Cerpen : Jeritan Sungai Cupit Urang

Setelah sekian lamanya, akhirnya kemarin malam saya berhasil menulis sebuah cerpen, lagi. Terharu :’) Sebenarnya itu PR dari FLP Turki di masa karantina ini. Jadi gitu deh, the power of kepepet 😀

Nah, gara-gara itu saya jadi kepikiran buat tengok arsip cerpen yang saya buat di masa SMA. Banyak banget! Banyak yang belum selesai, banyak yang terbengkalai :mrgreen: Terus akhirnya nemu cerpen ini: Jeritan Sungai Cupit Urang.

Pada akhir tahun 2013 lalu, saya mengikutkan cerpen ini untuk kompetisi menulis cerpen yang diadakan oleh Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Jember. Alhamdulillah lolos, meski cuma jadi finalis 😀

Udah lama sekali ya? Semoga pesan yang terdapat di dalamnya tidak usang. Selamat membaca! Ditunggu komentar pedasnya. 😀

Jeritan Sungai Cupit Urang

Oleh : Naelil M.

Sungai itu selalu menjerit. Bersamaan dengan amarah.

Ramdan menyeruput kopi pekatnya yang tinggal separuh. Lalu mengambil selembar sek dan segenggam tembakau untuk digulung bersama. Pun kemudian menggamitnya erat-erat. Setelah gulungan rokok itu berhasil masuk ke mulutnya, gumpalan asap hitam menari ke luar. Ia membuang nafas beraromakan nikotin.

“Kemarin malam aku tak bisa tidur,” ujar Paringgit sambil mengunyah kerupuk Intip. Ramdan manggut-manggut menyimak. Enggan menanggapi lantaran terlalu sayang dengan nikmat rokoknya.

Dul menyahut, “Kenapa, Nggit? Saya malah sudah tidur sejak jam tujuh malam gara-gara banyak laron. Malas hidupin lampu. Gelap, ya sudah saya tidur. Hahaha.”

“Cak… cak. Kau ini. Musim hujan memang banyak laron,” Paringgit diam sesaat, “Mau dengar ceritaku, nggak? Kenapa kemarin malam aku tak bisa tidur?”

Kedua pria di depannya tampak membulatkan sepasang mata. Ramdan bahkan meletakkan rokok batangannya demi mendengar gelak mistis di tengah derap suara pria berkumis itu.

“Semalam, aku mendengar jeritan perempuan di Sungai Cupit Urang.”

Kedua pria lainnya kompak memegang tengkuk, “Sepertinya sudah saatnya.”

“Ya! Kupikir Sungai Cupit Urang minta tumbal lagi. Mumpung besok Suro, sepertinya tepat buat acara serah tumbal.”

“Tapi musim hujan, musimnya orang tak punya uang, Nggit. Bagaimana bisa kita iuran membeli kepala sapi, kerbau, pun sekedar kepala kambing?”

“Nah, itu terserah kau saja! Mau terus dihantui suara jeritan perempuan atau mau hidup tenteram? Kau ingat kan dua tahun lalu tetangga kita mati gara-gara menolak acara serah tumbal? Kau mau seperti dia?”

***

Lasmi memukul-mukul pelan ujung kaleng dengan sendok. Kaleng itu biasa ia gunakan untuk menyimpan susu bubuk si Dimas. Namun kali ini kaleng itu kosong. Sudah sebulan lamanya mereka tidak membeli susu karena harga naik, sedangkan upah mereka sebagai buruh, tetap. Ramdan menggigit bibir bawahnya. Cemas. Putra mereka menolak untuk diberi makan apapun kecuali susu.

“Mas?” larva panas dari mata Lasmi meleleh. Ia tak mau Dimas mati kelaparan. Sekarang saja tubuhnya sudah terlihat kering seperti sebutir padi di antara tumpukan kacang tanah. Sepersekian detik kemudian, seluruh wajah Lasmi basah. Bahkan hingga mengenai kaus kutangnya yang berwarna abu-abu kusam karena terlalu sering dicuci.

Ramdan sekali lagi, menggigit bibir bawahnya hingga berdarah untuk menahan bulatan air di ujung matanya yang nyaris tumpah. Ia pun tak tega melihat Dimas yang kian buruk kondisinya. Tapi…

“Mas, biar aku menari. Upah kita tak akan cukup buat hidup berempat. Apalagi setiap hari ibumu terus minta rokok. Mahal, Mas, mahal. Belum lagi susu si Dimas. Utang kita sudah setinggi ompol Dimas di kasur, Mas,” suara Lasmi terdengar berat.

