang, dan Gugus Khayal Laksita.

Saya pernah beberapa kali berniat untuk menciptakan cerpen yang rada remaja atau nggak jauh-jauh sama isu percintaan eh larinya jadi cerpen/prosa ini : Kesurupan, Mawar Hitam, Hati Ibu, Febrian, dan Cinta dalam Diam. Cerpen Cinta dalam Diam ini sebenarnya sempat saya posting di blog – sebagian. Namun saya justru jadi malu sendiri ketika membacanya ulang :mrgreen: Makanya itu… meskipun sebenarnya saya ada niatan buat nulis cerpen remaja dengan tokoh orang Turki selagi saya masih dikelilingi mereka, takutnya ntar cerpennya lari kemana-mana 😀

Yudah ih malah jadi curhat. Langsung aja ya baca cerpen Bulan Onde-Onde ini. Meskipun bikin alis berkerut, semoga pesannya sampai.

Bulat Onde-Onde

 Oleh : Naelil M.

Kupandangi siluet diriku dalam cermin. Berbagai pose kulakukan demi mendapatkan angle yang indah. Kuharap cermin berkata bohong. Namun kenyataannya tidak. Cermin dengan sangat jujur mengatakan bahwa tubuhku bulat, sebulat onde-onde. Continue reading “Cerpen Komedi Gagal : Bulat Onde-Onde”

Cerpen : Jeritan Sungai Cupit Urang

Setelah sekian lamanya, akhirnya kemarin malam saya berhasil menulis sebuah cerpen, lagi. Terharu :’) Sebenarnya itu PR dari FLP Turki di masa karantina ini. Jadi gitu deh, the power of kepepet 😀

Nah, gara-gara itu saya jadi kepikiran buat tengok arsip cerpen yang saya buat di masa SMA. Banyak banget! Banyak yang belum selesai, banyak yang terbengkalai :mrgreen: Terus akhirnya nemu cerpen ini: Jeritan Sungai Cupit Urang.

Pada akhir tahun 2013 lalu, saya mengikutkan cerpen ini untuk kompetisi menulis cerpen yang diadakan oleh Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Jember. Alhamdulillah lolos, meski cuma jadi finalis 😀

Udah lama sekali ya? Semoga pesan yang terdapat di dalamnya tidak usang. Selamat membaca! Ditunggu komentar pedasnya. 😀

Jeritan Sungai Cupit Urang

Oleh : Naelil M.

Sungai itu selalu menjerit. Bersamaan dengan amarah.

Ramdan menyeruput kopi pekatnya yang tinggal separuh. Lalu mengambil selembar sek dan segenggam tembakau untuk digulung bersama. Pun kemudian menggamitnya erat-erat. Setelah gulungan rokok itu berhasil masuk ke mulutnya, gumpalan asap hitam menari ke luar. Ia membuang nafas beraromakan nikotin.

“Kemarin malam aku tak bisa tidur,” ujar Paringgit sambil mengunyah kerupuk Intip. Ramdan manggut-manggut menyimak. Enggan menanggapi lantaran terlalu sayang dengan nikmat rokoknya.

Dul menyahut, “Kenapa, Nggit? Saya malah sudah tidur sejak jam tujuh malam gara-gara banyak laron. Malas hidupin lampu. Gelap, ya sudah saya tidur. Hahaha.”

“Cak… cak. Kau ini. Musim hujan memang banyak laron,” Paringgit diam sesaat, “Mau dengar ceritaku, nggak? Kenapa kemarin malam aku tak bisa tidur?”

Kedua pria di depannya tampak membulatkan sepasang mata. Ramdan bahkan meletakkan rokok batangannya demi mendengar gelak mistis di tengah derap suara pria berkumis itu.

“Semalam, aku mendengar jeritan perempuan di Sungai Cupit Urang.”

Kedua pria lainnya kompak memegang tengkuk, “Sepertinya sudah saatnya.”

“Ya! Kupikir Sungai Cupit Urang minta tumbal lagi. Mumpung besok Suro, sepertinya tepat buat acara serah tumbal.”

“Tapi musim hujan, musimnya orang tak punya uang, Nggit. Bagaimana bisa kita iuran membeli kepala sapi, kerbau, pun sekedar kepala kambing?”

“Nah, itu terserah kau saja! Mau terus dihantui suara jeritan perempuan atau mau hidup tenteram? Kau ingat kan dua tahun lalu tetangga kita mati gara-gara menolak acara serah tumbal? Kau mau seperti dia?”

Continue reading “Cerpen : Jeritan Sungai Cupit Urang”