Kunang-kunang yang mengendarai komidi putar semakin tampak mengembang di pupil mata Ramdan. Berpilin layaknya baling-baling. Semakin cepat, cepat, dan cepat. Ia memijit tepi kepalanya perlahan. Sesungguhnya karena terlampau sayang, Ramdan enggan mengizinkan Lasmi menari untuk pria-pria hidung belang ketika perayaan serah tumbal di bulan Suro. Tetapi… lumbung uang mereka semakin kusut tiap harinya. Bisa dipastikan sebentar lagi, mereka cuma bisa gigit jari. Lalu perlahan-lahan mati mengenaskan. Karena tidak punya cukup dana untuk pemakaman, bangkai mereka akan dibiarkan menguning di tanah lapang. Kemudian di makan Elang. Sisanya ditenggelamkan di Sungai Cupit Urang. Biar jadi dedemit penghuni Sungai Cupit Urang yang menjerit tiap malam.

“Mas… Coba kalau dulu Mas mau dengarkan Lasmi. Kita pergi ke Arab Saudi dan ibu ditinggal di panti Jompo. Kita pasti sekarang sudah kaya, Mas. Dimas sudah bakal jadi bocah gemuk yang sehat karena makannya bergizi,” Lasmi tersenyum nyinyir. Seringainya kini sudah tak seayu dulu. Giginya yang putih kini sudah menguning seperti kunir karena jarang digosok. Tak punya uang untuk beli pasta gigi. Nah! Jika dipikir-pikir, biarpun Lasmi bisa menari, memangnya masih cukup molek untuk menari di depan pria hidung belang?

Lasmi ngoceh lagi, “Coba kalau kita nggak tinggal sama ibu mas yang sinting itu, pasti kita nggak akan serepot ini. Sudah cuma numpang, hobinya ngerokok sambil jerit-jerit nggak jelas, pula.”

“Lasmi!” Ramdan memukul meja keras-keras hingga bahu Lasmi terguncang kaget.

Wanita paruh baya itu tak peduli akan panggilan suaminya. Ia terlanjur masuk ke kamar yang sebenarnya hanya ruangan kosong dengan tikar dan kasur penuh ompol. Hatinya yang dulu sekuat baja, perlahan-lahan rapuh seperti dimakan rayap. Dongkol.

***

Pagi-pagi sekali, ketika matahari baru tampak semburatnya saja di ujung Timur, warga sudah berkumpul di setiap perempatan jalan sambil membawa kepala ayam kampung. Nanti Bapak Kepala Desa yang membawa kepala kerbau akan berjalan dengan pengiring melewati setiap perempatan. Lalu mereka semua berbondong-bondong bersama menuju ke Sungai Cupit Urang. Para penari cantik yang sudah dimandikan kembang kantil selama semalam, tak lupa juga untuk dihadirkan di tepi-tepi mereka.

Acara serah tumbal akan segera dilaksanakan di sungai paling mistis itu. Sungai Cupit Urang. Sungai yang konon dahulu pernah jadi tempat pembuangan korban kerja rodi yang mati karena kelaparan. Lalu kemudian dilanjutkan sebagai tempat pembuangan mayat korban bunuh diri, bahkan korban pembunuhan dan pembuangan, seperti… membuang sanak famili ke sana karena dianggap menyusahkan. Maka dari itu, warna sungai itu laksana sisa-sisa organ orang mati yang telah rusak dan mencair. Hitam pekat. Lagipula, tak ada tim khusus yang berani menyisir dataran Sungai Cupit Urang. Jika toh mereka nekat, dahulu pernah seorang tim penolong terseret arus karena menyisir sungai tersebut. Esoknya, ia sudah ditemukan tewas dengan tubuh yang berlubang seperti dikeroyok udang.

***

Dimas menjerit-jerit layaknya orang kesurupan sehari setelah acara serah tumbal itu. Kali ini bukan hanya meminta susu, Dimas juga meminta hal aneh-aneh seperi kembang kantil, bangkai tikus, dan juga kain kafan. Beberapa warga percaya bahwa itu karena Ramdan iurannya paling kecil untuk acara serah tumbal kemarin. Namun Ramdan menolak untuk percaya, biarpun Lasmi terus menyalahkannya. Ia percaya itu hanya karena Dimas sedang kesal tak kunjung dibelikan susu.

Perempuan itu bahkan sudah mengemas bajunya yang rombeng-rombeng beserta perlengkapan main Dimas. Bersiap untuk minggat. Entah kemana. Tanpa membawa uang sepeser pun. Lasmi terlanjur dongkol dengan Ramdan yang dianggap tidak bisa apa-apa dalam menghadapi situasi genting.

“Lasmi, mengertilah…,” bujuk Ramdan.

“Mas Ramdan! Lihat Dimas! Begini! Mas Ramdan masih menyuruh Lasmi untuk mengerti?!” Lasmi menunjuk mata Dimas yang memerah seperti vampir karena terlalu lama menangis dan menjerit. Air matanya bahkan sudah habis terkuras, “Sekarang biar Mas Ramdan tahu diri! Tinggal sendiri sana sama ibumu yang paling kau banggakan itu! Ibumu yang sinting!”

Lasmi menggendong Dimas menjauh sambil terseok-seok karena lemas akibat puasa demi berhemat. Jauh…dan semakin jauh. Tubuh Ramdan tersungkur di depan rumah seiring punggung Lasmi yang kian terlihat kecil seperti tahi lalat.

***

Malam berselaput gulita. Pikiran Ramdan semakin pusing dibuatnya. Belum-belum, ia sudah merindukan Dimas dan Lasmi. Apalagi di rumah hanya ada ia dan ibunya yang menjerit-jerit di samping sumur. Memang selalu begitu. Jika dulu suara Lasmi bisa menentramkan dibalik jeritan ibunya yang kadang kambuh kadang tidak, sekarang suara ibunya benar-benar terdengar menyebalkan. Ramdan semakin kesal. Ia baru menyadari jika suara ibunya sangat menganggu. Pantas saja, Lasmi selalu kesal. Dan, Dimas selalu ketakutan.

“Bu, diamlah! Aku sedang berpikir!” pekiknya marah karena ibunya tak kunjung berhenti menjerit. Namun bukannya diam, ibu malah semakin mengencangkan jeritannya. Ramdan memukul ujung meja dengan sabit yang ia gunakan untuk mencarikan rumput ternak Bapak Kepala Desa. Dan, ibu justru semakin mengamuk. Kini bahkan mengobrak-abrik isi dapur.

“Ibu diammmm! Gara-gara Ibu, Ramdan kehilangan Lasmi! Gara-gara Ibu, Lasmi pergi bawa Dimas! Sekarang tinggal kita berdua, Bu! Lalu bisa apa kita?!”

Ibunya justru tertawa. Memamerkan giginya yang tinggal sebutir saja. Itupun berwarna kehitaman karena keraknya sudah terpatri lekat.

Gigi-gigi Ramdan saling bersinggungan. Ia semakin kesal. Ibu seolah sama sekali tak mendengarkannya. Aliran darah memuncak ke ubun-ubun. Lalu akhirnya berhenti. Menimbulkan sensasi panas di sekujur tubuhnya. Kedua tangannya mengepal. Memandang wanita tua renta di depannya dengan tatapan aneh.

Ia lalu menggendong ibunya yang terus menjerit ke tepian Sungai Cupit Urang sambil menangis, “Kalau Ibu tidak bisa diam, saya buang,” bibirnya gemetar menahan antara kesal dan ketidaktegaan.

“Buang saja aku di sini! Tak perlu menangis!” pekik ibu setelah memaksa turun dari punggung Ramdan, “Dulu aku juga membuang ibuku yang tua dan sinting di sini. Sebelum kemudian pulangnya aku dicakar anjing hingga mukaku seburuk kotoran babi. Ibu yang menyusahkan. Sinting! Bisanya menjerit tiap malam tiba. Lalu menghabiskan uang. Buang saja aku di sini. Dulu aku toh juga melakukannya,” wanita yang usianya hampir satu abad itu terkekeh-kekeh sambil menjerit dan menangis hingga gigi terakhirnya terlepas.

Ramdan terjingkat. Masih di tengah gejolak emosinya. Tiba-tiba ia mendengar jeritan wanita minta tolong dari tengah sungai. Kian lama kian mengeras. Tampak gumpalan-gumpalan air berkumpul membentuk jalan masuk seperti palung. Sungai itu kemudian terbelah, terbuka luas… untuk setiap amarah yang tak terbendung. Kebencian. Kejahatan. Sungai itu siap menelan semuanya.

Sungai itu selalu menjerit. Bersamaan dengan amarah.

 

 

Iklan

4 thoughts on “Cerpen : Jeritan Sungai Cupit Urang

  1. wah aku gaboleh makan pedas2 jadi gabisa komentar pedas… hehe kak naelil kalo buat cerpen genrenya horor gitu ya. susah aku bikin genre macam ini. keren keren kak! terus berkarya ya 😀

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s